Tag

,

Cerpen Yetti AKA
(Jurnal Nasional, 09 Oktober 2011)

MALINA mengupas satu siung bawang merah. Suara-suara di balik tembok. Bawang diiris, tipis-tipis. Suara-suara lagi. Jelas dan dekat. Malina berhenti mengiris bawang. Ia memasang telinga baik-baik. Begitu dekat, desisnya. Ada yang meninggal. Ah. Siapa ya? Siapa? Suara-suara kian berseliweran; orang batuk, teriakan kecil, kekeh panjang, napas yang keras.

Bawang kembali diiris. Aduh! Mata Malina perih. Suara-suara itu telah membuyarkan pikirannya, hingga ia tak sengaja memotong pangkal bawang tempat terkonsentrasinya senyawa belerang yang dapat membuat iritasi mata. Punggung tangan Malina sibuk mengeringkan air mata yang mulai meluber.

Siapa sih yang meninggal? Air mata Malina merambah ke pipi, lalu ke mulut. Serta-merta kesedihan menyeret hatinya. Ia tidak lagi sibuk mengurus mata yang lengas, sebab sesungguhnya tangis bukan di sana, melainkan ada di pusat dada.

***

Ini tentu bukan pertama Malina mendengar suara-suara di balik tembok. Hampir tiap minggu ada saja orang meninggal dan dikubur di TPU yang terletak di belakang rumahnya itu.

Tapi siapakah yang meninggal hari ini? Malina kembali bertanya-tanya. Bibirnya berkerut. Ia melanjutkan mengiris bawang. Kali ini ia tampak lebih emosional. Bahkan ia tidak peduli lagi mata yang perih atau isi hatinya yang terseret. Ia mengiris bawang seperti tengah mengiris perasaannya sendiri. Ia tahu betul kalau itu betapa pedih, anehnya ia tidak bisa menjerit. Bawang selesai diiris. Malina termangu. Memandangi irisan bawang, irisan hatinya yang sangat tipis, lalu bertanya, “Siapakah dia, seseorang yang meninggal itu?”

Bagai terbangun dari lamunan panjang, mendadak Malina berdiri. Ia melupakan sejenak rencana membuat telur dadar kesukaan. Ia sungguh-sungguh penasaran dan ingin tahu siapa orang yang akan dikubur di balik tembok. Tidak. Malina terjebak ragu. Terlalu berlebihan kalau ia mesti mendatangi orang-orang itu. Sejak kecil ia tinggal di rumah ini, dan belum pernah datang pada penggali kubur khusus untuk menanyakan tentang seseorang yang meninggal. Ada banyak orang yang meninggal, bukan? Dan kenapa pula ia harus sedemikian terlibat pada hari ini.

Ah, itu pasti orang dari jauh, pikir Malina. Jika orang sekitar sini, sudah tentu ia mendengar pengumuman kematian dari masjid. Bahkan biasanya penjaga masjid akan mengumumkan hingga tiga kali. Jadi tak mungkin hal itu terlewatkan olehnya.

“Siapa sih?” desis Malina lagi-lagi. Ia mulai kesal dan uring-uringan. Ia ingat jendela kamar. Malina ke sana. Dari jendela kamar, tentunya dengan menjulurkan kepala agak keluar, Malina bisa melihat ke sebalik sebab tembok di sebelah sana lebih rendah. Pantas saja suara-suara itu terdengar terang di telinga. Ternyata kuburan yang sedang dipersiapkan itu amat dekat dengan rumahnya. Persis di bawah tembok pembatas antara TPU dan pekarangan belakang rumah Malina.

Duh, Siapa yang meninggal hari ini?

“Si-a…” Malina hampir saja berteriak pada para penggali kubur. Urung.

Cepat-cepat ia menutup mulut, menguncinya dengan telapak tangan. Ia berusaha menahan diri. Memosisikan diri sebagai orang yang tidak punya kepentingan apa-apa atas kematian seseorang hari ini.

Siapa ya? Siapa? Malina menggigit jari kelingking kirinya, termenung-menung.
Semoga orang itu tidak mati muda. Jika orang itu mati muda? Tidak. Oh, “Tidak,” Malina merintih lemah, persis sama ketika jari kelingking yang sedang digigitinya itu tak sengaja teriris pisau dapur, dua minggu lalu–darah yang mengalir perlahan, bagai lelehan rindu yang begitu sakit.

Ya, rindu yang begitu sakit. Benar sekali. Begitulah kesedihan yang akan ditinggalkan bila seseorang mati muda. Barangkali orang itu punya pacar. Mereka akan menikah enam bulan lagi kalau saja kematian tidak memisahkan. Berapa banyak air mata mengantar prosesi penguburan nanti? Si pacar terisak di antara pengantar jenazah. Ia memegang keranjang bunga dan menaburkan kembang aneka warna, kebanyakan merah, ke pusara yang masih basah. Saat orang-orang sudah pulang, si pacar tetap bertahan di sana. Menangis selama berjam-jam.

Besok dan besoknya lagi si pacar datang berziarah. Tentu selalu menangis untuk waktu yang lama. Tidak, bibir Malina bergetar. Semoga seseorang itu tidak mati muda. Ia tidak mungkin tahan jika setiap hari harus mendengar tangis si pacar di balik tembok yang bakal menguras apa pun yang ada di dadanya. Sesuatu yang bisa jadi menjadi bagian dirinya, seumur hidup. Jangan kejam padaku! Jangan! Malina menahan diri untuk tidak memekik dan mengejutkan para penggali kubur yang tengah sibuk membuat lubang untuk seseorang yang bahkan ia tidak tahu sama sekali siapa dia, tapi sialnya telah merangsek amat dalam di pagi miliknya.

***

Malina segera ingat pada rencananya membuat telur dadar. Ia lekas meninggalkan jendela dan segera kembali ke dapur. Dengan cepat –seakan ia dikejar rencana bepergian–diambilnya sebutir telur dalam kulkas. Ia pecahkan cangkangnya. Secepat itu pula Malina menumpahkan isi telur dalam mangkuk berisi irisan bawang. Malina menambahkan sedikit garam. Ia segera mengaduk dengan ritme rapat. Sentuhan sendok pada mangkuk menimbulkan bunyi sedikit ribut. Makin cepat, berkejar-kejaran.

“Jam berapa rencana penguburan?” terdengar suara penggali kubur.

“Sebelum zuhur,” timpal seseorang.

“Penggalian ini jelas memakan waktu lebih lama dari perkiraan. Tanahnya lumayan keras,” ujar seseorang yang lain lagi.

Malina merasa putus asa karena tak juga mendapati jawaban. Ia mengetuk-ketukan ujung sendok di pinggir mangkuk. “Siapa sih?” tanyanya lirih. Ia kesal kepada para penggali kuburan yang tak pernah menyebut nama seseorang, dan malah lebih banyak ngobrol, tertawa-tawa atau berteriak tidak sopan. Jangan-jangan seseorang yang meninggal ini tidak begitu penting di hati orang lain.

Bisa saja ia lelaki tua yang sering ngamen di kafe favorit Malina, yang barangkali ditemukan mati di pinggir jalan bersemak, arah keluar kota. Lelaki yang terlalu sering menyanyikan lagu My Way Frank Sinatra. Dan Malina sudah berminggu-minggu ini gemar minum jeruk panas di kafe itu demi mendengar suara serak lelaki tua. Kebetulan sekali, dua hari lalu, si lelaki bicara pada Malina tentang dirinya yang mulai sakit dan tak bisa tiap hari datang ke kafe.

“Sayang sekali,” kata Malina waktu itu, “Padahal aku ingin datang setiap hari ke sini demi suaramu yang keren.”

Lelaki tua tahu pujian itu terlalu berlebihan, dan ia membalasnya dengan hanya tertawa. Bagi Malina tawa itu pun tampak tidak sepenuhnya.

“Anda benar-benar sakit,” ucap Malina menyesal.

Lelaki tua mengangguk-angguk. Senyumnya tak muncul lagi.

Kalau benar lelaki pengamen itu yang meninggal, tidak seharusnya Malina masih berada di rumah dan membiarkan lelaki itu sendirian sebab bukankah ia tidak punya keluarga? Miris benar seandainya lelaki tua itu betul ditemukan mati di pinggir jalan, lalu atas nama kemanusiaan dan agama, orang-orang akhirnya mengurusi mayatnya.

Kepergian tanpa ditangisi siapa-siapa, apa rasanya? Malina menelan ludah. Semestinya ia lega jika saja benar kuburan itu disiapkan untuk pengamen tua. Dengan begitu Malina tidak akan mendengar tangis si pacar anak muda di balik tembok, berhari-hari, dan dalam waktu yang lama. Nyatanya tidak juga. Malina justru gelisah. Kepergian tanpa ditangisi siapa-siapa. Sungguh malang. Mesti ada seseorang yang memberikan air matanya bagi lelaki tua itu. Ingat, ini untuk terakhir kali baginya. Alangkah sedih bila ia dikubur tanpa seseorang yang merasa kehilangan atas dirinya.

Malina tak akan membiarkan itu terjadi. Ia mesti bersiap-siap. Ia harus mengantar lelaki tua ke pemakaman. Tinggal di sana beberapa menit lebih lama dari orang yang telah rela mengurus jenazah pengamen itu. Sebisanya ia juga mempersembahkan sesuatu yang manis untuk lelaki tua. Ia memang tidak mampu menyanyikan lagu My Way. Jadi ia tak akan memilih lagu itu atau malah tidak akan bernyanyi. Ia bisa saja hanya membacakan satu puisi yang ia ciptakan secara tiba-tiba, tepat saat ia berdiri memandangi pusara yang menguarkan harum tanah yang lembab.

Tapi, ahh, tidak mungkin dia! Pasti bukan dia! Malina cepat-cepat membuang pikiran bodohnya. Malina tahu lelaki tua itu tak akan menyerah begitu saja. Sejauh ini ia telah hidup dengan begitu keras. Ia tentu bukan tipikal orang yang akan mati dengan mudah.

***

Sentuhan sendok pada pinggir mangkuk tidak lagi terdengar. Suara-suara di belakang tembok juga sudah tak ada. Sekarang sepi. Semuanya sepi. Malina yang sepi. Rumah yang sepi. Tembok yang sepi. Kuburan yang sepi. Hingga Malina melihat jam di tangannya, dan ia kaget karena hari tidak lagi pagi. Ia telah melewatkan sarapan yang seharusnya tak boleh terjadi untuk penderita maag parah. Malina segera mengaduk kembali telur dalam mangkuk. Terburu dan gugup.

Tapi entah kenapa, ia masih saja sepi. Semua masih saja sepi. Uhh, Siapakah yang meninggal hari ini? pikiran itu menyergapnya untuk sekian kali.

Lalu. Ketukan di pintu. Satu kali. Dua kali. Ketukan yang juga terdengar begitu sepi. Malina melihat sedih pada telur dalam mangkuk. Adonan yang belum juga menjadi telur dadar kesukaan hingga jam sarapan terlewati, hingga jam makan siang hampir tiba. Ketukan di pintu, untuk ketiga kali. Malina memaksakan diri berdiri, sambil tak henti-hentinya merasa sedih. Kesedihan yang pada akhirnya sama sekali tidak bisa lagi ia mengerti. Malina menuju pintu. Ia mengintip dari jendela dengan sedikit menyingkapkan gorden yang belum sempat ia buka.

Seseorang yang tak ia kenal berdiri di depan pintu. Wajah orang itu sama sekali tak bisa ia lihat.

“Siapa?” tanya Malina tanpa membuka pintu.

“Kita berangkat sekarang,” jawab seseorang dingin.

“Ke mana? Saya tidak bepergian hari ini.”

“Kita akan bepergian.”

“Saya sedang berencana membuat telur dadar. Saya tidak akan pergi ke mana-mana.”

“Kita berangkat sekarang,” seseorang itu mengulang kalimatnya dan terkesan mendesak.

“Ke mana sih?” Malina mulai gusar.

“Kuburan.”

“Kenapa?”

“Kau meninggal tadi pagi.”

Kaki Malina seakan tidak kuat menahan tubuhnya yang mendadak berat. “Jadi seseorang itu aku?” ia bertanya haru pada dirinya sendiri karena tak mungkin lagi mewujudkan rencana membuat telur dadar kesukaan.***

Jalan Enam Mei, 2011

Yetti A KA, buku terbarunya Satu Hari Bukan di Hari Minggu (Gress Publishing, Yogyakarta, 2011)