Tag

,

Cerpen Milda Evangelina Lase
(Suara Pembaruan, 16 Oktober 2011)

Denting koin-koin dalam brankas kasir bagaikan musik di telingaku. Aku harus merayakan hari ini, kataku dalam hati. Bukan karena ini adalah pekerjaan pertamaku dengan ijazah yang kuperoleh setelah kuliah empat tahun, melainkan karena hari ini aku dapat mengimplementasikan rencanaku. Bayangkan saja, dalam waktu dua minggu, aku telah mempelajari situasi dan mendapatkan hasil. I’m smart, aren’t I? No, I’m very smart.

Tidak ada yang tahu kecuali aku, dan celenganku. Tuhan? Ah, yang begini kan urusan kecil. Celengan ini sudah menemaniku sejak aku merantau untuk kuliah. Namun, karena kehidupan mahasiswa tidak memungkinkan bagiku untuk menabung, maka celengan pemberian kakekku ini masih sekadar pajangan di atas meja belajarku. Celengan ini tidak begitu istimewa dalam penampilannya. Hanya saja karena ini buah karya kakek, aku tetap menyimpannya sebagai kenangan akan dia yang sudah pergi setahun setelah aku masuk kuliah.

Aku tidak bisa melupakan momen ketika ia memberikannya padaku sebagai bekal sebelum berangkat ke Jakarta. Malam itu, dengan mata berkaca-kaca, ia melepas kepergianku dengan pesan untuk menggunakan celengan ini semestinya.

“Ingat Nak, kebaikan maupun kejahatan harus selalu dibalas dengan kebaikan, maka kamu akan bebas dari masalah,” pesannya kepadaku.

“Baik Kek, aku akan ingat itu,” jawabku sambil menerima celengannya.

Lalu aku berangkat dengan membawa celengan sebagai kenangan terakhir dari kakek, karena setahun kemudian tanpa bertemu lagi, ia telah pergi. Jarak yang jauh mengakibatkan aku tidak bisa mengantarnya ke liang lahat.

Celengan inilah yang menjadi saksi prestasi kerjaku sekarang ini. Dengan senyum kemenangan, aku menyelipkan beberapa recehan, kebanyakan koin, ke dalam slotnya yang sempit. Aku memandangi celenganku, sekilas ada rasa aneh ketika aku memperhatikannya, seakanakan mata celengan berbentuk kucing itu sedang menatap tajam. Segera aku menepisnya, mencoba untuk menyusun rencana ke depan.

Hari-hari berjalan lancar, terutama rencanaku. Rutinitas kerja yang monoton tidak melemahkan semangatku, mengingat isi celenganku semakin hari semakin bertambah. Aku tidak menyebutkan ini kejahatan, ini hanyalah trik jitu untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Gajiku yang pertama aku terima dan dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sepuluh persennya, aku selipkan dalam celengan, kali ini bukan koin, tapi lembaran.

Dengan penasaran, setiap hari aku mengguncang-guncang celenganku, ingin tahu beratnya. Aku hanya bisa mengirangira isinya. Aku berjanji untuk tidak memecahkan celengan itu sampai uang tidak bisa masuk lagi. Toh, kebutuhan seharihari sudah tercukupi. Sekali lagi aku memuji diri, “I’m very smart!”

Semakin aku memuji diri, semakin aku optimis, dan semakin hilang juga perasaan aneh yang di awal merasukiku. Aku juga merasakan aura positif yang muncul dari pikiran positif yang aku tanam. Aku tidak mengalami masalah yang besar dengan rekan-rekan sekerjaku sehingga karierku cepat menanjak.

Mengenai sepak terjangku, aku tidak akan menjelaskannya secara detail di sini, tetapi yang pasti bahwa setiap hari aku bisa menambah tabunganku. Pada awalnya hanya recehan, sekarang sudah lebih sering lembaran. Jarang sekali aku mengguncang- guncang celenganku, namun setiap kali aku mencoba, rasanya kok celengannya tetap ringan. Aku tetap berpikir positif dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa celenganku lebih banyak lembarannya daripada koin, sehingga tidak terasa berat.

Setiap hari aku semakin yakin dengan kata-kata kakek yang mengatakan bahwa kebaikan maupun kejahatan harus dibalas dengan kebaikan. Aku tidak mengatakan bahwa yang aku lakukan adalah kejahatan. Rasa aneh itu sudah tidak ada, jadi aku yakin bahwa yang aku lakukan ini adalah kebaikan untuk diriku dan uang yang kutabung dari hasil perbuatanku adalah untuk membayar apa pun yang baik ataupun jahat yang aku lakukan.

Posisi yang tinggi pun berhasil aku raih dalam kurun waktu lima tahun. Selama itu aku belum menikahi gadisku karena lebih mementingkan karier sebelum berumahtangga. Pacarku juga masih menunggu sembari menyelesaikan kuliahnya.

Sampai saat aku menjadi manajer pun tidak pernah ada seorang pun yang pernah menanyakan masalah penggelapan yang terjadi. Tentunya sekali lagi karena aku begitu pintar menggunakan relasi, dan dengan kelihaianku, semua masalah audit pun bisa diatasi. Jumlah uang yang masuk celengan juga semakin banyak, selain tabungan di rekening bank yang terus menumpuk.

Kadang-kadang aku berpikir untuk apa uang di dalam tabungan kucing itu. Mungkin aku akan menggunakannya untuk disumbangkan ke anak-anak yatim atau berlibur ke luar negeri? Rumah sudah punya, mobil ada, cewek selain pacar juga banyak yang mau melayani. Lalu apa lagi yang kurang? Ah, pasti ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk menyenangkan diriku sekaligus juga menyumbang buat orang yang membutuhkan. Membutuhkan? Sebenarnya uang yang ada dalam celengan ini hak orang lain. Sekilas pikiran itu datang, tetapi langsung aku tepis lagi.

Suatu siang, aku sedang menikmati pemandangan dari kantorku, sekretarisku yang aku tahu menaruh hati padaku datang dengan wajah tidak nyaman.

“Pak, ada yang bertanya masalah laporan keuangan yang kemarin. Menurut mereka ada yang kurang,” katanya dengan wajah bertanya. Ada sedikit nada curiga dalam suaranya.

“Oh, tenang saja. Pasti bisa diatasi. Nanti siang makan bareng ya?” jawabku dengan positif.

“Baik Pak,” jawabnya dengan air muka berubah lebih cerah.

Sepertinya ada yang mencium sesuatu di sini. Aku harus segera membereskannya, kalau perlu berlibur ke luar negeri dulu biar aman. Tenang, balaslah kejahatan dengan kebaikan maka terhindar dari masalah. Tiba-tiba aku teringat celenganku. Sudah ada berapa ya isinya?

Dengan tidak sabar, sepulangnya dari kantor, aku segera menuju brankas tempat aku menyimpan celenganku. Aku ambil dan menimbang-nimbangnya. Aneh, kok tidak bertambah beratnya sama sekali? Padahal, sudah lima tahun aku menyimpan.

Ukuran celengannya cukup besar, tidak ada tanda-tanda orang lain mengambil isinya. Pacarku sendiri tidak tahu kalau aku mempunyai celengan. Di rumah yang aku tinggali sendiri dengan pembantu yang pulang hari, tidak mungkin ada pencurian di sini.

Aku putuskan untuk memecahkan celengan itu. Ada perasaan aneh yang mendesakku melakukan itu. Aku bawa keluar ke halaman belakang yang diterangi sinar lampu temaram, namun cukup terang untuk melihat hasil jerih payahku selama ini. Aku menebarkan selimut berwarna terang di atas rerumputan, dan meletakkan batu di atasnya, cukup besar untuk memecahkan celenganku.

Dengan sekali pukul, belum berhasil aku memecahkannya. Dua kali, tiga kali, empat kali. Susah sekali, kakek membuatnya dari tanah apa sampai sekeras ini. Sepengetahuanku tanah liat tidak memerlukan usaha keras untuk dipecahkan. Aku mencoba melongok ke dalam slotnya, tidak kelihatan apa-apa. Aku ambil senter dan melongok sekali lagi, tidak ada apaapa. Apa aku tidak salah? Selama ini, cuma ini celengan yang aku punya dan aku isi, kok sekarang seperti tidak ada apa-apa di dalam?

Dengan harapan yang masih ada, aku mengambil kapak dari gudang dan mencoba usaha terakhirku. Sudah berkali-kali aku mencoba, tapi tidak berhasil.

Rasanya malam ini sudah hampir berakhir ketika aku menyerah dan terduduk lemas. Uang itu milikku. Aku berhak. Seruku dengan lemas.

Dengan sisa tenaga yang ada, aku berteriak, “Ambil nih, keparaaaaaat!” dan melempar celengan itu dengan sembarang. Tiba-tiba suara “dug” menghentikan napasku dan detak jantungku sejenak.

Celengan itu pecah dengan mudah, dan ketika aku mendekat melihat isinya, serasa bumi berputar dan darah naik ke ubun-ubunku. Di antara pecahan tembikar itu, ada semacam bubur kertas mengalir keluar. Aku masih bisa mengenali warna-warna lembaran uang seribuan, lima ribuan, sepuluh ribuan, bahkan seratus ribuan dari bubur kertas itu, sudah hampir kering dan tidak berbentuk. Lalu koin-koin yang pernah aku masukkan? Ada juga, tapi bentuknya sudah tak ada, tinggal seonggok logam yang meleleh di dasar pecahan celengan tanah liat itu.

Semua suara membisu. Tulang-tulangku kaku. Rasanya ingin tertawa, Berteriak, aku pintar. Aku terbahak-bahak. Aku dipindahkan oleh beberapa orang berseragam. Tidak ada suara, hanya mulut komat-kamit di hadapanku. Aku tidak mengerti. Yang aku tahu bahwa aku pintar, tetapi duniaku berhenti berputar.