Tag

,

Cerpen Gunawan Budi Susanto
(Suara Merdeka, 09 Oktober 2011)

Bagong sakit. Kabar itu cepat sekali menyebar dari mulut ke mulut, dari satu SMS berbiak jadi ribuan. Orang-orang pun geger.

”Masa sih? Kukira dia seperti Firaun, yang mengaku tak pernah sakit, tak bisa sakit, dan terus-menerus bekerja. Bahkan ketika semua orang telah terlelap tidur,” ujar Gurun. Sungguh, Gurun tak sedang bercanda atau pura-pura tak tahu bahwa Bagong sakit. Bahkan sudah sepekan.

”Kukira seperti biasa dia berada di luar negeri. Pantas seperti ada yang kurang, seperti ada yang hilang. Entah apa. Ternyata…,” lanjut Gurun. Wajahnya mengunjukkan rasa heran. Sebenarnya tak aneh bila salah seorang di antara kami tak muncul di kantor, entah berapa lama. Kini, karena ketersediaan sarana internet, ada kawan pilih merampungkan pekerjaan di rumah dan datang ke kantor cuma saat penataan halaman. Semua tulisan dan gambar toh bisa diakses dari dan dikirim via e-mail atau jejaring Facebook.

Ada pula kawan yang lama tak muncul ke kantor, lantaran ”dirumahkan” sementara. Itulah salah satu wujud hukuman, misalnya, atas suatu tindak ketidakdisiplinan. Seorang kawan lain yang beberapa minggu menghilang, ternyata bertugas ke luar negeri, meliput sesuatu atau mengikuti program pertukaran pekerja antarmedia. Ya, macam-macamlah. Tak selalu setiap orang tahu apa yang telah, sedang, atau bakal dikerjakan kawan sekantor. Dan, Bagong adalah salah seorang kolega kami yang acap kali menghilang.

Namun, itulah hebatnya, pekerjaan yang jadi tanggung jawabnya senantiasa terkerjakan secara paripurna. Bahkan, karena dia mempunyai keluasan wawasan intelektual dan jaringan kerja sebagai wartawan sekaligus pekerja seni, halaman yang jadi tanggung jawabnya acap dipuji dan diberi penghargaan oleh berbagai kalangan. Tak terbilang anugerah telah teraih dan, antara lain, berwujud kesempatan bagi dia diundang ke berbagai perhelatan seni, festival, atau program residensi di berbagai negara.

Bukan bermaksud sombong jika saya menyatakan media kami, jurnal seni dan budaya, adalah rujukan, anutan, patron bagi kalangan pekerja, peminat, penikmat, kaum intelektual seni serta para kurator, kolektor, dan kolekdol – terutama jika berkait dengan isu kesenirupaan. Itu kenyataan. Dan, kami semua mengakui, posisi sebagai acuan referensial, sebagai pencipta kecenderungan itu tak bakal teraih tanpa kontribusi Bagong. Bagong, sesungguh benar, nyaris identik dengan media kami. Tanpa Bagong, media kami bukan apa-apa. Cuma media. Titik. Tingkat keterbacaan tinggi yang berarti tiras membubung sebagian besar karena peran kontributif Bagong.

Dia redaktur biasa, seperti kebanyakan di antara kami. Ya, karena cuma ada satu pemimpin redaksi, satu wakil pemimpin redaksi, dan satu redaktur pelaksana. Sebenarnya, secara kepangkatan dan terutama prestasi kerja, Bagong setidaknya bisa menjabat kepala desk. Namun, itulah, dia tidak mau. Dia tetap ingin jadi redaktur, pemegang halaman, bahkan jika mungkin sebagai wartawan di lapangan. Karena posisi itu, menurut pendapat dia, justru lebih menantang, lebih memicu adrenalin, lebih mengunjukkan kecergasan jurnalisme sastrawi bersendi investigasi. Ketimbang, lagi-lagi kata dia, duduk manis di depan komputer sebagai penyunting naskah.

”Tipe pekerja yang acap teridap virus kesuntukan dan nggak gaul. Itulah kebanyakan kawan redaksi media kita. Dan, aku tak mau sakit, kemudian mati sia-sia sebagai redaktur majalah seni seperti itu,” ujar Bagong suatu ketika. Saat itu, seperti kebanyakan kawan, saya mengangguk- angguk. Mengerti atau tidak, toh sama saja. Bukankah memang nyaris semua bahan, sumber, isu adalah representasi pemikiran dia? Dan kami, para redaktur, sesungguh benar jujur atau tidak cuma jadi penyunting tanpa hati, tanpa empati, terhadap segala kemungkinan yang bakal terjadi dengan pemberitaan atau aktualisasi isu yang terekspose media kami setiap kali terbit, sepekan sekali. Bekerja, jika perlu tanpa pikiran, tanpa perasaan. Itulah sikap kebanyakan di antara kami. Dan, setiap awal bulan menerima gaji dengan ucapan terima kasih dalam hati karena masih bisa memperoleh nafkah di tengah kemembeludakan penganggur yang terus bertambah.

Maka, tak terhindarkan, kami pun sepakat setiap saat untuk memercayai dan mengikuti saja apa kata Bagong. ”Ya, terserah apa kata Bagong,” itulah sikap paling nyaman dan aman bagi kami. Ketimbang disuruh berpikir, bersusah-susah memeras otak, tetapi akhirnya toh tetap pendapat Bagong yang dijadikan pedoman? Jadi, kenapa tak menunggu Bagong datang?

Maka, ketika Bagong sakit – kenyataan yang amat terlambat kami sadari: bahwa Bagong toh tetap manusia dan karena itu bisa sakit – media kami terancam tidak terbit. Tak ada yang mampu menyodorkan isu untuk digarap. Tak ada yang mampu membuat outline liputan dengan angle canggih sekaligus laku, kumedol.

Tak seorang pun mampu membayangkan dari mana mesti memulai investigasi suatu kasus yang tergolong crime art – konon, karena ada perupa menyayatnyayat lukisan perupa lain yang dia tuduh acap ”mencuri” karyanya – dan kenapa hampir semua pemangku budaya kesenirupaan diam saja.

Saat itulah kami semua menyadari, Bagong sesungguhnya adalah otak kami. Bagong sesungguh benar adalah otak media kami. Tanpa Bagong, kami tak mampu bekerja. Tak ada Bagong, kami kehilangan kemampuan berpikir. Padahal, bukankah justru ketika Bagong ada, kami pun tak pernah berpikir? Tak perlu berpikir!

”Kenapa dia sakit? Kenapa tak bilang-bilang?” gumam Gunung.

”Pernyataan konyol dari mulut bocor,” batin saya. ”Ya, apakah dia tak tahu bahwa kita tak mungkin bekerja tanpa dia?” timpal saya. Kawankawan mengangguk-angguk.

”Sakit apa? Dirawat di rumah sakit mana?” tiba-tiba Guruh bertanya. Kami saling pandang. Tak seorang pun menjawab. ”Tak ada yang tahu?” Kami menunduk. Malu. Ya, bagaimana mungkin kami baru tahu bahwa Bagong sakit? Dan ketika tahu dia sakit, tak seorang pun tahu di mana dia dirawat. Sakit apa? Kenapa? Berapa lama? Uuuhh….

”Siapa kali pertama tahu Bagong sakit? Siapa yang bilang Bagong sakit?” Suara Guruh meninggi. Kami tertunduk, seraya saling mencuri pandang. ”Tak ada yang tahu? Bagaimana mungkin?”

Ya, bagaimana mungkin tiba-tiba tersebar kabar Bagong sakit? Tiba-tiba muncul sejenis pengharapan samar-samar: semoga Bagong tidak sakit. Namun, jika benar tidak sakit, sekarang dia berada di mana? Kenapa pula itu jadi penting? Bukankah selama ini tanpa pernah tahu Bagong berada di mana pun, kami merasakan sesungguhnya Bagong selalu ada, selalu bersama kami. Dan, karena itulah kami selalu bisa bekerja sesuai dengan tenggat, tak pernah meleset, sesuai dengan target. Apa kata Bagong adalah pedoman kami, penunjuk arah untuk mengayun langkah, tanpa takut tersesat.

”Siapa kali pertama mendengar kabar Bagong sakit?” ujar Guntur. Kami saling pandang. Semua terdiam. Pertanyaan Guntur adalah pertanyaan saya. Saya yakin, itu pula pertanyaan semua kawan. Kami masih saling pandang, tanpa katakata, tanpa suara.

”Bagaimana jika kita cek ke setiap rumah sakit di kota ini?” Entah suara siapa.

”Baik!” sahut kami nyaris serentak. Kami bergantian menelepon setiap rumah sakit, klinik, dokter praktik. Jawaban yang kami terima selalu sama. ”Tidak, kami tak pernah memeriksa atau merawat pasien bernama Bagong,” jawab penerima telepon kami.

”Jangan-jangan, Bagong berobat ke paranormal, orang pintar, atau dukun? Apakah kita harus mengecek pula ke semua penyembuh alternatif?” Entah suara siapa. Kami saling pandang. Musykil!

”Atau kita cek ke setiap rumah sakit di seluruh pelosok negeri ini? Seluruh dokter dan klinik?” Entah suara siapa. Kami terdiam.

”Jangan-jangan, Bagong dirawat di luar negeri? Singapura , Australia , Amerika, Jepang?” Entah suara siapa. Kami tak berminat lagi menanggapi. Makin lama kami kian tak mengerti apa yang mesti kami perbuat, bahkan apa yang mesti kami pikirkan.

”Kenapa tak kita tanyakan saja pada Bagong? Siapa tahu nomor hp-nya? Siapa tahu rumahnya?” Entah suara siapa. Kami diam. Hah! Jadi tak ada yang punya nomor hp Bagong? Tak ada yang tahu di mana selama ini dia tinggal? Lalu, keluarganya? Siapa? Lama kami terdiam. Semua menunduk atau pura-pura menunduk.

”Maaf,” tiba-tiba Gunawan, redaktur paling yunior, bertanya, ”Bagong itu siapa sih?” Astaga! Ternyata ada pula terselip di antara kami seseorang yang tak tahu siapa Bagong. Gila! Namun…, ya, siapa sih Bagong? Selama ini kami cuma tahu apa kata Bagong. Sekali lagi, itulah pedoman kerja kami, itulah penunjuk arah ke mana kami mesti melangkah. Bukankah setiap kali Bagong bicara, entah lewat siapa dan memang bisa siapa saja seperti biasa, itulah perintah kerja yang harus kami tuntaskan, kami kerjakan? ”Siap, Bos! Beres, Bos!”

Bagong hadir atau tidak secara fisik toh tiada beda?

Jadi, kenapa kini kami mesti merisaukan kemungkinan ketidakhadiran Bagong? Kenapa kami khawatir Bagong sakit?

Toh akhirnya, seperti biasa, dia ada atau tidak di kantor, apa kata Bagong pula yang jadi acuan? Tanpa sepenuhnya menyadari, satu demi satu kami kembali ke meja masing-masing. Bagong tersenyum di layar monitor setiap komputer kami sebagai wallpaper. Itulah wajah yang setiap kali muncul begitu kami menyalakan komputer. Seperti yang lain-lain, saya menatap mata Bagong dan mencari-cari kemungkinan apa yang bakal dia katakan atau lakukan menghadapi situasi seperti ini. ”Apa kata Bagong?” batin saya sembari terlongong di depan layar monitor yang terus-menerus berkeredip. ”Terserah apa kata Bagong? Tapi apa…?”

Catatan: Judul cerita ini berasal dari ucapan Koesnan Hoesi, karikaturis, yang meminta saya menuliskannya menjadi apa saja – terserah saya.