Tag

,

Cerpen Helmy Fenisia
(Jurnal Medan, 02 Oktober 2011)

Rina menutup buku pe-er matematika yang baru selesai dikerjakannya. Gadis itu melirik jam berbentuk ikan lumba-lumba yang bertengger di dinding kamarnya.

Pukul empat sore. Tidak terasa, setengah jam dia mengerjakan tugasnya. Setelah membereskan buku – buku pelajaran yang berserak di meja belajar, gadis itu menuju kamar mandi. Membersihkan diri.

“Ahhhhhh, segarnya…” ucap Rina setelah mandi dan menuangkan bedak baby ke tubuh mungilnya. Windy sahabatnya pernah mengejek, masa gadis remaja masih memakai bedak baby. Rina hanya tersenyum, ia suka aroma segar yang tercium dari bedak itu. Apalagi ia tahu, bedak baby pastilah bebas dari bahan kimia berbahaya.

“Hmmm…sore-sore begini, bagusnya ngapain ya?”
Gadis itu bergumam sendiri. Sebagai anak tunggal dari keluarga kaya, kadang dia merasa kesepian. Ayah-ibunya sibuk dengan bisnis hingga kadang ia terlupakan. Di rumah hanya ada Mbok Ijah, pengurus rumah yang mengasuhnya sejak kecil. Kedua orangtuanya baru tiba di rumah bila ia sudah tertidur. Hanya sesekali mereka pulang lebih awal.

“Bagusan aku ajak Windy keluar, daripada suntuk di rumah.”
Rina meraih Blackberry-nya dan mengirimkan pesan singkat pada sahabatnya: “Win, keluar yuk. Aku lagi suntuk nih. Kita ke mall makan – makan. Kebetulan Mbok Ijah hari ini enggak masak.”
Sudah lima menit tapi Windy masih belum membalasnya. Hmm, ada apa gerangan? Pikir gadis itu. Tak biasanya Windy mengacuhkan BBM atau pesan singkatnya.

Rina meraih Blackberry dan mencari nomor kontak sahabatnya.
“Hallo,” terdengar suara dari seberang.
“Kok bbm-ku tak dibalas?” Tanya Rina to the point.

“Uff, sorry Rin. Baru terbaca olehku. Soalnya aku sedang sibuk,” jawab Windy.
“Sibuk? Sibuk apa? Jangan-jangan sibuk pacaran ya,” goda Rina.
“Ye…sibuk buat kue bulan Non,” sahut Windy yang belepotan tepung di tangannya.
“Kue bulan?”

“Iya. Sudahlah, daripada kamu suntuk sini bantu aku,” ucap Windy.
Rina berpikir sejenak.
“Ya sudalah, aku ke sana. Aku juga penasaran seperti apa kue bulan buatanmu,” ucapnya semangat.

“Sore Tante, “ sapa Rina pada ibunya Windy yang sedang memanggang kue.
Gadis itu terkekeh melihat sahabatnya. Wajah dan tangan Windy berlumur tepung.
“Wihhhh….sibuk nian tampaknya. Sampai belepotan begitu.” ucap Rina masih terkekeh.
“Dasar, bukannya bantuin malah diketawain,” sahut Windy. Rina berjalan mendekati sahabatnya.
“Sejak kapan kamu bisa buat kue, Win? Perasaanku jadi enggak enak nih,” ucap Rina bercanda.
“Ye…gini-gini sudah jadi tuh beberapa buah,” Windy memamerkan hasil buatannya.
“Hmm, kayaknya enak, Win. Aku coba ya.” Rina mengambil sebuah dan mencicipi.
“Cobalah, moga – moga enak beneran.”

“Enak, tumben kamu bisa buat kue.” Ledek Rina pada sahabatnya sambil mengunyah kue .
“Kamu saja yang baru tahu. Percuma ibuku pembuat kue, kalau anaknya enggak bisa buat kue juga.”
“Tapi kok, kue seperti ini jarang terlihat?”
Tanya Rina yang beretnis Jawa.

“Soalnya kue bulan dibuatnya cuma setahun sekali. Jelang pertengahan Agustus perhitungan kalender Lunar, seperti sekarang ini. Biasanya dipakai untuk penghormatan bagi para leluhur. Sekalian merayakan musim gugur, “ sahut Windy.
“Oh, pantas saja.”

“Hmm…bentuknya bagus ya,” puji Rina.
“Bentuknya yang bulat ada artinya loh,” ucap Windy.

“Apa tuh?” tanya Rina sambil terus mengunyah. Sebenarnya dia sayang juga makan kue yang bentuknya bagus ini. Tapi rasanya yang enak dan legit membuatnya tak bisa menahan selera.
“Bulat itu simbol dari kesatuan dan keutuhan,” jelas Windy.
Rina mengangguk-angguk. Masuk akal juga, pikirnya.

“Oh ya, Ma. Kata nenek, kue bulan ini ada ceritanya ya. Mama tahu tidak?” tanya Windy pada ibunya.
“Setahu Mama sih, memang kue bulan ini ada legendanya. Ceritanya juga banyak versi. Yang pernah mama dengar dan mama ingat, yaitu kisah tentang seorang wanita yang bernama Chang Er.” Ucap wanita setengah baya itu sambil menyusun kue –kue setengah jadi ke atas wadah panggangan. Sementara itu Windy menyusun kue-kue yang sudah jadi ke dalam kotak.
“Siapa itu Chang Er, Tante?”

Rupanya Rina sudah tak sabar ingin tahu kelanjutan cerita tentang legenda kue bulan dari ibunya Windy.
“Menurut legenda, zaman dulu di langit ada 10 matahari yang sinarnya amat terik. Sampai-sampai pohon – pohon dan tanaman pada mati semua. Lalu Kaisar memerintahkan Hou Yi, suaminya Chang Er memanah sembilan matahari, supaya bumi tidak begitu terik dan kehidupan rakyat juga baik.”
“Nah, karena si Hou Yi ini berhasil memanah sembilan matahari, dan juga dia punya prestasi lain yaitu membangun istana yang begitu bagus, makanya Kaisar menghadiahkan si Hou Yi ini sebuah botol kecil yang berisi obat keabadian.”

“Waktu itu , Kaisar sudah pesan pada Hou Yi, kalau obat itu harus dibagi dengan istrinya, Chang Er. Tapi karena si Hou Yi ini sayang sekali pada istrinya, ya…dia berikan sebotol penuh. Waktu obat itu diminum Chang Er, tiba-tiba tubuhnya jadi ringan dan mulai melayang ke langit. Ditangkap suaminya juga tidak bisa. Sampai akhirnya, si Chang Er ini terjebak di bulan. Untungnya ada seekor kelinci putih menemani dia. “
“Kasihan sekali,” ucap Rina.

“Padahal kan Hou Yi sayang sekali sama Chang Er,” lanjutnya.
Gadis itu ikut sedih mendengar kisah itu.

“Konon, katanya setahun sekali muncul jembatan bulan, pada pertengahan bulan kedelapan penanggalan lunar. Jembatan itu menghubungkan bulan dan bumi. Di waktu tersebut, Hou Yi bisa bertemu dengan istrinya, tapi ya cuma sebentar. Makanya ada yang menyebut festival kue bulan ini sebagai sembahyang Dewi bulan.” IbunyaWindy mengakhiri ceritanya.

“Sebenarnya banyak versi. Tapi yang paling populer cerita tentang si Chang Er ini,” imbuh ibunya Windy.
“Kalau kue bakul ada ceritanya tidak, Tante?” Tanya Rina begitu ia teringat soal kue bakul yang pernah dibuat ibunya Windy.

“Ye…nih anak. Kalau ibuku terus cerita tentang legenda kue, kapan siapnya kerjaan,” ucap Windy.
“He..he..he..Habis seru juga dengar legenda seperti itu,” sahut Rina.
“Daripada mendengarkan cerita, bagusnya kamu bantuin aku masukin kue–kue ini ke kotak. Biar kerjaanku cepat selesai dan kita bisa hang out,” ucap Windy.
“Hmmm…Iyalah,” ucap Rina semangat.

Hari ini Rina merasa bersemangat. Selain bisa menyicipi kue yang hanya dibuat setahun sekali, pengetahuannya tentang legenda China juga bertambah. Gadis itu semakin senang karena ibunya Windy memberikannya satu kotak kue bulan untuk dibawa pulang.

Aku akan merindukanmu kue bulan, ucapnya dalam hati begitu ingat kalau kue bulan ini hanya dibuat setahun sekali.