Tag

,

Cerpen T Sandi Situmorang
(Jurnal Nasional, 02 Oktober 2011)

SUDAH tiga hari Pram berada di rumah. Kemarin dia datang, hampir tengah malam. Tampangnya lusuh sekali. Dia tidak bicara apapun. Kusminah pun tidak bertanya apa-apa, kecuali menawari Pram makan atau mandi.

Pram menjawab sudah.

Paginya, Pram berangkat bekerja. Kusminah kaget ketika sorenya Pram datang lagi dan menginap di rumah. Kali ini, Kusminah membuang rasa sungkan dari sarang hatinya. Ia bertanya kenapa Pram tidak pulang ke rumahnya sendiri.

“Ibu terganggu aku tinggal di sini?” tanya Pram dingin dan pelan.

“Tentu saja tidak,” sahut Kusminah tergesa, “Ibu senang kau tidur di rumah ini. Ini juga rumahmu.”

“Kalau begitu, biarkan aku tidur di sini.”

Kusminah tidak bersuara lagi ketika Pram melewatinya, melangkah masuk ke dalam kamar. Kusminah hanya bisa menatap miris. Ia tidak bodoh, tentu saja ada masalah dalam perkawinan Pram. Jika tidak, mustahil Pram menginap di rumah.

Pram anak bungsu Kusminah, satu-satunya lelaki diantara empat anaknya. Pram begitu mereka sayangi. Kasih sayang dan perhatian tercurah dari Kusminah, suami Kusminah dan ketiga kakak perempuan Pram. Namun demikian, Pram tidak tumbuh menjadi anak yang manja. Ia bisa melakukan banyak hal, selalu ingin belajar dan memiliki cita-cita tinggi.

Cita-cita Pram bahkan melebihi tingginya langit. Selepas SMA ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Padahal, untuk duduk di bangku SMA saja bukan hanya suami Kusminah yang banting tulang. Ketiga kakak perempuan Pram ikut membantu, padahal mereka hanya tamatan SD dan SMP.

Maka kuliahlah Pram. Suami Kusminah semakin membanting tulangnya. Kakak perempuan Pram masih ikut membantu, sampai kemudian mereka menikah satu-persatu. Tanggung jawab bulat-bulat berada di pundak suami Kusminah.
Pram tidak pernah meminta jika tidak diberi, bahkan terkadang menolak ketika diberi. Kemudian Kusminah tahu, Pram kerja serabutan di luar jam kuliah, demi menutupi biaya kuliah.

Kusminah dan suaminya merasa manusia paling bahagia di dunia ini di hari wisuda Pram. Tidak habis senyum bahagia mereka cetak di wajah. Bahkan Kusminah sampai menitikkan air mata melihat Pram dengan balutan toga. Seluruh sakit dan beban selama ini seakan lepas dari pundak mereka.

Kemudian Pram bekerja di sebuah perusahaan. Kusminah tidak paham apa pekerjaan Pram. Bahkan tidak pernah mengingat apa nama perusahaan itu, meskipun sudah berulang kali Pram menjelaskan. Gaji Pram besar. Setiap bulan, setelah mengambil untuknya, memberikan sedikit untuk keponakan-keponakannya, sisanya selalu ia serahkan kepada Kusminah dan suaminya.

Jumlahnya cukup lumayan. Bahkan semakin hari semakin lumayan. Menurut pengakuan Pram, jabatannya di kantor selalu mengalami peningkatan. Itu karena kerjanya yang sangat bagus, membuat pemilik perusahaan percaya kepadanya.
Kusminah bahagia sekali. Tidak luput selalu mengucap syukur kepada Tuhan.
Sampai kemudian, suami Kusminah jatuh sakit. Kusminah tidak mengerti sakit apa. Pram membawa berobat kesana-kemari, tapi tidak sembuh juga. Memang beberapa saat terlihat sembuh, untuk kemudian suami Kusminah merasa sakit, bahkan lebih sakit lagi.

Di sebuah senja dengan wajah murung Pram mengajak Kusminah bercakap. Peluang kesembuhan suami Kusminah terbuka lebar jika dibawa berobat ke luar negeri, karena dokter beserta peralatan di luar negeri jauh lebih canggih.
Kusminah tercengang. Ia tidak paham luar negeri. Baginya luar negeri hanyalah Arab dan Malaysia, karena banyak tetangga mereka yang merantau ke sana.

“Lakukan apa saja. Untuk kesembuhan ayahmu,” sahut Kusminah kemudian.

“Biayanya sangat mahal, Bu. Uang kita tak cukup.”

“Ibu bisa bekerja. Jadi apa saja. Kau punya gaji. Kakak-kakakmu bisa kita minta. Kita bisa pinjam sama tetangga,” sahut Kusminah cepat.

Pram menghela napas berat. Wajahnya keluh sekali. Ia seperti putus asa. Kusminah benci itu. Pram harus bersemangat, suami Kusminah banting tulang untuk posisi yang sekarang diperoleh Pram. Sebagai anak yang berbakti, Pram harus mengerahkan segalanya demi kesembuhan ayahnya.

“Pastikan ayahmu berobat ke sana.”

“Biayanya mahal sekali, Bu. Kita tak sanggup.”

Darah Kusminah mendidih mendengar. Secepat bajing tangan kanan Kusminah berayun dan mendarat telak di pipi kiri Pram. Gampang sekali Pram berkata tidak sanggup, tanpa berusaha. Jika dulu mereka berkata tak sanggup, Pram hanya akan tamat SD. Pram akan jadi gembel sekarang, paling bagus kuli bangunan.
Pram tidak bicara dan menunduk sangat dalam.

Kusminah menjual barang berharga miliknya, mengambil uang pemberian Pram yang disimpan di bank, meminta kepada kakak perempuan Pram, meminjam kepada tetangga. Ternyata jumlahnya tidak banyak. Kemudian Kusminah teringat dengan pemilik perusahaan tempat Pram bekerja. Kenapa tidak coba meminjam ke sana?

Pram memang malu meminjam, tapi Kusminah tidak. Tidak ia biarkan lelaki yang dicintainya pergi tanpa ia berusaha. Lebih tiga puluh tahun mereka bersama, ia masih ingin mereka menghabiskan waktu lebih lama lagi.

Pemilik perusahaan itu baik sekali, ia bersedia membiayai seluruh pengobatan suami Kusminah ke luar negeri jika Pram bersedia menikahi anak gadisnya. Kusminah bahagia bukan kepalang. Itu namanya bukan membantu, tapi membawa Pram terbang tinggi ke langit. Pram akan menikahi anak gadis orang kaya.
Kusminah menganggap Pram gila ketika berusaha menolak dengan alasan konyol.

Ia tidak mencintai anak gadis pemilik perusahaan tempatnya bekerja, dan ia sudah memiliki gadis pilihannya sendiri. Kusminah mencibir, nyaris tertawa geli. Cinta itu seperti kencing, semakin lama semakin terasa baunya. Dulu ia dan suaminya tanpa saling mengenal, tapi hidup mereka bahagia.

“Jangan egois dengan hanya memikirkan perasaanmu,” kata salah satu kakak perempuan Pram. “Pikirkan keselamatan Ayah, perasaan Ibu. Mereka membesarkan dan menyekolahkanmu bukan untuk menjadikanmu anak pembangkang. Seharusnya kau juga bersyukur, diangkat jadi menantu orang kaya.

Anak gadisnya itu juga cantik.”

“Aku sudah punya pilihan sendiri.”

Kakak tertua Pram tertawa geli, “Kau lebih memilih Anisah daripada putri bosmu itu? Otak harus selalu disimpan di kepala, Pram. Jangan sesekali kau pindah ke dengkul. Jika kelak menikah, keluarga Anisah akan jadi bebanmu.”

“Setelah menikah, keluarga Anisah menjadi keluargaku juga.”

“Hentikan, Pram. Dada Ibu sakit mendengarnya.”

Pram memilih diam, ekor matanya melirik Kusminah tengah memeras air mata. Karena desakan ketiga kakak perempuannya, ditambah dengan ratapan Kusminah, akhirnya Pram mengangguk.

***
Pintu kamar Pram terbuka setelah diketuk Kusminah. Mereka berdiri berhadapan. Kusminah melepas senyum, susah payah berusaha dibalas Pram.

“Makanlah, sudah malam.”

“Belum lapar, Bu.”

“Jika tidak keberatan, Ibu ingin bicara denganmu,” pinta Kusminah hati-hati.

“Kalau Ibu hendak bertanya kenapa aku tidak pulang, biar kukatakan pada Ibu, inilah rumahku.”

Kusminah mendegut ludah. Tiga tahun sudah Pram menikah. Tanpa anak. Tidak ada masalah dalam diri Pram maupun istrinya. Hanya menantu Kusminah itu tidak ingin memiliki anak, untuk sekarang ini. katanya ia tidak ingin direpotkan dengan segala tetek bengek bayi.

Jelas Pram tidak bahagia dengan pernikahannya. Meski tidak pernah ia ungkap pada siapapun. Sebagai seorang ibu, Kusminah bisa melihat itu dari mata, wajah, senyum dan gerak-gerik Pram selama ini.

Kusminah yang telah menukar kebahagiaan Pram dengan derita bathin.

“Istrimu akan mencarimu.”

Pram tertawa hambar, “Ia tidak butuh aku. Keluarga mereka hanya membutuhkanku sebagai pekerja di kantor mereka. Pekerja yang tidak perlu digaji. Hanya sebutan saja menantu, tapi sesungguhnya aku budak mereka.‘

Ini hal tersakit yang didengar Kusminah, tidak ingin didengarnya meskipun sudah bisa ia tebak. Rasa bersalah semakin melukai hatinya. Andai saja ia tidak egois dengan mementingkan kebahagiaan diri sendiri dan takut kehilangan orang yang dicintainya.

Kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan. Tetapi ternyata lebih menyakitkan setiap hari menyaksikan orang yang dicintai menderita.
Kutukar kebahagiaan Pram seumur hidupnya dengan kebahagiaan yang kureguk selama setahun. Ibu seperti apa aku ini?

Kusminah mengeluh dalam diam.

Setelah berobat ke luar negeri, suami Kusminah dinyatakan sembuh dari sakitnya. Kusminah bahagia bukan kepalang, apalagi setelah Pram menikahi anak bosnya itu. Lengkap sudah kebahagiaan itu.

Tetapi Tuhan begitu cepat mengambil kebahagiaan itu, setahun kemudian, suami Kusminah mengalami kecelakaan jalan raya, ia meninggal di tempat. Kesedihan yang dialami Kusminah, jauh lebih besar daripada kebahagiaan yang didapatnya. Apalagi setelah melihat Pram tidak bahagia dengan pernikahannya.

***
Dua bulan sudah Pram kembali ke rumah istrinya. Itupun atas desakan Kusminah. Bukan Kusminah terbebani dengan keberadaan Pram di rumahnya. Masih ada harapan di hati perempuan tua itu, Pram dan istrinya bisa membenahi perkawinan mereka.

Kusminah masih ingat, diambang pintu Pram menatapnya lama sekali. Pandangan matanya tak dapat dimengerti Kusminah, tapi ia ingin menangis melihatnya. Nyaris saja ia menarik tangan Pram, kembali masuk ke rumah.

“Budak sekalipun, tak selamanya mau jadi budak. Dalam kepatuhan ada kalanya mereka berontak. Maafkan aku, Bu! Jika kelak aku berontak, itu karena aku benar-benar tak sanggup.”

Kata Pram sebelum pergi meninggalkan Kusminah.

Kusminah hanya menatap kepergian anaknya dengan kening mengerut.
Sekarang, terjawab sudah arti ucapan Pram itu, ketika kakak kedua Pram menunjukkan sebuah koran pada Kusminah. Wajah Pram terpampang disana. Kusminah meminta anaknya menjelaskan mengapa ada foto Pram di sana.

“Pram melakukan korupsi di kantor, menipu rekan bisnis, menggelapkan pajak. Dan entah apa lagi. Sekarang, katanya Pram lari ke luar negeri. Ke Malaysia atau malah ke Arab.”

Kusminah jadi tambah bingung. Tetangga mereka pergi merantau mencari kerja ke Malaysia dan Arab, kenapa Pram juga pergi ke sana?

Ini juga bukan musim haji.