Tag

Oleh Gerson Poyk
(Suara Karya, Sabtu 1 Oktober 2011)

Pertengkaran antara ayahku dan kakek berakhir pada keputusan kakek untuk pindah ke rumah kebun. Kakek tak membawa apa-apa selain beberapa potong pakaian, kasur tipis, bantal dan selimut. Ada juga beberapa piring kaleng, mangkuk besar untuk ditaruh sayuran atau sup. Ada sebuah ceret untuk masak air dan sebuah penggorengan.

Dia tak membawa kompor sehingga untuk masak dan sebagainya ia memakai kayu bakar yang banyak tersusun di pinggir kebun. Disamping itu ada dua ekor anjing yang menemaninya. Tiap hari ia masak sendiri untuk dirinya dan untuk dua ekor anjingnya.

Begitulah kehidupan yang dipilih oleh kakek, seorang duda tua berusia delapan puluh ahun. Walaupun tua, ia masih kuat mencangkul, menanam, menyiram tanaman seperti sawi, terong, bayam, kangkung, singkong, kedelai dan sebagainya. Dikeliling kebunnya seluas satu acre (4000 meter lebih), ada beberapa pohon kelapa dan deretan pohon pisang beberapa jenis sepertu pisang batu, pisang tanduk botol dan tanduk panjang. Juga ada empat pohon nangka, empat pohon duren dan empat pohon jambu serta empat pohon rambutan.

Ada juga dua pohon pete yang tinggi dan berbuah lebat. Disamping itu ada dua empang yang penuh dengan ikan. Kakek yang semula adalah petani sejati di kampungnya, mendapat dari hasil kebunnya itu sehingga ia bisa membeli sebuah sepeda tua buatan luar negeri dari seorang janda petani dan penjual sayur keliling dengan sepeda itu.

Pertengkaran terjadi karena ia tak setuju dengan pilihan ayahku. Setelah ibuku meninggal karena sakit jantung, ayahku jadi duda beberapa lama, kemudian pada suatu hari ayah membawa seorang janda ke rumah kami untuk diperkenalkan kepada kakek.

Setelah wanita itu pergi kakek mengamuk.

“Banyak gadis di sekitarmu tetapi kamu memlih janda yang mengaku beranak dua. Dari raut mukanya yang sudah mulai mengerut, saya yakin anaknya empat atau lima. Pakai otaklah, anakku lelaki seorang,” kata kakek dengan suara keras.

Walaupun demikian ayah tidak menggubris nasehat kakek. Pertengkaran terjadi setiap minggu dan terakhir kakek pun mengambil keputusan pindah ke kebun dan hidup sendiri dengan dua ekor anjing dan beberapa ekor ayam.

Sudah cukup lama kakek menduda sehingga hidup sendiri tidak menjadi soal. Karena hidupnya sebagai petani yang bekerja keras maka anak satu-satunya menjadi sarjana, yaitu ayahku.

* * *
Sering kalau libur kuliah aku ke kebun, tidur bersama kakek, masak untuk kakek, menyapu rumah kebun, menyuci pakaian kakek dan sebagainya. Karena banyak jambu dan rambutan, teman-teman mahasiswa senang berkunjung ke kebun kakek. Teman-teman tampaknya begitu sayang kepada kakek sehingga mereka menggoreng pisang, membuat kolak, masak nasi, menggoreng ikan dan sebagainya. Tampaknya seperti camping saja. Dengan demikian maka kakek mendapat hiburan gratis di hari tuanya.

Setelah sawi, kangkung, bayam dan terong dan kacang panjang dipanen, kakek kakek membawanya ke pasar malam-malam untuk dijual. Di bagasi belakang ada dua keranjang bambu masing-masing di kiri dan kanan dan semua barang jualan kakek penuh di kedua keranjang itu. Malam-malam kakek menggenjot sepeda tuanya yang kuat itu dengan tenaga yang kuat pula menuju pasar tradisional. Pulang pagi kakek membawa uang segepok dan sudah tentu aku, cucunya seorang mendapat sedikit bagian. Cerita kakek sangat mencengangkan. Di masa mudanya lampu jalanan byar pet, mati hidup. Jalan dari kebunnya gelap gulita tetapi kakek dan teman-teman petani sayuran tidak kehilangan akal.

Di bagasi belakang dipasang obor di kiri dan kanan agar tidak ditabrak kendaraan pagi yang ngebut. Pemandangan sangat indah kalau lima puluh lebih petani sayur dengan sepeda berobor dua meluncur ke pasar tradisional kota.

“Kami, semua petani sayuran sangat hemat. Begitu dapat uang kami bukan membeli rokok pabrik tetapi tembakau dan daun kawung. Rokok macam itu tampaknya kecil seperti mengisap sepotong lidi enau tetapi enak,” kata kakek. “Ada juga teman petani yang isap rokok menyan tetapi saya tak suka,” sambung kakek.

Seorang teman mahasiswa jurusan ekonomi suka bertanya kepada kakek mengenai usaha tanam menanam yang berhasil sehingga bisa kuliahkan anak sampai menjadi sarjana.

Kakek bercerita bahwa di masa kecilnya ia hanya tamat sekolah Angka Loro. Tapi sekolah itu sangat prestisius. Bila tamat sekolah itu orang sudah bisa jadi jurutulis di kantor pemerintah Belanda. Bahkan bisa menjadi kasir karena Sekolah Angka Loro member pelajaran berhitung. Kepala murid bisa seperti computer atau mensin hitung, seperti kalkulator zaman sekarang, di kantor pemerintah orang bisa jadi jurutulis, klerk, commies, bahkan commies kepala. Di bidang Pekerjaan Umum tamatan Angka Loro ketika itu bisa jadi opseter Pekerjaan Umum, opseter Kehutanan, opseter Pertanian dan sebagainya. Pembangunan bagitu maju karena semua jujur.

Zaman itu disebut zaman normal. Dengn uang sepeser atau setengah sen bisa beli satu roti. Dengan satu sen da pat dua roti. Dengan satu benggol (dua setengan sen)dapat lima roti. Dengan satu kelip (lima sen) dapat sepuluh roti. Dengan satu ketip dapat dua ouluh roti. Makan satu roti saja sudah kenyang. Coba piker. Itulah zaman normal. Itulah cerita kakek.

* * *
“Petani zaman itu banyak yang buta huruf,” kata temanku mahasiswa fakultas ekonomi. “Kakek bisa saja jadi amtenar bukan? Mengapa tetap jadi petani? Turun derajat dong!”

“O, tidak. Begitu tamat sekolah Angka Loro kakek jadi tukang kebon pada Kontrolir Balanda, bupati zaman sekarang. Orangnya begitu baik. Tiap hari Sabtu ia kumpul karyawan di rumahnya untuk ngobrol, ceramah dan tanya jawab. Kami bisa bertanya apa saja dan dia dengan sabar menjawab.”

Dia menjelaskan bahwa kaki orang Indonesia berada di tanah subur dan laut kaya tetapi kepalanya ada di padang pasir.

“Setiap orang Belanda hanya punya tanah satu acre yakni empat ribu meter dan empat ribu meter itu bisa member makan empat orang. Empat ribu meter tanah di Amerika hanya memberi makan dua orang, tetapi di Jepang, betul-betul gila. Punya tanah empat ribu meter di Jepang bisa memberi makan empat ratus orang. Orang Indonesia punya tanah ulayat yang luas tetapi banyak yang lari ke kota, bersesakan di pemukiman kumuh. Kaki orang Indonesia ada di atas tanah nan subur dan air laut yang kaya tetapi kepalanya di padang pasir. Ini kuwalat namanya. Makanya gampang di jajah.”

“Mengapa kuwalat, Tuan Kontrolir?”

“Waktu dalam kandungan, bayi sudah mulai berlatih nyangkul. Di bergerak-gerak. Waktu keluar dari rahim ibunya , ia bukannya ketawa atau berteriak Merdeka! Akan tetapi menagis. Begitu diberi asi, ia diam, bertumbuh, sehat dan begitu dia jadi anak manis ibu memberi makan di piring bersih.

Begitu sang ibu jadi tua dan pergi negeri akherat ia memberi pesan bahwa anak-anak di serahkan ke haribaan Ibu Pertiwi, bumi subur, piring makan raksasa. Akan tetapi banyak orang meninggalkan Ibu Pertiwi. Ini kuwalat namanya,” kata tuan kontrolir.

“Oo begitu.” Kata seorang karyawan. “Oleh karena itu kakek memutuskan jadi petani sampai sekarang.Yang paling kuwalat adalah para sarjana kita. Lima tahun kuliah untuk jadi sarjana berutang budi pada petani karena selama lima tahun kuliah petanilah yang mengongkosinya dengan 3 50 tahun kerja petani. Mestinya di negeri kita ini sarjana harus ke desa, bekerja sampai 350 tahun untuk membayar utang pada petani. Jangan bersesakan di kota-kota.” kata kakek.

Seorang teman mahasiswi muncul dari dapur dan kamar makan, bersuara keras, “Breadfruit kukus sudah tersedia, ikan panggang dan sambal Inul Cili-cili sudah tersedia. Mari makan rame-rame hamburger breadfruit!”

Kakek mengambil tongkatnya dan mengajak kami makan bersama di tengah kebun di negeri kepulauan subur dan permai.