Tag

,

Cerpen Susy Ayu
(Suara Karya, 08 Oktober 2011)

Aku bisa merasakannya. Ia mengelus sepanjang tulang belakangku dan tiap kali ia bergerak sebentuk rasa lelah merayapiku. Aku membayangkan ribuan sel yang bertarung satu sama lain. Sementara pertempuran itu sendiri sesungguhnya tidak memenangkan apapun. Sayangnya, aku hanya bisa sekarat dengan seorang istri yang khianat.

“Pa, dengarkan, kau akan segera mati, tapi jangan takut!” katanya sambil menggenggam tanganku. Matanya menatapku.

Aku menoleh padanya. Tersenyum tipis. Tapi dengan tatapan mataku, aku mencoba mengiyakan kata-katanya. Aneh, menjelang mati, orang menjadi sangat sabar. Sebagian kedirianku sudah berpindah ke ingatan lain, dan ia belum pernah sekarat sekalipun.

Ia cuma istriku, yang kelihatan bertambah ranum pada usia tiga puluh enamnya. Bentuk bibirnya kebetulan manis. Dia juga pintar. Pandai mencari cara bersenang-senang. Bagaimana mungkin ia bicara tentang keberanian dan ketakutan yang bisa hadir sesudah kematian? Tapi menjelang maut, orang sudah terlalu lelah untuk berbantahan. Demikian juga aku.

“Aku baik-baik saja. Percayalah.” Lalu, agar terkesan sedikit dramatis, kukutik sebuah sajak. “Kematian cuma selaput gagasan yang gampang diseberangi.” Mungkin aku cuma berpikir aku mengatakan itu. Mungkin suaraku tidak lagi terdengar. Satu hentakan napas lagi, aku akan menjadi batu meteor yang menghempas ke pusat daya tarik dan menyediakan diri untuk terbakar punah. Tanpa aduh dengan sejumlah alat pemantau organ dijejalkan ke tubuhku.

Di sisi ranjangku, istriku terhenyak mundur dalam kengerian. Mereka yang pernah sekarat akan tahu, melihat seseorang yang begitu menderita menyaksikan proses itu jauh lebih menyakitkan daripada menempuh sekarat itu sendiri.

Memikirkan istriku membuatku diserang perasaan malu. Sebab sesungguhnya, ia adalah orang yang paling kubenci sepanjang hidupku. Satu-satunya orang yang lebih buruk dari sekawanan serigala untuk berjaga di sisi ranjang kematianku. Tapi sakit yang mengalihkan penderitaanku itu cuma membuktikan bahwa aku peduli pada derita dan bahagianya. Aku merasa amat hina untuk mempunyai perasaan itu. Dalam pergulatan dengan maut yang akan membebaskanku dari cinta dan benci, aku mencoba melawan perasaan peduliku padanya.

Kurasakan istriku tersentak dan melepaskan genggamannya. Di sisi ranjang, kulihat ia membekap mulutnya dan dengan mata penuh belas kasih yang terhunjam-hunjam kengerian. Kulihat ia merapalkan doa.

Dan doa yang keluar dari mulutnya, bagiku adalah doa paling terkutuk yang pernah terjadi di kolong langit. Aku menjerit sejadinya untuk menolakkan itu.

* * *
Cuma senggama yang bisa menghasilkan gerakan lebih baik dari ini. Beberapa di antaranya mengingatkanku pada itu. Punggungnya melengkung ke atas ranjang, matanya membeliak dan setetes air mengambang di sudut matanya. Dan cengkeraman jari-jarinya, ah! Aku merapatkan kedua kakiku. Mencari sesuatu. Sungguh tidak sopan, kataku sendiri dalam hati. Tapi aku tidak sanggup menahankan perasaan ini, meskipun aku seorang istri baik-baik. Dan di usiaku yang ketiga puluh enam, susuku masih sekencang delima, hanya saja dengan suami megap-megap macam ini aku merasa agak tersinggung. Tapi ia sekarat, aku bisa melihatnya.

Perasaanku berdebar. Di balik pintu, kekasihku menunggu dengan simpati yang sempurna. Selama suamiku menarik napasnya satu-satu dalam delapan belas jam ini, ia telah menyentuhkan telapak tangannya yang terasa hangat empat kali ke pinggulku, meremasnya, tiap kali aku beranjak untuk mengistirahatkan diriku sendiri ke luar ruangan. Ia tahu itu menciptakan perasaan riang yang bergelora dalam diriku.

Usianya dua puluh tujuh tahun. Mengingat staminanya yang kuukur secara rahasia dalam penyelinapan-penyelinapan kami, aku bisa merasakan, waktu sekaratnya masih akan lama lagi.

Tapi pikiran itu membuatku mendengus. Dua belas tahun lalu yang lalu, aku berpikir begitu juga atas laki-laki dalam ruangan ini. Tapi lihatlah, sekali kau melihat rambutnya yang rontok dan menampakkan kulit kepalanya yang lunak kemerahan, praduga-pradugamu bisa saja salah, dan itu menjengkelkan.

Aku begitu jengkel hingga aku harus melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Bila ia bertumpuk, maka keraknya akan menjadi dendam. Seperti juga hujan dan pengetahuan, dendam mengharuskanmu berbuat sesuatu. Tapi aku menjalankan tugasku dengan baik. Tatapanku selembut Cinderella, dan dengan itu aku mengusap keningnya, memandangnya penuh kasih, tak ada yang meragukannya, seorang pendeta sekalipun.

O ya, pendeta. Telah kusiapkan satu di sudut ruang. Ia membacakan doa-doa, untuk kematian yang pasti akan datang, untuk membebaskannya dan lebih-lebih, membebaskanku.

Tak lupa, sambil kuseka keningnya, kubisikkan kata-kata lembut yang tak terdengar siapapun kecuali dia, bahwa kematian tidaklah semenakutkan itu. Akan hal kebenarannya, aku tidak peduli.

Sungguh tidak sopan mempertanyakan kebenaran dalam saat semacam ini. Semua orang menjalankan perannya dengan baik. Juga dia, lihatlah! Sekaratnya meyakinkan. Kepura-puraan selalu membuatku bergairah. Arus kebencian itu menenangkanku. Ia laki-laki yang baik, tentu saja. Tapi cinta yang gagal selalu membuat semuanya pahit. Ingatan akan ranjang yang patah serta ciuman-ciuman yang panas di saat-saat awal pernikahan kami, gampang sekali pupus oleh sakit hati.

Aku menoleh sekeliling. Foto pernikahan kami di atas ranjang. Sejumlah peralatan yang menyumpal kepala dan urat nadinya, lalu juga sejumlah kartu ucapan di keranjang-keranjang yang berharap kematiannya tak sepasti ini. Ia orang penting. Tapi tak sepenting itu bila ia sudah menjadi mayat. Usai pemakaman dan tanda duka di ujung jalan, segalanya akan kembali seperti biasa. Pun cuaca tidak akan menunggu. Hidup terus berlangsung, dengan laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun di balik pintu yang bengalnya membangkitkanku.

Menikah, terlebih-lebih menikah dengan suamiku, adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Laki-laki gampang didapatkan, dan sering-sering berhadiah payung pula. Akan halnya sebab musabab kebencianku padanya, dan ketidaksopananku menceritakan ini semua, sungguh tidak tepat menceritakannya sekarang.

Maafkan aku untuk melewatkan cerita semanis itu. Sebuah sentakan kuat menarik tanganku, kulihat ia menoleh dan membeliakkan matanya ke arahku lebar-lebar.

Sedetik, aku bisa merasakan hawa kebencian yang telah kami pupuk bersama berseliweran di antara kami. Ah, terkesiap aku merasakan cerlangnya.

“Pa, tenanglah. Kuatlah. Kau begitu dikasihi oleh-Nya,” kataku lembut-lembut. Kupikir aku agak payah kali ini. Ia masih menatapku. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Pendeta mendongakkan kepalanya sejenak. Beberapa paramedik yang mendekat dengan agak panik kutahan dengan isyarat.

“Sudah sampaikah?” tanyaku di telinganya. Tak seorangpun bisa mendengarnya. Pun aku tak yakin ia bisa mendengarku. Tapi kami disatukan kebencian. Dengan itu kami bertukar pesan dengan baik selama ini. Lalu sebuah guncangan kecil yang membuatku berpikir bahwa seseorang tengah mencekiknya beruntun hinggap seperti sebuah irama. Harus kuakui, harap-harap cemasku memuncak pada saat itu.

Aku istri yang baik. Tapi aku tidak bisa hidup dengan suami yang sekarat selama lebih dari lima tahun. Aku berhak untuk harap-harap cemas sekarang ini. Ah, orang berhak berpikir untuk berbahagia dalam situasi ini. Apalagi setelah sebuah upacara pemakaman yang megah.

Aku menatap matanya. Oh mata kebencian itu, dalam tatapan semacam ini tepat sebelum maut, kami disatukan. Kukuatkan tatapanku, tepat ke pupil matanya. Beberapa detik sebelum cerlang sinar kebenciannya meredup dan padam sama sekali, aku amat yakin bahwa ia tahu, aku tidak memaafkannya.

* * *
Dengan sedih aku melihatnya menatapku tepat ke pupil mataku, seperti ia menatapku dulu, dua belas tahun yang lalu, dan merampas cintaku. Kuperas tiap jengkal kebencian dari seluruh sel-selku yang masih terus berbunuhan dengan sengit, berharap itu terpancar dari mataku, melesat sebagai anak panah, dan menghabisi cintanya. Tapi dengan lembutnya, ia meletakkan telapak tangannya kembali ke keningku. Di usapnya keringatku. Di dekatkannya mulutnya ke telingaku. Dirapalkannya doa, lambat-lambat, dan dijadikannya aku seekor babi yang dipanggang di atas api hidup-hidup.

Aku membencimu, Ma, jangan doakan aku. Biarkan aku mati dalam kebencian, sebab kebencianku padamu adalah satu-satunya hal yang memberi makna pada hidupku. Jangan pupus ini dengan cintamu, jangan jadikan hidupku sia-sia.

Kupikir ia bisa membaca pikiranku. Tapi ia terus menatapku, seakan aku adalah satu-satunya hal yang bisa terjadi di dunia ini dan seluruh kediriannya berkerumun dalam tatapan matanya.

Sementara rasa dingin itu menjalar dan membuncah di ubun-ubunku, kesimpulan-kesimpulanku mengabur bergelombang bersama seluruh sedih dan bahagia yang pernah terjadi dalam hidupku. Tergulung di dalamnya adalah rasa putus asa yang hanya bisa dimiliki oleh orang yang sekarat, menanti tanda terakhir kebencian dari perempuan yang kunikahi dua belas tahun lalu, yang akan melengkapkan dendamku. Aku menunggu seperti Musa di bukit Sinai.

Tidak, Ma, jangan maafkan aku, jangan sekali-kali kaumaafkan kita. Tidak atas nama masa lalu, tidak atas nama anak-anak kita, tidak atas nama cinta, tidak atas nama hidup yang hendak berakhir, tidak atas nama masa depan. Tidak, Ma, jangan…

Tepat dalam satu kerdipan mata setelah detik kematian laki-laki itu, dengan satu desis tajam penghabisan, istri yang kelelahan dan diserang rasa bosan yang cuma bisa dipahami oleh orang-orang yang pernah berada dalam pernikahan itu membisikkan ini ke telinga suaminya:

“Matilah kau, Pa, aku membencimu hingga aku bersedia tulang sumsumku membusuk karenanya,” kataku.

Di balik pintu, laki-laki dua puluh tujuh tahun yang sanggup menerbitkan perasaan riang dalam diri Ma itu terpekur diam dengan ketakziman yang tak bisa kita pahami.