Tag

,

Cerpen Zaim Rofiqi
(Koran Tempo, 2 Oktober 2011)

One of those many dates That no longer ring a bell
–W. S

IA selesai membaca puisi terakhir di buku kumpulan puisi yang beberapa waktu yang lalu dibelinya itu, dan entah mengapa merasa terusik, dan untuk beberapa saat tercenung, melihat titimangsa yang tertera di bawahnya: 05-05-2005. Tanggal lima bulan Mei tahun dua ribu lima. Sebuah tanggal, sebuah bulan, dan sebuah tahun. Seperti biasa. Seperti lazimnya sebuah titimangsa.

Beberapa saat ia mencermati titimangsa itu, dan merasa tak ada yang istimewa dengan tanggal, bulan, dan tahun yang tertera di situ. Hanya, kebetulan tanggal, bulan, tahun dalam titimangsa pada puisi terakhir itu semuanya menggunakan angka lima; selain hal itu, tak ada yang aneh pada titimangsa itu. Sebagaimana umumnya sebuah tulisan, entah itu puisi, cerpen, esai, atau bentuk-bentuk tulisan yang lain, pada bagian akhir karya, si penulis umumnya memang membubuhkan sebuah titimangsa. Mungkin untuk memberi tahu pembaca bahwa tulisan itu dibuat pada tanggal, bulan, dan tahun itu, atau mungkin juga sebagai pengingat bagi si penulis itu sendiri bahwa tulisan itu selesai pada tanggal, bulan, dan tahun yang tertera di bagian akhir karyanya itu, atau mungkin ada alasan-alasan lain dari si penulis yang tak ia ketahui. Namun mengapa sekarang ini ia merasa terusik dengan titimangsa itu?

Biasanya, ketika membaca sebuah puisi, atau cerpen, atau karya-karya yang lain, ia hanya terserap dan berusaha mencermati isi dan bentuk puisi, cerpen, atau karya-karya lain yang ia baca, dan selalu abai terhadap titimangsa yang tertera di bawahnya, atau tak peduli apakah karya yang dibacanya menerakan titimangsa atau tidak. Namun tak seperti biasanya, kali ini, entah mengapa, apa yang justru mengusik dan kemudian seperti terus terpikirkan olehnya adalah titimangsa itu.

Tanggal lima, bulan Mei, tahun dua ribu lima. Beberapa kali ia menggumamkan titimangsa di akhir puisi itu, seperti ingin memastikan atau mengingat sesuatu. Ia mencoba menghitung dalam kepalanya: jika sekarang adalah 12 September 2011, berarti 5 Mei 2005 adalah enam tahun yang lalu. Tepatnya: enam tahun, delapan bulan, dua belas hari yang lalu. Setelah berhasil menghitung jarak antara masa kini dan 5 Mei 2005 itu, tanpa disadarinya, muncul sebuah pertanyaan dalam kepalanya: hari apa tanggal lima, bulan Mei, tahun dua ribu lima itu? Ia mencoba mengingat-ingat, namun gagal. Ia meletakkan buku kumpulan puisi itu di samping komputernya, mengucek kedua matanya, menaruh kedua tangannya di bawah kepala, menyelonjorkan kakinya ke atas meja kerjanya, lalu menerawang ke langit-langit kamarnya. Sekilas ia menoleh pada jam dinding yang menempel di atas pintu ruang kerjanya. Pukul setengah dua dinihari. Dari jendela, ia lihat hujan yang sejak menjelang tengah malam tadi turun begitu deras kini telah berhenti, meski sesekai petir masih tampak berpijar di langit dinihari.

Tanggal lima, bulan Mei, tahun dua ribu lima. Titimangsa itu kembali melintas dalam kepalanya. Sebuah tanggal, sebuah bulan, sebuah tahun sebagaimana berbagai tanggal, bulan, dan tahun yang lainnya, namun yang kini tiba-tiba saja terbaca, lalu merasuk ke dalam, dan terus-menerus mengusik, pikirannya. Sebuah pertanyaan kembali menyergap otaknya: jika bagi si penulis puisi itu 5 Mei 2005 berarti selesainya sebuah puisi dan bertambahnya sebuah karya, apa arti titimangsa itu bagi dirinya? Ia terus menerawang ke langit-langit kamarnya. Sesekali ia alihkan pandangan ke luar jendela, pada kelam langit dinihari yang kadang dibelah oleh seleret kilat. Sekali lagi ia mencoba mengingat hari apa tanggal 5 bulan Mei tahun 2005 itu, apa saja yang mungkin dilakukannya pada hari itu. Namun ia kembali gagal, dan yang ia dapatkan dalam tempurung kepalanya hanyalah gebalau yang tak jelas, suatu bentangan yang begitu kelam, mungkin lebih kelam dari langit dinihari sehabis hujan yang terhampar di luar jendelanya.

Sejurus kemudian, seperti mendapatkan wangsit, atau ide, atau ilham, tiba-tiba ia melonjak dari kursinya, dan langsung menghadap ke layar komputernya. Dengan agak tergesa ia menerakan tanggal, bulan, dan tahun titimangsa puisi itu ke kotak pencarian Google. Dari mesin pencari di dunia maya itu ia tahu bahwa 05 Mei 2005 adalah hari Kamis. Hari Kamis enam tahun, delapan bulan, dua belas hari yang lalu. Dari dunia maya ia juga tahu bahwa 5 Mei 2005 merupakan salah satu hari bersejarah dalam sejarah Kekristenan di Indonesia dan di dunia, karena pada hari dan tanggal ini diselenggarakan National Prayer Conference, yang bertemakan “Indonesia bagi Bangsa-Bangsa”, di stadion Gelora Bung Karno. Lebih dari seratus ribu anak Tuhan berkumpul di stadion itu, belum lagi ratusan ribu anak Tuhan yang lainnya yang juga berkumpul di 77 kota lain di seluruh Nusantara. Dari sebuah link di mesin pencari itu ia juga mendapatkan informasi bahwa pada tanggal, bulan dan tahun itu di Slawi berdiri sebuah Akademi Kebidanan Siti Fatima, yang memiliki visi mendidik mahasiswa/i menjadi tenaga profesional dalam sebuah Akademi Kebidanan yang berjiwa Pancasila dan mampu memenuhi standar kualitas dalam negeri dan internasional. Hari Kamis 5 Mei 2005 itu juga merupakan hari keberangkatan Menteri Luar Negeri RI, Nur Hassan Wirayuda, ke Kyoto, Jepang dalam rangka menghadiri Konferensi Tingkat Menteri (KTM) Asia-Europe Meeting (ASEM) ke-7. Ia juga tahu bahwa pada hari Kamis pada tanggal, bulan, dan tahun itu berlangsung pernikahan antara Arif dan Yani, dua orang yang sama sekali tak dikenalnya. Pada tanggal, bulan, dan tahun ini di Kebun Raya Bedugul juga dilangsungkan sebuah Bali Gathering , yang dihadiri oleh Papo, Widi, Adi, Indra Praja, Yz, Bedoe, Ayu, Dewik, Oming, Indra Jegeg, Iin dan Michiko, orang-orang yang hanya ia ketahui namanya dari dunia maya. Ia juga tahu bahwa pada Kamis 5 Mei 2005 itu Suud dan Syam menggegerkan jagad hukum lantaran berhasil membobol rumah tahanan militer yang dikenal “angker” dan berpenjagaan ketat: Rumah Tahanan Militer (RTM) Cibinong. Suud kemudian tertangkap kembali di Malang dan “dihadiahi” dua pelor di kakinya.

IA terus membuka satu per satu berbagai link yang menerakan titimangsa itu, dan mendapati berbagai macam peristiwa, beragam momen, beraneka acara, berjenis-jenis kejadian yang kadang terasa lucu, kadang menyedihkan, kadang menjengkelkan, kadang memunculkan amarah, dan kadang menimbulkan rasa iba dan belas kasihan. Ia melihat ke sudut kiri mesin pencari di dunia maya itu, dan mendapatkan informasi bahwa ada sekitar 2 juta lebih peristiwa, momen, acara, yang terjadi atau berlangsung pada titimangsa itu. Untuk beberapa saat ia terus meng-klik berbagai tautan yang menyertakan angka tanggal, bulan, dan tahun itu, dan mendapatkan peristiwa, momen, kejadian, dan acara yang semakin beraneka. Namun beberapa saat kemudian beberapa pertanyaan melintas dalam kepalanya: apa guna semua itu bagi dirinya? Apa kaitan semua itu dengan dirinya?

Ia melepaskan mouse yang dari tadi dipegangnya dan kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya, menyelonjorkan kaki ke atas meja kerjanya, lalu kembali memandangi langit-langit kamar, sambil sesekali memandang ke luar jendela, pada keheningan dinihari sehabis hujan yang terasa begitu menekan, namun juga terasa begitu menenangkan.

Tanggal lima, bulan Mei, tahun dua ribu lima. Titimangsa itu terus mengiang-ngiang dalam tempurung kepalanya. Ia merasa sangat yakin bahwa ia telah melalui, melewati, mengalami, titimangsa itu enam tahun, delapan bulan, dua belas hari yang lalu, namun kini ia merasa seperti tak pernah mengalaminya, atau merasa gamang, merasa tak pasti, merasa tak yakin, tentang apa saja yang telah dialaminya pada titimangsa itu. Begitu banyak hal yang terjadi pada tanggal, bulan, dan tahun itu, dan salah satunya adalah terciptanya puisi yang baru saja dibacanya itu, namun ia seperti sama sekali lupa pada apa yang terjadi pada dirinya sendiri: ke mana ia pergi pada titimangsa itu? Apa saja yang ia lakukan? Siapa saja yang ia temui? Apa saja yang ia bicarakan dengan mereka? Bagaimana cuaca pada hari itu? Apakah ia bahagia, sedih, gembira, atau murung pada titimangsa itu? Apakah ia baik-baik saja, sehat-sehat saja, pada tanggal, bulan dan tahun itu?

Ia mencoba mengingat: hari Kamis. Ya, dari informasi yang ia dapat di dunia maya itu, ia tahu bahwa 5 Mei 2005 itu adalah hari Kamis. Dan hari Kamis adalah hari kerja, pikirnya. Pada hari kerja, sangat mungkin ia bangun pagi seperti biasa, sekitar pukul 06.00 atau 06.30, lalu mencuci muka, menggosok gigi, menyeduh kopi, memutar lagu-lagu kesukaannya, menghisap satu dua batang rokok, mencek email, menelepon kekasihnya dan menanyakan kabarnya, mempersiapkan berbagai hal yang mungkin ia perlukan di tempat kerjanya, mandi, lalu berangkat kerja pukul 09.00.

Di jalan, ia mungkin bertemu beberapa tetangga atau kenalan, menyapa mereka dengan “hai” atau “halo”, menanyakan kabar mereka, lalu melempar basa-basi sekenanya, dan kemudian meluncur ke kantor. Di tempat kerjanya, sangat mungkin yang ia kerjakan adalah rutinitas seperti biasa: memesan kopi, membaca berita-berita hari itu, mendaftar pekerjaan apa saja yang harus ia selesaikan hari itu, melaporkan pekerjaan yang telah ia selesaikan kemarin, makan siang, bergurau dengan rekan-rekan kantornya, kembali bekerja, lalu pulang pada pukul 17.00 atau 17.30 atau 18.00.

Malamnya mungkin ia berkunjung ke rumah kekasihnya, atau membuat janji dengannya untuk bertemu di suatu tempat untuk makam malam bersama. Setelah makan malam, ia dan kekasihnya mungkin kemudian mengunjungi sebuah kafe atau menonton bioskop untuk menghabiskan malam. Setelah itu ia mungkin mengantarkan kekasihnya pulang, lalu kembali ke rumah dan tidur.

Tapi mungkin pada Kamis 5 Mei 2005 itu hari hujan, dan udara jadi dingin, dan ia terus tidur hingga sebuah telepon dari kekasihnya atau rekan kantornya membangunkannya, dan hari telah pukul 11.00 siang atau lebih. Kekasihnya mungkin bertanya padanya mengapa, tak seperti biasanya, ia tak meneleponnya, dan dengan suara yang dibuat-buat ia akan menjawab bahwa ia sedang tak enak badan, kepalanya pusing, dan badannya agak meriang. Rekan kantornya itu mungkin bertanya mengapa ia tak masuk kantor hari itu, dan dengan intonasi suara yang juga dibuat-buat ia memberikan jawaban yang sama seperti yang ia berikan kepada kekasihnya itu.

Sore atau malam harinya kekasihnya mungkin menjenguknya sambil membawakannya makanan, dan dia mendapati dirinya sedang asyik mendengarkan musik sambil membaca sebuah buku, atau menonton TV atau film sambil menikmati secangkir kopi atau segelas teh. Melihat dirinya yang segar bugar, kekasihnya mungkin sedikit marah dan berkata, “Huh! Bo’ong lagi, bo’ong lagi. Capek aku terus-menerus kamu bo’ongin!” Dan ia hanya tersenyum, lalu merengkuh pinggang kekasihnya, lalu mencium pipi dan keningnya sambil menghujaninya dengan bisikan kata-kata pujian dan rayuan di telinganya, kata-kata seperti “Hari ini kamu tampak anggun sekali, Sayang”; “Kamu selalu indah, selalu terlihat cantik tiap kali kutatap. Aku selalu mencintaimu, Yang”; “Aku kangen, Sayang, kangen banget sama kamu”, hingga hati kekasihnya luluh dan melunak kembali, lalu ia dan kekasihnya menghabiskan malam itu dengan bercumbu dan bercinta, bercumbu dan bercinta, hingga ia dan kekasihnya lelah dan tertidur.

Tapi barangkali kejadian-kejadian berikut inilah yang terjadi pada 5 Mei 2005 itu:

Kamis 5 Mei 2005 dinihari, mungkin sekitar pukul 00.30 atau 01.00, ia mendapatkan semacam ilham, atau wangsit, atau ide untuk membuat sebuah tulisan: mungkin sebuah cerpen, sebuah novelet, atau sebuah novel. Tulisan itu mungkin adalah tentang sebuah kisah cinta segitiga yang muram, yang berakhir dengan bunuh diri bersama ketiga tokoh yang terlibat dalam cinta segitiga itu; atau mungkin tulisan itu adalah cerita tentang seorang tokoh yang memiliki begitu banyak kepribadian, dan masing-masing kepribadian memiliki pandangan sendiri-sendiri terhadap segala sesuatu yang dialami oleh si tokoh itu; atau mungkin juga tulisan itu adalah kisah tentang seorang tokoh yang merupakan gabungan dari berbagai tokoh ternama yang pernah ada, baik itu tokoh di dunia nyata maupun tokoh fiksional, dan sejarah hidup tokoh itu tidak lain adalah gabungan dari berbagai potongan sejarah hidup tokoh-tokoh ternama itu. Setelah mendapatkan ilham, atau wangsit, atau ide itu, ia mungkin seperti “kesurupan”, dan apa yang ia lakukan setelah itu adalah mencari dan mengumpulkan berbagai bahan yang mungkin ia perlukan untuk membuat tulisan itu.

PADA titimangsa itu ia mungkin tak berangkat kerja karena ia tak tidur hingga pagi hari untuk mencari bahan-bahan tulisannya itu. Ia mungkin hanya tidur satu dua jam di siang hari, mungkin dari pukul 11.00 hingga pukul 01.00 atau 01.30, lalu kembali terbangun untuk membaca bahan-bahan yang telah ia kumpulkan atau untuk membuat sketsa atau garis besar cerita yang akan ia tuliskan.

Selama seharian penuh ia mungkin mematikan telepon selulernya karena tak ingin ada seorang pun yang mengganggunya mempersiapkan karyanya itu, hingga kekasihnya mungkin kelabakan dan akhirnya, pada sore atau malam hari, dia datang ke tempat tinggalnya dan mendapati ia sedang terkapar tidur di kamarnya atau sedang tercenung di depan komputernya. Kekasihnya mungkin marah-marah karena seharian tak mendapat kabar darinya atau karena merasa diabaikan, dan melampiaskan kemarahannya itu dengan kata-kata seperti, “Bosan aku dengan kelakuanmu! Aku lelah berpacaran dengan seorang seniman! Aku capek punya kekasih seorang penulis!” Dan seperti biasa, ia mungkin hanya tersenyum, meminta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi, lalu merengkuh pinggang kekasihnya, lalu mencium pipi dan keningnya sambil menghujaninya dengan bisikan kata-kata pujian dan rayuan di telinganya, kata-kata seperti “Hari ini kamu tampak anggun sekali, Sayang”; atau “Kamu selalu indah, selalu terlihat cantik tiap kali kutatap. Aku akan selalu mencintaimu, Yang”; dan seperti biasa, hati kekasihnya akan luluh dan melunak kembali, lalu ia dan kekasihnya menghabiskan malam itu dengan bercumbu dan bercinta, bercumbu dan bercinta, hingga ia dan kekasihnya lelah lalu tertidur dan bermimpi indah.

Tapi mungkin peristiwa-peristiwa yang terjadi pada titimangsa itu adalah seperti ini:

Ia mabuk berat pada Rabu sore atau malam karena bertengkar hebat dengan kekasihnya. Dan apa yang ia lakukan setelah itu adalah pergi ke sebuah cafe atau bar atau klab malam bersama teman-temannya dan menghabiskan malam hingga pagi di sana. Ia mungkin pulang pada pukul 04.00 atau 04.30 dinihari, dan sesampainya di kamar langsung tidur. Selama seharian penuh pada 5 Mei 2005 itu ia mungkin hanya tidur seperti orang mati, dan terbangun karena gemuruh hujan deras yang menampar-nampar kaca jendela kamarnya, atau karena gelegar geledek yang menggetarkan atap dan kaca jendela kamarnya. Saat itu mungkin pukul 09.00 atau 09.45 malam, dan ia merasa kepalanya begitu pening dan pikirannya kacau. Dan apa yang terus-menerus terpikir olehnya adalah kekasihnya, dan kekasihnya. Ia mungkin berusaha menelepon kekasihnya untuk meminta maaf, namun sama sekali tidak diangkat atau bahkan tak tersambung. Apa yang kemudian ia lakukan mungkin adalah berusaha kembali tidur namun tak juga bisa tidur.

Akhirnya ia mungkin menghabiskan malam pada titimangsa itu dengan menonton film atau main gameatau membaca buku atau menonton TV, namun bayangan kekasihnya dan pertengkaran itu terus-menerus muncul dan seperti tak mau hilang, hingga kemudian yang bisa ia lakukan hanyalah melamun dan melamun. Atau mungkin yang ia lakukan adalah berusaha membuat sebuah puisi cinta yang sangat murung dan sedih, namun tak juga bisa menuliskan apa-apa karena tiap kali pikirannya bergemuruh karena cinta atau asmara, apa yang muncul dalam otaknya adalah larik-larik puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” karya Chairil Anwar: Ini kali tidak ada yang mencari cinta / di antara gudang, rumah tua, pada cerita / tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut / menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut // Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang / menyinggung muram, desir hari lari berenang / menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak / dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. // Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan / menyisir semenanjung, masih pengap harap / sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan / dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

Dan akhirnya, karena tak juga bisa menulis apa-apa, ketika subuh menjelang, ia mungkin merasa begitu lelah, hingga tanpa disadarinya, ia jatuh tertidur.

Tapi barangkali bukan itu semua yang terjadi, pikirnya. Ia masih terus menyelonjorkan kakinya ke atas meja kerjanya, membenarkan posisi punggungnya dalam menyandar agar terasa lebih nyaman, lalu memejamkan mata, seolah-olah sedang mengerahkan seluruh tenaga untuk mengingat-ingat kembali apa saja yang sebenarnya terjadi pada dirinya pada titimangsa itu. Namun sejurus kemudian rasa kantuk menyergap dirinya, dan ia tiba-tiba merasa begitu lelah.

Ia bangkit dari kursi itu, mematikan komputernya, memandang sebentar ke luar jendela, menutup horden, mematikan lampu kamarnya, lalu bersiap untuk tidur.

Jakarta, 12 September 2011