Tag

,

Cerpen Dahlia Rasyad
(Lampung Post, 02 Oktober 2011)

TERTEGUN di depan krematorium anjing dan membaca selebaran lotre yang melekat di samping etalase, seorang gadis mencoba mengingat urutan digit angka di selebaran itu sambil merogoh saku. Secarik kupon undian bertuliskan “One way ticket to the Nova” terselip lusuh. Ia mendapati sederet angka yang persis dengan angka di selebaran itu. Ia mulai meraba namanya, mencoba memperpendek jarak dan mempersempit waktu, menemukan seorang artis yang selama ini ia cari-cari. Seorang artis yang menjadi idolanya selama ini, yang tak lain tak bukan adalah musuh terbesarnya sendiri.

Ia sendiri belum mengenal sang artis yang terasa cukup tematik untuk sebuah karnaval megah di bumi yang serbacanggih dan meriah ini. Ia tidak mengerti apa yang diharapkannya dari kontestasi periodik yang banyak dipandang orang-orang sebuah masa agung yang tak ternilai. Baginya, itu hanyalah kesedihan yang tak pernah terbebaskan sekaligus tak terhindarkan. Tapi ia tidak ingin menyia-nyiakan tiketnya, bukan untuk menjadi, tapi merasa jadi. Ingin semuanya selesai, secepatnya.

Ia masuki krematorium itu dan menemui seorang karyawan yang bertugas memandikan anjing, menanyakan perihal kupon itu, meminta untuk dicek dan diproses sebagaimana mestinya. Lalu lelaki itu memberinya stempel cap dan segaris paraf. Ia lalu menerima sebuah kartu ucapan selamat setelah lebih dulu ucapan terima kasih. Pengenalan dari tematik yang terkontestasi itu adalah kesempatannya bertemu sang idola dalam tajuk Chitchat & Dinner with The Nova. Sejenak lelaki itu menatapnya sebagai torso orang-orang tak terduga. Durasi tatapan yang sangat berarti dari seorang manusia di peradaban ini.

***
GADIS itu pun berkemas. Dengan beberapa aksesori terbuat dari flat emas dan sebuah tas clutch dari kombinasi soft leather dan brown suede berbentuk saku kemeja di tangan kiri, ia tiba tepat di depan pintu sang artis. Entah mengapa tiba-tiba saja ia cemas luar biasa, membuat dirinya semakin tak teridentifikasi. Sebenarnya ia ingin segera mengakhiri, tapi sang artis sudah telanjur berada di hadapannya, mencekalnya untuk beberapa saat.

Tak terbayangkan olehnya. Sehari sebelumnya ia berada di depan rumah krematorium hewan dan sekarang seperti ada dalam akuarium non-CFC yang tersublimasi di bawah titik beku, menciptakan hexagonal-hexagonal es. Ruangan itu tiba-tiba seperti kerangga kulkas yang membekukan bola-bola air menjadi bongkah-bongkah salju sebelum sempat pecah ke lantai dan menjalar dingin ke seluruh ruangan. Jauh dari balik jendela yang bening, guntur menggaduh, membuat retak-retak awan kumulonimbus nyaris seperti cerabut akar yang membelah umbi. Menembus bumi.

“Masuklah. Tak perlu sungkan,” katanya sambil menggurat alis dan bulu mata di sepetak kaca antik. Sekelebat cahaya resolusi spektra cecar ke ruangan dan menjadikan gempa. Nova tersenyum. Gadis itu tertegun.
Senyum itu, yang untuk pertama kalinya hanya dipantulkan secara spekular dari sebuah ornamen bening dua dimensi dengan daya serap tinggi. Wajah yang untuk pertama kalinya tercitra dari bayang-bayang polaroid semu namun tanpa rintangan.
Selain cermin dan jarum dalam jam analog polyalloy di pergelangan tangan Nova, tidak ada yang bisa dimaknainya dengan keabadian.

“Tidak usah bersusah payah menerka semua yang ada di sini, Sayang. Kaulah yang harus dideskripsikan,” katanya masih membelakangi si tamu dari muka cermin.

“Aku?”

“Iya kamu, karena akulah yang menemukanmu melalui tiket itu. Bukan kau.”

Wajah sang artis berkilauan seperti pancaran kristal yang terpantul kilat elektrik, menciptakan magnetik memukau. Tidak ada citra yang berhasil melukiskan dirinya. Ia lalu beranjak dan berpaling dari cerminnya 360 derajat. Mereka pun saling berhadap. Gadis itu semakin tertegun melihat paras Nova, aksesorinya, gerak, cara bicara, dan mimik muka, semuanya sama. Hanya ada satu yang lain, yang membuat mereka berbeda satu sama lain. Wajah sang artis itu tampak tirus dan pucat. Lingkar matanya hitam, dalam seperti lubang sumur yang mati. Tak ada binar-binar kehidupan sama sekali. Nova menyentuh tangan fans-nya. “Ada apa?”

Gadis itu terkejut. Semburat dingin dari jemari mungil sang artis seketika membuatnya merinding. Tak kalah dingin dari ruangan itu.

“Aku sudah terbiasa. Bahkan aku tahu betul apa yang membuat ruangan ini begitu dingin,” katanya.

Hangat tubuh gadis yang menjadi fansnya itu sama sekali tak mampu melunturkan hawa dingin di ruangan itu.

“Kau belum sedingin aku. Karena itulah kita bertemu.”

Gadis itu bingung mengapa ia selalu saja ingin bertemu dengan sang artis, mencari-cari keberadaannya, mengidolakannya seolah Nova tak mau lekang dari ingatan dan jiwanya. Seolah menyatu, menjadi diri yang terbelah, yang tersembunyi jauh. Idola yang tak pernah ia duga bakal ia kagumi. Wajah sang artis Nova terasa begitu akrab di matanya tapi diri Nova sendiri seakan asing baginya. Tak ada hasrat untuk mencintai artis itu tapi pula tak bisa ia lepaskan begitu saja kedekatan dirinya. Dari mana artis ini, siapa dia, apa maunya, dan mengapa ia selalu membuat gadis itu kagum? Selalu membuat gadis itu mencari-cari di mana keberadaannya selama ini, selalu menempatkannya dalam pencarian yang tak kunjung usai. Sebuah pertemuan seperti yang diinginkan keduanya, sebuah pertemuan yang akan mengakhiri segalanya.

“Aku tak pernah mati, Sayang. Tak bisa mati,” kata Nova dengan gelengan kepala yang lamban tapi mengancam.

“Setelah sekian lama aku mendekam dalam dirimu dan merapat pada kehidupanmu, akhirnya kita bisa bertemu. Akulah Nova yang sebenarnya dan kau cuma fans,” lanjutnya.

“Di mana kau selama ini?”

“Masih di sekelilingmu. Tersembunyi di suatu tempat yang sangat dalam dan gelap,” jawabnya dengan sungging senyum.

“Apa yang akan kau lakukan padaku setelah semua ini? Kau telah merampas hidup dan tawa ceriaku.”

“Aku menawarkan Kebenaran yang akan membuatmu hidup berabad-abad, tahu!” mata dinginnya mencorong tajam.

“Dan kau pikir itu cahaya?”

Nova mendelik. Diam sejenak.

“Kau tahu, kau adalah jiwa yang digariskan untuk setan. Kau diri yang sesat. Kau menawarkanku Kebenaran yang hanya sesaat, yang kau anggap sebagai yang terkuat,” lanjut gadis itu lugas.

“Justru aku yang telah memberimu kebahagiaan, memberitahumu bahwa dunia itu adalah kesedihan. Orang-orang yang tertawa dan menjalani hari-harinya dengan ceria cuma satir yang menggelikan! Tapi kau tidak, Sayang. Kau kokoh dan abadi. Kau kesayanganku.”

Gadis itu tertegun, mencoba mengerti perkataan sang artis. Seketika ia tahu.

“Kau mengagungkan akal dengan menyingkirkan perasaan. Kau cuma artis redup yang kalah,” katanya lemah dalam sisa-sisa keberanian yang tinggal sejengkal.

“Aku tidak kalah!”

“Kau kalah artisku. Kau telah kecewa pada dunia di mana berhembus angin dan kau cuma debu, di mana ada waktu dan kau akan musnah. Kau benci ketidakabadian. Dan itulah kekalahan sesungguhnya.”

“Jangan menceramahiku! Kalau kau lebih kuat dariku kenapa kau hanya bisa terbaring lemah di kasur rumah sakit itu berbulan-bulan dengan infus melilit dan otak yang semakin hari semakin membusuk?! Andai saja kau bisa mendengar lirih tangis sanak keluargamu dan melihat teman-teman membawakan karangan bunga untukmu. Heh, bukankah kehilangan semangat tapi tidak kritis juga suatu kelemahan? Kelemahan yang sangat bobrok dan tolol.”

Gadis itu terdiam, semakin lama semakin lemah. Musti dengan apa lagi ia mengalahkan perempuan getir dan keras hati di hadapannya itu. Apakah dengan membayangkan perhiasan mahal, rumah megah, mobil mewah, laki-laki tampan yang penuh cinta, anak-anak yang cerdas dan bersahaja? Apakah dengan membayangkan punya perusahaan di seluruh dunia dan membeli sebuah pulau peristirahatan yang maha indah? Apakah dengan membayangkan betapa nikmatnya menyantap masakan laut setiap hari? Apakah dengan membayangkan bagaimana terbang tanpa parasut dan mengitari belahan dunia kapan saja? Andaikan semua itu sudah terwujud lalu apa setelahnya, apa lagi, bagaimana lagi.

Tapi kemengertiannya tentang orang-orang dan dunia lebih dalam dari hanya sebuah berandai-andai. Lebih mudah paham daripada menunggu suatu khayalan cepat sampai. Pengertian yang sama sekali tak bisa ia tepis mengapa semakin merajai dirinya. Dan dunia ini sendiri seakan mengesahkan kebenarannya hingga akhirnya ia terkulai lemas tak berdaya. Ia tak mau makan jika hanya untuk kembali lapar, tak mau dilahirkan jika hanya untuk menunggu kematian. Tak mau melakukan apa-apa jika hasilnya bukan apa-apa, tak mau bernapas jika hanya membuat semuanya semakin panjang dan tak selesai.

“Aku hanya perlu menerima apa yang sudah digariskan dan menikmatinya. Baik aku maupun kau sama-sama kalah dan tak bisa apa-apa. Tapi bedanya, kau tidak mampu menjadikan kekalahan itu sesuatu yang nikmat dan berharga.”

“Heh, apa karena telingamu sudah bisa mendengar tangisan ibumu sampai kau bisa berkata seperti itu? Kau plin-plan dan labil. Kau tidak sejati sepertiku.”

“Biarkan aku kembali bersama keluargaku. Dan tenang saja, aku tidak akan menyingkirkanmu terlalu jauh dari diriku. Kau akan berguna pada saat-saat tertentu.”

“Apa maksudmu? Itu tetap saja membuatku mati. Aku tidak mau!” dengus sang artis memalingkan muka. Merasa diperalat.
Gadis itu menghela napas berat. Ia bingung harus melakukan apa selain membicarakan keindahan. Keindahan satu-satunya cara untuk kembali pada sanak keluarga dan orang-orang yang dikasihi. Hanya keindahan yang mungkin bisa menyelamatkannya dari ketidakbergairahan hidup dan ketiadaan harapan. Cuma dengan membicarakan keindahan dan menikmati jerat godanya sajalah ia bisa terlepas dari segala kemurungan. Keindahan yang meski mungkin adalah kutukan, tetapi juga adalah berkah. Dan hanya kutukan yang busuk itulah yang bisa menyelamatkan dirinya dari angkara murka sang artis.

Apa boleh buat, ia mulai membayangkan bagaimana manisnya memberi kasih sayang dan perhatian pada orang-orang yang sakit dan miskin di dunia ini. Ia mulai membayangkan bagaimana pilunya hati seorang ibu yang berjuang mati-matian melahirkan anaknya ke dunia. Ia membayangkan seorang kekasih yang mengharapkan cintanya. Ia jadi ingin punya cinta dan berkasih mesra dengan penuh ketulusan dengan orang-orang. Ingin melihat tawa anak-anak polos dan manja yang melukiskan pensyukuran atas keberadaan diri yang sia-sia di penjara kelam ini, di kehidupan kosong tak berujung ini. Tawa anak-anak yang meski terasa pilu tapi begitu haru. Tawa yang merupakan pertanda jiwa besar dari seorang yang lemah dan kalah seorang makhluk ciptaan. Dan untuk memuaskan keinginan itu hanyalah dengan hidup dan berjuang.

“Cuih! Kau pikir dengan membayangkan kenikmatan dunia, aku akan musnah? Kau salah! Justru karena itu aku bersemangat untuk hidup dan berjuang mengalahkan semangatmu yang tolol itu,” dengus Nova.

“Kiamat itu terjadi setiap hari. Maka hidup atau pun mati sama saja, tak ada awal dan tak ada akhirnya. Tapi hati nurani tak pernah ada kiamatnya. Ia kekal. Dan sejauh ini aku baru mengerti bahwa mengidolakanmu sama saja dengan membunuh hati nuraniku.”

Sang artis sontak terkejut, menyorot tajam fans lemah di hadapannya.

“Aku adalah maut bagi gadis yang tak punya rasa kasih sayang sepertimu! Maut bagi gadis yang amarahnya mudah meletup-letup. Bukankah kau masih sulit memaafkan orang lain?” ketusnya dengan pandangan tajam.

Tak lama, Nova artis itu mulai komat-kamit membaca mantra seakan mencoba menyihir dan menghipnosis sang fans sampai daya pikirnya tadi hilang dalam sekejap, berganti pikiran-pikiran dingin yang sarat dan begitu dalam. Pikiran yang akan sangat sulit untuk ditolak dan disingkirkan.

Gadis itu perlahan mundur. Rasa takut membuat mentalnya ciut. Ia terlalu lemah untuk mengusir artis itu jauh-jauh. Terlalu lemah untuk membuat dirinya keluar dari ruangan itu hidup-hidup. Mantra yang diucapkan Nova menjeratnya penuh dalam ketidakberdayaan pikiran. Pikiran sebagaimana mantra yang diucapkan Nova, pelan-pelan membuat gadis itu menjadi dingin dan mengerikan.

Gadis itu pun tak kuasa lagi. Ia tak bisa lagi mempertahankan pikirannya. Ia tak sanggup lagi berdiri tegap melawan sang artis. Ia pun keluar dari ruangan itu tanpa daya. Ia keluar menuju sebuah kamar di mana tubuhnya terbaring lemah dengan botol-botol infus dan mesin pengatur kestabilan jantung yang mewah. Sejenak terdengar sayup-sayup orang memanggil-manggil namanya, tak henti menghibanya untuk kembali. Samar-samar ia lihat wajah sang ibu yang mendekapnya erat, meletakan wajah di dadanya dengan leleran air mata. Sesaat kemudian terdengar mesin pendeteksi denyut nadi berbunyi datar. Tangis pun pecah di sela jerit pilu ibu yang memanggil anaknya. “Nova!!!”