Tag

,

(Harian Analisa, 09 Oktober 2011)

BISIK ANGIN DINI HARI TADI
seperti kata ibu kemarin, angin pasti segera berputar haluan
demi memulangkan ayah dari hilir ke hulu
untuk bertemu anak-anaknya yang sudah sekian lama
menunggu pulangnya di bilik rumah berdinding tepas
beratap rumbia yang lama sekali tidak berganti
hingga hujan dengan jumawanya menerobos masuk

burung-burung camar berkepak menukik-nukik nyeri
seakan-akan mengabari ayah ditelan gelombang pasang

ah, ayah, nyanyian senja kali ini sangat memilukan jiwa
bersebab ibu terus saja berurai air mata duka
adik-adik juga bertanya kenapa lama sekali ayah pulangnya

seperti bisik angin semalam lewat dini hari tadi
sebenarnya engkau sudah pulang ke kampung ini
lantas kemana perginya engkau, wahai ayah?

jangan bimbang dan juga jangan takut
pulanglah, kami tak marah meski engkau tak bawa uang
kami mengerti laut sedang tidak bersahabat
untuk seorang pendulang ikan seperti ayah

Medan – Pangkalan Brandan, 2011

MATAHARI MERAH SAGA
DI SUDUT SENJA

senandung senja belum sesempurna angin menggigil
di kaki-kaki bukit, di tepi-tepi dermaga, di tiang-tiang perahu

anak-anak bertelanjang dada dan tanpa alas kaki
menerobos semburat matahari lewat sela kembang ilalang
berlari terus berlari, hingga mencapai kaki senja
lalu saling berebutan menangguk berkilau cahaya

matahari merah terus meronai sudut senja nan ranum
seranum impian anak-anak yang terus memintal mimpi
di pohon-pohon jabu, di pohon-pohon rambung, yang menjulang

anak-anak bertelanjang dada juga tanpa alas kaki
semakin meninggi mengais- ngais mimpi yang bersisa
sambil menari- nari di bawah rinai cahaya senja merah
agar esok kehidupan segera berubah

Medan – Tanjung Pura, 20