Tag

,

Cerpen Dodi Prananda
(Koran Haluan, 16 Oktober 2011)

Saya tidak pernah tahu, sejak kapan bapak saya hobi mengoleksi kelinci. Bila bertanya pada ibu soal itu, ibu selalu menutup mulut. Hanya diusia tujuh tahun dulu, ibu pernah bercerita bahwa bapak saya sangat menyukai kelinci. Dan setelah itu, saya tidak lagi pernah mendapat cerita tentang kenapa bapak saya begitu menyayangi kelinci.

Bila malam datang dan saya mesti makan malam dengan bapak dan ibu, saya mendadak malas. Saya ingin berdiam di dalam kamar. Membiarkan diri saya sendiri. Membiarkan saya sendiri menelan sepi. Tapi, ada desakan untuk mesti bertemu keduanya; ibu dan bapak. Bilamana saya harus mengurung diri di dalam kamar, saya jadi tak tega bila melihat ibu saya bersedih, ditusuk batinnya oleh bapak saya.

Bagai bukan diri saya yang asli yang menggerakkan tubuh saya, saya sampai di depan meja makan. Diri saya yang asli jauh lebih ingin membiarkan saya terlelap hingga pagi tanpa harus menikmati makan malam mengenyangkan dengan tekanan batin. Sebenarnya, ada rasa lebih ingin dalam saban harinya, tidak ada malam. Karena bagi saya malam adalah saatnya pesta kesedihan dimulai. Dan malam menjadi penanda dimulainya permainan hati ibu yang dicabik-cabik oleh bapak saya. Pun karena saya mesti harus duduk di depannya. Menatap wajah bapak yang membuat hati saya merasa dicabikkan.

Sebagai seorang anak, saya justru tak tega melihat wajah dan raut sedih ibu saya bila bapak tak pernah membuat ia bahagia. Saya justru lebih acap mendapati ibu bersedih di kamarnya, ketimbang melihat ia tersenyum. Mendapati ibu duduk menyudut di kamar, di atas ranjangnya sambil berkata,”Ibu yakin, Bapak masih sayang sama Ibu…,” katanya sambil terisak.

Saya tak pernah percaya kalimat itu. Dalam hidup saya, tidak ada kamus sayang. Yang ada hanya kamus pengkhianatan. Kamus bahwa sayang atau cinta adalah kamuflase yang hanya diucapkan pada saat-saat meluluhkan hati lawan jenis. Atau, bila ada maksud tertentu. Sayang atau cinta dalam hidup saya hanya kalimat-kalimat para lelaki pecundang.

Itulah yang menyebabkan saya hingga diusia sembilan belas tahun tidak pernah merasa bagaimana rasanya jatuh cinta. Tidak pernah merasa tertarik pada lawan jenis saya. Karena yang saya tahu, lelaki adalah bapak saya yang lebih mencintai kelinci di kandangnya ketimbang ibu saya. Ibu saya yang semakin menua. Dan dibiarkan sendiri di kamarnya. Sendiri. Dengan bayangan masa-masa ketika bapak saya memasangkan cincin di jari manisnya.

Saya merasa jijik dengan bapak.

Terlebih bila saya menemukan bekas gigitan kelinci di sekitar mulutnya. Ada bekas gigitan kelinci yang membekas di sekitar mulutnya. Membuat saya yakin, baru saja bapak bermain dengan kelincinya. Setelah itu saya akan sadar, bapak baru saja kembali dari kandang. Bermain dengan kelinci-kelinci peliharaannya. Kelinci-kelinci yang sengaja ia kandangkan di sebuah kandang yang besarnya justru lebih besar dari kamar pengantin ia dulu bersama ibu.

Ketika dulu kandang itu dibuat, kata ibu ia pernah protes.

“Kenapa kandang kelinci jauh lebih besar daripada kamar kita?”

Ibu saya protes pada bapak. Tapi bapak saya tidak pernah memberikan alasan. Malahan bapak dengan sangar akan memarahi ibu. Ada bentakan. Suara dengan nada yang meninggi. Ada suara pintu yang dibanting keras dari dalam. Maka disaat-saat itulah, saya yang masih berusia hitungan minggu mengoek keras. Minta ditetekan oleh ibu.

“Sana, tetekin anakmu,” Bapak memerintah Ibu.

Pun pada akhirnya kandang itu tetap dibuat. Tepat di bagian belakang rumah kami. Sebuah tempat yang disambungkan ke bagian paling ujung rumah kami. Justru lebih mirip kamar, ketimbang disebut sebagai kandang.

Menatap bapak dengan wajah rakus duduk bersama ibu, membuat saya semakin mual. Bapak menyambut saya diantara makanan malam yang ramai memenuhi meja makan. Ada ucapan selamat malam yang ia lesahkan dari mulutnya. Tapi tidak ada saya balas dengan ucapan selamat malam dari mulut saya. Terlebih bila saya telah merasa ia bukan lagi bapak saya.

Ia juga bukan lelaki yang telah membuahkan janin dalam rahim ibu saya. Ia bukan bapak saya. Sungguh. Bukan lelaki yang pernah mengawini ibu saya. Dan bukan lelaki yang telah memberi nama saya Kinantan.

Ia juga bukan lelaki yang pernah mengantar saya ke sekolah disaat saya masih taman kanak-kanak. Atau lelaki yang masih setia mengantar dan menjemput saya hingga kelas satu sekolah dasar. Karena ia adalah lelaki yang telah berselingkuh dengan kelinci-kelinci di kandangnya.

Bila telah duduk di meja makan, saya lebih suka mengunci mulut rapat. Bapak akan menatap saya sinis. Lalu ia berbalas tatap dengan ibu. Seperti menanyakan apakah saya dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan, hingga nasi di piring bapak tandas, saya masih diam. Mengunci mulut. Rapat-rapat. Kepala tertunduk dan mengacak-acak nasi dengan sendok dan garpu.

Saya paham bagaimana menjadi seorang ibu. Seorang ibu yang merasa tersiksa dengan suami seperti bapak saya. Bilamana ibu kesepian, bapak tidak pernah mau tahu. Ia lebih senang tidur di kandang belakang. Kandang dimana bapak saya bisa berpesta ria dengan kelinci-kelincinya.

Semenjak kandang itu ada di belakang rumah, saya tidak pernah menginjakkan kaki saya ke sana. Saya hanya mendapat cerita dari ibu, bila mata ibu saya berkaca-kaca setelah ia kembali dari belakang.

“Kinantan…,” Ibu menyebut nama saya sambil meraih bahu saya.

Didekapnya saya ke tubuhnya. Lalu ibu saya menangis di pundak saya.

Saya biarkan Ibu menjatuhkan airmatanya yang hangat di pundak saya. Tanpa perlu ibu bercerita kepada saya, bahwa ia baru saja mendengar suara-suara manja para kelinci peliharaan ayah dari kamar belakang. Saya sudah bisa menebaknya. Mereka dengan suara manja itu. Desah itu, yang kesudahannya menjatuhkan airmata ibu saya…

Tapi, saya benar-benar telah jijik pada bapak saya. Sehingga saya, sungguh merasa haram bila saya menginjakkan kaki saya di bagian belakang rumah. Dan saya tidak pernah menganggap ada kehadiran bapak di rumah ini yang muncul di setiap makan malam. Selebihnya, bapak hanya menghabiskan hari-harinya di kandang bersama kelinci-kelinci.

***

Setiap hari, saya selalu mengkhayal, seperti apa kehidupan di kandang bapak? Ingin pula saya bertemu dengan kelinci-kelinci bapak dan bila saya mengamuk melihat kelinci-kelinci itu, saya akan mencekik lehernya. Menghabisinya di depan bapak. Memperlihatkan bagaimana rasanya disakiti secara fisik. Meski sebenarnya disakiti secara batin jauh lebih pedih dan perih ketimbang disakiti secara fisik.

Tapi, bila saya menyebut kata bapak, saya mendadak jadi muak. Mual dan berusaha melupakan kata-kata itu. Pun bila di kampus, bilamana ada blanko-blanko pengisian yang mengharuskan saya mengisi nama orangtua laki-laki, saya memilih mengosongkannya. Dan bahkan terkadang saya memberi garis kecil seperti tanda kurang di bagian sana. Sehingga memperjelas bahwa saya sungguh tidak punya bapak.

Betapa kejadian di rumah, kejadian tentang kandang bapak itu telah membuat saya merasa saat ini saya hanya memiliki ibu. Ibu. Hanya ibu.

Saya masih ingat. Malam itu, saya mesti makan malam bersama bapak dan ibu. Saya gontai menuju meja makan karena harus bertemu dengan lelaki itu. Nasi untuk saya sudah disiapkan ibu di atas meja.

Saya menarik sandaran kursi dan membiarkan tubuh saya duduk dengan lemas di kursi itu. Lelaki itu memandang saya. Sebagaimana biasa, ingin bertanya ia. Tapi hanya diam karena merasa enggan untuk berucap. Lalu yang ada hanya saling tatap. Hingga makan malam usai meski tak sesuap pun nasi saya sendokkan ke mulut.

Lewat pukul sebelas, saya bangun. Saya bermimpi ibu saya digigit ribuan kelinci. Kelinci-kelinci itu dengan rakus menjilati tubuh ibu saya. Menghabiskan daging tubuh ibu saya. Lalu saya terjaga dengan napas memburu. Keringat yang membasahi tubuh saya. Mendadak saya jadi ingat kelinci-kelinci bapak.

Saya langkahkan kaki saya menuju dapur. Betapa saya sadar, saat ini bukan diri saya yang menggerakan tubuh saya. Ada kekuatan lain yang membuat saya ingin segera menuju dapur. Mencari botol minyak tanah. Mencari nencis. Lalu ingin membakar kandang bapak dan kelinci-kelincinya.

Dengan cepat, saya temukan botol minyak tanah di sudut dapur. Nencis tergeletak di dekat kompor. Kali ini saya membuka knop pintu yang membatasi dapur dan bagian paling belakang dari rumah saya. Di sanalah kandang bapak. Kandang yang sebentar lagi yang akan bersisa abu dan rangka tubuh lelaki itu bersama kelinci-kelincinya.

Lantai terasa begitu dingin. Knop pintu saya putar ke kiri dan tidak saya biarkan berbunyi. Botol minyak tanah di sebelah kanan dan nencis di sebelah kiri. Menuju kesana, lantai sungguh terasa semakin dingin.

Kandang itu terasa semakin dekat. Ada cahaya yang keluar dari dalam ruang itu karena pintu yang sedikit menganga. Ada celah yang mencipratkan cahaya dari sana. Saya semakin gugup. Tergugu. Benar-benar tidak ingin meneruskan langkah saya ketika saya mendengar suara lain darisana. Suara para kelinci yang manja dengan bapak saya. Ada desah. Ada suara keras bapak saya yang tengah bermain dengan kelincinya. Suara itu…

Botol minyak tanah itu jatuh dari tangan saya. Nencis itu terhempas keras. Menyatu dengan minyak tanah yang tumpah ruah. Api mulai menjilati kandang biadap itu. n

Depok, 10 Juli 2011