Tag

,

(Riau Pos, 09 Oktober 2011)

Pelaut yang Karam Dihempas Waktu

Sungguh. Tuan tak pernah tahu
Erangan kolek pelaut digelek waktu
Tersadai pada bagan-bagan tanpa ikan
Mengadu pada laut, hanya menjaring sia-sia

Suara gelombang yang pecah di tebing bakau
Telah memerah mata kalian menjadi lautan
Mengucurkan masa-masa-merah dalam arus pasang

Lalu, sepucuk surat kalian tulis untuk menggugat Tuhan
’’Mengapa waktu-Mu tidak adil kepada pelaut seperti diriku?’’
Kalian makin terhempas tanpa bekas

Dayung-dayung dan kolek rezeki dikunyah waktu
Kalian tenggelam dalam asin dan amis selat
Langkah yang telah kalian ayun, patah ditebas zaman

Surat cinta pada laut

Tak lagi pernah kautulis dengan tinta kasih sayang
Seperti tak ada lagi lembut tangan sehalus gelombang
Lalu, lahir palung waktu begitu tajam, mencengkam

Rumah Sastra, Selasa, 26 Agustus 2009/malam ke-4 Ramadan 1430 H.

Merajut Rindu-Mu

Tak perlu kautumpahkan rindu pada bisu yang panjang
Sebab, sunyi ’kan merajuk di pelupuk waktu
Bunga kasih yang ’lah tumbuh pada pohon hati
Akarnya ’kan lapuk membusuk dimamah sepi
Marilah kita rajut rindu pada kembang-kembang di taman Tuhan

Bengkalis, kelas puisi, 28 Januari 2010

Di Telaga Kasih
Telaga kasih mengalir dari surga
Begitu jernih membasahi rongga-rongga kering setiap musim
Manusia-manusia berbaju dan berjiwa putih
Menyirami diri dari hentakan kaki mungil seorang bayi bersih
Tak pernah berhenti, tak akan pernah berhenti

Satu per satu tangkai-tangkai api itu malap dan padam
Bergantikan cahaya-Mu
Yang datang dari celah-celah batas pandangan
di balik rintik-rintik hujan Subuh
Bukan cuma senja yang mengundang gelisah
Juga bukan hanya Subuh yang mengandung kasih
sebab kita mengalir dari telaga kasih yang sama

Bilik puisi, Bengkalis, 21 Januari 2009

Musa Ismail adalah sastrawan. Menulis cerpen, novel, sajak, esai dan genre sastra lainnya. Buku kumpulan cerpennya, Tuan Presiden, Keranda dan Kapal Sabut menjadi Buku Pilihan Sagang 2010. Tinggal di Bengkalis.