Tag

, ,

(Suara Merdeka, 2 Oktober 2011)

bidadari tidur dalam kitab suci

dua ribu gerimis yang lalu membuatku kepanasan karena dua
ribu lima ratus kaki dan jari-jarinya adalah katanya
dan itu semua adalah dua ribu hektar tanah pewarisan orang
tuaku yang malu lebih dari dua ribu lima ratus air mata yang
belum khatam karena ternyata ayah dari orang tuaku menimbun
uang dalam bantal dan terbakar obat nyamuk yang mengapikan
hutang pada kasur sejak dijemur sebelum pulang sebagai tempat
tidur, dan kakekku terbakar mati juga

aku bingung kepadamu, nak
karena wajahmu seperti bukan dari daging,
malah banyak orang menyebutmu juga bukan wajah tempat
tidur yang diranjangkan oleh kedua orang tuamu itu adalah
katanya, kakekku bilang begitu

dan ternyata, kakekku pernah juga bilang kepadaku yang
katanya dari kakeknya kalau rokok hisapan terakhir yang disebut
hidup itu adalah katanya,

katanya kakekku lagi, tidak akan ada bidadari jika ada dua ribu
tahun yang lalu wanita disebut perkasa dan laki-laki disebut
manja itu adalah katanya,
dan tidur dalam kitab suci adalah bukan bidadari, kecuali
bidadari yang mau ditelanjangi kitab suci itu adalah bukan
bidadari-bidadari yang ada dua ribu tahun lalu baru belajar
mandi

sanggargema, 030610, 02.03 am

cincin seikat rambut
:f
aku rindu pada doa yang belum sempat tidur,
pada beberapa warna langit sebelum wajahmu mengitarinya

aku ragu pada kawan serumah,
dan aku ingin kau membawaku lari,
jika pernah kau ikatkan rambutmu pada jari manisku

dan tiba-tiba kau titipkan bekas bibirmu pada pipiku, agar sengaja
mengirim isyarat untuk berdoa pada lidahku

dan bibirku tersenyum memandangimu,
tak lagi lari kecuali tenggelam menapaki lesung pipimu

sanggargema, 170110, 02.50 am

air mata lilin

ingin kuciptakan lilin dari air matamu
ketika nyalanya mengalir menapaki lesung pipimu

biarkan dia menangis, pura-pura lupa hingga bibirmu mau
melumatnya dengan sadar
merasakan tiupan dari bibirmu sendiri,
bila bibirku tak kau izinkan untuk mengakrabi bibirmu dan
menawarkan canda pada lidahmu

depanparitama, 301109, 01.00 am

menara layang-layang

aku adalah hiasan terbang dan takut kau tenggelamkan,
berjinak dari tetunas-tetunas hijau yang masih lunas dan belum
sempat kau perhutangkan kepada lorong-lorong sepi menuju
peribadatan utusan para nabi di pojok-pojok rumah tetangga,

tentunya kau paham dengan pelunasan warnanya, yang ternyata
menyerupa lepas pada kerudung hijaumu,
jika ada sungai ngalir yang belum sempat kering dan disekitarnya
adalah rumput-rumput yang sengaja terbakar oleh kehausan
dalam tubuhnya,

maka jangan pernah ada lagi luka berdesakan akibat kilau yang
tak paham dari arus perjalanan air tanah menuju kerdip matamu,
jangan pernah ada jika kau belum sempat menyerupakan luka
yang terpaksa ngalir tanpa kemauan tindak miring dari pelunasan-
pelunasan yang sering,
karena kita akan menyumbatnya sebelum sanggup
menawarkan canda pada rumah kita,

dan jika rumput dianggap basah dalam sekujurnya,
maka kita akan bersama-sama untuk mengelap permukaan telapak
tangan kita,
hingga jari-jarinya akan menekuk dan memperkuat kepalan
dalampusatnya,
dan tak lagi ada dingin yang nggigil kecuali nadi kita sanggup
menerawang pada jari-jari manis untuk seikat rambut yang mengalung
pada pertengahnya,

lalu dengan seadanya kita akan bersama-sama menerbangkan
menara layang-layang dari ujung telunjuk yang ngarah,
dan tak terasa telah tujuh bulan kita dipertemukan dalam hidangan
makan malam dengan menu pilihan yang kita surgakan,
berupa ingatan yang laku,
berupa serupaan yang madu,
dan berupa cahayaan yang merdu,
pada telingaan yang ngalun, reruntun tak ragu dalamsegala
seruan seisi rumah kita.
:diksicantik.

kampusikippgri, 150310, 07.21 pm

Setia Naka Andrian, lahir di Kendal, 4 Februari
1989. Masih tinggal bersama kedua orang tua dan
seorang adiknya di Tabag Masjid RT 01/ RW07,
Desa Kertomulyo, Kec Brangsong, Kab Kendal,
Jateng. Lulus Fakultas Pendidikan Bahasa dan
Seni, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia IKIP PGRI Semarang (2011), kini
sedang melanjutkan studi pada Program Studi
Pendidikan Bahasa Indonesia, Program
Pascasarjana Universitas Negeri Semarang;
Berteater bersama Teater Gema IKIP PGRI
Semarang, penulis naskah drama dan sutradara
Hayalan Padang Tandus