Tag

,

Cerpen Achmad Dian
(Seputar Indonesia, 02 October 2011)

PEMULUNG itu bangun dari tidurnya. Saat itu mungkin pukul empat pagi. Atau lebih. Ia tak ambil pusing pukul berapa ketika bangun dari tidurnya.

Ia selalu bangun pagi.Matanya terbuka secara otomatis saat subuh masih gulita.Udara basah dan lembab. Baginya, waktu jadi tak penting. Begitu matanya terbuka, pikirannya langsung pada tempat-tempat sampah mana yang harus diadukaduknya, mencari gelas-gelas plastik atau botol-botol bekas air mineral, kardus-kardus, juga kertas-kertas bekas.

Yang ia tahu tentang waktu adalah pagi,siang,sore dan malam. Waktu punya kesibukannya sendiri,sedangkan ia sibuk dengan bak-bak sampah yang bisa menghasilkan duit.Waktu terus berjalan tanpa memedulikannya. Padahal ia telah menjadi penghuni tetap kolong jembatan itu. Jangankan waktu, orangorang pun tak ambil peduli terhadapnya. Tak ada seorang pun yang memberi belas kasihan.

Sejak ia menjadi penghuni tetap kolong jembatan itu,tak seorang pun memberi sekepal nasi untuk mengisi perutnya. Tak ada. Ah,tentu saja ia salah.Atau ia telah lupa. Beberapa waktu yang lalu, seseorang pernah memberinya sebungkus nasi dengan lauk tahu tempe dan sayur rajang buncis dan kaus oblong murahan berlambang partai dan uang 20 ribu.

“Teriak,dong! Jangan diam saja.Gua kan udah kasih lu kaus dan duit,” tegur salah seorang yang disebut korlap dengan mata melotot ke arahnya. Ia ketakutan. Hatinya mengerut. Ia bungkam seketika itu. “Hidup partai…,”teriaknya menirukan perintah korlap. Waktu itu ia berdiri di barisan paling depan, hendak merangsek barisan pengaman.

Dan tibatiba, entah dari mana arah pukulan itu.Bug! Sebuah pukulan tongkat menghantam tubuhnya. Tongkat hitam itu hendak menghantam kepalanya, untunglah ia dapat menangkis.Tubuh dan tangannya terasa ngilu dan sakit luar biasa.Tak tahan pukulan yang bertubi-tubi itu,ia pun lari lintang-pukang.Barisan bubar kocar-kacir.

Tapi setelah kampanye dan demo berlalu, tak seorang pun peduli padanya. Ia kembali ke tempat tinggalnya di kolong jembatan dan setiap hari mengais- ngais tempat sampah. “Tuhan,aku mohon kepada- Mu. Berilah aku kehidupan yang lebih baik.Agar aku tidak menjadi hamba-Mu yang hina,” katanya dalam doa,memohon kepada Tuhan yang Pengasih dan Penyayang.

Hari itu menjelang sore, ia berjalan mencari-cari tempat sampah di pinggir jalan raya.Ia melihat seorang lelaki bersama seorang perempuanmudaturun dari sedan berjalan menuju sebuah hotel kecil. Laki-laki itu mengenakan kemeja kotakkotak warna putih, berlengan pendek, celana biru toska. Perutnya agak membuncit. Si perempuan mengenakan gaun terusan warna biru tak berlengan.

Bagian depan bawah bajunya terbelah sebatas lutut.Kulit si perempuan itu putih.Dadanya menyembul,tidak terlalu besar. Raut wajahnya penuh dengan keceriaan. Tiba-tiba saja ia teringat pada Oneng, perawan kampung yang pernah dicintainya beberapa tahun silam.Dan ia segera mendekati si lelaki. “Pak, berilah saya pekerjaan. Saya masih muda.Tenaga saya kuat untuk melakukan pekerjaan apa saja,”katanya memohon.

Lelaki itu menolehkan wajahnya ke pemulung itu. Tak ada sepatah kata diucapkan lelaki yang turun dari sedannya. Lelaki itu merogoh saku celananya. Selembar lima ribu diberikannya kepada si pemulung itu. Lelaki itu segera menggamit tangan perempuan yang berdiri di sebelahnya,lalu berjalan menapaki lobi hotel. Meninggalkan pemulung berdiri terpaku.

“Siapa?”Tanya perempuan yang menggamit pria itu. “Tau.” Lelaki pemulung itu berkata dalam hatinya,“Aku yang hanya berkata tiga patah kata mendapat lima ribu rupiah.Bagaimana dengan perempuan itu. Tentu ia akan mendapat uang lebih banyak dariku.” ***

Lelaki pemulung itu menyalakan lilin yang semalam dimatikan sebelum ia terlelap tidur. Nyamuk-nyamuk telah gendut menghisap darah tubuhnya dan menempel di dinding karton tempat tinggalnya. Di atas kepalanya— beton berlapis aspal— terdengar kendaraan melewati jalan raya.Sebulan ini petugas tak melakukan razia para gelandangan yang tinggal di kolong jembatan.

Ia menenggak air teh dingin di botol plastik. Ia mengenakan celana dan kaus oblong usang yang disangkutkan di sela-sela dinding karton. Ia bersiap mendatangi setiap tempat sampah di kompleks- kompleks perumahan. Ketika hendak menaikkan ritsleting celananya dan matanya menghadap ke bawah, ia melihat sebuah amplop putih yang terinjak jempol kakinya. Amplop itu bersih.Ia tergugah.

Perasaannya mengatakan belum pernah ia menemukan kertas- kertas bekas seputih amplop di gubuk kartonnya.Ia memungut amplop itu. Dua buah kalimat tertera layaknya sebuah surat ditujukan oleh si pengirim: Untuk kamu. Ia mengeluarkan isi amplop. Selembar kertas bertuliskan huruf yang indah dan tersusun rapi.

Pemulung itu mendekatkan kertas pada lilin dan segera membacanya. Isinya begini: Surat Kuasa Yang bertanda tangan di bawah ini saya sendiri. Dengan ini menguasakan pada Sdr.Trimo Wali sebuah rumah di atas sebidang tanah berjarak 200 meter dari jalan raya, terletak di sebelah Timur. Rumah dan tanah itu menjadi milikmu. Tertanda, Tuhan Merasa kurang yakin, lelaki pemulung itu membaca ulang.

Ia yakin karena tulisan itu tak sedikit pun ada yang berubah setelah dibacanya berulang kali. Nama Trimo Wali adalah nama dirinya.Tapi ia mulai bertanya- tanya.Apa benar surat yang baru dibacanya berulang kali berasal dari Tuhan? Benarkah Tuhan memberinya sebuah rumah di atas sebidang tanah? Atau surat ini berasal dari orang yang iseng, yang ingin menghinanya tapi tak berani langsung berhadapan?

Maka orang itu mengirim surat dan diletakkannya saat ia tidur. Suara kendaraan di atas jembatan semakin bergemuruh.Di antaranya adalah angkotangkot (angkutan kota) yang membawa para penjual sayur ke pasar induk. Surat itu dimasukkan dalam saku celananya. Ia kemudian berjalan ke atas, menghampiri sebuah warung kopi. Ia memesan segelas kopi, lalu menyantap dua buah pisang goreng.

Di saat yang sama ia mendengar celotehan laki-laki dan perempuan yang duduk di pojok warung. Bau parfum menyengat hidungnya. Dari pembicaraan pasangan itu si pemulung mengira-ngira bahwa pasang itu sedang menetapkan janji untuk bertemu lagi. Lakilaki itu duduk sangat rapat dengan si perempuan.Sempat terdengar si perempuan berkata, “Aku capek nih. Ntar malam saja lagi,ya.”

“Benar, ya! Aku tunggu kamu di halte itu. Kalau kamu tidak ada…” kata si laki-laki sambil meletakkan sebelah tangannya yang kanan melintang ke lehernya dan menariknya ke samping. Perempuan itu hanya tertawa kecil.Sedikit pun ia tak takut akan ancaman lelaki teman kencannya.

Mungkin juga perempuan itu mengira bahwa lelaki teman kencannya hanya bergurau. Lelaki pemulung melangkah meninggalkan warung kopi. Ia menelusuri trotoar.Masih ada sedikit udara segar dirasakannya. Ia terus melangkah ke arah timur menuju alamat sebagaimana disebut dalam surat.Sesekalidirabanya sakubelakangcelananya untuk memastikan surat itu masih ada.

Kendaraan mulai ramai, saling susul.Tepat di sebuah pinggir jalan yang sepi, lelaki pemulung itu melihat sebuah rumah sebagaimana keterangan dalam surat. Sebuah rumah di sebidang tanah.Keraguan melingkupi perasaannya, namun tetap melangkah mendekati rumah itu. Pintu depan rumah itu tertutup.

Dua buah jendela di samping pintu pun tertutup,hanya kain gorden berwarna hijau diikatkan pada masing- masing sisi kusen jendela. Ia mengintip dari balik kaca jendela. Semua perabotan rumah tertata rapi di dalamnya.Ia kembali ke pintu rumah dan mencoba membukanya. Ternyata pintu tidak dikunci. Pemulung itu masuk. Di belakang pintu terdapat selembar kertas putih ditempelkan. “RUMAH INI UNTUKMU”.

Pemulung itu senang bukan kepalang. Toh akhirnya Tuhan mendengarkan dan mengabulkan doanya waktu itu.Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa ia akan memiliki rumah besar dan sebagus itu. Dari dalam, ia melihat ke halaman depan.Halaman rumah yang cukup luas. Berbagai tanaman bunga warna- warni berjajar di sisi dinding.

Di bagian ruang tengah,ada sebuah meja makan dan empat buah kursi.Dekat meja makan itu terdapat sebuah lemari pendingin. Lelaki pemulung itu membuka kulkas yang penuh terisi. Ada ikan-ikan segar dan buah apel, anggur, dan jeruk. Ia mengambil buah apel dan siap melahapnya.Ia menghampiri sofa beludru warna cokelat.

Baru saja hendak meletakkan pantatnya, ia segera tersadar.Celana dan kaus yang dikenakannya kotor. “Sayang sofa ini jika kududuki,” bisiknya. Lalu ia duduk di lantai porselen warna krem yang mengilat. Dingin terasa di pantatnya. Dari tempat duduknya, ia melihat sebuah kamar tidur yang pintunya terbuka.

Ia dapat melihat tempat tidur itu telah dilapisi seprai warna hijau dengan motif bunga-bunga. Pagi menjelang siang,lelaki pemulung itu tidak mengais tempat- tempat sampah.Ia menikmati apa yang baru saja didapatkannya secara cumacuma dari Tuhan.Kenikmatan mendapatkan sebuah rumah lengkap dengan isinya membuatnya terlena dan akhirnya tertidur di lantai. Namun,baru saja rasa lelapnya hampir sempurna,ia mendengar pintu diketuk orang.

Ia pun terbangun. Dari jendela dilihatnya beberapa orang berseragam. Ia mengenal betul seragam yang dikenakan orangorang itu. “Ada apa, ya?” tanya pemulung itu setelah membuka pintu. “Kami petugas. Bisa bertemu dengan pemilik rumah ini?” tanya salah seorang yang berdiri paling depan. “Saya pemilik rumah ini,” jawab lelaki pemulung itu tanpa ragu.

Petugas itu memperhatikannya lelaki di hadapannya dari atas kepala hingga ke bawah kaki pemulung itu. Petugas itu merasa tidak yakin. “Jangan main-main!” “Maksud Bapak?” tanya lelaki pemulung itu tak mengerti. “Bisa kami lihat surat kepemilikan rumah ini?” Lelaki pemulung itu merogoh saku celananya. Ia perlihatkan selembar surat pada petugas itu.

Petugas itu membaca isi surat.Kemudian petugas itu,sambil tertawa memberikan surat itu kepada tiga orang temannya.Setelah membaca, mereka tertawa bersama. “Ada apa? Mengapa Bapak tertawa?” “Yang benar saja.Mana ada Tuhan memberi rumah secara cuma-cuma.” “Bapak lihat di belakang pintu itu.Bacalah!” Keempat petugas itu kembali menertawakan lelaki pemulung itu setelah membaca selembar kertas yang direkatkan di balik pintu.

“Sekarang juga Bapak ikut kami ke kantor. Surat ini saya pegang sebagai barang bukti. Bapak telah mempermainkan hukum. Bapak telah mengakungaku sebagai pemilik rumah secara tidak sah.”