Jendela yang Terbuka

Tag

,

23 Oktober 2011

“Bibi saya akan segera turun, Tuan Nuttel,” ujar seorang remaja lima belas tahun yang sangat tenang. “Sementara menunggu, Anda akan saya temani.”

Framton Nuttel berusaha keras untuk mengungkapkan pujian kepada sang keponakan itu tanpa terlalu mengabaikan bibinya yang hampir tiba. Secara pribadi dia meragukan lebih dari apapun apakah kunjungan formal sebagai orang asing ini dapat sedikit berguna untuk membantu pengobatan syaraf yang sedang dijalaninya. Baca lebih lanjut

Tolstoy dan Refleksi Ketuhanan

Tag

,

23 Oktober 2011

“Ketika sastra memiliki seorang Tolstoy, menjadi penulis itu mudah dan menyenangkan; bahkan bila kita tahu bahwa kita sendiri tidak mencapai hasil apa-apa, itu tidak menjadi masalah karena Tolstoy yang berprestasi untuk kita semua. Apa yang dilakukannya berguna untuk membenarkan semua harapan dan aspirasi yang ditanamkan dalam sastra.” (Anton Chekhov)
*** Baca lebih lanjut

Ai-Bi

Tag

,

Minggu, 23 Oktober 2011

Tuliskan semua yang kamu rasakan di kaca atau apa saja. Lalu hapus. Dan kau tak akan bersedih lagi.”

KALIMAT-KALIMAT itu terngiang lagi di benak Ai-Bi. Gadis kecil bermata bintang itu ragu-ragu melakukan apa yang dianjurkan Paman Han, lelaki yang pernah ditemuinya dalam mimpi. Ai-Bi bimbang. Di kaca mana ia harus tuliskan lara? Kaca jendela, kaca meja, atau cermin dalam kamarnya? Atau pada kaca piring dan gelas yang jumlahnya terus menipis karena terus jadi sasaran pertengkaran ayah dan ibu? Ah, Ai-Bi tak pernah tahan mendengar nyaring piring pecah atau muncratan darah dari telapak tangan ayah. Baca lebih lanjut

Dari Bilik Gelap

Tag

,

Minggu, 16/10/2011 | 10:07 WIB

Oleh : Muna Masyari

Heranku tak kunjung menepi. Dari bilik kamar yang gelap, pengap, panas, dan bau, kuintip keluar. Ke rumah Pak Karim yang serba mewah. Rumah berukuran besar dengan dinding, lantai dan tiang berlapis marmer itu lebih pas kusebut istana. Berkilap-kilap. Kisi-kisi jendela dan pintunya berlapis kuning emas. Dari jendela yang terbuka, kulihat gordennya melambai-lambai tertiup angin dengan rangkaian manik berjuntai-juntai, terbuat dari mutiara. Ketika rangkaian mutiara itu saling bersentuhan, maka menimbulkan bunyi-bunyian yang sangat merdu. Melebihi merdunya saronen, musik kesukaanku. Baca lebih lanjut

Pesta Kubur

Tag

,

Sunday, 23 October 2011
Kita tak mungkin menghibur yang telah mati, kita hanya bisa mendoakan mereka. Oleh sebab itu, kutawarkan gambaran ini pada ayahku : awal musim panas yang akan datang, aku tak akan pulang.

Jika kematian dipahami sebagai transendensi roh, tidak ada lagi koneksitas waktu maupun tempat terhadap jasad. Daging akan meninggalkan tulangnya dan aku tak yakin apa yang mungkin masih tertinggal dalam tulang-belulang tersebut kecuali kenangan-kenangan baik dan buruk yang tertampung di ingatan, dinarasikan dalam kata-kata yang santun maupun sarkastik, atau dalam kalimat-kalimat indah maupun normatif. Roh ayahku akan memakluminya. Baca lebih lanjut

Pusako Tinggi

Tag

,

Cerpen M Daniel Ilyas
(Republika, 16 Oktober 2011)

Sejuta tahun yang lalu, sebuah gunung meletus di Pulau Sumatra. Kawah gunung menjelma menjadi sebuah danau. Proses alamiah selama ribuan tahun mengubah dinding kawah menjadi deretan bukit subur memagari danau. Di utara, tanah landai menghampar dari kaki bukit sampai ke tepian. Di tempat lain, dinding bukit semakin merapat ke tepi danau. Di dalam rimba raya, pohon Meranti, Pulai, dan Surian tumbuh besar-besar dan tinggi.

Beberapa abad yang lalu, dari tempat asal berbeda, rombongan demi rombongan pendatang berbondong-bondong membangun jorong dan nagari di selingkar danau. Kaum laki-laki dari setiap suku bergotongroyong membalak hutan belantara menjadi sawah, ladang, dan permukiman saudarasaudara perempuan mereka. Di tanah landai, mereka mengeruk sawah dan ladang tempat menanam padi dan palawija. Di lereng-lereng bukit, mereka menanam tanaman keras, kayu manis, cengkih, dan durian.
Baca lebih lanjut

Epitaf bagi Sebuah Alibi

Tag

,

Cerpen Akmal Nasery Basral
(Kompas, 16 Oktober 2011)

Jam meja memekik-mekik membangunkan Flayya. Tangannya yang selicin pualam itu bergerak spontan hendak mematikan alarm, melanjutkan kembara mimpi dari ranjang kamar apartemennya yang asri. Namun sel-sel otaknya mengingatkan ada pergantian jadwal siaran, sehingga dia harus siap di studio dalam waktu 60 menit ke depan. Badan lampainya melayang turun menuju kamar mandi, sembari menanggalkan secuil busana yang masih tersangkut di ranum raga.

”Astaga!” pekik Fla saat melihat lidahnya di cermin. Daging lembut merah muda itu dipenuhi kerumunan ulat yang menggeliat. Isi perutnya bergolak, memberontak dalam semburan brutal yang mengubur wastafel putih gading di depannya menjadi entah apa warnanya. Dibukanya keran air panas sebesar-besarnya untuk mengusir anyir. Dipandanginya lagi cermin. Jumlah ulat tak berkurang di mulutnya, terus menggeliat. Disambarnya jubah mandi. Kedua kaki lancipnya berlari menuju klinik 24 jam di lingkungan apartemen.
Baca lebih lanjut

Pak Guru Tercinta

Tag

,

Cerpen Luhur Satya Pambudi
(Jurnal Nasional, 16 Oktober 2011)

SEJAK terjaga di kala pagi, memang sudah tak nyaman perasaanku. Seperti sebuah firasat buruk setelah kutelepon rumah Pak Sentot dan tak kutemui beliau. Hanya ada pembantunya yang mengabarkan bahwa majikannya menginap di rumah sakit dalam dua hari terakhir. Langsung kubatalkan semua janji serta kutunda semua pekerjaan. Aku mesti secepatnya meninggalkan kota ini untuk menjenguk Pak Sentot. Sebatas pengetahuanku, beliau tidak pernah sakit sampai harus dirawat di rumah sakit sepanjang kukenal dirinya. Pasti ada hal yang tak biasa terjadi pada beliau, jadi aku mesti segera mengetahuinya. Aku pun mengabari Mbak Asri, kakakku yang tinggal di Jogja tentang rencana kedatanganku dan mengajaknya membesuk Pak Sentot.
Baca lebih lanjut