Tag

,

Cerpen Hidayat Banjar
(Harian Analisa, 02 Oktober 2011)

LELAKI 40-an itu, singgah di sebuah kios: “kasi rokok,” suaranya keras sekali. Si penjual rokok tak banyak komentar. Dua batang diberikan padanya dan menyalakan mancis manakala lelaki tua itu menyulutkan Panamas ke bibirnya. Seterusnya, lelaki itu pergi. Orang-orang yang menyaksikan adegan itu, ada yang bersikap tak acuh, ada pula yang berkomentar: “kalau setiap hari gratis lama-lama bisa tumpur”.

“Tidak setiap hari, kadang-kadang saja,” jawab yang empunya kios, “itung-itung, jadi amal,” lanjutnya lagi.

Tak ada orang yang tahu persis riwayat lelaki itu. Hidup di kota besar memang tak perlu harus tahu banyak riwayat orang-orang yang seperti lelaki itu. Mengapa tidak, di kota-kota besar mana pun, ada saja penghuninya yang seperti lelaki tua itu. Lelaki yang harus mengalami petualangan berlarut-larut. Baju kumal, celana kumal dan topi yang hampir tak berwarna lagi. Pasti sekali, bila dekat denganya, terpacarlah bau dari tubuh yang terlalu lekat dengan dinginnya kaki lima dan kolong jembatan di malam hari.

Di topi lelaki itu melilit kain yang menggambarkan organisasi bawah tanah. Meski samar-samar -karena terlalu lekat dengan kegelandangan- warna yang dipancarkan kain itu membayang juga. Bila diteliti secara cermat, akan diketahui warna yang ada di kain itu adalah simbol dari sebuah pergerakan -yang oleh Pemerintah Republik Indonesia- disebut GPK (Gerakan Pengacau Keamanan).

* * *
Suatu ketika dia membunuh orang. Karena itu dia pergi meninggalkan rumahnya untuk selama-lamanya, meninggalkan kota tempat dia dilahirkan. Tak pernah sakali pun dia melihat rumahnya, sejak ditinggalkannya, hingga kini. Sebagaimana riwayat hidupnya, orang-orang di kota tempat dia menggelandang sekarang, tak ada yang tahu di mana rumahnya, dari mana asalnya. Dari dialegnya, orang dapat menduga, dia berasal dari daerah ujung pulau Sumatera.

Dia membunuh orang -menurut logika pribadinya- punya alasan logis. Dia balas dendam karena ayahnya hilang dan tak diketahui rimbanya. Orang-orang bilang, ayahnya bergerilya melawan tentara republik. Ada juga yang bilang, sebelum bergerilya, ayahnya dilatih di sebuah negara yang jauh sekali dari tempat kelahirannya. Ketika itu, dia tak tahu apa artinya gerilya. Dia tahu, ibunya tak punya suami, tetapi tak boleh menyandang predikat janda. Dia dan abangnya yang hanya seorang, juga tak boleh menyandang predikat yatim.

Dia tak kembali lagi ke rumahnya, bukan karena lari dari tanggung jawab. Memang merupakan sikap yang pantas sekali: balas dendam. Ya, di rumah itulah jalinan-jalinan muak menumpuk di tempurung kepalanya.

Ibunya sudah dikubur, pun terjadi di rumah itu: sebuah tragedi. Peristiwa ini merupakan embrio kebencianya pada sang ayah, yang tak sempat dia kenali wajahnya. Dia belum genap empat tahun ketika ayahnya tak pulang-pulang ke rumah. Dengan hilangnya sang ayah, tentu saja tercipta suasana kekacauan di tubuh keluarga mereka.

Hilang bagi kehidupan memang merupakan sebuah tanda tanya besar, yang menuntut sebuah jawaban: ke mana? Hilang berbeda dengan mati. Mati merupakan siklus hidup, yang dapat disebut dengan takdir. Pada posisi ini, ruang ketidaktahuan di tempurung kepala manusia tetap dibiarkan terselubung. Pada peristiwa hilang, orang tidak akan membiarkan ruang ketidaktahuan itu terus tertutup. Selubung ketidaktahuan itu merupakan rangsang bangun untuk terus disibak. Ini lebih celaka dari peristiwa kematian.

Ayahnya, ya, ayahnyalah sumber celaka itu. Ketika ibunya akan menghembuskan napas terakhir, masih sempat berpesan: “Jika Ayahmu nanti pulang, katakan padanya bahwa aku masih dan tetap cinta padanya serta tak kan pernah melup…” Muak sekali dia mendengar kalimat celaka itu. Kalimat yang dilontarkan dalam irama sangat membosankan.

* * *
Sekali peristiwa, datang seorang lelaki seusia ayahnya ke rumah mereka. Duda itu mengaku teman akrab ayahnya. Pucuk dicinta ulam tiba: ibunya, abangnya, juga dia, menyambut kedatangan lelaki itu dengan hangat. Karena sambutan yang hangat itu, lelaki yang sebaya ayahnya itu, kerasan berlama-lama di rumahnya. Dia pun senang berbicara panjang-panjang pada lelaki itu.

Dia ketika itu sudah pemuda 19-an dan tak pernah kenal ayah, seperti mendapat durian runtuh dengan kehadiran lelaki itu. Naluri manjanya dapat tersalurkan. Naluri purba kanaknya mendapat semacam pelepasan. Tak jarang lelaki itu menginap di rumahnya.

Celakanya, sang ibu yang sudah 15 tahun tak mendapat dekapan lelaki, ikut-ikutan pula kenes, manja, kolokan dan sejenisnya. Celakanya lagi, ketika suatu kali dia ingin mengambil sandal di kamar ibunya, lelaki sebaya ayahnya itu mengerang nikmat dalam pelukan ibunya. Dia pun berteriak. Abangnya datang, ibunya dan lelaki itu malu besar.

Tak lama setelah kejadian itu, abangnya pergi tanpa pesan, entah ke mana, dia tak tahu. Kabar pun tak pernah ada. Ibunya -juga karena peristiwa itu- mengidap psikosomatik. Selalu dia mengigau menyebut-nyebut nama suaminya: “Sungguh mati… Teuku aku hanya cinta padamu”. Atau: Teuku, semua ini di luar sadarku”.

Ucapan ibunya yang paling memuakkan bagi dirinya adalah: “Jika Ayahmu pulang, katakan padanya bahwa aku tetap cinta padanya dan tak kan pernah melup…” Muak dia dengan sentimentil kampungan seperti itu. Kapan ayahnya akan pulang dan bagaimana pula rupa ayahnya? Inilah selubung ketidaktahuan yang mebuatnya semakin jijik pada sang ayah.

* * *
Lapangan Merdeka di kota tempat dia menggelandang sangat ramai. Seminggu lebih orang-orang mempersiapkan acara seremoni: peringatan hari kemerdekaan. Hari itulah puncaknya. Perayaan dipusatkan di Lapangan Merdeka.

Drum band dipukul bertalu-talu. Arak-arakan yang terdiri dari mobil-mobil hias dan gadis-gadis cantik mengenakan busana yang benar gemerlap. Lelaki itu terus berjalan mengitari Lapangan Merdeka yang luas. Orang-orang tidak menghiraukannya. Siapa yang mau peduli dengan gelandangan semacam dia. Beratus, bahkan beribu gelandangan setiap harinya menghiasi sudut-sudut kota.

Pikirannya hanya satu: bagaimana menguak kerumunan orang-orang dan muncul di tengah lapangan. Kemudian meneriakkan kepada orang ramai; dirinya adalah korban dari semangat kepahlawanan. Korban dari ayahnya yang terus bergerilya menuntut kemerdekaan bagi wialayahnya, bagi Aceh. Dirinya adalah salah seorang dari sekian orang yang jadi korban kecenderungan semangat kepahlawanan.

Andai tidak mati di tangan lelaki itu dan wilayahnya dapat merdeka, niscaya ayahnya mendapat predikat pahlawan. Karena ayahnya keburu mati di tangannya dan wilayahnya tetap dalam pangkuan republik, dia dan ayahnya hanyalah martir semata.

Karena ayahnya ikut kelompok yang disebut orang sebagai GPK (Gerakan Pengacau Keamananan), setiap saat tidak ada di rumah. Dapat dikatakan hilang. Karena ayahnya hilang, dia tak jadi kawin dengan gadis pujaannya. Meski dia dan gadisnya saling menyinta, calon mertua tak mau menerima dirinya sebagai menantu.

Dia memang dapat menjelaskan kenapa ibunya mati, kenapa abangnya pergi. Sebagai orang yang berusaha terbuka, dia tak dapat menjelaskan kenapa ayahnya hilang. Diculikkah, pergi ke sebuah negeri yang sangat jauhkah, atau bergerilya ke hutan-hutan? Atau sudah mati? Di manakah matinya, di tangan siapa matinya, atau dimakan binatang buas? Entahlah. Ya, sesuatu yang sangat tidak jelas. Pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah punya jawab.

Sebab tidak jadi kawin, gadisnya lama-kelamaan sakit dan mati.DiIa pun benar-benar sebatang kara. Dalam kesebatangkaraan itu, seorang lelaki separo baya muncul di rumahnya. “Aku ayahmu Juned,” tutur lelaki itu sambil menatap tajam. Lama mereka berpandangan, keraguan membersit di hatinya: jangan-jangan orang ini adalah penipu. Dia pun menatap dengan sorot kecurigaan.

Lelaki yang menyebut dirinya sebagai ayah itu dan sudah tidak muda lagi, tidak was-was dengan pandangannya. Dia lebih menancapkan pandagan. Tajam: mata seorang gerilyawan. Lelaki sebatang kara tertunduk.

“Ayah!” baru kali ini dia menyebut kosakata yang menurutnya sangat asing itu. Lelaki separo baya diam. Selanjutnya -entah kekuatan apa- lelaki sebatang kara memeluk lelaki separo baya. Orang yang mengaku ayah itu kaku saja. Dia berusaha menahan rasa yang membrondong tempurung kepalanya. Dalam pada itu, mereka sudah makan siang bersama. Setelah mandi, mereka duduk di ruang tamu, berdua saja.

Siang menjelang sore, sebuah kesimpulan muncul di benak lelaki sebatang kara. Tak dapat dia melanjutkan hidup seperti ini: di dalam kesumat dendam. dia telah menanggungkan nasib yang celaka bertahun-tahun. Siapa pun dia -lelaki separo baya tersebut- ayahnya atau hanya seorang penipu, baginya sudah jelas – harus menumpahkan lahar yang terpendam di dalam gunung berapi dirinya.

Dia pergi ke dapur. Diambilnya pisau yang selama ini selalu digunakan ibunya untuk mengiris, memotong dan mencungkil bahan masakan. Dia kembali dengan tenang. Tenang sekali. Da tikamkan pisau dapur itu ke dada lelaki separo baya itu. Berkali-kali. Ketika itu dia terbayang bagaimana ibunya -dengan tanpa perasaan- mengiris-iris bawang. Lelaki separo baya itu pun, dia perlakukan sedemikian rupa. Dingin sekali.

Selanjutnya dia tinggalkan rumah tempat dia dibesarkan. Dia tinggalkan kampung halaman, tanah tumpah darah tercinta. Dia pun ada di jalan-jalan raya kota besar, di kaki-kaki lima dan kolong-kolong jembatan. Baju yang dipakainya, sisa terakhir dari pakaian lelaki yang mengaku sebagai ayahanya, lelaki yang kata orang anggota gerakan separatis.

Selanjutnya lagi, di usia yang sudah mencapai 40-an, lelaki itu sudah berada di Lapangan Merdeka di kota tempat dia menggelandang kini – yang sedang memperingati 17-an.

Dengan segenap keberanian, setelah putaran ketujuh, lelaki itu menguak barisan menuju ke tengah lapanagan. Dia berteriak-teriak: “Aku sudah membunuh seorang yang mengaku pejuang. Aku sudah membunuh seorang yang akan mendapat gelar pahlawan bagi bangsa kami. Dialah yang menyebabkan aku menjalani hidup celaka ini. Sesungguhnya akulah salah seorang pahlawan dari republik ini, karena telah membunuh seorang pemberontak, seorang anggota Gerakan Pengacau Keamanan yang tergabung dalam gerakan separatis”.

Petugas menangkapnya. Dia menggeliat. Geliat lelaki yang sudah karatan dimakan hawa jalanan dan usia. Sempat pula dia menghunjamkan pisau dapur yang dulunya merobek dada sang ayah ke perut sang petugas. Suasana jadi hiruk-pikuk.

Oleh petugas yang lain, dia disergap bersama-sama. Dari mulutnya sempat juga keluar ucapan: “Aku adalah korban dari pergerakan kemerdekaan, korban dari semangat kepahlawanan”.

Seterusnya, orang-orang di kota itu tak pernah lagi melihat lelaki 40-an itu. Lelaki yang setiap harinya mengenakan baju dekil, celana dekil dan topi dekil dengan selempang gerakan separatis membaluti topi.

Penjual rokok yang selalu berbaik hati padanya pun tak lagi melihat lelaki itu. Semua mereka, semua penduduk kota, tak pernah merasa kehilangan.