Tag

,

Cerpen Romi Zarman
(Koran Tempo, 09 Oktober 2011)

SAYA tak percaya pada awalnya. Bagaimana mungkin seekor kerbau dengan tubuh yang tampak lebih besar daripada rumah tiba-tiba hadir di tengah kota? Lihatlah. Di sana, di dalam pagar itu, tubuhnya terlihat jelas. Tanduknya melengkung runcing dengan kepala menunduk ke bawah. Ia tampak begitu asyik memamah rumput untuk mengisi perut. Sampai-sampai, saya yang berdiri di dekat pagar tak terlihat olehnya. Akan tetapi, itu lebih baik. Karena kalau sampai ia menyadari kehadiran saya, tentu ia akan melangkah keluar pagar. Sungguh tak terbayangkan bila kerbau sebesar itu menerpa tubuh saya.

Segera saya gegaskan langkah. Cepat-cepat saya menuju rumah. Begitu sampai, saya ceritakan kepada istri saya. “Akan tetapi,” kata istri saya, “bagaimana bisa? Bukankah seminggu yang lalu di tanah itu masih berdiri gedung? Bagaimana mungkin secepat itu mereka menyulapnya jadi kebun binatang?”

“Bukan, bukan kebun binatang.”

“Lantas?”

“Hanya seekor. Ya, hanya seekor kerbau.”

Saya baru ingat, ternyata bukan seekor. Begitu terpana melihat besarnya itu kerbau, sampai-sampai saya jadi lupa bahwa di sebelahnya juga ada seekor yang lain. Lebih kecil. Barangkali kerbau itu anaknya. Akan tetapi, bukan itu saja. Saya baru ingat, benar-benar ingat. Di dekat pagar, masih ada dua ekor lagi. Memang lebih kecil daripada induknya.

“Bukan, bukan,” kata saya.

“Abang ni, bukan-bukan terus,” kata istri saya ketus. “Abang mau merayu Sufi, ya?” Nada suara istri saya seketika berubah, menjelma begitu lunak.

“Sudah, sudah,” kata saya.

Saya tinggalkan ia sendirian. Saya kembali ke kebiasaan.

SAYA kembali ke kebiasaan. Secepat saya kembali, secepat itu pula saya lupa. Mungkin karena kesibukan saya, apa yang saya lihat itu jadi teralihkan, dan lambat-laun akhirnya jadi terlupakan. Ya, begitulah saya. Hal-hal yang menakjubkan (bahkan menakutkan) begitu mudah saya dapatkan. Akan tetapi, secepat itu ia datang, secepat itu pula ia bisa pergi. Kadang istri saya berkata, “Abang ni sering membuang waktu untuk pembicaraan yang tak ada sambungannya. Hari ini bicara ini, besok bicara lain lagi.”

Sering istri saya merajuk. Kadang pembicaraan kami sering terputus di tengah jalan. Kadang buntu karena tak berkejelasan.

“Mestinya kita bisa bertukar pendapat,” kata istri saya.

Ya, ya. Saya sadar, hampir tak bisa saya giring pembicaraan ke arah tukar pendapat. Akan tetapi, istri saya selalu mencoba memahami. Seperti hari ini, saya tak pulang ke rumah. Istri saya akhirnya paham bahwa malam ini saya bakal lembur. Maklum, sebagai kepala mandor di pelabuhan ini, saya harus memastikan jumlah barang yang masuk dengan menunggu kapal pengangkutnya. Kabarnya, kapal itu bakal berlabuh tengah malam ini. Artinya, saya mungkin baru bisa pulang di kala subuh. Istri saya setuju.

Saya tunggu. Kapal itu masuk. Lembur saya mulai. Begitu selesai, saya langsung pulang. Setibanya di rumah, saya langsung rebah tidur. Siangnya saya bangun, dan saya harus ke pasar. Maklum, istri saya sedang hamil lima bulan. Tak baik ia ke pasar, kata mertua saya. Maka, sayalah yang berangkat. Akan tetapi, begitu saya lewat di tempat kemarin, saya kembali melihat kerbau besar itu. Lihatlah, tubuhnya yang tampak lebih besar daripada rumah, dan tanduknya yang melengkung runcing. Kerbau raksasa. Dari seberang jalan saya perhatikan. Ternyata benar. Kerbau itu tak hanya seekor. Ada empat semuanya. Dua di dekat pagar. Dua di tengah-tengah. Entah kenapa, kali ini tak ada rasa takut. Saya begitu ingin mendekat. Saya begitu ingin menyentuh si kerbau raksasa.

SAYA ingin menyentuhnya. Bagaimanakah rasanya? Adakah sama rasanya dengan menyentuh kerbau peliharaan saya dulu? Atau, jangan-jangan, saya akan mendapatkan pengalaman baru? Keinginan itu begitu menggebu. Begitu saja ia datang. Tak ada rasa takut. Seperti yang saya bilang, secepat rasa takut itu datang, secepat itu pula rasa itu bisa hilang. Bisa amat cepat. Secepat apakah? Ah, entahlah.

Dulu, dulu sekali, sewaktu saya masih bersekolah, saya punya kerbau peliharaan. Kerbau pemberian Ibu. Saya pelihara. Saya beri makan. Tentu, dengan rumput sabitan. Sesekali, bila musim tanam hendak datang, Ayah akan meminjam kerbau peliharaan saya. Untuk membajak sawah, katanya.

Akan tetapi, entah kenapa, kerbau saya itu tak pernah mau dipasangi bajak. Cukup sayalah yang menemaninya ke petak sawah. Tanpa bajak ia mengacak-acak tanah, melunakkannya dengan pijakan kakinya yang begitu kuat. Maka, perlahan-lahan, tanah yang sudah diairi itu menjadi lunak, siap ditanami padi. Kerbau itu bakal berjalan seharian, bolak-balik, di atas petak sawah. Dan saya duduk di punggungnya. Sampai matahari naik sepenggalah. Sampai matahari tegak di atas kepala kami. Lalu kami beristirahat sejenak. Setelah makan siang, kembali kami lanjutkan kerja kami. Sampai sore. Sampai kerbau itu keluar dari sawah. Sebelum pulang, saya bawa ia ke tempat yang penuh rumput. Supaya ia makan sampai kenyang.

Dan suatu hari, di tempat yang penuh rumput itulah, saat kerbau saya asyik mengisi perut, datang seekor jalak. Tentu, saya langsung mengusirnya. Jalak itu pergi. Tapi hanya sebentar, untuk kemudian kembali, dan hinggap di tubuh kerbau itu lagi. Saya biarkan untuk sementara. Saya lihat. Jalak itu mematuk tubuh kerbau saya. Kata Ayah, “Biarkan saja. Jalak itu bakal mengobati gatal-gatal sang kerbau dengan mematuk kutu-kutunya.”

Saya turuti perkataan Ayah. Akan tetapi, tanpa saya sangka, jalak itu mematuk tahi lalat di paha saya. Saya hilang keseimbangan. Seketika saya jatuh dari punggung kerbau. Saya tak bisa menerimanya. Saya usir itu jalak. Besoknya, burung itu kembali datang. Ah, saya tak tahu persis apa itu jalak yang sama. Yang jelas, paruh dan kakinya sama-sama kuning. Mirip dengan jalak sebelumnya. Saya usir. Akan tetapi, jalak itu balas mematuk saya. Saya tak terima. Bagaimana mungkin burung itu mempertahankan diri, sedangkan kerbau itu milik saya? Maka, saya usir lagi. Tapi, di lain hari, masih saja ada jalak yang datang. Tak henti. Sampai di suatu hari, kerbau itu tak lagi saya miliki. Kata Ibu, kerbau itu dijual untuk biaya masuk kuliah saya. Sejak itu saya tak pernah lagi menyentuh seekor kerbau.

Hari ini keinginan itu datang lagi. Saya ingin menyentuhnya. Bagaimanakah rasanya? Akan saya sentuh itu kerbau yang ada di dalam sana. Akan saya lompati pagar. Akan tetapi, baru selangkah saya mengayunkan kaki, telepon genggam saya tiba-tiba berdering. Saya angkat, dan saya suara istri saya, “Abang ke kebun binatang lagi, ya? Kok belum juga pulang?”

SESAMPAINYA di rumah, saya ceritakan kepada istri saya, bahwa saya tadi memang ke “kebun binatang” itu. Istri saya lalu menjawab asal-asalan, “Lain kali jangan lama-lama, Bang. Bisa-bisa Abang ditendang oleh itu kerbau.”

Saya diam. Saya ke sana bukannya sengaja. Tapi jalur dari rumah saya ke pasar raya melewati “kebun binatang” itu. Bagaimana tak akan lewat di sana? Lagi pula, jalan raya di depan “kebun binatang” itu lumayan berarus lancar. Maka saya senang lewat di sana.

Besoknya, sewaktu pulang kerja, saya kembali melintas di sana. Saya lihat itu kerbau. Empat ekor. Akan tetapi, mata saya tetap saja terpaku pada yang paling besar. Kerbau itu, oh, sedang memamah rumput yang ada di hadapannya. Saya lihat tanduknya yang melengkung runcing. Saya lihat punggungnya. Kosong. Oh, tiba-tiba saya ingat jalak. Kenapa tak ada jalak di punggungnya? Kerbau itu, pastilah punya banyak kutu di tubuhnya. Saya bayangkan ia menderita gatal yang tak terkira. Kasihan. Tak ada jalak.

Eh, kasihan?

Tiba-tiba saja, seperti biasanya, ada rasa yang datang. Saya ingin ada jalak. Saya ingin ada jalak. Begitu saja keinginan itu datang.

Malamnya, entah kenapa, tiba-tiba saja saya rasakan ada perubahan pada diri saya. Mula-mula, saya rasakan tubuh saya panas. Lalu saya rasakan ada yang tumbuh. Pun ada yang menyusut. Sampai tengah malam. Sampai dinihari. Saya dapati diri saya telah ditumbuhi bulu. Lihat, bukan hanya itu. Di tubuh saya, juga tumbuh sayap. Di depan cermin, saya saksikan semuanya. Lihatlah, kaki saya berubah kuning. Juga lingkar mata saya.

Saya kepak-kepakkan sayap. Oh, jalak. Saya berubah jadi jalak. Ingatan saya langsung kepada kerbau itu. Tanpa mengulur waktu, saya langsung terbang ke situ.

Di punggung kerbau itulah akhirnya saya tiba. Lihatlah, betapa besar ini kerbau. Saya hendak mematuk, hendak mencari kutu. Saya tahu, pastilah di tubuh kerbau ini banyak kutu. Sampai pagi datang. Sampai matahari menampakkan diri. Ah, saya kepak-kepakkan sayap. Akan tetapi, saya terkejut menyaksikan pemandangan di bawah sana. Lihat, kutu-kutu itu bukan di punggung kerbau, tapi di bawah. Nun di bawah sana kutu-kutu itu, betapa mereka bagai serentak terus mendongak ke arah saya.

Kutu-kutu itu, oh, alangkah gaduh. Semakin lama semakin banyak jumlahnya. Pastilah karena mereka yang membuat kerbau ini sering merasa gatal-gatal, menghisap darah ini kerbau. Tak bisa saya biarkan. Harus saya patuk mereka. Saya bersiap-siap, hendak terbang ke bawah sana. Berapakah tingginya? Ah, saya perhatikan lagi. Akan tetapi, mata saya yang tajam tertahan di satu titik. Saya seperti mengenali dua ekor kutu itu. Lihatlah, dua ekor di bawah tiang bendera itu. Saya mengenalinya. Saya mengenalinya.

Yang pertama, istri saya. Yang kedua, oh, psikiater saya.

Tiba-tiba, saya ingin turun. Turun dari atap gubernuran ini.

Padang, 5 September 2011

Romi Zarman, alumnus Fakultas Sastra Universitas Andalas. Lahir dan menetap di Padang.