Tag

,

Cerpen Hidayat Banjar
(Jurnal Medan, 09 Oktober 2011)

Siang jelang senja itu, aku hadir di rumah duka. Jimmy pimpinan Bimbingan Quan meninggal dunia dalam usia 50 tahun. Dia adalah teman lamaku, tapi belakangan terkesan seperti memusuhiku. Aku tak tahu, kenapa Jimmy berubah.

Karangan bunga ucapan duka cita dan orang-orang yang melayat telah meramaikan rumah duka. Aku melihat mantan istriku Susi mengatur para tentor (guru bimbingan) Quan yang sebagian besar adalah mantan tentor bimbinganku dengan tugas masing-masing. Ada yang menyambut pelayat, menerima karangan bunga, membawakan pelayat untuk ziarah melihat jenazah.

Di bawah tenda di teras rumah, ada pula Josef, lelaki 55 tahun, berbincang-bincang dengan pelayat-pelayat. Sadarlah aku bahwa mantan istriku yang selama ini mengerjaiku dibantu oleh Josef. Jadi antara Susi, Bagintar, Josef, pencuri kayu dan oknum-oknum petugas punya saling keterkaitan. Tapi, apa hubungan mereka dengan Jimmy?.

Setelah duduk beberapa menit, aku menuju tempat jenazah Jimmy disemayamkan. Wajahnya menghitam lebam. “Jantungnya terbakar, Lent,” ungkap Jimmy. Aku terbengong-bengong. Aku makin mendekat, jenzah Jimmy tetap terbaring kaku. “Lent, semua ini karena ulah Josef,” suara Jimmy terdengar lagi, padahal tubuhnya tetap kaku. Di benakku membayang wajah Josef yang juga hitam legam dengan taring menyeringai meneteskan darah. Pas seperti drakula pengisap darah yang ada di dalam film-film horor.

“Lent, setelah bekerja sama dengan Josef, aku suka mabuk-mabukan dan akhirnya meninggal dunia karena jantungku terbakar. Belakangan baru aku sadar bahwa niat baik Josef membantu pembiayaan operasional Bimingan Quan semata untuk memerangkap diriku berseteru denganmu, sahabatku,” cerita Jimmy yang tetap terbaring kaku.

“Hati kecilku tak dapat menerima akal busuk Josef yang menyuruh tentor-tentor Quan – yang adalah mantan tentor bimbingamu juga – untuk menghasut tentor-tentor dan pegawai BIMA. Awalnya aku tak tahu kalau masuknya Josef ke Bimbingan Quan dengan agenda tersendiri yang bukan untuk kemajuan dan pengembangan Bimbingan Quan.

Para siswa bimbingan belajar BIMA pun diprovokasi agar pindah bimbingan ke Quan. Mantan tentor bimbingan BIMA bahkan ada yang mengaku masih tentormu guna merusak nama baikmu Lent. Ah… Josef.”
Kenangan tentang Josef pun menggenang, kemudian mengalir seperti sungai yang membawaku pada alur mundur saat jabatan ketua ormas Luar Biasa berlambang kepalan tangan diperebutkan. Ketika itu Juni 2006, aku dianjurkan Jimmy untuk ikut bursa pemilihan ketua.

Rapat-rapat kecil pun dimulailah. Aku mendapat tugas meramaikan arena Musda (musyawarah daerah) dengan umbul-umbul dan spanduk organisasi massa (ormas) Luar Biasa. Oleh timku pekerjaan tersebut dilaksanakan dengan baik. Dari mulai hotel tempat berlangsungnya acara Musda, hingga menuju bandar udara (bandara) warna merah menyala memenuhi taman-taman, pinggiran jalan, dan lainnya. Itu semua kulakukan semata agar ormas Luar Biasa hari ini ke depan lebih baik. Itu saja. Kalaupun aku terpilih sebagai ketua ormas Luar Biasa, biarlah berjalan secara alami.

“Ah… Josef dan kroni-kronimu, apa yang kau cari dan dapatkan dengan mengerjai Valent habis-habisan. Josef, kenapa kemeriahan Musda tempo tak pernah kau pandang sebagai niat baikku membesarkan ormas Lur Biasa ini?” Suara Jimmy setengah berteriak. Aku terkesiap. Jimmy dapat membaca pikiranku. Kukucek-kucek mata hingga perih tapi yang kulihat tubuh Jimmy tetap terbaring kaku.

Jimmy melanjutkan: Lent, Pak Ali dari pusat pun ketika itu mengatakan: “Bila Valent yang menang, saya sangat yakin ia akan dapat mengembangkan organisasi ini”. Ya, Pak Ali salah seorang Ketua Depinas (Dewan Pimpinan Nasional) juga percaya pada kemampuanmu Lent.

Tapi ketika itu si Jambang bersikeras: “Kalau Valent (maksudnya aku) yang menang, orang-orang Depicab (Dewan Pimpinan Cabang) kota dan kabupaten tak dapat apa-apa? Ia tak mau membeli suara,” ungkap Jambang yang merupakan Ketua Depidar (Dewan Pimpinan Daerah atau Provinsi) periode lalu dan jabatannya yang akan perebutkan pada Musda, mempengaruhi orang-orang Depinas. Aih… Jambang memang hanya memikirkan uang saja dan Josef memanfaatkannya.

“Pak Bambang (maksudnya Ketua Umum Depinas) pun mendukung Valent,” tegas Ali ketika itu dalam rapat tertutup dan terbatas. “Masih ingat kan Lent, saat itu,” tegas Jimmy. Aku mau menjawab, “ya Jimm, aku masih ingat” tapi tak jadi kulakukan. Aku sadar, orang-orang akan menganggapku aneh bahkan gila, bila itu aku lakukan. Ya, mana mungkin, orang sehat berbicara dengan jenazah.

Jambang terus saja ngotot: ”Pokoknya Bapak percayakan saja pada saya dan kawan-kawan mengaturnya agar ormas tetap akan dipegang oleh orang yang berkompeten, sementara kawan-kawan Depicab mendapatkan dana,” tegasnya sembari mengelus-elus kumisnya yang tebal.
“Bagaimana caranya?” tanya Ali.

“Asal pihak Depinas tak melakukan pembekalan ke Depicab-depicab, saya sebagai Ketua Depidar Provinsi akan dapat mengajak kawan-kawan memenangkan Josef sebagai orang yang akan memberikan dana. Kemudian setelah Josef menang, kita tempatkan Valent di posisi Wakil Ketua I Bidang Pengembangan Organisasi. Di tangannya, saya yakin organisasi akan berkembang pesat,” beber Jambang. Ali tak lagi menjawab. Informasi ini aku dapatkan dari Jimmy.

Josef, aku tahu, bersedianya kau membayar satu suara Rp 10 juta, semuanya karena rayuan si Jambang yang bangsat itu kan?.
“Ya, kalau kau jadi ketua ormas Luar Biasa ini, tentu pihak Kejaksaan tak berani macam-macam. Kau bisa kerahkan massa untuk mendemo Kejaksaan. Nah, apalagi yang kau pikirkan. Bermain all out-lah,” bujuk Jambang sang ketua ormas yang diperebutkan pada Musda (musyawarah daerah).

“Sebagai mantan ketua, di samping aku dapat memberikan satu suara padamu, pun Depicab (Dewan Pimpinan Cabang)-depicab kota serta kabupaten dapat kita motivasi. Tentu saja mereka mau bila diberi imbalan dan iming-iming jabatan,” lanjut Jambang.

Karena janji Jambang itulah, Josef, mau mengeluarkan uang demikian banyak. Josef yakin dengan sekian ribu anggota ormas yang kelak dipimpinnya, akan dapat mem-back up-nya, sehingga kasus manipulasi Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) yang dilakukannya bersama Direktur Utama, tidak akan sampai ke pengadilan. Orang-orang Kejaksaan, Kepolisian, mahasiswa, sudah disumbat Josef mulutnya.

Ternyata benar, kasus manipulasi Jamkesmas yang dilakukan Josef bersama Direktur Utama RS Antah itu sampai sekarang tidak terdengar lagi. Josef, Direktur Keuangan RS Antah hanya ditahan dua hari saja.
Ya, Josef, dengan 16 suara, pun jadi pemenang. Aku dan OK pun tersingkirlah. Sebab, seluruh suara, baik dari Depicab-depicab maupun sayap hanya 30 suara. Tapi apa? Ormas Luar Biasa yang dipimpin Josef, cuma namanya saja yang luar biasa, kinerjanya nol.

Ketika terpilih, Josef minta aku untuk menjadi ketua harian, tapi kutolak. “Saya, kalaupun duduk dalam kepengurusan, di wanhat (dewan penasihat) saja. Jadi tidak ada beban psikologis dengan kinerja ormas Luar Biasa ini,” ungkapku.

Februari 2007 di Jalan Pecenongan 72, saat menuju resepsionis, aku melihat di ruang lobi hotel berbintang tiga itu, ada Roy FG, ada pimpinan bimbingan Quan Jimmy serta Josef, sedang berbicara seirus. Aku tak mempedulikan hal itu. Aku mau istrahat dan segera menuju kamar yang dipandu pegawai hotel berbintang.

Saat jelang Pemilu 2009 Josef berkampanye sebagai calon anggota DPRD Sumut dari Partai Geri. Pertemuan di Jakarta tersebut sedikit membuka mataku tentang siapa Josef, bahwa lelaki itu benar-benar kutu loncat. Tapi, ketika itu aku masih berpikiran positif saja. “Ya biasalah,” kata hatiku ketika mengetahui bahwa Josef pindah dari partai Anu yang berlambang pohon ke partai Geri. Padahal ormas Luar Biasa merupakan underbow dari partai berlambang pohon tersebut.

Agustus 2007, Bagintar dan aku diperiksa Poldasu dalam kasus pemakaian logo tanpa izin. Pada 30 Agustus 2007 berkas Bagintar dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi Sumut. Bagintar ditahan di Rutan (Rumah Tahanan) Tanjung Gusta. Padahal sebelumnya sama sekali tidak ditahan di Poldasu.

Aku sendiri, setelah tiga kali pemeriksaan, akhirnya pada Rabu (29 Agustus 2007) ditahan di Reskrim Poldasu. Padahal, sama sekali aku tidak mengetahui pemuatan lambang (logo) Poldasu di brosur bimbingan belajar yang kukelola sejak muda tersebut.

Upaya hukum pun dilakukan pengacaraku dengan menggugat praperadilan. Tapi kandas alias ditolak. Di balik peristiwa itu, rupanya kau Josef, juga ikut mengerjaiku.

Setelah ke luar dari tahanan yang kulalui selama 48 hari, hari-hariku seperti lajang karam saja. Istriku makin tak peduli. Malah dalam tiap kesempatan memancingku untuk bertengkar. Aku sabarkan saja. Kesibukan kerja sangat membantuku melupakan kenangan yang mengiris jantungku sampai luka berdarah.

Enam belas hari setelah ke luar dari tahanan ketika akan pulang ke rumah dan menuju tempat parkir, aku memukan sekeping CD di atap mobilku. Esok harinya, CD tersebut kuputar di komputer kantor disaksikan oleh dua orang sekretarisku Martha dan Yusan. Ya, ternyata istriku berpergian ke luar negeri saat aku mendekam dalam tahanan Poldasu. Aih…Josef, apa yang kau cari dengan meracuni otak istriku?.

”Josef adalah drakula bertubuh manusia!” teriak Jimmy, tapi tak ada yang mendengarnya selain aku.
Malam itu, aku pulang ke rumah dan meminta paspor istri, anak dan pasporku. Biasanya, istriku pasti gembira jika diajak ke luar negeri, tapi kali ini dia cemberut sembari memberikan pasporku.

“Untuk apa sih paspor malam-malam begini. Ganggu orang tidur aja,” jawab istriku sekenanya sembari menuju kamar depan.

“Aku mau berobat ke Penang sekalian jalan-jalan. Apalagi sudah 48 hari di tahanan, aku pengen penyegaran.”

“Nah ini,” katanya ketus setelah ke luar dari kamar depan.
“Lha ini kan hanya pasporku. Paspor Sus dan paspor Rena mana? Kan lebih baik kita ke Penang bersama-sama.”

“Ah malas, saya mau tidur, kok minta paspor malam-malam. Saya ngantuk. Besok aja, aku mau tidur,” jawab istriku tandas dan setengah berlari menggendong Rena menuju kamar belakang sembari membanting pintu kamar. Aku menggedor-gedor, tak juga dibuka.

Hatiku sakit dan kecewa, tapi kutahan saja. Aku masuk ke kamar depan mengunci pintu dan merebahkan diri di kasur.

Pukul 3.00 di dinihari anak dan istriku dijemput oleh keluarganya juga upaya menutupi kebusukan yang sudah terjadi. Sebab, perjalanan istriku ke luar negeri pastilah tercatat di paspor itu. Makanya, ia tidak berani memberikan paspornya dan paspor Rena anak kami kepadaku.

Aku juga tak kan melupakan perkataan adik iparku Paton, bahwa aku adalah musuh polisi. Aku bingung, kenapa adik iparku berkata seperti itu? Padahal, jika dipanggil polisi, aku tetap datang.

Bagintar stafku adalah seorang sarjana hukum. Jadi rasanya tak mungkin pencetakan logo Polda itu merupakan kelalaian. Aku ingat-ingat kembali betapa dekatnya hubungan Bagintar dengan istriku.

Ya, pemuatan logo di brosur bimbingan itu hanya alasan petugas Polda saja untuk melakukan penahanan terhadapku. Ternyata, setelah aku selidiki dari pegawai-pegawai, logo itu tidak dicetak di percetakan kami.
Menurutku, ini merupakan skenario teror yang telah dilakukan oknum-oknum tertentu sejak beberapa tahun yang lalu, agar aku rubuh. Kalau aku tak percaya pada Tuhan, niscaya apa yang kalian inginkan, merubuhkan aku hingga tak mampu lagi mengadvokasi hutan bersama rakyat, terjadilah.

“Temanku pernah menyaksikan istrimu Lent di sebuah cafe dengan beberapa oknum petugas. Mereka membicarakan strategi bagaimana agar kau bisa ditahan. Nah, istrimu, atas anjuran bandit-bandit berseragam itu semula hanya ingin melibatkan Bagintar, tapi akhirnya mereka berdua terjebak dalam skenario busuk. Di dalam pertemuan itu, ada Josef lho Lent,” ujar Jimmy lagi.

Sekretarisku Yusan – setelah CD kutemui di atas mobil – seminggu kemudian mengundurkan diri dari bimbingan belajarku. Ini dilakukan Yusan agar kedoknya yang selama ini berkerjasama dengan Susi untuk mengerjainya, tidak terbongkar.

“Sekarang, pagi hari Yusan bekerja di kantor notaris istrimu Lent, siangnya bekerja di bimbingan Quan yang pimpinan sesungguhnya adalah Josef. Aku hanyalah bonekanya. Inilah cara-cara koruptor dan pencuri kayu untuk menghantam orang-orang yang tak mau terlibat korupsi. Tetapi, apa yang menjadi tanggung jawabmu tetaplah kau perjuangkan Lent. Aku tak dapat berbuat apa-apa lagi. Bagi seorang guru keberhasilan murid adalah yang nomor satu. Itu kan Lent prinsip kita yang tak boleh lekang kena panas dan lapuk terkena hujan,” suara Jimmy terus terdengar.

“Yang tak bisa aku mengerti kenapa ada orang setega Josef. Apa yang dicari Josef ? Aku telah jadi korbannya. Bersyukurlah Lent, kau masih sehat, tapi tetaplah waspada,” suara Jimmy terus terdengar. Tanpa kusadari, airmataku meleleh melihat wajah Jimmy yang menghitam seperti terbakar. Jimmy…oh Jimmy.