Tag

,

Cerpen Guntur Alam
(Surabaya Post, 09 Oktober 2011)

Di dusunku, ada seorang tukang cerita yang telah terkenal kepiawaiannya. Sedusun laman tak ada yang tak mengenalnya. Tua-muda, kecil-besar, laki-perempuan, semua tahu.

Seorang tukang cerita di dusunku memiliki tempat yang istimewa. Di toko kopi yang ada di kolong-kolong limas, tukang cerita mempunyai kursi khusus. Di tengah ruangan, menghadapi segala penjuru agar pengujung toko yang menyeruput kopi hitam sembari mengunyah pempek bercuka dapat menyimak dengan jelas kisah-kisah yang meluncur dari bibirnya.

Nah, tukang cerita di dusunku ini berjuluk Saliala, Tuan. Perihal julukan itu, Kajut-ku, emak dari bapakku, pernah menterakan hal itu kepadaku. Sialnya, aku silaf untuk mencari tahu nama aslinya. Kata Kajut-ku, Saliala mendapat julukan itu karena bualannya dalam berkisah.

Suatu waktu, saat petang sebelum magrib datang menggiring lanang-lanang di toko kopi gegas membawa kaki pulang ke limas, saat laki tua-muda melepas penat setelah seharian bergumul dengan pokok-pokok balam (karet), saat mereka bercengkrama, bertukar cerita tentang harga getah balam yang merosot lagi, gula-kopi yang naik, padi sawah-ladang banyak hampa, Saliala si Tukang Cerita menguraikan kisah menakjubkannya.

“Kemarin, selepas dari balam, aku pergi mancing di Pengentingan. Umpan pempek sisa sarapan pagi. Uu, pusarannya besar-besar.”

“Dapat, Mang?” sahut seorang lanang yang mencaungkan kaki ke atas bangku kayu panjang.

“Oi, dapatlah. Aku dapat ikan Lais.” Tukang Cerita menjawab cepat.

“Ikan Lais tipis?” beberapa lanang terkekeh, “Mang, kucing saja tak kenyang makan ikan kurus kering itu.”

“Oi, jangan salah. Aku dapat rajanya Lais,” lanang-lanang terdiam. Tukang Cerita menegakkan dadanya, “Nah, belum pernah lihat raja Lais?” cibir Saliala seolah memamerkan keberuntungan yang dia dapat. Tak ada suara. Semua menunggu kelanjutan ceritanya. Tukang Cerita menebarkan senyum kemenangannya.

“Woi, besar nian, Jang. Sebesar nampan ini nah,” tunjuk Saliala pada nampan Bi Sana yang tengah mengantarkan pesanan kopi hitam. Mata-mata pengujung toko kopi tertuju pada Tukang Cerita. Mulut mereka ternganga.

“Lama aku baru mendapatkannya. Tarik, ulur, tarik, ulur. Akhirnya, raja Lais itu lemas. Pas kuangkat dari dalam air Lematang yang keruh itu. Allohurobbi, sisiknya saja sebesar piring pempek ini.”

Untuk beberapa detik semua tersihir selah membayangkan ikan tersebut berada di depan mereka. Takjub akan cerita Saliala yang mancing dapat raja Lais. Tapi …

“Mang, Lais tak bersisik. Lais-kan badannya licin macam ikan Patin,” celetuk seseorang. Dapat Tuan terka, orang-orang di toko kopi tertawa riuh. Tahulah mereka kalau Saliala tengah membual. Sejak itulah, Tuan, orang-orang dusun menjulukinya Saliala. Dalam bahasa Melayu di kampungku artinya seorang pembual besar. Tapi, walau orang-orang tahu dia membual, tetap saja orang-orang suka akan ceritanya. Saban di toko kopi, orang-orang memintanya untuk bercerita. Apa saja. Tentang seorang penembak jitu yang dapat menebak jarum di atas wuwungan limas hingga jarum itu patah dua.

Tentang Saliala yang pulang dari menghadiri hajatan di kampung sebelah dan melewati pekuburan angker di selatan dusun hingga dikejar-kejar hantu. Tentang telur naga yang ada di dasar Sungai Lematang. Tentang apa pun yang membuat orang takjub mendengarnya.

Lalu, apa hubungan dengan kisah kematian yang kau janjikan di awal kisah ini? Ah, sabarlah, Tuan. Aku akan mengisahkannya.

Kepopuleran Saliala tak dapat disangsikan lagi. Tentu saja, kisah-kisahnya yang membuat ia demikian dikenal. Nah, tak heran bukan kalau ada yang berniat pula untuk jadi tukang cerita. Entah. Mungkin niat hendak populer atau hanya ingin menjadi tukang cerita saja, berbagi kisah yang ia punya. Aku pun tak tahu tentang itu, Tuan. Hanya saja, tiba-tiba orang dusun mengenal seorang tukang cerita baru di dusunku.

Namanya Remaji. Kemunculannya pun tak dapat diingat secara pasti, lantaran orang-orang lebih mengingat tentang kisah yang ia tuturkan. Kisah yang tiba-tiba menikam Saliala. Kisah kematian si Tukang Cerita yang membuat pendengar setianya mendadak murka.

Remaji pernah berkisah di toko kopi Mang Sahlan.

“Suatu waktu,” katanya, “Ketika Khidir tengah berjalan bersama Jibril. Jibril mengajak Khidir untuk mengunjungi penghuni neraka. Tentu saja, Khidir tak menolak. Di sana, Jibril memperlihatkan orang-orang dengan azab yang dipikulkan kepada mereka. Ada bujang-gadis yang meraung-raung karena tangannya dipotong gergaji. Ada pula yang lanang-lanang yang diadu oleh ayam, kambing, jangkrik, dan beberapa hewan lainnya. Lalu, Khidir dilihatkan pada seorang laki-laki yang dipotong lidahnya, dicambuk, dan dilempari dengan batu-batu neraka.”

“Apa dosanya?” tanya seorang lanang sembari menghirup kopi hitamnya. Remaji tak menjawab.

“Tentu dia seorang tukang fitnah. Menyebar berita tak benar,” tebak seseorang.

“Bukan,” sangkal Remaji sembari menggelengkan kepalanya.

“Lantas?” tanya Saliala yang kali itu duduk menyimak.

“Ia seorang pembual. Tukang cerita yang menyebarkan kebohongan, menuturkan kisah tak berhikmah kepada orang-orang.”

Dapat Tuan terka, muka Saliala saga seperti cabai memerah di tangkainya. Ia terdiam dalam senyap. Lidahnya kelu dan batang tenggorokannya terasa begitu sakit. Tak dapat ia berkata-kata barang sepatah.

Beberapa mata pengujung toko kopi pun serentak mengalihkan pandangan matanya pada Saliala si Tukang Cerita, tapi mereka terburu menyadari kesilapan. Lantas, pura-pura tak melempar duga lewat mata barusan.

“Semasa tukang cerita itu hidup di dunia. Ia kerap membual, mengisahkan tentang hal-hal yang jelas-jelas tak ada hikmahnya. Ia menjadi pendusta yang tak disukai Tuhan. Bertahun-tahun ia berkisah tentang segala hal yang tak ada juntrung itu. Ia menikmati lantaran orang sekampung menyukainya. Duganya, tak ada yang salah dalam kisahnya, mungkin. Hingga pada suatu hari, ia bertemu dengan seorang karib dari kampung sebelah. Karib yang sudah lama tak bersua dan sama-sama mahir bercerita. Sang karib bercerita.

Suatu waktu, ketika Khidir tengah termenung menghadapi semesta. Jibril datang mengunjunginya. Malaikat pembawa kisah itu mengajak Khidir untuk mengunjungi penghuni neraka. Tentu saja, Khidir tak menolak. Di sana, Jibril memperlihatkan orang-orang dengan azab yang dipikulkan kepada mereka. Ada bujang-gadis yang meraung-raung karena tangannya dipotong gergaji. Ada pula yang lanang-lanang yang diadu oleh ayam, kambing, jangkrik, dan beberapa hewan lainnya. Lalu, Khidir dilihatkan pada seorang laki-laki yang dipotong lidahnya, dicambuk, dilempari dengan batu-batu neraka dan digebuki ular maha besar.” Remaji menjangkau gelas kopinya, ia menyeruput pelan isinya, mencecapkan ujung lidahnya dengan rasa gula yang mengelindap dalam pahit aroma kopi. Orang-orang masih senyap. Tak bersuara, menunggu kisah lanjutannya.

“Mendengar kisah itu, sang Tukang Cerita merasa tertusuk. Seolah ia mendengar sendiri nasibnya kelak di neraka. Tapi, ia tak bersuara sampai sang karib pulang. Berminggu-minggu si Tukang Cerita tak enak tidur, tak enak makan, tak berminat cerita apalagi berkumpul di toko kopi dengan lanang-lanang yang setia menunggu kisahnya. Hingga orang sedusun menemukan sang Tukang Cerita telah terbujur kaku dengan lidah terjulur, seutas nilon seperti ular membelit lehernya,” tutup Remaji.

Begitulah, Remaji menuturkan kisah kematian si Tukang Cerita. Petang sebelum magrib menjelang itu, orang-orang di toko kopi Mang Sahlan menyimak cerita yang dituturkan tanpa ada derai tawa, celetukan, atau sekadar timpalan untuk menyedapkan cerita. Semua senyap. Pun dengan Saliala yang tak bersuara. Lalu, semua pulang satu-satu tanpa kata, bersama malam yang mendadak pekat.

Berminggu-minggu, Saliala tak bergabung dengan karib-karibnya di toko kopi Mang Sahlan, Bi Sana, atau pun toko kopi lainnya yang ada di kolong-kolong Limas. Ia menghilang. Pulang dari balam mengurung diri di limas. Mandi di Sungai Lematang pun ia tak bersuara. Orang menanyakan kabar, ia tak menjawab. Orang-orang dusun cemas. Mereka mengingat-ingat kisah yang dituturkan si Remaji petang itu. Cerita yang memojokkan Saliala si Tukang Cerita. Nah, nah, mengingat kisah Remaji itu membuat cemas dan ketakutan tumbuh di dada orang sedusun. Jangan-jangan Saliala akan bunuh diri serupa tukang cerita dalam kisah Remaji.

“Kita temui Remaji. Dia harus bertanggung-jawab. Dia punya perkara. Suruh minta maaf dengan Mang Saliala. Tak hanya itu, ia tak boleh lagi bercerita di toko kopi,” usul seorang lanang tiba-tiba. Yang lain mendengung, melontarkan persetujuan. Akhirnya, mereka sepakat mendatangi limas Remaji.

Petang itu, Remaji terbungkam saat lanang-lanang menyatroninya dengan sebuah pengadilan. Ia tak bersuara. Kepalanya dihantui cemas. Kalau iya, Saliala bunuh diri lantaran kisahnya. Betapa, ia ngeri membayangkan dirinya di neraka. Dipotong lidah, dilempari batu neraka, digebuki ular maha besar! Gegas Remaji menuruni limas ketika lanang-lanang yang bertandang telah pulang, tujuannya cuma satu hal: Limas Saliala.

Sayangnya, Tuan, kata anaknya, Saliala tak pulang dari kemarin malam. Cemas berlipat-lipat di dada Remaji. Jangan-jangan. Dusun pun gempar. Kabar Saliala menghilang menjadi berita hangat. Orang-orang memojokkan Remaji. Terlebih ketika esoknya Saliala juga tak pulang, esoknya lagi, dan esoknya lagi. Remaji pun ketakutan, ia mengurung diri di limas. Tak keluar-keluar. Hingga orang sedusun terkesiap mendengar anak-istrinya menjerit histeris di pagi buta. Remaji gantung diri di kamarnya!

Begitulah kisah Tukang Cerita dan Kematiannya, Tuan. Tentang Saliala yang hilang tak tahu rimba. Tentang Remaji yang ternyata menuturkan sendiri kisah kematiannya.

C59, Juni-Oktober 2010.