Tag

(Suara Pembaruan, 2 Oktober 2011)

Dari Bilik Pintu

Sejengkal lagi, maka
langkah usai
Jalan panjang dan
menikung dengan kayukayu
berpaku menganga
seperti ular yang siap
menangkap mangsanya
juga usai
Maka tataplah aku
Kutunggu di depan pintu

Usah gusar. Terali besi
sekalipun tandas
Jika itu pengharapan
terakhir
Atau sepasang anak
kunang-kunang, kemudian
lentera sebagai penerang
jalan

Angin akan tetap berhembus
Daun jendela rumahmu
juga tetap seperti dulu
Dua benda yang saling
mengisi
Berpasangan tak ubahnya
bulan dan matahari

Kutunggu di depan pintu
Jika langit turunkan hujan
dan awan-awan bergerak
meninggalkan siang
Rangkul waktu dan berlari
Dalam ruang
Dalam jejak setengah pongah
Kutempuh
Jika itu pengharapan
terakhir

Kidung

Setelah usai hujan
Basahlah pucuk-pucuk pinus
Menarilah podang-podang
Jika itu membuat kau
tenang
Lalu terbanglah
Kepakkan sepasang
sayapmu seperti pesawat
luar angkasa menuju bulan

Kemarin tak kan kembali
Esok belum tentu milik kita
Rangkul hari ini semampu
kau bisa
Di penghujung senja
Rebahlah
Jika kantukmu usang dan
lelah membuat kau malas
mengeja bunyi pelatuk

Dan malam pasti akan
datang
Bintang kejora tak kan
muncul di pagi berkabut
biru
Karena esok belum tentu
milik kita
Rangkul hari ini semampu
kau bisa

Serenade

Seperti biasa
Sepulang dari dermaga,
perahu-perahu nelayan
beranjak menjajal deru
badai, kita pulang
Sesampainya di rumah,
kau siapkan secangkir kopi
untukku
Sepiring ubi rebus,
sebatang cerutu,
sekeranjang lelucon
Dan pijatan romansa
penghilang lelah
Ingatkan aku setelah pagi
meruang
Seperti biasa

Sepulang menerawang
kata-kata, kau siapkan
buku dan pena untuk
lukiskan raut wajahmu
yang senantiasa menghangatkan
tubuh ketika
salju menggigilkan
kudukku
Nasehat dengan ceracau,
kala mata mulai mengatub
rindu

Senyummu itu tak
gambarkan bosan,
malah ketika aku berkata
masihkah kau bertahan,
kau jawab dengan lantang
“Tak usah ragu”
Seperti biasa
Di dermaga kita menenun
kain dari kata-kata
Sampai perahu-perahu
nelayan kembali

Dewi dan Rinjani

Pernah kau bercerita
untuk menapalkan diri di
Rinjani, menyisir pantai
di Semelue

Berteriak di Tongging,
memanjakan diri dengan
aroma bunga abadi di
Semeru
Banyak lagi, tak terurai
di puisiku

Aku berimajinasi
Berimaji saat kita
berhujan-hujanan
menembus dekap angin
ke rumahmu
Menungguku menghidupkan
motor tua yang mulai
sakit-sakitan
Walau belum datang
waktunya

Ikhlas
Aku ikhlaskan, sebab kita
selalu berbicara itu semenjak
usia kedekatan kita
beranjak dewasa
Pun jika waktu itu datang,
berangkatlah

Rinjani
Jagalah perempuanku,
tatkala ia berteriak
memanggil namaku dari
ketinggian tigaribu meter
dari garis pantai

Jika kau pulang, jangan
lupa pesanku
Sekantung inspirasi
darinya, Semelue,
Tongging, Semeru
Untuk kucelup ke
dalam puisi
Untukmu jua pastinya

Jika kau pulang, kutagih
bahasa jiwa
Bahasa keinginan untuk
tetap duduk di samping
lelakimu
Kembali menulis puisi
walau tidak dari Rinjani

Kepada Jiwa

Kepada jiwa-jiwa yang
hilang
Kembalilah jiwa
Angin masih ramah
Langit juga akan tetap
biru seperti biasa

Seperti kita yang
mendekap tawa
Kepada jiwa-jiwa yang
hilang Kembalilah
kepangkuan matahari
Ia masih seperti dahulu
Sinarnya sampai ke bumi
Menafkahi anak-cucu
adam

Sewaktu senja akan
tenggelam
Aku mencintai jiwamu
Jiwa tegar
Menjamah ketinggian
karang
Jiwamu membelah lautan
hitam
Menerobos terjalnya hutan
Jiwa
Jiwaku dan jiwamu Satu
Aku adalah kau
Dan kau adalah aku
Kepada jiwa-jiwa yang
hilang
Tugu itu masih kaku
Aku rindu