Tag

,

(Harian Analisa, 02 Oktober 2011)

Kau Tinggalkan Aku,
Kota Makin Jauh

bayangan angin. magrib yang sasar. kau tinggalkan aku. melihat tempat. bergumul dengan langit yang baru. hanya kabar dusta, kepala curiga. kota makin jauh, waktu terasa lepuh. lambat seperti detak jantungmu yang tidur. kau tinggalkan aku, kesia-siaan mengeras. magribpun lepas, senja yang lepas dengan sekejap. hanya kabut kendaraan, memeluk tubuhku yang dingin. engkau menjauh. aku merasa seperti bongkah es mencair. tak mampu mengalir dan bertahan di sudut genang kenangan. aku mengingat jenis bunga yang kau suka, langkahmu yang tergesa atau remang jeritmu di dalam kamar. kau tinggalkan aku, kota makin jauh. akupun mengakrabi lagi kesendirian, membayangkan jadi eros lalu merindukan pengembaraan. bayangan angin. remang malam yang tenggelam. aku merasa begitu merindukanmu, lebih sengat dari pertama bertemu dan persetan dengan kota yang menjauh itu…

2010

Bersepeda Dengan Munir

munir mengayuh sepedanya ke barat. di timur sedang ada pesta pora. berapakah jarak dari tempatmu ke tempat munir bila kau hanya sanggup berjalan? mungkin kau akan memutar ipod itu dan berdoa agar munir yang kesepian memboncengmu. ah, kamu lupa, ya, di simpang itukan sedang ada perbaikan jalan.

Medan. 2009

Lubang

sapu yang menyumpal lubangmu
kuhidu seratnya. “ambillah pisau
yang rabun itu dari pucuk matanya!”
katamu memelas.
“tapi bagaimana dengan lubangmu?”
dinding-dinding bersigesek. kulihat
sesuatu berlepasan dari matamu. hitam sekaligus
menyala.
“lubangkukah ini, pejalan?”

Medan. 2009