Tag

,

Cerpen Alex R Nainggolan
(Riau Pos, 02 Oktober 2011)

Selalu aku ingat padamu
laut yang hitam terbenam
di batas senja yang kaku
seperti kepergianmu
yang tiba-tiba tak sempat kurekam
bahkan kupahatkan pada bongkahan karang
di dasar laut yang berkubang
memberi kabar pada ikan-ikan
melepasnya ke samudera yang luas

Begitulah. Setiap kali aku mengunjungi laut, selalu kuingat padanya. Entah mengapa. Barangkali memang selalu ada yang ganjil saat aku merenung, dan menatap laut dari kejauhan.

Dari tempat aku berdiri di tepi pantai. Alangkah jauhnya. Alangkah birunya. Apakah kenangan dapat dijelaskan? Ah, betapa segala yang sentimentil telah menelanku.

Di kebiruan laut yang lepas, deburnya yang sedu sedan mengiba, sampai ke ujung kakiku. Seperti mencubit ujung kukuku. Dan aku tenggelam di dalamnya!

Apakah ini serupa dengan mimpi? Atau hanya sebatas fatamorgana diriku saja, yang lama tersesat setiap kali ombak menampar karang yang telah gompal itu. Dan senja itu, seperti cair, tenggelam di perut bumi. Kaku—menghitam.

Sesungguhnya, ah, mengapa mesti kujelaskan padamu, jika ia cuma perempuan biasa. Yang tak perlu kusebutkan namanya sepatahpun. Justru, dengan demikian ia telah merebut semua isi hatiku, dengan segala sikap atau percakapan yang pernah terjadi di antara kami.

Perempuan yang gemar memainkan poni rambutnya, saat angin laut berhembus di seluruh wajahnya.

Perempuan yang suka mencari lokan-lokan kecil, memungutinya ke dalam suatu wadah untuk dibawa pulang. Entah untuk apa. Perempuan yang tak pernah menjauh dariku, bahkan ketika aku terjatuh dalam kubangan sekalipun. Perempuan yang lucu dan selalu membuatku tertawa lepas.

Tapi, sebagaimana yang kutulis di atas tiba-tiba ia menghilang. Tanpa kabar berita barang sedikitpun. Tidakkah sebuah kepergian terasa menikam jantung hati? Dan kini aku sendiri. Memandang laut yang lepas.

Memandang di kejauhan, sembari berharap dengan sekuat hati dan pikiran jika suatu waktu ia akan kembali padaku. Berkisah tentang sebuah negeri di pinggir pantai yang tak pernah terhempas. Negeri yang pernah utuh. Tak seperti puzzle yang telah retak dan mesti disusun kembali satu per satu.

***
Sepasang kekasih berdiri di sampingku. Di keramaian orang. Di belakang anak-anak kecil yang mandi laut dengan aneka warna balon membalut tubuh mereka.

Balon-balon yang bentuknya beragam, ada bebek, perahu, jerapah—dan mereka tertawa lepas. Sepasang kekasih itu seperti tak terganggu. Seolah tak ada orang-orang di sekelilingnya. Mereka berpelukan. Si lelaki memagang pinggang si perempuan.

Si lelaki menunjuk sesuatu ke laut lepas. Sesuatu yang jauh. Sesuatu yang barangkali tentang cinta mereka. Sesuatu yang mungkin tak bisa dijelaskan. Mungkin sedang bercakap senja.

“Bagaimana bila tsunami datang dengan tiba-tiba?” suara lelaki itu memecah keramaian. Terdengar pelan. Terdengar seperti sebuah hentakan yang mencabut nyali.

“Aku akan mati bersamamu,” gumam perempuan. Terdengar perlahan, seperti sebuah cubitan kecil yang mencengangkan.

“Seperti dalam film Titanic?”

“Tidak. Aku tak mau selamat hanya seorang diri saja. Aku mau kita berdua selamat.”

“Tapi kita tak bisa menerka nasib. Apakah kau akan lari terbirit-birit?”

“Aku akan tetap berpelukan denganmu?”

“Kau tidak takut mati dengan cara yang menyakitkan semacam itu? Mungkin kau bisa memanjat pohon kelapa setinggi-tingginya. Atau berlari sekuat tenaga?”

“Tidak! Aku hanya mau mati denganmu.”

Si lelaki berkacamata, telunjuknya mengarah ke laut lepas.

“Tsunami. Alangkah menakutkan! Gemuruh yang panjang. Ombak tinggi yang telanjang. Menampar apa saja. Toh, aku rasa juga percuma memanjat pohon kelapa setinggi-tingginya.

Ombak itu akan menerjang dengan dentum yang lebih dashyat, bahkan dari meriam sekalipun. Percuma juga lari terbirit-birit, sampai isi perut habis —jika ombak yang panjang dan telanjang itu dengan segera menampar. Yang bisa diharapkan barangkali cuma berdoa, dan menyerah pada nasib.”

Aku memandang kekasih itu. Mengacuhkannya. Mendengarkan percakapan mereka lagi. Melihat laut lepas. Dan aku ingat bencana itu. Beberapa tahun yang lalu…

Puing-puing rumah yang cuma tersisa. Tumpukan mayat yang berkubang Lumpur. Tubuh-tubuh kaku yang bergelantungan di mana saja. Tsunami.

Hanya suara jerit ketakutan, tangis orang-orang berlarian. Tak ada lagi suara burung melayang di gigir pantai. Hanya air laut tumpah ke daratan setinggi 5 meter. Luluh lantak pondasi rumah orang-orang mengapung. Kematian yang bergulung. Kota tak lagi berbibir semua. Cuma bisa meraung, kematian yang begitu tergesa menjemput.

Puing-puing menumpuk di setiap sudut, setiap lekuk semaput tak ada yang luput. Kini kota itu telah diterjang banjir. Air-air menelusup ke celah-celah rambut jalan kota. Menelusup di antara rumah-rumah, memasuki sudut-sudut gedung. Air terkurung, menyeret apa saja.

Segalanya rubuh, menyemai keluh yang berlarian dengan derasnya air.

Di trotoar, setiap sudut kota banyak mayat menumpuk tanpa lengan. Tubuh-tubuh kaku serupa boneka. Manusia tak lagi bernyawa! Kota telah menjadi makam-makam yang panjang. Kuburan tanpa nisan.

Cuaca kelabu seluruh kota menjerit berita membubung bagai asap, mengunci seluruh panca indra. Tak ada lagi arti mata, telinga, lidah, dan jangat kulit.

Hanya kematian yang menghimpit. Tak ada lagi yang bernyanyi, hanya dapat berdoa lewat hati sekadar mengusir sepi memikirkan nasib diri sendiri dan keluarga.

Sementara di laut, ikan-ikan berenang tak mau ke dasar. Ombak-ombak membakar diri berkelahi untuk segera sampai ke daratan mungkin dan cuma mungkin dasarnya patah lebih dari sedepa.

Ombak terus bergulung, kelak seluruh negeri berkabung. Menampung duka mencatat setiap sketsa berita mata berkaca tak sanggup meneteskan air mata walau sedikt saja. Hanya keliaran luka dan duka, menyelusuk dalam rasa sedih yang tak pernah dirumuskan. Kesedihan yang panjang dan menyayat.

Waktu seperti tak lagi bisa dihitung. Semuanya sibuk dengan upaya penyelamatan diri. Kerumunan yang tersengal. Ah, wajah itu, seperti sebuah mimpi buruk yang membiru. Mimpi yang sesungguhnya tak diharapkan untuk datang dalam tidur. Mimpi yang hanya memunculkan berpuluh ketakutan yang panjang.

Orang-orang berlari, meneriakkan ketakutan. Keringat membuncah, gelisah menari di tepian hari. Kota itu menjelma jadi kesunyian yang abadi. Kesunyian yang tumbuh setelah ombak memasuki daratan, menggema.

Tak ada lagi suara jeritan, lolong yang pedih itu telah terserpih. Tinggal gaung yang memantul tanpa ujung, sayu-sayup sampai tak kedengaran lagi. Tak ada lagi tapak kaki yang berlari, cuma sunyi yang bergema menghitung detik-detik yang berlari. Sunyi yang berkelahi dalam pembuluh waktu. Diam yang tak kelihatan. Lengang yang menerawang.

Ah, wajah-wajah itu. Tubuh-tubuh yang kaku dan membeku itu. Aku mengingatnya. Aku ingin melupakan segalanya. Tetapi tetap saja ada yang teringat di dalam batok kepalaku. Adakah memang sepasang kekasih itu benar-benar akan mati bersama jika laut menggulung daratan serupa itu?

Aku memandang sepasang kekasih itu. Mereka masih muda. Wajah mereka begitu putih dan bersih. Aku memandang laut yang lepas. Sungguh biru. Sungguh mengharu. Ingatan itu kembali meradang. Ingatan yang begitu meriang.

***
selalu aku ingat padamu
setiap kali laut memejam
dalam debur ombak yang membuatku oleng
hampir karam diterjang pisau waktu
begitu tajam
dan terasa ngilu
di pangkal hatiku

Demikianlah. Aku memandang laut. Begitu lepas. Begitu luas. Di keramaian ini, ternyata aku cuma sendiri. Aku memandang kerumun orang-orang. Aku memandang anak-anak kecil yang begitu girang mandi di tepi laut.

Aku memandang sepasang kekasih itu. Teringat pada seorang perempuan yang telah lama berlalu, kemudian menghilang tanpa bekas. Perempuan yang gemar memainkan poni rambutnya, saat angin laut berhembus di seluruh wajahnya.

Perempuan yang suka mencari lokan-lokan kecil, memungutinya ke dalam suatu wadah untuk dibawa pulang.

Entah untuk apa. Perempuan yang tak pernah menjauh dariku, bahkan ketika aku terjatuh dalam kubangan sekalipun. Perempuan yang lucu dan selalu membuatku tertawa lepas.

Aku memandang laut yang membiru. Teringat sebuah kejadian. Sembari bertanya-tanya dalam hati; bagaimana jika tsunami singgah kembali?***

Jakarta, Februari 2008
Pantai Ancol, 17 Mei 2008 15:16:20
Duri Kosambi, 20 Mei 2008 21:51:09