Tag

,

Cerpen Zelfeni Wimra
(Koran Haluan, 09 Oktober 2011)

Apabila langit dibalut mendung dan halilintar menyambar, mereka akan mengerang menahan sakit. Tetapi, tidak semua telinga mampu mendengarnya. Tidak semua mata bisa melihat­nya. Tidak semua telinga bisa mendengarnya. Hanya mata dan telinga pilihan akan bisa melihat dan mendengar, bahwa sumber suara erangan kesakitan itu berasal dari mulut Harut dan Marut.

Mereka tak punya daya lagi untuk menganjak badan mencari tempat berteduh dari hujan. Apabila halilintar menyam­bar, mencambuk punggung mereka, gelegar halilintar dan pekik mereka bersatu, bergemuruh membelah angkasa.

Sudah sangat lama mereka berada di situ. Sejak hukuman mereka dijatuhkan hingga usia bumi berakhir. Mereka digantung antara langit dan bumi dengan kaki terikat ke atas dan posisi kepala ke bawah. Itulah hukuman yang harus mereka jalani.

Sungguh tidak terperi­kan siksaannya. Kalau cuaca panas, tubuh mereka seperti menggelegak. Rasa haus dan lapar alang-kepalang. Jika hari hujan, mereka menggigil menahan dingin. Begitulah seterusnya hingga kiamat tiba.

Pada mulanya, hanya perdebatan biasa. Ketika itu, para malaikat sering berkumpul memperbin­cangkan perangai manusia yang sering melampaui batas. Guru kami menye­but ini dengan kisah Isra’iliyat. Cerita berbumbu khayal yang dikembangkan oleh suatu kaum yang menganggap diri mereka merupakan jelmaan keluar­ga Tuhan di bumi. Kisah yang tidak dapat disalahkan semuanya serta tidak pula dapat dibenarkan semua­nya.

Perbincangan malaikat itu menghasilkan keputusan memilih dua orang di antara malaikat untuk menghadap Tuhan, menga­jukan permohonan untuk diturunkan ke bumi. Harut dan Marut terpilih menjadi wakil para malaikat.

Beginilah kira-kira permohonan Harut dan Marut:

“Setelah sering memper­bincangkan keprihatinan mengenai ulah manusia di bumi yang tidak lagi menjadikan aturan-aturan-Mu sebagai pedoman hidup, kami berdua diutus untuk menyampaikan beberapa hal. Kiranya Engkau berkenan mende­ngarnya,” Harut memulai.

“Beri kami tubuh layaknya manusia, Tuhan. Kami ingin memberikan contoh menjadi manusia yang baik. Kami sudah lama menanggung heran, mengapa manusia tidak pernah sepenuhnya sadar pada kelebihan yang Engkau anugerahkan pada mereka,” Marut melan­jutkan.

“Mengapa manusia sukar sekali memahami anjuran-Mu, bahwa keinda­han hidup itu terletak pada kemampuan menahan kehendak. Kemuliaan bertengger di ujung daya mengendalikan keinginan.

“Engkau larang mereka mencuri. Syukuri saja apa yang sudah dimiliki dan segala yang telah diraih sebagai hasil usaha sendiri. Jika ingin lebih, lebihkan pula usahanya. Jangan rampas hak milik orang lain. Manusia-manusia itu justru menumpuk kekayaan dari harta orang lain.

“Engkau larang mereka membunuh. Menghilangkan nyawa itu bukan urusan mereka. Sebab nyawa itu ditiupkan dari rohmu. Menitip dan mengambilnya kembali adalah urusan-Mu. Tapi, selalu tapi. Jika bukan menghilangkan nyawa orang lain, di antara mereka juga ada yang menghilangkan nyawa sendiri.

“Engkau cegah mereka mendua. Sebab pencipta hanya engkau seorang. Mereka malah menuhankan pikiran mereka sendiri.

“Engkau perintahkan untuk tidak berzina. Keturunan diproses atas kehendak-Mu. Seorang yang lahir harus melewati aturan agar kehidupan juga teratur. Cikal-bakal keturu­nan yang berasal dari sari pati tanah itu tidak boleh ditumpahkan di sembarang tempat. Dan rahim yang ibarat sawah-ladang itu tidak baik ditanami dengan sembarang bibit. Apa yang terjadi? Secara diam-diam atau terang-terangan mereka mengumbar syah­wat. Bergonta-ganti pasa­ngan. Mereka salah guna­kan ilmu menunda keha­milan untuk keperluan memuaskan nafsu birahi.

“Kami tidak sampai hati. Sejak Adam dan Hawa dilemparkan ke bumi, kami sudah menang­gung iba ini. Bumi akan diramaikan oleh makhluk berakal-nafsu yang tidak pandai menahan kehendak hati. Padahal, Engkau telah peringatkan kami, bahwa mereka adalah makhluk paripurna. Kami sungguh heran, Tuhan. Mengapa masalah yang paling sering menghancurkan manusia sesungguhnya sepele saja: bagaimana menahan hati!

“Obatilah keheranan kami ini. Berilah kami badan seperti manusia. Beri pula kami akal dan nafsu. Biarkan kami hidup di bumi guna memberikan teladan yang baik kepada manusia-manusia itu. Turunkan kami ke bumi!”

Harut dan Marut yakin, Tuhan Maha Mengetahui desir jiwa mereka, yang paling halus sekalipun. Di bumilah tempat yang tepat untuk hidup, memberikan teladan.

Doa Harut dan Marut dikabulkan Tuhan. Mereka diberi tubuh manusia dan diturunkan ke bumi. Mereka diberi akal dan nafsu layaknya manusia.

Setelah bertahun-tahun ting­gal di bumi, mereka ber­hasil menguasai kema­nu­siaan mereka. Mereka telah mencontohkan cara menjadi manusia pilihan. Manusia sempurna yang layak menjadi pemimpin di bumi.

Akan tetapi, pada suatu ketika, mereka mulai merasakan ada gejolak yang luar biasa hebatnya selalu bergemuruh dalam jiwa mereka. Gemuruh itu mereka rasakan ketika bertemu seorang perem­puan cantik.

Harut dan Marut sama-sa­ma menginginkan perem­pu­an itu menjadi kekasih me­reka. Maka terjadilah per­saingan untuk menda­pat­kan gadis itu. Persa­habatan Ha­rut dan Marut yang se­mula sangat baik, mulai ru­sak oleh emosi ingin menjadi pemenang men­dapatkan hati si gadis. Ma­sing-masing menggu­nakan cara untuk merebut hati si gadis.

Sementara si gadis, belum juga menjatuhkan pilihan. Baik kepada Harut maupun Marut, ia hanya menyatakan, kalau dirinya adalah penyembah berhala. Siapa pun yang ingin menjadi pendamping hidupnya mesti ikut pula menyembah berhala bersamanya. Perempuan itu juga menyatakan, ia suka minum khamar dan berjudi.

Satu hal lagi, si gadis menjelaskan pada Harut dan Marut kalau dirinya sedang memikirkan bagai­mana membalas dendam atas kematian orang tuanya. Kalau saja ada laki-laki yang bersedia memban­tunya membunuh pembu­nuh orang tuanya, maka laki-laki itu akan ia jadikan suami.

Tentu saja syarat-syarat yang disampaikan gadis itu sangat berat bagi Harut dan Marut. Mereka mulai memutar akal bagaimana supaya gadis itu takluk di hadapannya bila perlu tanpa memenuhi syarat yang ia ajukan.

Akhirnya, Harut dan Marut sama-sama memu­tuskan untuk memenuhi syarat yang paling ringan dosanya. Menurut akal mereka, dosa yang paling ringan itu adalah memi­num khamar.

Harut dan Marut pun mencuri minuman khamar dan meminumnya di depan si gadis. Mereka terpaksa mencuri, sebab mereka tidak mungkin membeli. Kalau mereka membeli, tentu saja orang akan tahu kalau mereka sama saja dengan para pemabuk lainnya. Khamar yang dicuri itu mereka minum sampai mabuk. Di tengah kemabukan itulah, syahwat mereka memuncak tak terkendali. Mereka mem­perkosa si gadis. Malang bagi Harut dan Marut, perbuatan mereka diper­goki seorang warga yang kebetulan melintas di dekat mereka memperkosa si gadis.

Harut dan Marut kalap. Keteladanan yang sudah lama ia jaga telah terco­reng. Tanpa berpikir panjang, demi menye­lamatkan keteladanan mereka, mereka pun memutuskan untuk membu­nuh warga itu. Menurut mereka, kalau warga itu tidak dibunuh, tentu ia akan diadukan ke penga­dilan dan semua orang akan tahu, kalau Harut dan Marut sudah melakukan kesalahan secara beruntun: mencuri, minum khamar, memperkosa, dan mem­bunuh.

Setelah kejadian itu, Harut dan Marut pun dipanggil menghadap Tuhan untuk mempertangung­jawabkan perbutannya. Betapa takut dan malunya mereka. Teringat kembali ketika Tuhan memberi peringatan, bahwa Dia lebih mengetahui hal-hal yang tidak mereka ketahui. Mereka ketika itu memper­tanyakan, untuk apa menciptakan manusia di permukaan bumi, padahal mereka hanya akan mem­buat kerusakan dan ber­tum­pahan darah sebagi­mana makhluk sebelumnya. Kini teranglah sudah. Mereka sampai pada puncak pengertian: menjadi manusia tidak mudah.

Atas kesalahan Harut dan Marut itu, Tuhan Yang Maha Pengampun, mem­beri dua pilihan hukuman: disiksa di bumi atau di akhirat? Harut dan Marut memilih disiksa di bumi. Sebab, kalau disiksa di akhirat, tiada mengenal kata akhir. Kalau disiksa di bumi, akan berakhir ketika hari kiamat.

***

Demikianlah, guru kami sering menceritakannya. Terakhir, guru kami mengisahkan, bahwa sepanjang berabad menang­gung siksa dengan kaki digantung ke atas, kepala ke bawah, Harut dan Marut melewatinya dengan tiada henti memohon ampun kepada Tuhan. Segala haus, segala lapar, siksa sakit, sepi, dingin, panas, takut dan segala perasaan menyeramkan lainnya mereka lupakan dan menggantinya dengan banyak-banyak memohon ampunan. Mereka menga­kui segala kesalahan mereka.

Baru-baru ini, Harut dan Marut kembali memo­hon diberi kesempatan untuk kembali dihidupkan dengan sebagai manusia di bumi.

“Beri kami kesempatan kedua, Tuhan,” pinta Harut

“Kali ini, kalau kami masih melanggar, kami bersedia dihukum dengan siksaan yang beribu kali lipat pedihnya dari huku­man yang sekarang,” tambah Marut.

“Jika Engkau berkenan mengabulkannya, turunkan kami di Padang.” Ucap mereka serentak.

Guru kami belum menjelaskan, apakah permintaan Harut dan Marut dikabulkan Tuhan atau tidak. Kami pun tidak sempat memikirkannya lebih jauh tentang itu. Toh, kisah tentang Harut dan Marut sudah ditegaskan Guru: tidak boleh dibenar­kan semuanya dan tidak pula boleh disalahkan semuanya. Yang terpikirkan oleh kami kini justru perihal yang lain lagi. Ini menyangkut alasan Harut dan Marut. Apa gerangan yang menjadi sebab Harut dan Marut mohon diturun­kan sebagai manusia di Padang?

Belum sempat kami bertanya, Guru kami men­dadak tiada. Beliau mening­gal di penjara akibat penya­kit jantung menye­rangnya tiba-tiba. Ia ditangkap dan di­dakwa penyebar ajaran se­sat yang bisa mengacaukan ne­gara, meneror, dan me­rusak bangsa. Jangan-ja­ngan, Harut dan Marut ini dice­ritakan guru karena piki­rannya sedang kusut me­lihat keadaan di muka bu­mi yang semakin carut-marut. n

Padang, 2011