Tag

,

(Jurnal Nasional, 02 Oktober 2011)

Waktu

O, minuman kerasku, o canduku. Airmata kini mulai membakar diriku. Segala yang kupegang ikut terbakar. Kamar. Rumah. Kampung halaman. Kota. Dan negeriku. Aku seperti arus angin yang terus mengembara membakar setiap jengkal perjalanan. Negeri demi negeri. Laut demi laut. Benua demi benua. O, minuman kerasku, o, canduku. Airmata tak pernah susut dan pengembaraanku tak juga surut. Seusai dunia tak memberi kabar asalmula luka, aku mencebur ke dalam diri sendiri. Mengembara dalam pekat rahasia. Membakar setiap belantara, padang, hutan dan sungai-sungai terus gemuruh. Musim demi musim. Hampir usai kubakar semuanya lantas aku berusaha bunuh diri setelah tak kutemukan mataair airmata ini. O, minuman kerasku, o, canduku. Aku merindukan tangga yang menjulur dari udara. Aku merindukan sulur-sulur yang memanjat ke udara. Aku merindukan pertemuan. Cawan-cawan yang beterbangan menjelma burung, asap-asap yang menari menjadi awan. Aku merindukan rahim yang melahirkan langit dan bumi. Rahim yang mengalirkan kata-kata dari abad ke abad. Rahim yang menyembunyikan, yang menyemburkan mataair airmataku. O, minuman kerasku, o, canduku. Aku ingin merasuk, aku ingin memburu. Seperti kau merasuk dan memburuku.

2011

Angin

Aku menemuimu di sini. Pada selangkangan kota. di sebuah gang yang berdenyut malu-malu karena bau dan becek, tersembunyi di gerak paha jaman yang tak letih berlari dari abad ke abad. Aku menemuimu di sini. Di antara kesuburan gedung-gedung yang terus saling menjulur memburu langit. kau masih terhuyung mabuk parfum pelacur murahan yang berias di lipatan-lipatan kegelapan. Meracau tentang perjalanan yang kian memar serta biru-biru di sekujur tubuhmu yang muncul hanya karena kau berusaha menggugurkan daun-daun dunia, setelah tak kau temui lagi daun-daun pepohonan. Sedang aku mengendap dari dalam rahim kesunyian. Bergerak memanggul diam yang koyak dan dipenuhi borok, juga menyeret hening yang kini menjerit-jerit pedih. kita saling berpeluk. Dua kutub yang berlawanan. Gerak dan diam. Saling menautkan luka yang selalu luput dari pagut maut. Aku menemuimu di sini. Saling membaca garis tangan. Menangis bersamaan. Menangisi pengembaraan yang kian asing. Menangisi akhir yang semakin tersingkir. “lumatlah aku sebelum aku lepas kembali dan melupakanmu.‘ desahmu mengisi gelisahku. “merasuklah lebih dalam, aku ingin melahirkan kembali kata-kata.‘ rintihku mengiris sakitmu.

2011

Laut

Aku tahu kau tak lagi mengenal air yang menggenangi, ikan yang mengadukmu, juga gelombang yang terus menerus menggerusmu. Kau seringkali merenungi pantai yang kian menjauh dan berpaling, atau perahu-perahu yang kian sombong. Mereka semua tak lagi mengenalmu. Namamu atau pun asal-usulmu. Namun kau tak pernah mengatakannya pada siapa pun. Pada siang atau pun malam. Pada matahari atau pun bulan. Barangkali aku semakin rabun dan pikun, bisikmu pada diri sendiri ketika kau rasakan kegelisahan mulai menciptakan ledakan-ledakan di beberapa bagian rapuh tubuhmu dan setiap yang tak lagi kau kenal atau pun tak lagi mengenalmu itu berhamburan ke dalam jaring maut. Kau masih mengenal maut seperti juga maut mengenalmu. Kalian sering saling melambai juga saling berjanji. Barangkali itulah yang membuatmu masih betah menampung segala yang tak lagi kau kenal dan tak lagi mengenalmu. Jika saja kau tahu mereka itu bahkan tak mengenal diri mereka sendiri.

2011

Gunung

Ada yang selalu mendakimu. Barangkali kaki-kaki kecemburuan yang jejaknya membiru sepanjang tubuhmu yang dulu rimbun. Kini tinggal jejak-jejak itu saling bercakap dengan napas memburu. Membentuk catatan seperti sajak panjang yang sering kau baca ketika bulan memanggil seluruh kenangan dan kehilangan. Burung-burung bersayap kabut, hutan-hutan bergaun api, sungai-sungai bermata batu, dan mataair berdada luka. Semuanya datang dalam wujud yang asing dari arah yang tak terduga dan tak terdapat dalam peta. Ada yang selalu mendakimu. Semacam jari-jari birahi yang memberimu bekas cakaran yang cukup dalam. Barangkali lebih bergairah setelah kau telanjang dan hampir gila. Di puncakmu, ada yang selalu mabuk. Seperti ingin merenggutmu dari kesunyian. Ingin memancingmu keluar dari kebisuan. Tidak! Katamu dalam hati. Tidak. Kata-kataku adalah api yang sengaja kutimbun jauh agar tak merangkak ke arah mulutku. Namun mulutmu kini sudah biru-biru. Gemetar dan rapuh.

2011

Sungai

Apalagi yang kau jaga, sayang, setelah langit tak lagi dapat bercermin di alirmu. Sebab kau tinggal batu dan keluh. Tubuhmu mencapai laut, namun tak ada yang kau kirimkan barang sepatah atau duapatah kata. kau hanya bisu dalam terkapar. Matamu begitu jauh mengembara. Melintasi angin dan awan. Kini kau malah bercermin pada langit. Kau lihat tubuhmu retak-retak dan mengelupas. Hanya pada senja kau mampu tersenyum, kau berkaca menatap bayangan lekuk tubuhmu tersiram keemasan dan kau bayangkan arus yang menyusurimu dengan hasrat pencarian seorang penyair. Sementara jika malam datang, jika malam datang kau sering membayangkan keranda yang akan membawamu, kau membayangkan pemakaman yang akan menguburkanmu. Apalagi yang kau jaga, sayang, setelah air tak lahir di mataair.

2011

Kebun

Barangkali petani tak lagi menyayangimu. Tak ada benih yang ditanam di rahimmu. Setelah panen besar yang kau hadiahkan. Mereka kini memasang kebun-kebun baru di dalam rumah. Di setiap kamar. Mereka tak pernah lagi menemuimu. Seperti juga hujan yang hanya singgah sebentar melepas birahi lalu pergi dengan tergesa-gesa. Kini hanya matahari dan angin. Tapi mereka tak memiliki benih apapun selain api dan kabut. Burung-burung telah lama tinggal kisahnya. Kau kesepian apalagi setelah petani akhirnya pindah entah ke mana. Kau hanya mendengar akan ada petani baru dengan benih yang baru pula. Entah kapan mereka akan mulai menyetubuhimu. Kabarnya mereka akan menanam besi di rahimmu. Kau begitu penasaran dan tak sabar. Buah apa yang kelak akan kuhadiahkan pada mereka yang menanam besi tersebut. Serimbun apa daun-daunnya. Ah, daun-daun, bisikmu, tarian daun-daun dalam alunan angin adalah gerak surga yang segera akan rimbun kembali di sini. Kau masih menanti. Dan terus menanti sepanjang kemarau yang memecah kulit coklatmu.

2011

Sawah

Di manakah lumpur dan pematang. Tubuhmu kini dipenuhi petak-petak berdinding. Kamar-kamar yang ditanam tanpa terlebih dulu bertanya padamu, apa kau bersedia atau marah. Awalnya kau merajuk dan begitu membenci benda asing yang menusuk perutmu juga benda padat yang memberatimu. Namun kabarnya kau mulai dapat menerima dan menikmati keganjilan di setiap jengkal tubuhmu. Kau sering mendengar suara cangkul dari setiap kamar itu. Suara cangkul yang membangkitkan kenangan dan gairah. Suara cangkul pada tanah basah. Suara cangkul dan suara yang dicangkul tak pernah mengenal waktu. Tidak seperti cangkulmu atau lembu atau traktor. Kau mendengar cangkul itu siang dan malam. Pagi dan sore. Petani-petani yang sangat rajin. Birahimu ikut terbit, membuatmu merintih sepanjang hari. Panen apa gerangan yang tak tergantung pada musim, begitu kau menerka-nerka sebab setiap kamar tak pernah dapat kau masuki. Sampai suatu hari. Tiba-tiba kau mendengar tangisan bayi dari setiap kamar. Begitu riuh. Segera kau terharu dan mensyukuri kesuburan. Dimanakah lumpur dan pematang. Kau hanya menunjuk tumpukan kotoran dan popok bayi.

2011