Tag

,

Oleh N Mursidi
(Radar Surabaya, 2 Oktober 2011)

SEJARAH kelam peristiwa tragis 1965 seperti tak akan pernah kering untuk dijadikan sebagai latar sebuah cerita, termasuk novel. Apalagi peristiwa kelabu itu tidak saja menimbulkan “kontroversi” hingga sekarang ini, melainkan juga masih meninggalkan kenangan bahkan pengalaman pahit bagi sebagian orang yang terlibat ataupun dituduh terlibat organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia. Dari peristiwa “tragis” itu, pengarang bisa melakukan rekonstruksi bahkan memberi “tafsir baru” atas fakta di masa lalu yang kelabu. Pada sisi lain, pengarang ingin mengenang sekeping kisah dari seseorang yang pernah dituduh terlibat dalam peristiwa kelabu itu, dengan harapan kisah itu bisa menjadi bahan renungan.

Tak berlebihan, kalau novel Lasmi karya Nusya Kuswantin yang mengangkat tokoh Lasmi—korban dari peristiwa tragis 1965 lantaran dia menjadi anggota Gerwani— yang diterbitkan penerbit Kakilangit Kencana (2009) tidak saja menjadi bahan renungan, melainkan melengkapi deretan kisah novel yang mengungkap “fagmen sejarah” buram bangsa Indonesia tahun 1965. Meski novel Lasmi ini bisa dikata tidak memiliki pretensi untuk mengungkap fakta baru di balik peristiwa kelabu 1965 itu, duka lara yang menyelimuti kisah Lasmi (tokoh utama dalam novel ini) bisa mematik kesadaran pembaca untuk merenung sejarah kelabu di masa lalu. Sebab, Lasmi telah menjadi korban dari peristiwa sejarah yang buram.

Menanggung Takdir dari Pilihan Hidup
Lasmi, hanyalah prototif dari sosok wanita kampung di sebuah desa, di Malang (Jawa Timur). Meski tinggal di desa, dia ternyata memiliki jiwa moderat. Dia yang dianugerahi pengetahuan dan kebetulan lahir dari keluarga terpandang kemudian ingin membantu orang kampung dengan membangun sekolah (untuk orang tua dan anak-anak).

Bersuamikan Sutikno, seorang guru, cita-cita Lasmi itu tidak menemui jalan buntu bahkan bisa berjalan dengan mulus. Mungkin, satu hal yang membuatnya terbebani, ia tak bisa menggaji guru yang ikut mengajar di sekolah. Hingga suatu hari, ia yang sedang membutuhkan guru menjahit bertemu dengan Mbak Sum.

Kedatangan Mbak Sum ternyata mengubah jalan hidup Lasmi. Untuk memajukan sekolah, atas saran Mbak Sum, Lasmi ikut up-grading. Habis itu Lasmi memutuskan menggabungkan Taman Kanak-kanak Melati (yang ia dirikan susah payah itu) ke dalam yayasan Melati. Konsekuensi dari pilihan itu, Lasmi tercatat sebagai anggota Gerwani. Pilihan itu diambil, karena ia merasa terbebas dari beban memikirkan gaji. Tapi, sejak itu ia mulai sibuk dengan aktivitas dan rapat, bahkan tak lama kemudian menjadi ketua Gerwani tingkat desa.

Tapi peristiwa tragis 1965 membuat Lasmi harus menjadi korban. Ia pun harus menanggung takdir dari pilihan hidup yang telah ia jalani. Ia bersama Sutikno (dan anaknya Gong) lalu melarikan diri untuk
cari selamat. Deretan penderitaan harus ia alami bersama keluarga,
lari dari satu desa ke desa lain, tidak lain untuk sembunyi.

Tapi, pelarian itu kemudian menemui takdir akhir, sebuah ending yang nyaris tidak bisa ditebak atas apa yang dipilih Lasmi, penderitaan Gong dan akhir kisah Sutikno.

Tidak Ada Terobosan Baru
Harus diakui, tak sedikit pengarang di negeri ini yang menggarap novel dengan sandaran setting peristiwa tragis 1965 dalam sebuah novel, termasuk Lasmi ini.

Tapi, dalam novel ini nyaris tidak ada terobosan yang digemakan. Pertama, sejarah tragis 1965 seperti hanya dijadikan tempelan sehingga nyaris tak memberikan nuansa baru kecuali keberadaan tokoh dengan pernik permasalahan dan setting cerita (di sebuah desa di Malang). Kedua, novel sejarah sebenarnya bisa dijadikan sebuah rekonstruksi. Tetapi, dalam novel ini hampir tak ada fakta baru yang disuguhkan pengarang. PKI tetap sebagai tertuduh dan Lasmi tidak lebih sebagai korban.

Kekuatan novel memang terletak pada kekuatan narasi. Tetapi dalam menulis novel, dikenal cara menggambarkan bukan menceritakan. Pada aras inilah, Nusya Kuswantin kerap berlaku menceritakan dan lemah dalam penggambaran. Tidak salah, novel ini pun serasa kering dan mirip catatan diary Sutikno (tokoh “aku”) untuk mengenang keberadaan Lasmi, istrinya yang mati dieksekusi karena menjadi korban. Capaian estetis yang dielaborasi pengarang pun “tak mendedahkan teknik baru”. Maka, cerita pun berjalan dengan datar, tidak berpilin dan tidak njelimet. Bahkan kering dialog. Padahal, keberadaan dialog bisa membangun kekuatan sebuah alur.

Meski demikian, novel ini tetap tidak bisa dikatakan sebagai sebuah novel yang gagal atau tidak berhasil. Pengarang berhasil membangun karakter Lasmi dengan kuat. Pada akhir kisah bahkan pengarang meneguhkan bahwa pilihan Lasmi menjalani eksekusi itu sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus protes secara massif, menggugah orang untuk memikirkan tragedi pembantaian massal yang terjadi di negeri ini. Tidak salah, kalau pengorbanan Lasmi itu sebagai bentuk antikekerasan. Selain itu, dalam hubungan antara suami dan istri dalam rumah tangga, novel ini terasa kuat menggelorakan emasipasi wanita, persamaan derajat.

N Mursidi, Cerpenis tinggal di Jakarta