Tag

,

Cerpen Eko Wahyudi Sutardjo
(Seputar Indonesia, 09 Oktober 2011)

SEUSAI petang tak lagi lajang, keempat bocah itu: Sumini, Arum, Edi, dan Junaedi, saling towel di antara pendar oncor bonggol kates yang digenggam Edi.

Seperti biasa, selesai mengaji mereka akan pulang beriringan menuju rumah masingmasing. Sebelum berangkat mengaji, kebiasaan mereka adalah berkumpul dan bergilir tugas memukul kentungan di pos ronda di ujung timur kampung mereka.Akan tetapi, petang itu ada perihal berbeda. Wiwik, gadis tertua yang mendapat tugas bergilir tak bisa hadir. Bahkan,ia juga tak berangkat mengaji.

“Tidak mungkin dia lupa. Lha wong tadi ketika aku mau menghampiri, dia sudah memakai mukena,” demikian penjelasan Edi—yang rumahnya berada di sebelah barat Wiwik—kepada yang lain. Esoknya, di hari Rabu, mereka bergegas berkumpul di pos ronda kembali.Mereka mengenakan seragam: SD,MI dan kaos olahraga. Wiwik yang semalam tak muncul, tampak capai usai memukul kentungan berulang kali. Tak ayal, si Jun—panggilan akrab untuk Junaedi—yang awalnya berniat berlari jadi semakin mempercepat langkah kaki.

Seketika, ia melupakan niat semula: memamerkan uang saku yang ia dapati di hari itu. “Heh,Wik! Tadi kau pukul berapa kali?!” “Anu,anu…,”jawab Wiwik, seraya menyembunyikan muka di balik kentungan. “Sudah, Jun.Kamu jangan marah-marah begitu kenapa?” Sumini yang sebenarnya tahu ulah Wiwik bisa memancing kecemasan orang-orang sekampung berusaha membela. “Mbok ya Wiwik dibagi makananmu?” imbuhnya ketika ia melihat sebungkus nasi yang dibawa Jun. “Aih, jangan… bisa mati aku nanti.” “Dasar,pelit!”timpalArum, dari balik punggung Jun.

“Kamu kenapa, Wik? Kok mukulnya gak aturan?” Edi yang datang belakangan menambahi. “Mbuhh….” “Ya sudah, kita berangkat dulu ya,Wik?” Sumini, gadis yang santun itu pamit, mewakili lainnya. Wiwik.Ya,Wiwik Keple.Demikian orang-orang di kampung itu memanggilnya. Gadis di usia ranum dan berpantat semok separo.Kulit busik, rambut merah bercabang, wajahbibir kusam. Jauh dari kesan ayu. Tak pernah sekolah. Tak berbapak,hanya beremak—itu pun kualon.

Kalau ia berjalan deye-deye: condong ke kiri, tegak, ke kiri,tegak.Dianugerahi tangan kanan yang mirip ceker ayam.Berkat bantuan keempat karibnya,ia bisa berhitung dan menulis angka sampai dua puluh dengan sempurna. *** Menjelang tengah hari, Wiwik terbangun. Ada sepasang tangan kasar yang merayap di antara dua paha dan sebelah dada kirinya.O, Lek Lis, pikir Wiwik. Mesem. Ia terkenang dengan kejadian petang tadi, di rumahnya sendiri.Ketika Lis bermaksud meminjam korek api kepadanya untuk menyulut rokok.Ketika Mak Karinem— emak Wiwik—tak sedang berada di rumah.

“Wik, bangun, Nduk… ayo ikut aku.” Tanpa berucap,Wiwik menguntiti Lis. Lelaki setengah umur. Berewok.Kulit hitam legam. Buruh tani.Duda yang ditinggal istri karena lebih memilih kawin siri dengan majikannya di Ibukota. Sejak lima tahun lalu.Ketika Sumini mulai tumbuh. “Sudah, jangan takut,” seloroh Lis, ketika mereka sampai di tegalan.Di antara rimbun dan kereot bambu. Wiwik mesem. Ia teringat dengan rupiah yang dijanjikan Lis kepadanya hari ini, ketika petang tadi ia dirayu-rayu agar tak usah berangkat mengaji. Beberapa saat berlalu.Wiwik payah.

Lis lantas memanggul cangkul.Hendak pulang ke rumah dengan telanjang dada. Tapi, sebelum itu, ia menyelipkan lembaran rupiah bergambar ketek ke dalam belahan yang tadi diraba dan dilendiri. Wiwik kembali terengah.Tapi, ah.Suara azan asu! Gerutu Lis. “Sudah.Ke warung sana!” Lis membentak seraya menyorongkan sabit ke muka Wiwik. Wiwik ngakak, terkesan mengejek. Usai menata rok, ia lekas berlari menuju utara.Menuju warung lontong Mak Jah yang berada sekampung dengan musala.

Dalam keadaan seperti itu, ia menoleh ke belakang sembari melambaikan tangan berulang kali kepada Lis. DiwarungMakJah,Wiwikrakus. Ia telah melahap dua pincuk lontong.Gorengan,hampirlima. Es teh dan kerupuk, dua. Melihat itu,Mak Jah berseloroh. “Nambah,Nduk?” Wiwik mesem seraya mengerlingkan mata.Kemudian, buru-buru ia berdiri di depan pintu. Ia mendengar candaan karib-karibnya dari arah barat, di depan musala. “Jun,Arum, Sumini, Edi… ke sini!?”Wiwik melambaikan tangan,dengan mulut yang masih dijejali tahu pong. “Waaah, Wiwik kaya ni yee…?” celetuk Arum dari kejauhan. “Aku mau…!” Jun menyahut.

Seketika, mereka beradu balap lari untuk berebut gorengan yang ditawarkan Wiwik. Gorengan yang tak lagi utuh. Melihat itu,Wiwik berniat suit-suit.Tapi tak bisa. Hanya saja, joget-joget, goyang pundak, dan gerakan berputarnya bisa mewakili ucapnya. “O, dasar!”Lagi,Arum nyeletuk karena kalah. Jun menyeringai. Ia senang bisa mendahului kawankawannya. “Yahh…,”Sumini yang tiba terakhir mengeluh.Kemudian ia melanjutkan bicara,“ya sudah, selesai makan, nanti kita main sundamanda di tempat biasa,Wik.”

“Aku bungkusin es satu ya, Wik?” Edi yang sedari tadi mengamati menyahut. Wiwik mengangguk. Mereka berpisah di situ. Usai menerima uang kembalian, Wiwik bergegas menuju tempat yang dimaksudkan Sumini: pekarangan kosong di sebelah barat pos ronda. Kemudian, ketika ia belum mendapati satu pun karibnya di situ, ia bermaksud rebahan di antara sepasang pohon mindik besar. Beralas gemerisik daundaun kering, berbantal gundukan rumah yuyu yang ia tutupi daun talas.

Ia menyilangkan siku.Terpejam.Angin berembus semilir.Wiwik terlelap. Beberapa saat kemudian Arum membangunkannya.O, tidak: menggodanya, dengan memasukkan dan memutarmutar bulu ayam—yang entah ia peroleh dari mana—ke lubang telinga Wiwik. Kemudian, hidung.Belum sampai di situ. Es yang tadi dipesan Edi dimainkan Jun. Dikucurkan ke salah satu bagian tubuh Wiwik yang tadi di selipi lembar uang gambar ketek oleh Lis. “Hush…! Ngawur kowe!” bentak Arum. Wiwik terjaga. “Wik,bangun Wik…,”Sumini yang merasa kasihan memapahnya. “Kita pamit dulu ya, Wik?” “Haaas…!?”Wiwik tak jadi bersin.

Tak marah.Tak juga tahu kalau karib-karibnya telah usai bermain. Mereka hendak berangkat sekolah sore—sekolah diniah. “Gak biasanya Wik, kamu ngorok begitu?” timpal Edi terakhir kali. Wiwik mesem. Jun mengajak tos. Ia sumringah dan tak merasa kecewa meski batal diajak bermain. Kemudian, ia kembali menunggu karibnya di pos ronda. Seperti siang tadi, sampai sore hari.Ia bermaksud menunggu permainan mereka di bagian kedua. Main loncat karet, petak umpet, kasti, layangan, lumbungan,gasing,ciblon, atau lainnya. Ia senantiasa menunggu karib-karibnya di tempat itu seperti biasa.

Sejak dulu.Hingga usia yang ia punya tak lagi pantas untuk dibilang remaja. Sore hari, menjelang para karibnya pulang. Kentungan dipukul Mbah Dim—guru ngaji alip-bataWiwik di musala— berulang kali.Wiwik terbangun. Lagi. Satu dua orang dewasa di kampung itu berkumpul. Di antaranya,Mak Jah dan Mak Karinem—yang kebetulan baru pulang dari pasar kabupaten: mengais rejeki, dua hari sekali. “Ono opo, Kang?” perempuan berpipi kemputitu unjuk bicara seraya merasuk ke dalam peteduhan tempat Wiwik tertidur.

Kemudian,ia mengeluarkan sebungkus penganan warna- warni dari bakul yang digendongnya. “Anu,Yu…Lis mati.” “Innalillaaah…!” Wiwik mesem. Melahap getuk. “Nduk,muleh adus yuk?” *** Malam hari, ketika bulan mengintip separo. Lengking burung libusit terdengar nyaring. Sumini berduka. Ia tak sadarkan diri. Arum, Edi dan Junaedi bergantian mengipasi. Mak Jah sibuk di belakang dan dibantu beberapa orang untuk menyiapkan wedang.

Mbah Dim memimpin tahlil.Mak Karinem menebar serbuk kopi di kolong meja yang di atasnya terbujur kaku jenazah Lis.Wiwik duduk menjauh di luar rumah, dekat pohon mahoni milik Sumini. Ia nampak samar karena petromaks di teras rumah menyala tak sempurna. Ada tiga pemuda tengah berbisik. Tak jauh dari Wiwik. “He,katanya… Lek Lis mati sejak siang pas dia tidur ya?” pemuda pertama mengawal bicara. “Mbuh.”

“Dia mati ketika Sumini sekolah sore.” “Emmm…,” tertegun, “katanya, ada yang gak wajar? Maninya banyak.” “Mbuh.” “Itu biasa.” Mendengar percakapan itu, Wiwik jadi merinding.Ia lantas berdiri dan masuk ke dalam rumah bersama para karibnya. Tanpa sengaja, ia melihat wajah Lis yang dibiarkan terbuka. Ia melengos. Semalaman,sekawanan bocah itu bergantian terjaga.Tak terkecuali bapak dan emakmereka. Mbah Dim, Pak Dukuh, serta sebagian orang dewasa lain pun demikian. Ada yang bermain gaple, kiu-kiu, atau remi. Ada pula satu-dua yang menyolati.

Hari berikutnya,usai Lis dikebumikan, Sumini nampak pucat. “Sudah,Nduk…, nanti kowe bareng Emak,” Mak Jah yang melihat Sumini termenung dalam kamarnya unjuk bicara. Sumini bungkam. Tak menolak, tak juga mengiyakan. Mendengar itu,Wiwik yang duduk di dekat kamar Sumini mesem. Edi mencomot pisang. Arum sibuk memenceti jerawat yang tumbuh satu-dua. Dan Jun? Diam-diam menilap sebatang rokok dalam gelas di atas meja yang semalam ditiduri Lis.

*** Sejak kematian Lis, kehidupan di kampung itu berjalan biasa. Para bocah masih mengaji, bermain, dan bersekolah. Pemuda-pemudi dan kepala rumah tangga, sebulan sekali— ketika belum musimnya panen—masih pula pulang dan pergi merantau di ibukota.Jadi kuli. Jadi pembantu rumah tangga. Rumah gedek, jalan lembek, teletong kerbau jadi pemandangan biasa. Sumini yang kini jadi piatu telah tinggal serumah dengan Mak Jah.Wiwik masih setia menunggu karib-karibnya di pos ronda. Atau, sesekali ia akan mengantar dan mengintip mereka yang sekolah.

Hari, pekan, bulan, berlalu. Ada perihal yang berubah.Wiwik tak lagi menanti karibkaribnya. Ia tak lagi menyusuri jalan-jalan di Dukuh Karang Anyar itu. Sumini,Arum, Edi, dan Junaedi yang kini berganti mengunjungi. Menghibur. Seminggu sekali, mereka akan berupaya menyisihkan sebagian uang saku untuk dibelikan penganan dan diberikan kepada Wiwik.Pak Dukuh,pemudapemudi, kepala rumah tangga pun demikian. Mereka sumringah melihat tubuh Wiwik yang kini berubah gempal, sejalan dengan pertumbuhan janin dalam kandungannya yang mulai buncit.

Warga di kampung itu percaya, sepakat. Benih yang tumbuh dalam perut Wiwik adalah titipan lelembut ketika ia tertidur di bawah pohon mindik. Berbulan-bulan silam. “Jadi,mulai sekarang kita harus memperhatikannya.Kalau tidak, kampung kita akan terancam…!”Demikian penjelasan Mbah Dim, kala merapal jampi di pekarangan itu. Ketika warga di kampung itu geger tentang sebab-musabab kehamilan Wiwik yang tiba-tiba. Taklebihhitunganharidijari berikutnya, benih dalam kandungan Wiwik lahir. Tepat tengah hari ketika suara azan berkumandang. Perempuan.

Dengan kulit tak lazim: sawo matang semu kemerah-merahan dan kehitam-hitaman. Lewat mulut ke mulut, telinga ke telinga, dan kentungan yang dipukul Junaedi berkali-kali, orang-orang sekampung, sedukuh, sedesa dan desa-desa tetangga, silih berganti mengantre dan memberi sumbangan ala kadarnya ke rumah Wiwik.Beras, uang,dan gula menumpuk.Mak Karinem terharu melihat itu. “Nduk, anakmu arep dijenengi sopo?” Mbah Dim yang sedari tadi duduk-duduk di beranda bersama para tetua mendekat, di samping Wiwik berbaring. “Indah,Wik,”Arum nyeletuk. “Jangan. Maria saja. Lebih bagus itu,”lanjut Jun,yang kini sudah hadir di antara kerumunan.

“Kalau Aminah bagaimana?” usul Edi. Merasa tak segera menuai titik temu,para tamu yang berjejalan di dalam rumah,beranda dan pelataran Mak Karinem menyeletuk ke sana kemari. Ramai.Mereka menyebut satu per satu nama yang dike-hendaki: Nana,Wulan,Hayati, Endang, Ratih, Depi, Nurul, Lia, Ana, Pitri, Nur, Eka, Sari, Sri, dan lain-lain.Dan lain-lain. “Siapa, Nduk? ulang Mbah Dim menengahi. “Anu….” “Apa, Wik?!” Sumini setengah kaget. Orang-orang serentak terdiam. Menunggu. Wiwik hanya mesem.

Eko Wahyudi Sutardjo, lahir di Grobogan, Jawa Tengah. Mahasiswa tingkat akhir PAI UIN Sunan Kalijaga. Sejumlah cerpennya dimuat di pelbagai media dan beberapa antologi. Saat ini bergiat bersama kawan-kawan di Rumah Poetika Yogyakarta.