Tag

,

(Riau Pos, 02 Oktober 2011)

Dua Potong Kisah

1
Maka izinkan abang merantau, dik
di purnama ke tiga puluh abang kan pulang
membawakan gelang emas, kebaya biru dan kerudung manik-manik untukmu cinta
juga seperangkat alat sholat bewarna merah hati
sebagai tanda aku melamarmu untuk menjadi ibu anak-anakku
tentang hati yang sepotong ini
bukankah sudah kuberikan sebelah padamu
tentu aku akan menjemputnya agar ia utuh kembali
Duhai abang, darah yang mengalir di denyut nadiku
nafas jiwaku
ini hati ini jiwa
kepada apa dan siapa selain engkau, kekasih
timang janji aduhai syahdu, indah sekalian sendu
tapi kain buruk dan rumah atap rumbia
adalah lebih indah daripada segala apa yang mesti
membuat keberjarakan pada hati yang telah utuh untukmu
maka pergilah jika engkau telah tahu bagaimana aku nanti
Aduhai adik, kekasihku, timangan hatiku
larangmu beratkan langkah
tusukkan dada hingga sesak
sementara mimpi terlalu indah untuk dilerai
sebelum gapai
Maka pergilah
Maka pergilah
sesak dadamu abang sesakkan daku juga
riang hatimu riangkan adik pula
purnama ketiga puluh di bawah pohon ketapang di ujung kampung
aku menantimu
Rambut dijalin bilang sembilan
sampan dikayuh di badai pasang
jemput rindu abang kan datang
di purnama ketiga puluh di bawah pohon ketapang
Rambut dijalin bilang sepuluh
di badai pasang sampan jangan tenggelam
hati sendu berbilang rindu
sampan ditunggu jangan belok ke lain laman
Janji ucap langkah mulai
waktu detak cemas dalam tunggu
hari detik rindu yang gagu

2
Burung itu indah ya, bang?
Mengapa indah, dik?
Sayapnya rentangi angkasa
Inginkah adik jadi burung?
Ke seberang samudera
Akan adik tinggalkan abang?
Sayap lebar
Jarak lebih lebar, dik
Untuk tidak terbang?
Mimpi?
Cita-cita
Berat hati ini
Berat duka ini dalam pasung mimpi
Aku takut
Sifat lelaki?
Duuh… bungaku telah jadi rajawali
Rajawaliku telah jadi bunga?
Kapan?
Hari ke sepuluh bulan mendatang
Kemana?
Kemana hati membawaku
Untuk apa?
Cinta
Lalu aku?
Ragukah?
Ya.aku telah salah memaknai
Hanya ada satu makna?
Yang pergi yang meninggalkan
Yang menunggu yang ditinggalkan?
Yang pergi belum tentu kembali
Yang menunggu belum tentu menanti
Duuh… engkau telah rajawali, dik
Duuh. bunga? Jangan sampai
Sudah bulat?
Tinggal menunggu hari ke sepuluh bulan mendatang
Tak ada janji?
Janji alasan untuk pulang
Duuh… sungguh telah betul-betul rajawali. Kini aku pipit. Aku pipit.Bukan, aku bunga. Aku bunga
Sedu sedan bukan untuk yang hidup. Bujuk rayu pembawa mati
Duuh… Rabb… duuh Rabb. Semestinya aku tak menyemai cinta
Jangan menyemai kalau masih harap memetik
Maka pergilah. Maka pergilah. Yang menunggu belum tentu menanti
Yang pergi belum tentu kembali
Waktu detik yang detak
janji hanya pasung dalam keberlarian

Yogyakarta 2011