Tag

,

Cerpen Oekusi Arifin Siswanto
(Radar Surabaya, 2 Oktober 2011)

LELAKI hujan. Entah didasari oleh alasan apa ibu menyebut lelaki dalam foto yang bergantung di dinding ruang tamu dengan panggilan itu. Mungkin ibu merasa lelaki itu sama seperti hujan yang kehadirannya akhir-akhir ini tak bisa diperkirakan. Atau juga oleh harapan yang tersembunyi dalam hati ibu kepada diri sang lelaki, yang diam-diam di tengah kegalauan, ibu merindukan kedatangannya untuk menyejukkan keluarga kami.

Dan, aku merasa apa yang kuperkirakan atas pikiran ibu itu benar adanya. Karena hingga usiaku yang menginjak dua puluh tahun aku sama sekali belum pernah melihat si lelaki dalam foto yang kumengerti dari ibu sebagai pengukir jiwa ragaku itu berkunjung ke rumah ini. Dia benarbenar seperti hujan di tengah musim yang tak berkabar pasti, meninggalkan tanya serupa kemarau yang kian mengerak di dalam dadaku.

Hujan dan si lelaki. Aku semakin melihat kemiripan keduanya. Setidaknya itu yang baca dari bias penantian di raut muka ibu, di tengah kesibukan menyulam benang-benang untuk hiasan baju pesanan, di setiap senja hingga menuju petang, sebagai satu-satunya kesibukan yang dimanfaatkan ibu sebagai pengisi waktu saat harapannya pada kehadiran curahan kebahagiaan tak juga mendapat jawaban.

“Dia ayahmu,” hanya itu jawaban ibu pada satu ketika saat aku memaksa menanyakan tentang siapa si lelaki dalam foto. Tetapi ibu tak mau menjelaskan lebih dari jawaban itu bahkan untuk sekedar menceritakan darimana asalnya. Ibu memilih bersegera tenggelam di tumpukan baju yang di kirim tauke di setiap awal pekan dan kemudian larut dalam benang-benangnya, meninggalkan gaung
tanda tanya tak berkesudah di dadaku. Tampaknya si lelaki akan tetap menjadi misteri bagiku. Seperti hujan yang kehadirannya begitu dinanti meski kadang terucapkan kata benci. Lelaki oh lelaki.

***
“Bu hujan sudah datang,” bisikku ketika gelayut mendung mulai pecah berupa titik-titik gerimis. Sepasang mata ibu yang tersembunyi di sebalik kacamata hanya memandang sekilas ke langit jauh, seolah tak hirau dengan bisikku beliau kembali terpekur dengan benang dan jarumnya.

“Hujan telah datang Bu. Kapan dengan ayah,” kucoba kembali berbisik meski itu terasa sedemikian keras di keheningan serambi rumah. Ibu tak menjawab, sesaat gerakan pergelangan tangannya berhenti. Dipandanginya wajahku dengan seksama.

“Musim lebih tahu kapan harus mengunjungi kita, tapi tidak dengan lelaki itu. Sudah. lupakanlah. Bahkan hingga airmata kita turut menjadi hujan dan mencipta bah, jangan harap dia akan datang.” Ibu kembali terdiam, tapi aku tahu gejolak di dada perempuan yang melahirkan aku ini tak sebenar-benarnya diam. Kurasakan beliau hanya berusaha untuk terlihat diam di depanku. Dan setidaknya itu cukup membungkamku untuk turut dan berserah diam di bawah suara derasan air hujan.

Semenjak senja di beranda depan setahun lalu itu, kuputuskan untuk tak peduli lagi dengan si lelaki. Aku tak ingin mengusik diamnya ibu dengan pertanyaan-pertanyaanku. Biarlah ibu menyimpan rahasia si lelaki itu sendiri, meski sebenarnya aku pun berhak tahu akan hal itu. Bagiku kini kebahagiaan ibu adalah segalanya, dan jika itu berarti aku harus melarung sekian banyak tanda tanya tentang si lelaki ke derasnya air hujan, pun itu tak mengapa. Atau bahkan aku rela jika ibu memintaku menghanyutkan bayangan si lelaki dalam foto di dinding ruang tamu itu ke selokan, bersama air hujan.

Ini adalah awal musim saat hujan seolah tiada jeda menghampiri halaman rumah kami. Dari dalam kamar berjendela kaca aku terbiasa memandangi rinai-rinainya dengan takjub. Sesekali kubergaya seperti seorang filsuf yang menafsir-nafsirkan hujan dengan membaca setumpuk buku di meja kamar. Atau cukup diam bak composer ulung yang tengah meracik nada-nada dari ricih gerimis di dalam otaknya. Ya, tiba-tiba saja hujan menjadi sedemikian karib denganku, mulai dari titik rinai gerimisnya, kabut tampiasnya, pun deru suaranya ketika menimpa dedaunan perdu.

Hujan pun telah jelma menjadi serupa hiburan bagi keluarga kecilku. Hadirnya tiada beda alunan orchestra yang mengisi kelengangan kamar-kamar hati. Hujan yang kerap datang di hampir setiap menjelang petang hingga tengah malam telah membawa kehangatan baru di rumah ini. Menampik pendapat banyak orang tentang kesenyapan yang dibawa oleh air hujan atau pendapat yang mengatakan bila gerimis adalah bagian dari puisi liris pengusung bait-bait perih para penyair yang sedang patah hati. Terbukti justru di bawah musim penghujan aku dan ibu menjadi sedemikian akrab dengan berbagi tentang banyak hal, termasuk rahasia si lelaki yang perlahan mulai beliau buka dihadapanku. Dan itu terjadi di awal musim ketiga tahun ini, bersama hujan. Hujan oh hujan.

***
“Ken tahukah kau apa arti kerinduan?”” suara ibu yang tiba-tiba memecah lamunanku pada satu malam di ruang tamu seminggu yang lalu. Aku menggeleng. Otakku berkerja keras menerka arah pembicaraan ibu. “Kerinduan seperti hujan. Seperti air Ken!””Ibu menghela napas sambil membetulkan letak kacamata sebelum melanjutkan bicara.

“Kerinduan menciptakan ceritanya sendiri untuk terus terlahir dan hadir di kehidupan kita. Seperti air yang semula kita sangka mengering oleh terik mentari, tetapi justru menumpuk tubuhnya di awan menjadi mendung dan tercurah kembali ke bumi menjadi hujan. Seperti itulah kerinduan yang seolah abadi, Ken. Kerinduan yang tajam seperti air yang telah mengebor tebing-tebing, menggugurkan jurang-jurang demi terciptanya sungai sebagai jalan untuk menemukan lautan.”

“Apakah Ibu masih merindukan Ayah?” potongku. Kupandang raut muka ibu tak berubah. Tatapan matanya datar menumbuk kosong ke arah dinding ruangan .

“Mungkin.”

“Mengapa mungkin? Ibu ragu??” buruku. Ibu mengangguk. Dirapatkannya jaket yang membungkus tubuhnya, coba menangkis serangan udara dingin yang dihembuskan sisa hujan yang mulai mereda.

“Kau sudah dewasa Ken, Ibu ingin cerita tentang ayahmu. Apakah kau bersedia?” tanya ibu.

“Tentu saja Bu aku bersedia,””jawabku. Melalui bayangan kaca jendela kulihat ada setititik nyala di mataku.

“Cerita ini mungkin terlalu pahit untukmu, tetapi ibu tak mungkin menyembunyikannya terus menerus darimu.” Ibu menghela napas panjang, sebelum mulai bercerita.

“Ayahmu adalah satu-satunya lelaki yang kucintai. Rasa sayang dan harapanku terhadapnya sangat besar tetapi perasaan itu berubah benci yang tak terukur setelah dia pergi dengan perempuan itu di tahun keempat pernikahan kami. Namun entah sepuluh tahun belakangan ini ibu begitu merindukannya kembali, terutama ketika melihatmu kian beranjak dewasa.” Buliran air bening menggantung di pelupuk mata ibu. Kurasakan pula kepedihan yang mendalam dari sorot mata itu.

“Sebegitu dalamkah cinta Ibu kepadanya, hingga tak berniat menikah lagi setelah Ayah meninggalkan kita?” kuberanikan bertanya lebih jauh. Ibu menggeleng perlahan.

“Setelah sekian lama kami tak lagi bersama, aku menemukan kerinduan“itu hadir dalam bentuknya yang baru Ken. Seperti yang pernah kukatakan, rindu itu seperti hujan dia memiliki ceritanya sendiri dan kita, tak pernah tahu jalan mana yang akan dilalui.” Ibu mendesah sambil membuang muka menatap keremangan halaman yang di genangi air hujan.

“Apakah Ibu masih mengetahui kabar Ayah?” tanyaku setelah kami beberapa menit saling terdiam. Ibu hanya menjawab dengan anggukan.

“Ya, lima tahun yang lalu, dan itu yang terakhir kalinya aku mendengar kabarnya,” jawab ibu. Wajahnya tertunduk menatap lantai ruang tamu. Dari kejauhan suara binatang malam mulai saling bersahut dari rerimbunan perdu. Sementara hujan telah benar-benar reda.

“Lima tahun yang lalu..?” aku menggantung tanyaku. Ibu kembali mengangguk mengiyakan. Kugeser dudukku semakin mendekat ke arah ibu.

“Lima tahun yang lalu dia berkirim surat kepada Ibu. Ayahmu menyatakan penyesalannya yang mendalam telah meninggalkan Ibu bersamamu yang saat itu belum genap berusia satu tahun. Dia juga mengabarkan bila perkawinannya dengan si perempuan itu kandas di tengah jalan pada tahun ketiga.”

“Jika ayah dan Ibu masih saling mencintai, mengapa tidak rujuk,” selaku.

“Itu tak mungkin itu Ken!”

“Ibu egois. Setiap manusia bisa saja membuat kesalahan dan ayah sudah meminta maaf, mengapa ibu ingin melampaui Tuhan yang senantiasa membuka pintu permaafan bagi umat-Nya?” bantahku sengit, kuhempaskan punggungku ke sofa dengan kesal.

Di benakku seketika terpampang slide masamasa sulit di mana aku melalui masa anak hingga dewasa tanpa seorang ayah. Keirian yang pernah terselip di dada bocahku kembali menyeruak ketika anak sebayaku selalui di temani kedua orang tua saat mengambil rapor dan menghadiri pesta perpisahan sekolah. Aku selalu tak bisa menceritakan bagaimana berlibur bersama ayah, dan menceritakan tentang sosoknya, karena samasekali aku tak pernah melihatnya. Dan malam ini aku melihat satu kesempatan untuk membuat keluarga ini utuh. Kesempatan yang tak akan kusiasiakan tentunya.

“Mengapa Bu ??” buruku

“Karena, karena ayahmu telah tiada Ken, tepat sebulan sesudah Ibu menerima surat ayahmu, ia mengalami kecelakaan, seorang kerabat mengabarkan kepada Ibu seminggu setelah peristiwa itu,” jerit ibu tertahan terbenam di suara isak tangisnya yang tiba-tiba tumpah mengalahkan curahan hujan. Aku tercenung, tak pernah terbayang sebelumnya bahwa keingintahuanku selama ini berakhir dengan sedemikian mengharukan. Kurangkul bahu ibu, kutenangkan dengan usapan di punggungnya, meski sebenarnya aku pun layak mendapatkan perlakuan yang serupa.

“Maafkan ibu Ken, maaaf jika selama ini Ibu menyembunyikan kenyataan ini darimu, maafÖ!!” tubuh ibu berguncang oleh isak yang telah berubah menjadi tangisan. Tak terasa airmataku pun menetes, bergulir di parit pipi. Kami berdua saling berpelukan seolah saling berbagi perih. Ruangan tamu pun sesak dengan suara tangisan menggantikan deru hujan. Dan menyisakan keheningan, setelahnya.

Perlahan kukumpulkan kekuatan untuk memapah tubuh ibu yang lunglai, menuntunnya berjalan ke dalam kamar. Kucoba menenangkan beliau semampuku, menghiburnya dan mencoba mengembalikan ketabahan yang selama ini beliau tampilkan di hadapanku. Malam pun terus beranjak larut, tak terdengar lagi sisa air hujan yang menetes dari ujung genting, saat perlahan kututup pintu kamar ibu.

Aku terus melangkah menuju kamarku yang berada di samping ruang tamu, sesaat kuberhenti di hadapan foto lelaki yang terpasang di dinding ruangan, entah tiba-tiba saja muncul perasaan yang ganjil saat menatap foto si lelaki di ruang tamu. Tak ada lagi kegalauan yang menyelimuti dadaku melainkan berganti dengan sebentuk kerinduan.

Ya, mungkin benar apa yang di katakan ibu, rindu memiliki jalannya sendiri untuk kembali dikehidupan kita, seperti air seperti hujan, seperti lelaki ini.