Tag

(Suara Karya, Sabtu 1 Oktober 2011)

Doa

Tuhan, perkenankan aku mimpi
seperti orang orang yang kau sayangi
berikanlah bulan ke pangkuanku
lalu peta dunia berubah
tapi tanpa pertumpahan darah
tak ada lagi yang terbunuh
atas nama pengkhianatan
atas nama revolusi
atas nama kepahlawanan
jika bulan di pangkuanku
akan kuiris-iris
seperti semangka
dan kubagi-bagikan
kepada anak-anak jalanan
kepada perempuan perempuan malam
agar mereka tak lagi
hidup di kegelapan.

Jakarta, September 2010

Pertanyaan Lucu

Seperti apa rupamu
Ah, itu pertanyaan dungu
Karena kau tak seperti apa
Tak seperti siapa
Di manakah engkau
Ini pun pertanyaan lucu
Karena engkau tak di mana-mana
Atau di mana-mana
Siapakah engkau
Ini juga pertanyaan ragu
Karena engkau bukan siapa
Kecuali yang tercinta
Apakah engkau mencintaiku
Astaga, kenapa aku ragu
Setelah tahu mawar itu indah
Dan dunia demikian cerah.

Jakarta, Oktober 2010

Maafkan Aku

Dengan cinta
Maafkanlah aku
karena tak peduli kasta
Atas bawah sama saja
Dengan cinta
Maklumlah aku
Tak peduli kasta
Kau dan aku jadi kita.

Jakarta, November 2010

Kemana

Jangan bertanya
Ke mana kita
Pergi atau pulang
Kita berjalan saja
Untuk kembali
Ke tempat asal
Entah di mana
Seperti pohon mangga
Pada mulanya biji
Entah jatuh di mana.

Jakarta, Desember 2010

Di Bromo

Ingin kumainkan pianoku
Di puncak gunung Bromo
Bersama penambang belerang
Sepanjang siang
Biarlah bunyi pianoku meninggi
Di lapis-lapis langit tertinggi
Agar semua nabi bernyanyi
Taman firdaus tak lagi sunyi
Dan biarlah pianoku melayang
Bersama kabut dan bau belerang
Menembus lapis-lapis ozon
Agar air hujan semanis orson
Akan kumainkan pianoku
Di atas kabut putih
Yang menghias langit biru
Di atas negeriku
Agar masih ada suara indah
Menghibur rakyat kian susah.

Jakarta, Januari 2010