Tag

,

Cerpen Foeza ME Hutabarat
(Harian Analisa, 09 Oktober 2011)

KONAH mengusap-usap permukaan kotak kayu ukiran Jepara itu. Rasa pedih menikam-nikam kesepiannya. Karel, si Tole telah memupus harapan Konah dan mendiang suaminya. Setelah lima tahun di pesantren, Karel malah kena penyakit ingatan, karena belajar ilmu “ghaib” dengan caranya sendiri. Itu yang dibilang Kiyai Maksud, guru anaknya di pesantren. Butuh waktu untuk menyembuhkan anak itu sebelum Konah membawanya kembali ke Jakarta untuk membantunya memulung dan luruhkan hari.
Sakit ingatan Karel yang acap kambuh, mengharuskan Konah membawanya lagi ke Kiyai Maksud. Begitulah rotasi kesadaran Karel yang mesti dipahami Konah. Enam bulan anak itu bisa baik, penurut dan hidup bersamanya, tapi di lain waktu, Karel bisa berceracau, ngoceh atau bersenandung sepanjang pagi, siang dan malam, hingga lelahnya tersungkur ditepuk kantuk.

Konah pernah berkhayal, di suatu hari Karel -Achmad Kosim, nama yang diberikan Kiyai Maksud- bisa tausyiah di tivi dengan banyak penggemar, laiknya para ustad muda. Semua itu kandas sudah. Tak ada lagi anak soleh yang bisa mendoakan mendiang Mas Majo, suaminya di alam sana.

“Nah…!” tiba-tiba Konah mendengar suara nyaring Mak Ijah, penjaja jajanan pasar yang berkeliling saban pagi.

“Konah… anakmu si Kawasan Rel mabuk dan tidur di Pos Ronda!” Mak Ijah lebih suka menyebut Kawasan Rel yang memang disingkat jadi nama Karel.

Konah tersentak. Kebiasaan Karel sekarang, saban malam Minggu mabuk-mabukan dengan anak-anak berusia SMP, bahkan ada yang masih SD. Dunia pemabuk telah bergeser ke usia yang sangat rentan. Konah pernah dilabrak orangtua anak-anak itu karena Karel dituding mengajari mereka mabuk.

Jelas Konah tak terima dan membantah. Anak-anak merekalah yang lebih dulu kenal minuman daripada Karel. Sebelum dia membawa Karel dari pesantren, anak-anak itu sudah mabuk-mabukan dan bikin resek di perkampungan di balik gedung-gedung kawasan bisnis itu. Barang-barang warga sering hilang hanya untuk membeli anggur oplosan.

“Konah, kenapa lu nggak bawa pulang tuh si Kawasan Rel?” teriak Mak Ijah mendesak.

“Biarin, Jah. Lebih bagus dia tidur di sana daripada dengerin bacot-nya. Aku lagi pusing!” Lantas, Konah mendengar Mak Ijah dan beberapa ibu-ibu berbisik-bisik, bilang Konah tak lagi memperhatikan anak semata wayangnya.

* * *

Konah menengadah ke genting meregang dan bocor di sana-sini, seperti dulu dia menikmati cahaya bulan yang menerobos ketika berbaring di sisi suaminya. Sekarang pun, ketika cahaya lampu crane dari sebuah proyek gedung yang tengah dibangun mengirimkan garis-garis cahaya yang berjatuhan di sebagian tubuhnya, harus sia syukuri sebagai anugrah keindahan yang singgah di kisi kehidupannya.

Hati-hati Konah membuka kotak ukiran Jepara itu. Sebuah cincin batu berwarna putih kolang-kaling masih diam di sana. Sebuah cincin dengan ikatan perak itu dia temukan sekitar tiga minggu lalu, ketika dini hari menjelang pagi dia kais-kais sebuah bak sampah. Masih bersisa kantuk, telinganya mendengar sebuah benda melenting jatuh, memijarkan sekilas sinar merah. Agak gemetar, tangannya menjumput benda itu dalam sunyi yang mencekam.

Kemarin malam Pak Nuh datang mengetuk pintu. Semula Konah mengira Pak RT datang untuk menyampaikan kabar buruk soal gubuknya akan digusur untuk perluasan kawasan bisnis. Ternyata, cincin batu kolang-kolang itu ditaksir oleh Pak Nuh. Pasti beliau tahu kabar cincin itu dari Bang Gon si pakar batu yang suka nongkrong di warteg, di tikungan jalan dekat taman kelurahan. Kata Bang Gon, cincin itu ada isi-nya. Bukan cincin sembarang cincin. Tandanya, batu kolang-kaling itu tak bisa terikat erat pada pengikatnya. Selalu longgar, koplok-koplok.

“Sebut aja dah ini batu si Raja Kolang-kaling,” celetuk Bang Gon pada Konah yang sama sekali tak paham soal batu akik.

Konah memang merasakan sesuatu yang lain sejak memiliki cincin itu. Rezki memulungnya meningkat dari biasanya. Di sebuah dini hari, dia temukan sebuah koper bekas yang di dalamnya terselip uang seratus dolar Amerika. Beberapa hari berikutnya, dia menemukan sebuah HP yang kondisinya masih baik meski kaca monitornya retak. Mungkin tak lagi dibutuhkan pemiliknya yang berlebihan uang, sehingga kedua seluler itu jadi penghuni bak sampah. Siapa tahu sang perempuan pemilik rumah itu jengkel menemukan sms yang berteks selingkuh untuk suaminya, sehingga seluler itu dibanting dan dicampakkan.

“Apa yang Bu Konah pikirkan lagi? Saya berani bayar lima juta. Itu uang yang tidak sedikit loh,” kata Pak Nuh dengan nada membujuk.

“Ini cincin biasa, Pak RT. Cincin yang bagus-bagus banyak dijual di toko. Apalagi seharga lima juta, pengikatnya pasti emas. Cincin saya ini hanya diikat dengan perak murahan….”

“Bukan soal pengikatnya, Bu Konah. Ponakan saya penari ronggeng yang terkenal di kampung, sangat membutuhkan cincin Bu Konah itu. Dia mencalonkan diri ingin jadi Bupati. Katanya, buat jaga-jaga waktu kampanye nanti. Bu Konah kan tahu, sekarang ini pemilihan Bupati saja bisa rusuh, anarkis, bakar membakar….”

“Tapi saya nggak mau jual cincin ini, Pak RT. Takut kualat. Saya takut mimpi itu jadi kenyataan,” hindar Konah yakin. Dia pun menceritakan mimpinya tentang suara tanpa wujud yang nadanya ancaman. Cincin itu tak boleh berpindah ke tangan orang lain.

“Mimpi itu hanya buah tidur, Bu Konah. Saya nggak mengerti, orang kayak Bu Konah ini sepertinya nggak butuh uang sebesar itu?”

“Saya takut, Pak RT. Hidup saya tinggal berdua dengan anak saya. Kalau saya mati….”

Konah menatap ke genting yang masih meloloskan garis-garis cahaya. Masih terbayang dalam benaknya, malam itu Pak RT pulang dengan wajah berbalut kecewa.

* * *

Sejak keluar rumah tadi, perasaan Konah tak enak. Sudah tiga hari hasil memulungnya sangat minim. Tak ada barang-barang yang bisa dibilang memberikan rezeki lebih, kecuali beberapa lembar kardus dan gelas-gelas air mineral yang jika dibawa ke penampung Koh Lim, uang yang akan dia terima tak seberapa.

Matahari kemarau bikin pikiran Konah makin kalut. Pasti sesuatu telah terjadi, pikirnya. Dia gegas mendorong gerobaknya agar selekas-lekasnya tiba di gubuknya. Ketika masuk, ditemuinya Karel berjongkok bengong dengan mata tak berkedip. Padahal semalaman anak itu bernyanyi-nyanyi dan cekikikan di pos ronda. Padahal sejak kemarin dulu Konah ingin membawa Karel kembali ke Kiyai Maksud untuk dibeli air doa, agar pikiran anak itu kembali tenteram.

“Mak…,” panggil Karel ketika langkah Konah hendak menuju lemari reot di pojokan.

“Ada apa, Le? Hari ini kamu siap ke Kiyaimu?”

Tegas, Karel menggeleng. Matanya tiba-tiba mengiba menatap wajah Emaknya.

“Aku khilaf, Mak,” lepas Karel yang bikin benak Konah makin dilumuri kecemasan.

“Titin, Mak….”

“Titin penjaga warteg Bude Sumi?” Konah memastikan. Karel terangguk-angguk. Sekarang dia harus percaya omongan Mak Ijah, bahwa hubungan gadis itu dengan Karel ternyata serius. Konah paham, yang dibisik-bisikkan ibu-ibu tetangganya selama ini benar adanya. Penyebab Titin hamil adalah Karel, anaknya sendiri. Napas Konah kini menderu. Dadanya menyesak sudah.

“Kamu siap mengawini si Titin, Le?” Hanya itu yang keluar dari mulut Konah. Dia sadar, anak semata wayangnya bukanlah bocah kecil seperti selama ini dia bayangkan.

“Kemarin sore Titin pulang ke desanya. Aku janji, Mak… setelah dia melahirkan, aku menikahinya,” lepas Karel samar. Tak ada jawaban dari Konah.

Sunyi tiba-tiba mengepung keduanya. Konah terisak-isak, membayangkan hidup esok yang akan mereka jalani. Kemudian kebisuan itu dibuyarkan oleh suara seseorang yang memanggil-manggil Karel dengan nada marah.

“Rel, balikin duit gua. Semalam cincin itu hilang. Perasaan gua, pasti itu cincin balik lagi ke sini!” Bang Gon berdiri bertolak pinggang di ambang pintu. Jari-jarinya dipenuhi batu cincin.

“Harusnya sore nanti gua terima duit lima belas juta dari Pejabat itu!”

Karel gelisah menatap Emaknya yang berburai airmata. Sekuat daya perempuan itu bangkit dari jongkoknya. Melangkah ke lemari reot di pojok. Tangannya gemetar membuka kotak kayu ukiran Jepara itu. Mulut Konah langsung terperangah.

Jakarta, September 2011