Tag

,

(Lampung Post, 02 Oktober 2011)

Agus Kindi

rupanya embun masih sudi menyuntingku pagi hari, bukan sebagai kelopak yang baru tumbuh bukan untuk tubuh yang baru bergegas berpacu.

sebab kabut masih menyimpan baik detak waktu dan hujan sesekali datang pada tubir jendela
mungkin entah ada batasnya saat kusampaikan beningnya dengan air mata yang mengisak dalam malam suyi sendiri saat terjaga

dan kantukku jadi bunga-bunga semesta yang bernyanyi lirih dan diam jadi dengkur. harus dengan apa kupanggil embun
karena hidup tak lagi berdaya melempar caci maki dan sakit cerita yang suram mejelma bayang-bayang ketika langit mulai tinggi ketika nasibku diundi

kemudian haruskah kau sebut aku sebagai lelaki pemanggil embun

sebab jiwa tak lagi punya kesejukan cuaca, sebab tangis menumpahkannya sesering aku mampu

kukabarkan pada matahari untuk segala kesakitan yang melambung jadi uap dan cerita terbuka tirai untuk bersandiwara dalam episode kehidupan,

fana yang niscaya, aku bunga tak bernama berserah jadi sajadah di ujung doa
September 2011

Sabda Mata

mata hampa yang dulu pernah menjadi kunang kunang. mata yang menympan rusuk mimpi masa depan setelah jadi keranjang jadi bedil

mata yang kutenteng setiap malam mengucurkan kisah sunyi beterbitan

mata syahdu yang pernah menjadi kunang~kunang. mata mimpi yang menjadi bulan

mata yang menjadi ceruk sepi dalam sabda panjang tentang kisah yang putus kembli dari pengembaraan sepasang mata
menyisakan abu dari mimpimu yang terbakar

September 2011

Malam tanpa Nama

malam mengirim kereta tanpa nama
datang sebagai pencuri, menyusup dalam kemah
sementara tangan tak henti menulis memo serta tanggal
perjalanan yang berpatahan

mimpi berkejaran bagai pengantin, sepinya ombak
dalam malam tanpa nama kucantumkan pengenal
sang pemimpi yang mencari telur colombus

dalam malam tanpa nama tak ada yang kukenal
selain tubuh yang susut karena purnama

malam tak berujung menggulung, panah tanya berlonctan
sementara diri dan baying-bayang tak lagi mengenal

September 2011

Menyimpan Namamu

seperti menyimpan bara dalam batu-batu
rindu menderas dalam darah
dan dingin melarungkan tidurku
: melepas kepergian, memadamkan lampu langitku, meniadakan waktu
lorong-lorong subuhku

18 Juli 2011