Tag

,

Cerpen Budi Saputra
(Suara Merdeka, 2 Oktober 2011)

Sungguh tak terbendung saat itu. Ia yang awalnya pendiam dan penutup itu, tiba-tiba mengamuk di tepi sungai. Membabi buta. Melampiaskan dendam dan amarah yang menumpuk dalam dadanya. “Aarrrrgggg.” Suara jerit berhasil diciptakannya. Hari buruk menimpa seorang bocah gempal musuh bebuyutannya. Lehernya yang besar itu. Tubuhnya yang gempal, gesit, dan menjalar-jalar seperti ular itu pun seketika tersenyum puas.

***

Sedikit saja, tak perlu berpanjang-panjang agar tak merembes pada telinga tetangganya itu. Sunik tak berani berpanjang lebar bercerita pada anaknya. Tentang bocah itu. Bocah yang beberapa tahun silam begitu lekat wajahnya olehnya. Ya, Sunik memang mematuhi nasehat bapaknya.“Panggillah anakmu dengan panggilan baik-baik! Dan sesekali janganlah pernah melaknatnya!” Kata-kata itu begitu membuat Sunik mafhum dan berhati-hati dalam mendidik anaknya. Nasehat bapaknya itu begitu ia resapi dalam-dalam.

Sebagaimana sebelum ia bercerita tentang bocah itu, bapaknya pun juga menasehati. “Jangan ceritakan semua seluk beluknya. Binasa anakmu nanti!” Maksud bapaknya itu tentu sungguh dalam sekali. Sunik mencoba mengerti. Makanya, saat ia bercerita, ia begitu hati-hati. Takut ia jika Uwo Esoh mendengarnya. Sebab, ia dan siapa pun di kampung tahu, bahwa Uwo Esoh dan suaminya sungguh sangat berang jika mereka merasa terpojok. Mereka sungguh tak terima jika anaknya itu disebut-sebut. Dijadikan bahan nasehat. Jika mereka tahu ada yang menyebutnya, maka bersiaplah untuk menerima omelan atau pun caruik puntang (kata-kata kotor).

***

Dulu, dalam mengasih nama, Uwo Esoh telah memilih nama yang baik untuk anaknya itu. Untuk menimbulkan kesan yang padat, modern, dan tak kuno terdengar, maka diberilah nama anaknya itu John Buyung. Dan itu juga diamini oleh suaminya, Teleang. Dengan nama John Buyung, ia berharap anaknya sukses menjadi kaya dan mengangkat harga diri dan martabatnya. Membangkit batang tarandam di tengah kondisi keluarganya yang tengah kesusahan centang parenang.

“Orang barat banyak yang pintar-pintar. Lihatlah di tivi, mereka begitu canggih dan gagah-gagah potongannya.” Begitulah alasan Uwo Esoh saat ada orang yang bertanya. Mendengar lagak Uwo esoh itu, tentu orang-orang hanya tertawa geli saja dibuatnya. Orang-orang saling berbisik, saling mengatai-ngatai lagak Uwo Esoh dan Teleang yang memberi nama anak keempatnya itu dengan nama John Buyung. John Buyung merupakan satu-satunya anak laki-laki kebanggaan yang begitu lama dinanti Uwo Esoh dan Teleang.

Hari demi hari pun berlalu. Ijon, sapaan John Buyung, tumbuh sebagai anak yang subur. Badannya besar dan berat. Sampai-sampai Uwo Esoh pun kewalahan menggendongnya. Tak jarang, di saat Uwo Esoh membawa Ijon ke Posyandu, Ijon begitu membuat ibu-ibu lain gemas dan mencubit badannya yang besar.

“Anak siapa ini, Wo? Lihatlah, badan siapa yang ditirunya ini?”

“Ini anak Uwo, anak Teleang yang cerdas.” Uwo Esoh menjawab begitu semangat. Ia akan selalu semangat setiap ibu-ibu lain menanyakan tentang diri anaknya.

Begitulah Uwo Esoh, saat Ijon telah pandai berjalan, ia pun melepaskan Ijon segera bergabung dengan teman-teman sebayanya yang banyak berlahiran di masa itu. Ijon begitu gesit, begitu pandai berkawan dengan anak para tetangganya itu. Walau tiap sebentar menangis karena bertengkar sesamanya, Ijon pantang menyerah. Ijon selalu berusaha menguasi satu per satu mainan yang dimiliki teman sebayanya itu.

Namun, seiring berjalannya waktu, entah kenapa pulalah, suatu hari, Uwo Esoh kembali memberikan nama pada Ijon. Mendengar nama itu, orang-orang kembali hanya tersenyum geli dibuatnya. Malahan orang-orang pun lebih menyukai nama yang baru ini ketimbang yang lama. Dengan melihat badan Ijon yang gemuk besar dan kulitnya yang hitam, maka mudah saja orang memanggilnya: Gapuk Kaliang. Nama yang lebih tepatnya disebut gala (gelar) ini, sungguh pemberian mutakhir Uwo Esoh dan Teleang. Mereka secara spontan saja memanggil Ijon yang saat itu sedang asyik bermain simancik dengan belasan temannya.
“Woi, Gapuk Kaliang, pulang! Tak terpikir oleh wa’ang makan?”

Mendengar Gapuk Kaliang, kontan saja membuat bocah-bocah enam tahunan itu tertawa dibuatnya. Gapuk Kaliang, Gapuk Kaliang. Mereka segera merekam dan mengingatnya. Gala Gapuk Kaliang seketika meluas ke seantaro kampung itu. Tidak saja teman sebaya Ijon, para orang tua pun begitu hafal dan terbiasa dengan gala itu. Gala Gapuk Kaliang seketika merobohkan gala-gala teman Ijon lain yang sebelumnya sering terdengar di dalam pergaulan Ijon.

***

Pada awalnya, Uwo Esoh dan Teleang tidaklah menyesal saat banyak orang memanggil anaknya dengan gala Gapuk Kaliang. Uwo Esoh dan Teleang tertawa-tawa kecil saja saat memanggil Ijon dengan sebutan Gapuk Kaliang. Namun, saat Ijon semakin besar, Ijon pun mulai gelisah dengan gala tersebut. Ia sering jadi bahan olok-olokan teman-temannya. Tidak saja di lingkungan rumah.

Ternyata, gala Gapuk Kaliang juga merebak di lingkungan sekolahnya. Yang membuatnya malu di depan teman perempuannya.
Setiap hari, gala itu bertubi-tubi menimpa Ijon. Termasuk gala amak dan abaknya juga diperolok-olok. Ia dikucilkan dengan segala tingkah jelek yang dipertunjukkan teman-temannya. Ditambah pula saat itu, ingus sering keluar dan menempel di bajunya. Yang membuat teman-temannya menjadi enggan mendekat padanya.

Ijon tak habis pikir, kenapa teman-temannya tega memperolok-oloknya secara seksama itu. Tak jarang pula, setiap pulang sekolah, ia dibuat menangis oleh teman-temannya. Ia terpojokkan. Ia tak sanggup melawan belasan teman-temannya itu. Walaupun dibalas dengan gala yang buruk pula, tetap saja ia merasa tak berdaya. Hal inilah yang sering diadukannya pada amak dan abaknya. Ia protes dan tak terima dengan gala yang memojokkannya itu. Ia menyalahkan amak dan abaknya yang seenaknya memanggil dirinya tanpa rasa bersalah.

***

Uwo Esoh dan Teleang terpaksa menanggung malu. Sebab belasan anak laki-laki dan perempuan makin berani saja mengolok-olok Ijon hingga ke perkarangan rumahnya. Hal ini juga membuat Uwo Esoh dan Teleang marah. Apabila kedapatan anaknya tengah diolok-olok, maka mereka pun tak segan-segan menghardik dan mencaci.

“Hoi, anak ambo ada namanya. Kenapa kalian beri gala dan diperolok-olok seperti itu?” Dasar anak tak tahu diuntung kalian!” Mata Uwo Esoh melotot sambil berkacak pinggang kepada belasan bocah sebaya Ijon.

Uwo Esoh telah menjilat ludah sendiri. Kesenangannya memberi gala pada Ijon telah menjadi bumerang dan sumber masalah bagi keluarganya sendiri. Sulit baginya untuk menarik gala itu lagi. Sebab gala itu telah begitu erat melekat pada diri Ijon. Telah mengakar dan betah bertengger di wajah Ijon.

Ijon yang semakin hari tumbuh sebagai anak yang pendiam dan penutup itu, sesekali juga mengamuk dan marah-marah sendiri ketika melihat teman-teman lingkungan rumahnya itu dari balik jendela. Ia menutup diri dan enggan bermain bersama. Sebab jika ia keluar rumah, ia akan diolok-olok, walaupun sebagian temannya telah jera karena perintah orang tua mereka. Orang tua mereka telah didatangi oleh Uwo Esoh dan Teleang satu per satu untuk mengembalikan nama baik Ijon. Malah sempat pula terjadi adu mulut ketika antar orang tua itu saling menyalahkan dan dianggap tak becus dalam mendidik anak. Sampai-sampai si Suar yang berlainan suku itu, juga tak segan-segan mengancam Uwo Esoh dan Teleang dengan celurit. Karena tak terima keluarganya dicaci maki dan dipacaruik puntang. Tapi untung, adu mulut itu tak sampai melukai amak dan abak Ijon. Hanyalah kesepakatan kedua belah pihak: mendidik anak dengan baik anak agar tak menyebut atau memperolok lagi gala masing-masing.

Namun masih saja. Masih saja gala itu menyerbu Ijon dari berbagai penjuru. Seorang kakek tua bangka saja begitu enak memangggil Ijon dengan gala itu saat sedang duduk santai di lepau. Yang membuat kakek tua bangka itu diceramahi oleh Uwo Esoh setelah menerima pengaduan dari Ijon. Perang mulut tak terelakkan. Namun, setelah diketahui bahwa kakek tua bangka itu sedikit miring, amak dan abak Ijon pun memilih mengalah.

“Barangkali gala itu di dapat si gaek dari cucunya,” Uwo Esoh berbisik pada Teleang saat menjauhi kakek tua bangka itu.

***

Sedikit saja, tak perlu berpanjang-panjang ia bercerita pada anaknya. Sunik sangat khawatir kalau-kalau anaknya juga diperlakukan seperti Ijon oleh temannya, atau anaknya akan memanggil yang buruk-buruk pada temannya. Terlebih pergaulan sekarang telah berbagai macam saja panggilan diri yang tak lazim dan tak enak untuk didengar.

“Ibu, siapa anak itu dan di mana tinggalnya, Bu?” Tiba-tiba Ratih melayangkan tanya pada Sunik. Mendapat pertanyaan dari anaknya itu, Sunik hanya tersenyum. Dan kemudian menjawab, “ itu tak perlu, Nak. Yang ibu harapkan hanyalah agar kamu bergaul dengan baik dan memanggil nama teman-temanmu dengan panggilan yang baik-baik.” Sunik tentu masih ingat dengan perkataan seorang ustadz yang pernah datang ke rumah bapaknya. Ustadz itu berkata, “di antara kita janganlah pernah memanggil panggilan yang buruk-buruk. Dan jauhilah saling mengolok-olok itu agar selalu tercipta kedamaian.”

Sunik tentu juga tak melupakan kejadian yang sangat menggemparkan itu. Sungguh tak disangka, Ijon tak terbendung saat itu. Di tepi sungai, Ijon memburu seperti kesetanan dan menciptakan jerit, “aarrrrgggg.” Yang membuat seorang bocah lelaki seketika menggelepar dan kemudian membisu. (Padang, 2011)

Catatan:

Gapuk : gemuk
Kaliang : kulit hitam

Biodata Penulis

Budi Saputra. Lahir di Padang, 20 April 1990. Mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat, jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Menulis cerpen, puisi, dan resensi. Tulisannya pernah dimuat di Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, Majalah Sabili, Jurnal Bogor, Lampung Post, Suara Pembaruan. Ia diundang pada Pertemuan Penyair Nusantara V Palembang (2011) dan tergabung dalam antologi puisi Akulah Musi. Salah satu cerpennya tergabung dalam antologi 25 cerpenis Sumatera Barat Potongan Tangan di Kursi Tuhan(2011).