Tag

,

(Koran Tempo, 09 Oktober 2011)

MUSLIHAT SIRIH MERAH

–memar
kau yang lebih mirip jantung hati
bergelantung diri, merambati
dinding pagar. dengan sulurnya
mendaki ke rimbunan kawat duri,
harus rela, harus pula bangga.
akan dilumatnya kau menjadi
seserbuk penawar, luka tertumbuk
segapuk kayu, atau sisa jatuh
menimpa tumpul batu.
setelah dipetiki dan diberkahi
lesaplah dengan sedikit air
melabur-akur di daging lebam-biru.
susutlah sebakup pukal nyeri
terlindas jampi sari-sari.
resap merembes ke lubang pori
yang menyisakan
wangi di muka kulit ari.
–mimisan
sepasang dua lembar daunmu
yang tergulung,
betapa sabar membulat-terjulur.
untuk sesaat mengabdikan diri
pada rasa sakit kepala.
kupenggal di pangkal ujung,
seukuran dengan lubang hidung.
sumbatlah tepat di ujung lubang
dan hisaplah pekak ruapnya,
maka darah yang mengalir perih
di kerongkongan
antara nafas dan doa
akan menemu simpul juga.
–tukak lambung
kupilih tujuh daunmu yang uratnya tampak kekar,
tampak mekar kemarin sore, ketika
kita sibuk asyik berkelakar. yang tidak terlalu tua,
masih hijau berenda senja.
kuseduh dengan air dua gelas,
di atas api sedang.
tak sampai mendidih
sampai membaur warnanya
kusam merah kecoklatan.
kubiarkan air itu susut, dan akhirnya
kumasukan satu sendok madu
ke dalam.
hingga tinggal jadi segelas panas
ramuan. untuk kutunggu, sampai hangat kuku.
tiba kureguk, pahit-manis
berebut di lidah.
dan melerai sengkarut di dalam perut
tempat segala yang kita makan
tercampur dan mencambuk.
dan kini, tinggal perilakumu
yang mujarab lugu meredam semua itu.
2011

DONAT WORTEL BOLU
sari yang kau peras dari wortel kau kubur
dengan terigu, juga bersama tiga sendok gula pasir
yang tiap butir mengekalkan
bayang kanak berdesir.
jangan ragu menggugahnya
dengan susu, obat manjur
pengusir kelu-pilu.
enam butir kuning telur
seperti perseteruan matahari mungil
yang akan kau campakan ke dalamnya.
disusul ragi penuh muslihat
dalam itikad, maka terakhir
saja mengisi ke dalamnya.
campur-aduk sampai mengembang
kalis, bagai dua lingkar alis bertemu pangkalnya.
jadi adonan yang kentara
dipandang, hati tak sabar
kelak tangan menyambar.
dengan penuh pertimbangan
akan ukuran dan muatan di dalamnya
kau pilih-pilah saja
sesuai imanmu.
apa kau menyukai kuning keju
yang kejutnya melukai atap mulutmu
atau butir kismis
yang irit dalam gigit
sengit dalam mengerip.
buat bulat, bualan wujudnya
lantas sementara telantar lagi
agar kembang dalam diamnya.
goreng di kedalaman minyak
yang panasnya
mengingatkan pada bunga api
awas terkucil memerciki ke kulit wajah.
setelah menggelap kilap
parasnya, kau akan tersentak
mengetahui di keleluasaannya
ketika memamah mesra
menarik diri dari renyah
bergumul nikmat syafaatnya.
2011

SIRUP UBI UNGU
aku gali-gali tanah yang mengubur
kerumun ubi ungu,
daging lugu mengandung lagu
serat legit mengundang sengit.
yang menjalar-gelar tertanam
sehampar harapan, lahan pembuka
impian.
dibilas dengan cergas
dikukus sampai melunak jinak
sebelum diragi ke depan dua hari
mengeram diri
menggeram calon dahaga
jadi birahi.
hingga remuk jadi berlempuk
diperah jadi sari manis mabuk,
ditempa gula yang memekak
dengan warna jernih gelapnya.
jadi tertuang segelas menawan
terhidang di meja rupawan,
peneman siang yang bangkang
merasuk ke tenggorokan
luput di lidah, cecap berulah
lebih mirah daripada madah.
2011

Mugya Syahreza Santosa lahir dan tinggal di Cianjur, Jawa Barat.