Tag

,

(Lampung Post, 09 Oktober 2011)

Bob Dylan

1.
Lelaki berkacamata malam dan berambut rimbun abu awan itu memandang lukisan laut di ruang pamer di tengah kota New York itu—
tak ada tepi pada laut ini. Aku akan menambahkannya. Memberinya garis kemerahan di tiga perempat atasnya. Dan akan kutambahkan warna biru sedikit. Biar harapan sekaligus ketakutanku kepada manusia bisa kaulihat. Tanpa sepengetahuan satpam ia menurunkan lukisan itu dan menggoreskan tak hanya garis, tapi juga camar dan uap-uap air yang bergerak ke langit diangkut panas. Semua yang berasal dari bawah akan kembali ke atas, katanya. Kau tak mengerti maksudnya. Semua yang menghindari langit akan kembali ke langit, katanya. Kau mengerti maksudnya. Lalu kau buka kacamata lelaki itu. Di matanya malam telah pergi.

2.
Tempat yang berulang kau datangi dalam mimpi itu sesungguhnya nyata adanya. Memang padang rumputnya, dinding kayu rumahnya, serta sepeda kecil yang bersandar di pohon cemara tua itu tak sebiru seperti dalam benakmu. Tapi jalan kecil yang menurun ke kelokan di ujung daun terakhir itu jelas mengarah ke pelabuhan kecil, tempat ia menantimu. Ikan-ikan salmon yang segar dan kerang-kerang kecil berwarna pandan berkerumun di keranjang sambil menatapmu. Seperti menantikan kekasih masa kecil yang telah puluhan tahun berkelana ke lain benua. Padang rumput dan pelabuhan mungkin jauh dari senandung pujian ke tuhan atau puisi tentang luka para pahlawan. Tapi, derak kayu karena diimpit paku dan kelepak sobek layar kaulihat umpama sepasang pengantin yang terlalu muda. Aku memang inginkan warna biru yang utuh di setiap perabot, tapi kau juga tak hendak lupa betapa cuaca adalah raja dan kau hanya hamba. Lalu, kapan kau ingin berniaga ke kota? Nanti, setelah kau menjadi betul-betul yakin bahwa mimpi tentang dinding rumah kayu, pelabuhan ikan dan kerang, dan genit teriakan lampu pertokoan telah berciuman di dalam satu lukisan. Dan sudah pasti—kau akan mengecat semua hal itu dengan warna biru.

3.
Rumah yang perabotannya berantakan dan sekarang merasa sedang amat lapar itu telah lama bermimpi—ia rindu percakapan sehabis magrib di meja makan di bagian belakang. Ia rindu resah nafsu dan geliat tertahan-tahan dari pinggul yang hampir meledak di peraduan. Ia rindu becek sepatu petualang yang telah lelah berjalan sepanjang padang karena mencari bintang. Rumah berantakan yang begitu lapar.

Siapa yang bisa memberikan kasih sayang untuk sesuatu yang sesungguhnya tak pernah ada; seperti sekuntum mawar, sehampar ladang jagung, dan pagar kandang yang lapuk karena hujan. Sesungguhnya apa yang dinanti saat purnama, ketika kau membuka sekilas tirai di jendela rumah—matamu tak berkedip (dan mata hijau itu begitu nyalang). Kau menunggu. Tetapi apa. Seperti menanti langkah sepatu yang mndekat. Tapi tidakkah kau hanya mendengar degup jantungmu sendiri, dan derak dahan aksia diterpa kemarau, dan ricik sungai kecil di belakang yang kedinginan.
Tanpa sadar kau dan rumah itu sama berantakannya. Jika rumah itu berlubang, sungguh, jantungmu pun turut berlubang. Sama hitam dan dalamnya. Seperti lorong panjang di bawah jembatan—yang bergetar saat kereta batu bara lewat di atasnya. Kereta itu kau sangka mengangkut batu-batu hitam yang bisa saja kau pakai untuk menghangatkan ruangan dalam. Tidak. Ia bisa kau pakai untuk membakar rumah, ketika kau mulai melangkah ke pekarangan dan membiarkan nyala api berkerumun kehausan.

Setelah rumah tiada, kau melamun melihat ke padang rumput yang ada di depan. Tak ada jejak kuda. Tak ada lekuk bekas sepatu di lumpur kecokelatan. Kau cuma mendengar kelepak elang di balik deretan akasia. Langit begitu biru. Dan kau tak tahu—apakah harus berjalan atau menunggu.

4.
Di persimpangan, antara ladang gandum dan kerumunan bukit-bukit pasir, panas matahari jam 12 siang mengejek matamu. Ada semak-semak bulat yang berlarian. Ada selarik melodi tentang tuhan dan perang yang entah muncul dari mana dan kini tiba-tiba meniup kupingmu. “Aku tak menuju rumah. Dan tak kuhendak memastikan arah,” ujarmu.

Ibrahim

Di puncak Moria ini, aku kembali akan menebas kepala berhala, seperti dahulu aku menebas kepala berhala bikinan bapakku. Maafkan aku, anakku, rupanya Dia juga menganggap kau adalah berhala bikinanku. Di puncak Moria ini, aku jadi tahu, ternyata hati bukanlah tempat
yang aman untuk mencinta.

Nuh
Ada yang aneh dari mimpiku semalam—hujan akan menghujam kota tujuh hari tujuh malam. Pesta akan tenggelam. Dan rumah-rumah, ladang, kecipak ikan hasil tangkapan di sungai cuma meninggalkan bahana, tanpa pengeras suara. Dan di hari ketujuh upacara keramat itu, aku dan berpasang hewan, serta sedikit anggota keluargaku melenggang meninggalkan genangan. Seharusnya aku berbahagia, karena telah selamat, bukan sekadar dari murka, tapi terlebih lagi dari keragu-raguan untuk tetap setia. Seharusnya aku berbahagia….

Ari Pahala Hutabarat, alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Lampung. Sekarang giat berteater di Komunitas Berkat Yakin (KoBER) dan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian (DKL) Lampung.