Tag

,

Cerpen Yudhi Herwibowo
(Jawa Pos, 9 Oktober 2011)

DATANGLAH kalau kau berani!

Singgahi kampungku, kampung rampok! Letaknya tak jauh dari jalan besar di ujung kota, di setapak kecil berbatu yang selalu berbau anyir. Kau cukup bertanya kepada orang yang kau temui di situ, dan mereka akan dengan mudah menunjukkan arahnya. Hanya menunjukkan, tanpa mau mengantarnya!

Bagi orang luar, kampung kami memang nampak menakutkan. Tapi kau jangan berpikir berlebihan tentang ini. Sebenarnya kampung kami tak jauh berbeda dengan kampung-kampung yang sering kau jumpai di tempat lain, seperti kampung pemulung atau pun kampung pengemis. Tak ada yang terlalu berbeda. Luasnya biasa saja, tak besar juga tak kecil. Bentuk rumah-rumahnya pun standar, dari kayu dan beratap sirap. Pohon-pohonnya idem, sedang-sedang dan berdaun rimbun. Bahkan orang-orang yang tinggal di dalamnya pun tak bisa dibedakan, ada yang bergaya gembel, dan ada yang bergaya perlente. Benar-benar kampung yang umum.

Hanya saja, yang sedikit berbeda, penghuninya memang sebagian besar adalah rampok, dan kawan-kawannya, seperti maling, copet, tukang gendam, dan lain-lainnya.

Karena isinya begini, maka mau tak mau pola hidup di kampung ini menjadi sedikit lain. Di sini siang adalah malam, dan malam adalah siang. Senja adalah fajar dan fajar adalah senja. Semua bangun saat senja mulai datang dan tidur saat fajar dimulai.

Jangan kau bayangkan kami berpamitan sambil berucap, “Papa pergi dulu,” kepada istri atau pun anak kami. Teriakan seperti itu tak kami kenal di sini. Terlebih bagiku yang hidup sebatang kara. Perampok kere yang kata teman-temanku bernyali payah.

Hahah, aku tak terlalu perduli. Aku sudah cukup nyaman tinggal di sini. Aman dari kejaran siapa pun. Bisa nebeng makan di mana pun. Sesekali saja aku akan beraksi. Karena kalau beruntung, sekali beraksi sudah cukup buat hidup selama 1 bulan, atau lebih. Walau sering juga hanya sekedar buat beli rokok.

Kau tak perlu bertanya-tanya tentang aku. Itu tak akan menarik. Lebih menarik bila kau bertanya tentang kampung ini. Dan aku akan dengan senang menceritakan padamu.

Aku memang tak tahu perampok mana yang pertama kali hidup di sini. Yang pasti itu telah berlangsung sejak lama. Dulu nama kampung ini adalah Kampung Suka Maju. Itu tertulis jelas di gapura kampung. Namun entah kenapa tulisan itu kemudian hilang. Luntur, karena di setiap Agustus tak kembali dicat. Lalu entah siapa yang iseng, di tempat tulisan itu kemudian dipiloks dengan tulisan: Kampung Rampok, dengan warna genjreng.

Tentu saja, beberapa penduduk protes. Ujar mereka status rampok tak perlu terlalu diekspos sedemikian rupa. Rampok bukan profesi seperti anggota dewan, yang bisa membanggakan. Namun protes itu tak digubris. Ternyata lebih banyak yang tak perduli soal ini. Maka sejak itulah nama kampung kami menjadi Kampung Rampok.

Kepala kampung kami bernama Bapak Budiman. Walau namanya Budiman, namun tak ada kelakuan-kelakuan budiman yang nampak darinya. Ia memang bukan orang asli kampung ini, tapi rampok senior di antara kami semua. Dulu ia datang bersama ratusan anak buahnya untuk membunuh musuhnya, yang menjadi kepala kampung kami. Setelah itu, ia memutuskan untuk tinggal di sini dan menjadi kepala kampung kami yang baru. Ia juga yang kemudian meminta kami untuk memanggilnya Bapak Budiman. Dan kami mengiyakan saja. Toh, itu hanya soal sebutan, jadi sama sekali tak tak berarti. Seperti nama Slamet yang diharapkan terus bisa selamat, toh pada akhirnya mati juga!

***

Sebenarnya tak ada yang istimewa tinggal di kampung kami. Lama kelamaan aku bosan juga. Kau mungkin bisa membayangkan keadaan ini. Tak ada perempuan baru, dan orang-orang makin sulit kudekati, walau aku telah memasang tampang paling memelas sekali pun.

Apalagi akhir-akhir ini kepala kampung kami menjadi lebih kejam. Aku sadar, mengatur para rampok tak seperti mengatur anak kecil. Walau kepala kampung cukup ditakuti, namun itu tak cukup mampu merubah kebiasaan.

Aku sering mendengar beberapa rampok senior mati gara-gara tertidur saat rapat kampung. Mayatnya kemudian dijadikan contoh kepada para rampok lainnya yang ada dalam jajaran pejabat agar esok bisa lebih disiplin. Tapi itu tak berarti banyak. Beberapa hari sekali, kembali akan ada rampok lain yang dihukum mati! Tetap tak akan merubah apa-apa. Kematian sudah menjadi makanan kami sehari-hari. Kami yang akan heran, bila beberapa hari tak mendengar berita kematian.

Begitulah. Bagi kau yang tak pernah di sini, mungkin akan berkerut kening tak percaya. Tapi itulah yang terjadi di sini.

Namun suatu hari ada kejadian besar yang terjadi. Saat hari terasa sangat biasa, tanpa kami duga muncullah seorang memasuki kampung kami di tengah terik matahari terpuncak.

Semula aku dan Bahol, seorang rampok pemula yang masih dalam taraf training, sedang bersantai di teras warung mencoba tak perduli, seperti ketakperdulian kami pada anjing yang tengah kawin di depan kami. Aku hanya sekilas meliriknya dengan enggan. Paling, hanya rampok-rampok baru yang mencari perlindungan, atau minimal, mencari saudaranya di sini!

Dengan langkah yakin, ia kemudian menghampiri kami. “Maaf,” ujarnya dengan suara kaku, “siapa kepala kampung di sini?”

Aku dan Bahol saling pandang, sebelum akhirnya tertawa lebar. Jelas sekali kini, bila orang di depan kami ini sepertinya tersesat! Seorang dungu yang mencari mati!

Namun saat aku akan semakin keras tertawa mengiringi tawa Bahol, mulutku tiba-tiba terasa kaku, saat melihat lebih jelas lelaki itu. Entah mengapa baru kusadari bila tubuh lelaki di depanku ini nampak berasap. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Tapi yang jelas sinar matahari seterik apa pun tak akan membuat tubuh kita berasap bukan? Maka segera saja aku memberi tanda kepada Bahol untuk diam.

“Di sana rumahnya!” aku langsung menunjukkan padanya.

Bahol menatapku berang. Tapi tatapanku membuatnya terdiam. Ia segera menyadari apa yang kulihat. Lalu tanpa bicara lagi, lelaki itu langsung melanjutkan langkahnya. Diam-diam kami tak melepas mata kami lagi hingga ia benar-benar sampai di depan kediamam kepala kampung kami.

Dengan suara lantang, ia kemudian berteriak, “Apa kau kepala kampung di sini?”

Teriakan itu membuat beberapa rampok yang sebelumnya teler di emper-emper warung tuak, mulai terbangun, terganggu akan teriakan itu.

Lalu suara berdebam terdengar memecah keterikan ini, seiring munculnya kepala kampung kami dari balik pintu. “Bajingan mana yang berani mencariku, heh?” teriaknya.

Tanpa banyak cingcong, lelaki berasap itu segera saja membuka bajunya, menampakkan kulit tubuhnya yang hitam legam. Saat itulah baru kulihat kalau dari seluruh tubuhnyalah, mungkin pori-porinya, asap putih itu muncul.

Kepala kampung kami menatapnya dengan sinis. Ia tentu saja bukan orang sembarangan. Kau tahu, ia sudah membunuh ratusan orang dengan berbagai gaya. Prinsip membunuhnya cukup menyebalkan, Membunuh Kita Gaya. Dan ini bukan slogan omong kosong. Aku tahu sekali bila ia bisa membunuh seseorang sambil kentut.

Tapi lelaki berasap ini sama sekali tak nampak takut. Ia terus menatap kepala kampung kami dengan tatapan paling tajam.

Dan kau pasti bisa menebak, apa yang akan terjadi kemudian. Ya, pertarungan sengit di antara keduanya.

Kepala kampung kami yang tak mau terlalu berkeringat sudah membawa tangannya meraih pintol yang selalu terselip di balik bajunya. Namun lelaki berasap itu sudah menduga gerakan itu. Ia segera bergerak cepat ke depan. Tubuhnya yang tiba-tiba seperti berapi, sudah meluncur deras ke arah kepala kampung kami.

Tentu saja itu membuat kepala kampung kami terbelalak. Itu yang membuat gerakannya terhenti sepersekian detik saja. Namun itu sudah cukup untuk membiarkan gerakan tubuh lawannya menderu ke tubuhnya!

Kejayaannya nampaknya harus berakhir hari ini. Ia mati dengan tubuh berlubang penuh api!

Kami semua memandang dengan tak percaya. Ketakutan kami muncul saat itu juga. Dan lelaki berasap itu seperti tahu akan kondisi ini. Ia kemudian berdiri tegak menyapu pandangan pada kami semua yang ada. Tanpa bicara tatapannya jelas menantang kami. Seakan-akan menunggu gerakan kami. Namun ketika tak ada dari kami yang bergerak, ia tersenyum sinis, dan mulai melangkah masuk ke dalam kediamam rumah kepala kampung kami yang lama.

Sejak itu, walau tanpa bicara satu kata pun, ia sudah menjadi kepala kampung kami yang baru.

Itu tak masalah buat kami. Siapa pun pemimpinnya, sama sekali tak berpengaruh bagi kami. Seperti iklan teh botol itu, siapa pun pemimpinnya, yang penting kami tak perduli!

***

Tapi kali ini kami tak bisa terlalu tak perduli!

Kepala kampung kami yang tak banyak bicara itu ternyata bukan manusia biasa! Semula kami hanya melihatnya sedikit berbeda karena ia lebih suka berendam di kubangan air. Namun hanya sehari berselang kami telah tahu kebiasaan-kebiasaan lainnya. Dan satu yang paling menakutkan adalah kebiasaannya memakan daging bayi. Beberapa balita bahkan ditangkapnya juga untuk dijadikan sarapan. Aku beberapa kali melihatnya sedang menyemil paha bayi, seakan sama kriuk-kriuknya dengan pahan ayam!

Untuk itu, ia memerintahkan semua perempuan di kampung ini, yang semuanya hanyalah pelacur-pelacur, untuk segera beranak. Poster-poster usang tentang Keluarga Berencana yang sudah iseng dicorat-coret, bertulis; Dua Anak Cukup, rampok atau bukan rampok sama saja, segera dicopot tanpa tersisa! Ia bahkan menjanjikan akan memberikan segepok uang bagi anak-anak yang diberikan padanya!

Kebiasaan buruk ini tentu saja dengan cepat menyebar ke kampung-kampung lain, hingga pada akhirnya beberapa polisi pun datang ke kampung kami. Awalnya kupikir meraka datang untuk, seperti biasa, meminta jatah. Namun ternyata tidak. Mereka tanpa basa-basi lagi, langsung menuju ke rumah kepala kampung kami.

Dan hasilnya bisa kau tebak! Kami hanya melihat kedua penegak hukum itu masuk ke dalam rumah, setelah itu tak terlihat lagi keduanya keluar. Lalu kudengar, kepala kampung kami memanggil pembantu-pembantunya untuk membuat beberapa lubang di belakang rumah.

Aku dan orang-orang di sekitarku bergidik. Walau di sini merupakan tempat berkumpulnya rampok paling hebat, tapi berkonfrontasi langsung dengan polisi, adalah sesuatu hal yang sangat dihindari!

Maka lama-kelamaan, tanpa bisa dihindari lagi, kampung kami semakin mencekam. Beberapa dari kami bahkan sudah merasa tak nyaman untuk tinggal di sini. Satu persatu kemudian memutuskan untuk pergi. Termasuk Bahol. Namun hanya berselang lontaran keinginannya itu, keesokan paginya kami semua sudah melihat kepalanya tertancap di tombak di pintu masuk kampung.

Aku hanya bisa menelan ludah tak percaya. Saat itulah kusadari kalau kami tak lagi bisa pergi dari kampung kami!

***

Dan kau tahu apa yang terjadi sejak itu? Mendung hitam seakan menyelimuti kampung kami. Mendung paling pekat. Kami tak lagi bangga dengan keberadaan kampung kami. Kepala kampung kami benar-benar telah menjelma iblis yang sangat menakutkan!

Tangannya begitu mudah membunuh. Ketiadaan bayi dan anak-anak, membuatnya membunuhi kami satu demi satu, mulai dari yang termuda. Ini membuat ketakutan memuncak.

Di saat-saat seperti inilah, secercah cahaya kemudian datang di ujung kampung. Terang benderang membawa seorang lelaki tua dengan pakaian putih yang berkibaran di tiup angin.

Kami hanya menatap kedatangannya tanpa bicara. Lelaki tua itu pun, membalas menatap kami dengan tatapannya yang tenang, lalu seakan telah tahu tujuannya, ia terus kembali melangkah menuju kediaman kepala kampung kami. Langkahnya begitu perlahan, seakan mengikuti gerakan angin yang kini bertiup lembut.

Saat tulah baru kusadari lelaki tua itu sama sekali tak meninggalkan jejak dalam langkah-langkahnya. Aku hanya bisa memandang tak percaya. Dalam hati aku sudah berharap bila sosok inilah yang akan menjadi penyelamat kami semua di sini.

Lalu pertarungan tak lagi bisa terelakkan!

Jantungku terasa berdetak begitu kencang menatap pertarungan itu. Kau pasti menduga bila lelaki tua itu pada akhirnya akan memenangkan pertarungan dan membunuh iblis jahat itu, sama seperti akhir film-film pendekar atau pun di film-film hantu yang kini banyak beredar.

Tapi nampaknya kau salah. Melihat pertarungan di depan sana, di mana api terus menguasai lelaki tua itu, yang setapak demi setapak mundur dari pijakannya, sepertinya akhir kisah ini belum berakhir seperti itu.

Ah, ini menyesakkan. Aku tak tahu harus berkata apa lagi padamu. Harapanku sepertinya telah sirna. Rasanya tak ada lagi yang ingin kuceritakan padamu.

Datanglah kalau kau berani! Singgahi kampungku, kampung rampok! Kampung yang kami sendiri takut untuk tinggal…

Pawon Solo, 2010

Yudhi Herwibowo. Telah menulis 26 buku dari beberapa genre, antara lain: Lama Fa, Perjalanan Menuju Cahaya, Pandaya Sriwijaya dan Mata Air Air Mata Kumari. Novelnya Untung Surapati: sebuah roman sejarah baru saja dirilis Tiga Serangkai. Pernah memenangkan sayembara cerpen Femina 2005, sayembara novelet Femina 2006 dan sayembara menulis novel inspiratif penerbit Andi Yogyakarta. Pernah diundang dalam Ubud Writer & Reader Festival 2010. Kini aktif sebagai koordinator bulletin sastra PAWON, Solo, satu-satunya buletin sastra dwibulanan yang dibagi secara gratis bagi pecinta sastra.