Tag

,

Cerpen Ka’bati
(Haluan, 02 Oktober 2011)

Cerita sudah saat pungguk mati di bulan
Tak mati pungguk karena bulan
Mati pungguk karena tuhan

Di atas langit Kota Belimbing, Bulan tersenyum pada laki-laki bertampang mabuk yang tertatih mencari tempat rebah. Laki-laki itu berjalan ke kamar kecil di bawah menara di samping mesjid. Fajar mulai muncul, dan langit dipenuhi suara mendengung—suara azan berbaur rekaman ceramah dai-dai popouler juga lantunan salawat dan nyanyian asmaul husna.

Walau sebenarnya menge­jek, tetapi senyum Bulan, kapanpun, tetap saja manis. Itulah hiburan jiwa yang me­nen­tramkan, memandang se­nyum Bulan. Laki-laki bertam­pang mabuk itu kelihatan sangat kehilangan akal. Ta­ngannya menggapai-gapai dan mulutnya meraung-raung kecil seperti kucing kasmaran. Kadang dia mengikuti irama nyanyian asmaul husna tapi kadang entah nyanyian apa pula yang dia lagukan. Maklumlah, pikiran orang yang tak tetap. Tetapi suara laki-laki itu bagus. Karena suara itulah, Bulan selalu tersenyum padanya. Suara yang membuat Bulan sering terlambat pulang ke peraduan. Hanya suara, bagi Bulan, tak pernah tampak wajahnya. Kalau Bulan selalu tersenyum, se­nyum itu tertuju pada suara. Ya, suara dari ujung menara.

Tatapan mata laki-laki bertampang mabuk tampak lurus tertuju ke langit. Entah apa sesungguhnya yang dia khayalkan, yang terlihat dia terkalai di dipan kayu, tidur-tidur ayam sambil terus me­man­dangi langit dari arah jendela kaca kecil kamar itu. Biasanya memang begitu dia, berleha-leha, bermalas-malas sampai istrinya singgah mem­bawakan sepiring lontong pecal buat sarapan paginya.

Pagi-pagi itu pula, tampak sepasang kekasih berjalan lambat-lambat di jalan jalur dua depan mesjid yang bermenara jalan utama menuju pasar. Si perempuan memakai daster batik berlengan pendek yang longgar dan tipis. Kadang-kadang dia melakukan gerakan seperti melompat, mungkin untuk menghindari sampah-sampah yang teronggok sem­barangan di pinggir jalan, juga menghindari lubang-lubang kecil yang digenangi air. Semalam hujan turun dan subuh itu jalan cukup becek, namun udara segar. Aroma bangkai tikus yang biasanya selalu menyeruak dari dalam selokan tak jauh dari bak sampah pasar, untuk pagi itu hilang, hanyut terbawa air.

Rambut perempuan ber­daster batik, yang semula di sanggul pada seperempat masa perjalanan kemudian dia le­paskan. Dan tergerailah rambut hitam tebal itu me­nutupi punggung, sampai ke ping­gangnya yang melekuk bak lekukan di bodi gitar. Dan senyum Bulan jatuh pula, berkilau di hitamnya rambut perempuan. Amboi, dia sung­guh…ups, tak boleh memuji cantik perempuan dengan selera lelaki. Laki-laki bertampang mabuk itu—entah mengapa—sejenak terpaku pula takkala menampak perempuan ber­daster batik tersebut, tanpa sengaja, dari jendela kecil di kamar kecilnya di bawah menara.

Dalam remang subuh yang masih pekat, karena jarum jam masih di angka lima, tidak mudah menebak orang itu si ana atau si anu, tetapi tidak terlalu sulit membedakan tubuh perempuan dengan tong sampah atau gerobak-gerobak makanan yang ditinggal peda­gang malam.

Perempuan itu sedang ha­mil. Tubuhnya mungil, ping­gang­nya ramping tetapi perut­nya membusung agak besar. Gerakannya sangat manja. Sering dia melirik lelaki di sampingnya. Laki-laki itu tidak ikutan berjalan kaki, walau mereka beriringan. Dia di atas motor becak saja, yang dia jalankan sangat perlahan. Pemandangan begitu bak me­mandang raja muda yang se­dang membujuk permaisurinya naik ke atas kereta kuda. Laki-laki bertampang mabuk mung­kin berpikir, suaminya itu akan pergi menarik becak tetapi dia juga ingin menemani istrinya berjalan kaki pagi itu. Olah raga orang hamil, agar per­salinannya lancar. Tapi bu­kankah sebaiknya, sepagi ini, si suami meninggalkan saja becak motornya di rumah, lalu mereka sama berjalan. Nanti setelah selesai, mereka bisa sama pulang ke rumah, si laki-laki mandi dan perempuan menyiapkan kopi. Lalu setelah sarapan pagi, dia bisa mulai menarik becak dengan hati lapang dan jiwa tenang. Kenapa dia harus mengiring-iring istrinya dengan becak pula? Apakah dia khawatir istrinya yang cantik —setidaknya be­ram­but indah dan bertubuh seksi, karena dari wajah perem­puan itu tak tampak, pagi masih remang sekali—akan melahirkan di jalan? Tapi sepertinya hamil perempuan itu belum terlalu tua. Seperti hitungan tujuh bulan sajalah baru.

Awan kadang membelai, bercanda sambil menutup wajah Bulan, namun dia tetap terse­nyum, walau dalam kabut. Akh, senyum seperti itu malah menghadirkan sensasi lain pula, di penghujung fajar seperti subuh itu. Sensasi yang lebih berguna ketimbang mengamati sepasang kekasih yang beolah­raga. Kalau berani jujur, sebe­nar­nya laki-laki bertampang mabuk sudah lama jatuh cinta pada Bulan. Cinta itu aneh dan menghangatkan. Dan itulah yang dia rasa setiap kali me­man­dang wajahnya. Tapi dia kampung dipinggiran hutan. Sama sekali tak ada bekal berupa harta benda yang bisa dijadikan modal usaha. Yang dia punya hanyalah kemam­puan menya­nyikan ayat-ayat tuhan dalam tujuh irama. Suaranya memang bagus. Ke­mam­puan yang hanya laku di mesjid tidak di pasar. Padahal sebenarnya jiwanya preman. Dia ingin berkuasa dan dipandang hebat.

“Hai kenapa termangu-mangu saja?” Bulan menyapa ke arahnya. Laki-laki bertam­pang mabuk memalingkan wajah dari kilau rambut perem­puan hamil. Kilau cahaya Bulan menyilaukan matanya. Bak tersihir, laki-laki itu melihat wajah Bulan seakan pecah, membentuk ulasan senyum baru. Seulas senyum; Bulan sabit.

“Apa kamu mengamati tubuh perempuan yang berjalan dengan kekasihnya itu?” Tanya Bulan sambil mencibirkan seulas bibir bawahnya ke arah sepasang kekasih yang sedang berjalan pelan di jalur dua sana. Terdengarnya seperti perem­puan yang sedang cemburu.

“Akh, buat apa aku pedu­likan mereka!” jawab laki-laki bertampang mabuk gusar. Dia risih, Bulan tahu, sebagai lelaki, seleranya rendah. Hanya seba­tas tubuh. Tetapi segera timbul pula bangganya, bisa membuat Bulan cemburu. Setidaknya itu perasaannya.

“Kalau begitu, coba kamu perhatikan sekarang baik-baik. Tidakkah kamu melihat hal ganjil pada mereka?”

“Ganjil? Apanya yang gan­jil? Di seluruh dunia, hal sangat biasa kalau ada sepasang suami istri berjalan-jalan pagi, olah raga sambil menunggu kela­hiran bayi mereka.” Jawab laki-laki datar.

“Apa? Suami istri katamu? Yeaah, butakah matamu? Coba perhatikan lagi! Makanya aku suruh kamu memperhatikan!” Bulan merengut.

Lalu diperhatikannya lagi perempuan berbody gitar itu. Tepat saat tangan perempuan hamil mengelus stang motor becak yang sedang digenggam tangan si lelaki, sementara si laki-laki menatap lurus ke depan. Hanya sebentar, kemu­dian secepat cahaya dia me­narik lagi tangannya lalu menunduk ketika si laki-laki menatap ke arahnya. Peman­dangan itu membuat laki-laki bertampang mabuk dan Bulan seakan merasakan hawa panas di sekeliling mereka. Hangatnya cinta.

“Tidakkah begitu cara gadis muda berpacaran?” Tanya Bulan.

Laki-laki bertampang ma­buk nampak kebingungan menjawabnya. Tapi, akh itukan urusan mereka.

“Tak enak akh. Subuh-subuh begini sudah bergunjing,” Dia memberikan jawaban berkilah.

“Ini bukan sebatas ber­gunjing. Ini membedah peng­khianatan,” ujar Bulan tanpa melihat ke arah si laki-laki, tetapi tetap fokus pada sepasang kekasih itu.

“Aku tahu, mereka itu memang sepasang kekasih, tetapi bukan sepasang suami istri.”

Laki-laki bertampang ma­buk hanya bisa mendengus, sambil lebih serius memandang ke arah sepasang kekasih itu. Perempuan yang malu-malu kucing, dan laki-laki yang merunduk-rundukkan wajahnya seperti anak babi mencari puting susu induknya. Mungkin benar, si laki-laki sedang merayu perempuan untuk turut ke atas becak motornya. Setelah itu dia akan membawanya terbang ke bulan. Bulan yang lain. Bukan Bulan, yang sedang berbicara dengan laki-laki bertampang mabuk.

Sudah bukan rahasia lagi, soal perempuan Belimbing. Kawin muda di sini biasa. Hamil karena ‘kecelakaan’ pun bukan lagi kehebohan yang langka. Apa lagi soal selingkuh menyelingkuh. Ya, seperti keributan di dapur rumah makan saja. Ribut, tetapi semua orang sudah tahu apa yang harus mereka kerjakan. Siapa yang harus memeras kelapa, siapa yang akan mengaduk santan. Sudah jadi rutinitas yang tak perlu pula dimasukkan berita­nya dalam koran.

“Masalahnya yang perem­puan sedang hamil. Apakah tidak ganjil menurutmu kalau dia masih menemui pacarnya? Dan tidakkah buang-buang masa pula, laki-laki itu mengi­ring-iringkan istri orang di subuh buta begini ini?”

“Tetapi mau bagaimana lagi kita kalau sudah cinta?” Laki-laki bertampang mabuk terde­ngar mengutip kata-kata orang kebanyakan. Karena ini me­mang peristiwa kebanyakan menurutnya. Peristiwa dalam sandiwara, baik sandiwara di kehidupan nyata, maupun di kaca televisi.

“Kamu tahu siapa perem­puan itu?” tanya Bulan.

Leki-laki bertampang ma­buk mendehem saja.

“Dia Dahlia…”

Dan mendengar nama itu wajah laki-laki bertampang mabuk seketika menegang.

“Dahlia istri Garin! “ Suara Bulan seperti petir oh bukan seperti suara halilintar yang merobek gendang telinga. Laki-laki bertampang mabuk itu, terlonjak dari dipannya. Lalu, untuk pertama kalinya dia merasa harus marah atas fakta —yang baginya fitnah— itu. Marah pada Bulan, yang tak disangkanya akan memfitnah.

“Jangan asal Bulan! Dahlia berjilbab!” hardiknya ketus, gagal mengendalikan suara emosi. Asal kemarahannya bukan karena Dahlia alim atau berjilbab dan sebagainya. Marahnya berkaitan erat dengan kelelakian yang terancam menjadi dayus. Dayus, laki-laki lemah yang tuhan haramkan menginjak surga. Laki-laki yang boleh memadu perempuan tetapi haram dimadu.

“Kamu yang asal. Jilbab kok dijadikan ukuran?” Bulan mencibir. Tidak ke arah laki-laki bertampang mabuk, tetapi ke arah yang lain. Bulan sebenarnya tak bisa melihat laki-laki itu, Bulan juga sama sekali tak kenal wajah laki-laki bertampang mabuk. Jarak mereka jauh. Dan sesungguhnya Bulan hanya berbicara dengan perasaannya dan laki-laki juga hanya merasa-rasa.

Tetapi mana mungkin orang tak akan kenal dengan Dahlia? Sedangkan kambing-kambing yang berkeliaran di tempat pembuangan sampahpun dike­nali orang pemiliknya, konon­lah pula perempuan muda secantik Dahlia. Perempuan alim, guru pada taman kanak-kanak Islam pula. Alim itu bukan fakta sih sebenarnya. Cuma opini yang terbentuk berhubungan dengan kebiasaan si Dahlia memakai jilbab dan karena pekerjaannya sebagai guru di TK Islam, itu saja. Lima bulan lalu si (ibu guru) Dahlia menikah dengan garin masjid Baitul Rahim. Garin itu ditugasi oleh pengurus mesjid untuk azan setiap waktu salat masuk. Tetepi dia lebih sering menyetel kepingan CD azan, ketimbang azan langsung dengan pita suaranya. Dia juga senang menghidupkan kaset salawat kemudian dicampur-campurnya dengan nyanyian asmaul husna, terutama kala subuh. Suara-suara keluar dari pengeras suara di menara mesjid. Berisik, dan sebenarnya sangat mengganggu. Sama sekali tak ada nilai artistiknya, musik-musik yang dia gabungkan-gabungkan itu. Dia memang tak belajar sebagai disk joker (DJ). Kerjanya garin mesjid kok. Setelah suara-suara berisik itu berkumandang ditingkahi suara yang sama dari mesjid lainnya, sang garin biasanya kembali melanjutkan tidur atau mengalai dan menggeliat-geliat saja melewatkan subuh sambil memandang-mandang bulan dari balik jendela di bawah menara. Menunggu kesada­rannya pulih, bak orang mabuk menunggu muntah. Mabuk salawat.

“Tetapi, mana pula itu Dahlia. Kalau Dahlia, tentu kenal aku laki-laki berbecak motor itu?” Dia coba juga menyanggah, padahal hatinya sudah berdetak, hampir pecah.

“Mudin Barangin itu baru keluar dari penjara kok. Dela­pan bulan lalu dia mencincang kaki seorang toke telur di pasar. Alasannya karena toke itu merayu Dahlia. Karena pintar merayu, sebelum ke penjara, sempat juga dia menitipkan benih di rahim pacarnya itu. Dahlia mau pula menerima benih itu, sebagai bentuk terimakasih barangkali. Lagi pula dia tentu tak menyangka kalau Mudin akan masuk penjara. Tapi toke telur berhasil menyeretnya masuk bui.” Panjang lebar keterangan Bu­lan.

“Lalu garin pemalas itu datang. Dengan serampangan dia terima saja lamaran keluarga Dahlia. Tentu sebelumnya sudah dikirim-kirimi sambal lado dan kelio jengkol pula. Akh, garin bodoh itu memang tak tahu adat orang Belimbing ini. Asal menganai saja,” Sungut Bulan. Darah laki-laki bertampang mabuk itu tentulah berdesir-desir sepanjang dia bercerita. Tak tahu hendak mengapa. Diputarnya nyanyian asmaul husna lebih keras lagi, lebih keras dan lebih lama. Lama sampai ke zuhur sampai ke asar bahkan sampai magrib dan selepas isa’. Seolah dengan begitu dia bisa melupakan Dahlia, lupa pada Mudin Barangin, lupa pada Bulan juga. Tidak..tidak pada Bulan. Karena dia selalu merin­dukannya. Dia ingin asmaul husna, sembilan puluh sembilan nama tuhan itu turun bak tangga yang bisa dinaikinya ke Bulan. Ingin ditinggalkannya kamar sempit di bawah menara ini. Kamar yang disudutnya teronggok jilbab dan seragam mengajar milik Dahlia.

“Aku istirahat dulu. Mata­hari sudah datang.” Lembut terdengar suara Bulan.

“Boleh aku ikut?” Pinta laki-laki bertampang mabuk, nyaris merengek.

“Siapa kamu? Aku tak jelas melihat. Cahaya matahari cukup menyilaukan!”

Andai saja, kala itu dia akui kalau dia garin yang selalu melantunkan azan. Andai Bulan tahu kalau laki-laki itulah sumber suara merdu yang selalu dia dengar menjelang tidur,—suara yang sering membuatnya terlambat pulang ke pera­duan tentu ceritanya akan lain pula.

Sayang, tak diakuinya dia garin.

“Aku Pungguk!” Itu saja jawabnya.

Anggur raya@20, 14/11/11