Tag

,

Oleh Sucipto Hadi Purnomo
(Suara Merdeka, 16 Oktober 2011)

Masih ingat Kongres Sastra Jawa (KSJ)? Kongres yang pernah disebut-sebut sebagai tandingan Kongres Bahasa Jawa (KBJ) itu bakal digelar lagi untuk kali ketiga, 28-30 Oktober 2011 mendatang, di Bojonegoro Jawa Timur.

Sebegitu perlukah digelar kembali kongres itu? Masihkah para penggeraknya punya nyali dan energi untuk kembali mengoreksi Kongres Bahasa Jawa yang telah lama bergerak sekadar jadi arisan mengumpulkan makalah, kontes pidato, namun miliaran rupiah anggaran negara dihabiskan?

Sekadar menyegarkan ingatan, KSJ I digelar di Solo, 2001. Kongres kala itu diadakan untuk mengakomodasi para satrawan Jawa dan anak-anak muda pemikir kebudayaan Jawa yang terabaikan oleh KBJ. Maklumlah, sebagai kongres pelat merah, KBJ lebih tepat disebut sebagai rapat dinas yang dibingkai dalam kegiatan ilmiah lewat penumpukan makalah. Padahal, setiap harinya yang bergelut dengan jagat bahasa dan sastra Jawa adalah sastrawan itu.

Tak ayal lagi, KSJ pun menjelma sebagai perlawanan. Setidaknya sebagai sindiran paling tandas. Ketika KBJ, yang ditopang oleh tiga pemerintah provinsi: Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur, dianggarkan miliaran rupiah dari uang rakyat, justru KSJ diadakan secara swaragat.

Mereka yang datang dan terutama yang tergabung sebagai panitialah yang membiayai kegiatan itu. Pengalaman saya sendiri ketika menjadi ketua panitia KSJ II tahun 2006 di Semarang, harus ikut merogoh kocek dalam-dalam sekaligus menyiapkan BPKB di dasbor mobil jika sewaktu-waktu harus menggadaikannya lantaran harus menutup kekurangan biaya penyelenggaraan. Maklumlah, panitia harus ngopeni akomodasi dan konsumsi lebih dari seratus peserta dan puluhan pembicara selama tiga hari.

Untunglah saat itu, Arswendo Atmowiloto di tengah-tengah perannya sebagai pembicara kongres, menelepon dan berhasil ’’memaksa’’ Irwan Hidayat, bos Jamu Sido Muncul dan Suwarno Serad, jajaran pemimpin Djarum Kudus untuk menyumbang kegiatan tersebut dalam bilangan belasan juta rupiah.

Selaku ketua panitia, saya pun langsung ambil mikrofon dan di tengah-tengah kongres saya umumkan agar para peserta mengambil kembali uang pendaftaran ke sekretariat.

Tak hanya itu, setiap peserta juga mendapatkan buku sastra Jawa secara cuma-cuma yang antara lain diupayakan oleh sastrawan Jawa yang juga dosen Universitas Negeri Surabaya, Sugeng Wiyadi atau yang terkenal dengan nama pena Keliek SW. Kejadian yang nyaris sama dengan KSJ I di Taman Budaya Surakarta.

Semangat macam itulah yang kemudian mampu menjadi magnet, sehingga tak sedikit sastrawan, budayan, akademisi, dan tokoh lainnya hadir sebagai pembicara. Padahal, dalam surat permohonan selalu tersebutkan ’’panitia tidak bisa memberikan honorarium dan biaya transportasi, kecuali penginapan dan konsumsi ala kadarnya’’. Maka hadir dan menjadilah pembicara Darmanto Jatman, Ahmad Tohari, Ki Enthus Susmono, Dr Sudharto MA, Suparto Brata, RM Setyadji Pantjawidjaja, MASudi Yatmana, Prof Rahmat Djoko Pradopo, Triyanto Triwikromo, dan puluhan pengarang Jawa lainnya.

Tak pelak, nukilan suasana itu merupakan ledekan terhadap KBJ yang digelar tak lebih dari sekadar proyek. Ya, sebuah proyek yang digelar sebagai aktualisasi mereka yang bermental proyek, yakni meraup keuntungan dari kegiatan kebudayaan macam begini. Yang penting bathi, soal apa hasilnya, nanti.

Model Sekalipun kerap kali dianggap sebagai ’’barisan sakit hati’’, KSJ (tanpa bermaksud nggunggung dhiri) telah berhasil mengingatkan bahwa tidak sepatutnya mencari untung dari ’’tlatah cengkar’’ yang masih juga digeluti para pendekar sastran Jawa. KSJ juga telah berhasil menyuguhkan model, bagaimana semestinya semua pihak yang peduli terhadap bahasa dan sastra Jawa bersatu padu secara guyub rukun membangun sinergi. Persis dengan tema yang diusung kala itu ’’Saabipraya amrih Kuncara’’, yang kurang lebih artinya bersamasama supaya meraih kejayaan.

Pertanyaannya kembali, bagaimana dengan KSJ III? Akankah hajatan budaya itu kembali melanggengkan perlawanan. Sepanjang yang saya tangkap dari beberapa pertemuan persiapan, mulai dari Solo hingga Padangan Bojonegoro, tidaklah tampak mengemuka hasrat untuk menjadikan kongres ini sebagai ajang untuk melakukan tandingan. Meski demikian, dengan penyelenggaraan yang kembali beriringan dari sisi waktu sekaligus tempat yang samasama di Jawa Timur ( KBJ IV di Surabaya 27-30 November 2011), sulit dimungkiri bahwa kedua kegiatan itu tak punya hubungan.

Memang, KSJ III diniatkan untuk memampangkan reputasi sastra Jawa, setidaknya selama lima tahun terakhir ini sekaligus mencari terobosan untuk mengoptimalkan daya hidup sastra Jawa masa kini. Namun, KSJ tetap saja dipandang perlu agar ’’mekanisme kontrol’’ yang pernah didorongkan itu tidak ’’kepaten obor’’ meski sesungguhnya sastra Jawa terus berdinamika. Dengan begitu, KSJ tidak perlu menyubordinasikan diri atas kekuatan dan pihak mana pun, termasuk terhadap KBJ.

Sekalipun demikian, sekali lagi, mengulangi hal yang sama, sebagaimana pada KSJ I dan II, hanyalah sebuah kemunduran belaka. Membangun sinergi dengan siapa pun, termasuk dengan para ’’pengawal’’ KBJ untuk kemudian berbuat secara nyata bagi bahasa dan sastra Jawa, bukan sekadar gagah di wacana tetapi kopong ada tingkat aksi jauh lebih urgen. KSJ sesungguhnya telah memiliki modal sejarah sekaligus modal sosial.

Apakah para penggerak kongres yang ketiga ini mampu mengoptimalkan modal itu, mari kita lihat kiprah mereka.

Sucipto Hadi Purnomo, ketua Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) dan dosen Sastra Jawa Unnes