Tag

,

(Jurnal Nasional, 09 Oktober 2011)

Nujuman

bau air di bajumu, meski telah kering
terkena matahari
sesaat lembabnya terasa memberat di mataku

maka datang juga nujuman itu:
kamu hilang dari pandanganku
meresap bersama kesedihankesedihan
dan aku jadi mencatat hari selasa siang

aku ingin membacakan sajak ini pelanpelan
kepadamu
aku harap kamu masih utuh dan tak merangkak
seumpama musim

mei 2010.

Honduras
bagi maria isabel dan jasmine

seamanaman tempat berlindung
rumahmu
tempat ariarimu di tanam
tempat yang paling aman

wajahmu yang lugu
dan pincingan matamu yang sempit
akan menjadi ladang yang luas bagi para
gangster dan polisi kereta

di sana
lahan yang kau kira tempat yang paling hijau
di mana cintamu tumbuh dan membuat
sejarahsejarah yang menjadi akar
tak sesegar yang kau kira

kau bisa berencana
mempertinggi impian yang tumbuh di kepala
tapi mereka sepasukan orang lapar
yang wajahnya penuh jahitan dan kukunya hitam
yang suaranya bersahutan dengan kereta
: tak pernah peduli pada mimpimu

seamanamannya tempat adalah dirimu sendiri
seamanamannya tempat adalah hatimu sendiri.

April 2010

Ketutug

aku pergi jauh
tapi seperti tak kemanamana
di tempat asing bayangku masih saja
di depan pintu rumah

menyeberang
kemarahanmu turut menyeberang
dan menenggelamkan aku di palung yang
paling dalam.

2010

Kehilangan

aku kehilangan tempat berteduh
hujan terlalu besar
menyambar dari jauh atau
kedekatan

setiap ketakutanku
setiap rasa dingin
dan bibir kakuku
tak ada bayang jadi payung
tak ada dekapan jadi pendiangan

melulu dingin
sepi
dan perasaan sentimental

2010

Penolakan

setiap kedatanganku
adalah membuka pintupintu baru
menunjuk jalan lain
ke tempat lain

kau pandang wajahku
kupandang wajahmu
tanganku bergetar bukan oleh rindu
tapi ketakutan yang memanjat di dadaku

kupejamkan mataku
terlihat dirimu menghitam
jadi hantu di tidurku.

April 2010.

Seperti Jeruk

aku tahu,
kamu dapat merasakan gugup
jantungku yang berdenyut
seperti buah jeruk yang terlalu matang

matamu lebih luas dari perkebunan ini
yang memperangkapku agar tak bisa
keluar
mulut, wajah, telinga, tubuhmu
mungkin segala puji akan kuletakkan

kupilih kamu dari yang banyak
kupetik kamu ketika benarbenar matang.

2010

Mutia Sukma, lahir di Yogyakarta, 12 Mei 1988. Kuliah semester akhir di Jurusan Sastra Indonesia UNY. Mendirikan kelompok belajar dan perpustakaan bagi anak bernama Kelompok Belajar Rejowinangun.