Tag

,

(Suara Merdeka, 09 Oktober 2011)

keheningan

keheningan ini menghadapkanku pada keriuhan
yang dengan susah payah mencoba menyampaikan kepadaku
mengenai entah apa atau bahkan barangkali tentang siapa
yang tapi karena ia mengucapkannya dengan terbatabata
dan gemetaran menjadikanku tidak bisa mendengar
apaapa selain kebisingan yang kemudian menyeretku
masuk ke dalam kesunyian tak terkata

siasia

aku sudah berulang coba tidak saja mengisyaratkannya
terhadapmu melainkan bukankah bahkan menjelaskannya
sembari menyorotkan lampu senter itu ke tiap huruf
dan tanda baca dengan sabar serta bahkan kerapkali sambil
menahan napas -tapi engkau tak mengerti juga
dan ketika akhirnya kaupun tahu ternyata tetap saja menyangkalnya
serta selalu purapura tak paham

siasia

itulah sebab mengapa Sekarang aku memilih di sini
dan membiarkan engkau Tetap di sana
seolah tidak pernah ada apapun atau siapapun dan juga tandatanda
yang pernah sebelum ini menghubungkan kita dengan cinta
atau setidaknya dengan rasa rindu itu sampai bahkan bungabunga
mustahil untuk masih bisa ingat warniwarnanya

siasia

lihat
:betapa Sempurna
siasia
…..

jalanan Sunyi

dan jalanan Sunyi
sungguh benar sunyi
seolah tak pernah kenal bunyi
tinggal hujan
…..

pias
menderas
bergegas

mencari Payung
…..

orang-orang kembali mulai bercakap tentang hujan

setelah senja pun genap malam
orang-orang kembali mulai bercakap tentang hujan
seolah berbincang mengenai doa yang dikabulkan
seperti bicara soal impian yang menjadi kenyataan
dan tak kusaksikan di antara mereka yang berwajah muram

sesungguhnya apakah yang kita rindui dari hujan?
apakah yang kita harap bisa kekal dari hujan?
bukankah pengetahuan kita perihal hujan
sering bermula dari hampir hanya dongengdongeng masa silam
yang dulu biasa kita dengar setelah senja pun genap malam?

kekasihku,
tibatiba aku pengin dan butuh tahu darimu
:betulkah kau aku atau pun aku kau bisa punya hujan warna merah dadu
yang lebih terang dari jaket abuabu yang kini sedang kau kenakan itu?
mengertikah kau betapa hujan sungguh selalu merindukanmu?

sunyi
jarak
bunyi
jejak

menderas
bersama angin

tanpa hujan.
hujan itu menjauh

begitulah.
bergegas.
hujan itu menjauh.
jadi seperti bayangbayang dedaun dalam ingatan
yang merimbun oleh rindu.
terhadap kota.
terhadap jalan setapak di luar kota.
menuju entah ke mana.
juga terhadap laut yang sering, dulu,
kita percakapkan
di beranda. di rumah.
di pinggir hutan yang menjauh
dari pergelangan tangan.

ketika hujan itu menjauh,
malampun tiba.
pucat.
‘’apakah
ia terkena selesma seperti kita
dalam hampir separuh musim pancaroba ini?’’
tanyamu.
‘’entahlah,’’ kataku.
‘’tak ada yang kutahu.
juga mengapa hujan
menjauh.
juga mengapa aku risau.
bahkan terhadap bayangbayang
yang memanjang ke tenggara itu,
engkau tahu,
aku juga mulai tak percaya.’’

kami bercakap dalam diam.
ia menulis entah apa.
aku memandangnya.
tidak ingin tahu.
tidak memikirkan apaapa.
tapi hatiku terus mengulang tanya,
ìmengapa hujan menjauh?î
sampai tibatiba lampu padam begitu saja

demi biar vas bunga di dekat jendela
tampak seolah menyala

Timur Sinar Suprabana lahir di Solo. Sejak 1986 hingga kini sajak-sajaknya terpublikasikan melalui pemuatan di berbagai
media massa cetak yang terbit di Tanah Air dan terbit dalam buku kumpulan sajak sihirCinta, Gobang Semarang, Kesiur dari Timur, dan menyelam Dalam. Selain menyair, Timur mengelola rumah budaya Gubug Penceng dan penerbitan buku sastra serta budi pekerti huruf Hidup. Tinggal di Semarang.