Tag

,

Cerpen Muhammad Pical Nasution
(Suara Merdeka, 16 Oktober 2011)

Aku melihat matahari jatuh dari kedudukannya, perlahan namun pasti. Gunung keabadian masih sangat jauh. Para pendaki berangsurangsur tumbang seperti cemara yang lapuk termakan usia. Apakah kematian akan menjemput kami? Bukankah kematian adalah konsekuensi setiap mahluk yang merasakan wujud kehidupan? Tak ada yang perlu dirisaukan dan ditakutkan. Apabila batu itu sudah didapatkan, kematian itu seperti luka kecil yang menyayat di ujung jari. Kematian adalah lampu yang padam untuk kemudian dihidupkan kembali.

“Aku rasa ini hanya mitos. Ini lelucon yang tak masuk akalku.”

“Tidak kawan. Berita kesaktian batu itu sudah diketahui banyak orang.”

“Sudah lima hari kita mendaki. Puncak itu belum juga terlihat.”

“Bekal kita sudah mulai menipis. Jika saja kayu hutan ini lunak, maka tak ada pilihan lain untuk bisa bertahan sampai kita menemukan batu itu. Kita harus melumatnya agar tak mati kelaparan.”

“Kau dengar ya, lima pendaki yang searah dengan kita, sekarang entah di mana batang hidungnya. Mungkin mereka sudah menemukan batu itu, atau mereka sudah mati.”

“Batu itu tidak mudah didapatkan. Aku yakin dan sangat yakin kalau mereka akan tumbang di tengah jalan. Mereka tidak punya bekal yang cukup untuk mencapai puncak itu.”

Aku berusaha meyakinkan sahabat-sahabatku bahwa batu itu adalah milik kami. Ya, kamilah yang akan mendapatkannya. Kami adalah sepuluh pendaki yang punya mimpi besar. Batu itu adalah tangga menuju kehidupan yang sempurna, kehidupan yang abadi.

Hari semakin gelap, suara alam menggema begitu syahdu, dan kabut perlahan mulai turun. Udara dingin menikung, lalu mencoba merasuk dari sela-sela tubuh kami. Aku merasakan sesuatu yang berbeda. Mungkinkah kesempurnaan itu semakin dekat dengan kami ataulah sebaliknya?

Tenda sudah digelar. Kami membakar kayu, kemudian mendekatkan tubuh untuk mencari kehangatan. Tapi saat ini kami masihlah manusia biasa, mahluk yang gigil tatkala didekap gagahnya angin malam, mahluk yang lelap jika rasa kantuk mulai mengguyur. Cuaca semakin tak bersahabat. Kehangatan kayu bakar tak mampu membendung besarnya cucuran embun dan kabut yang singgah di tubuh malam. Kami masuk ke dalam tenda. Dan dari sinilah sebenarnya perjalanan menuju puncak itu dimulai.

*** SALAH satu sahabat kami telah pergi ke dunia yang baru. Aku tak tahu persis seperti apa dunia itu, sebab aku belum pernah singgah ke sana. Denyut nadinya tandas. Jantungnya tak lagi memompa oksigen, tak lagi berdetak. Tubuhnya dingin dan wajahnya begitu pucat. Salah seorang dari kami yang masih hidup meronta-ronta tak karuan. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh sahabat kami itu. Sebelum bergabung denganku dan beberapa pendaki lainnya, mereka berdua adalah sahabat karib. Mereka ibarat daging sate dengan pincuknya. Sekarang, kami dipisahkan oleh dua dunia yang berbeda.

“Kau, kau penyebabnya.”

Dia menunjuk wajahku. Jemarinya menggenggam amarah yang begitu besar. Aku melihat kemarahan itu seperti ombak yang menggulung dermaga.

“Kau telah memisahkan aku dari sahabatku. Kau yang punya ide gila ini. Lebih baik kau saja yang mati.”

Kemudian dia berteriak lagi. Para pendaki yang lain mencoba untuk meredakan emosinya. Tapi, apa yang terjadi, ia melompat ke dalam jurang sambil berteriak. Aku terpelongok. Mataku melotot melihat sejungkal tubuh melayang di udara. Sesukat daging bernyawa itu seperti boneka yang dicampakkan dari gedung yang mahatinggi luar biasa. Kami tak lagi melihat apa-apa.

Dua orang dari kami sudah lenyap. Mereka yang tersisa semakin tak yakin dengan keberadaan batu itu. Tapi aku tetap meyakinkan mereka bahwa kesempurnaan itu sudah dekat. Mungkin beberapa hari lagi, kami akan menemukan batu itu.

“Kawan, kematian itu adalah jalan. Dalam hidup terkadang kita harus memilih. Dia yang memilih untuk melompat. Tapi tenanglah, jika nanti kita menemukan batu itu, kita pasti berjumpa lagi dengan kedua sahabat kita yang sudah tiada,” ujarku.

Mereka semakin yakin dengan kata-kataku walaupun aku sendiri tak yakin atas apa yang baru kuletaskan. Kami tak mau lagi berlama-lama. Setelah usai menguburkan jasad itu, kami melanjutkan perjalanan untuk menuju puncak gunung keabadian.

*** PAGI yang begitu cerah. Aku melihat semangat mulai tumbuh di wajah mereka. Semangat itu tak ubahnya seperti daun putri malu yang bangun dari tidurnya. Aku semakin yakin kalau kami akan sampai di sana. Aku sudah membayangkan keindahan batu yang begitu banyak orang menginginkannya. Batu nirwana. Dialah batu keabadian. Selama beberapa hari kami melakukan pendakian, lebih dari seratus orang yang kami lihat berada di dalam hutan itu. Ya, pasti semuanya berangkat dengan niat yang sama. Tapi kami tak melihat satu orang pun dari mereka sekarang. Apakah mereka sudah sampai puncak seperti apa yang dikatakan oleh sahabatku tadi? Aku rasa tidak. Pun mereka sampai di sana, pastilah tak mampu menemukan batu itu.

Untuk menemukan batu itu, dibutuhkan kesabaran yang ekstra. Orang-orang yang tak sabar, tak kan dapat melihat wujud batu itu, apalagi untuk menggenggamnya. Kami bukanlah orang pertama yang berniat mencari kesempurnaan dari batu sakti di puncak gunung keabadian itu. Kami entah orang yang keberapa. Beberapa tahun yang lalu, beratus pendaki hilang dan tak ditemukan jasadnya.

Sekarang kami memasuki hari kesepuluh. Puncak itu belum juga terlihat. Keberadaannya masih jauh dari apa yang kami bayangkan. Kami hanya menemukan ribuan pepohon yang hijau, suara burung-burung berkicau, serta kelelahan yang tak tertahankan. Kami memilih untuk berhenti. Satu di antara kami pelan-pelan bergerak ke dunia lain menyusul sahabatnya, dunia yang sama sekali belum pernah kujelajahi. Kelelahan itu tak lagi bisa dibendungnya. Kematian itu datang untuk menjemput salah satu dari kami lagi.

Kini kami hanya tinggal bertujuh. Bekal yang kami bawa habis sudah. Kami tak tahu lagi apa yang harus kami lakukan. Semuanya sudah tergeletak, terkapar karena kelelahan. Aku mencoba bangkit pelan-pelan dari lelah itu. Aku berdiri memandang ke depan. Matahari sebentar lagi akan masuk pada usia tuanya. Saban hari selalu begitu. Kulurusakan pandangku. Aku melihat puncak itu walaupun samar-samar. Mungkin karena tertutupi oleh kabut yang nakal.

“Kawan, bangkitlah. Coba kalian lihat ke depan,” ujarku.

Mereka bangkit sambil mengusap-usap mata. Aku melihat wajah mereka kembali bersemangat.

“Bisakah kita mengembalikan sahabat-sahabat kita yang telah mati?”

“Bisa. Batu itulah yang bisa membuat mereka hidup lagi,” ujarku.

Konon kabarnya, batu itu adalah batu yang mampu mewujudkan apapun yang kita inginkan. Tapi, keinginan kita untuk menjadi manusia yang sempurna bisa tergantikan apabila kita memilih permintaan lain. Begitu cerita yang kudengar.

Semakin jauh perjalanan yang kami tempuh, semakin berat cobaan yang kami hadapi. Seperti bermain ular tangga, jika kita berada pada deretan menuju garis akhir permainan, semakin besar dan panjang ular yang menghadang. Dua orang dami kami tergelincir. Kami masih melihat tubuh mereka bergelantungan di akar pohon yang terburai di tepi jurang.

“Cepat, raih tangan mereka,” teriakku.

“Biarkan saja. Toh, jika kita menemukan batu itu, kita masih bisa bertemu dengan mereka. Jadi biarkan saja mereka jatuh ke dalam jurang.”

“Jangan,” ujarku kembali.

“Kenapa? Bukankah kau orang pertama yang mengatakan kalau batu itu dapat mempertemukan kita dengan orang-orang yang sudah tiada? Bukankah kau yang mengatakan kalau mereka bisa hidup lagi? Tapi, kenapa kali ini kau kelihatan seperti orang yang ragu?”

“Bukan begitu kawan, jalan kita masih panjang. Semakin banyak orang yang ada di sana, maka semakin mudah kita melakukan pencarian.”

Mereka tetap tak peduli. Kedua orang itu akhirnya jatuh. Mereka seperti kerikil kecil yang tercampakkan dari langit lapis ke tujuh. Kesedihan mulai menggema. Isak tangis tak lagi dapat terbendung. Kini kami hanya tinggal berlima. Kami kembali dikejutkan oleh sesuatu yang amat sulit untuk diterima. Salah seorang dari kami berniat untuk menghentikan perjalanan. Jika perjalanan itu masih dilanjutkan, maka dia akan turun. Aku kembali meyakinkannya bahwa perjalanan kami tak lagi terlalu jauh. Kesempurnaan itu sudah ada di depan mata. Jika kami mau berjuang sampai akhir titik nadir, maka apapun yang akan diminta dapat dikabulkan.

Akhirnya kami tiba di puncak gunung keabadian itu. Kami melihat padang yang sangat luas. Kami melihat hamparan bebatuan. Asap mengepul dari berbagai arah. Putih, namun samar-samar masih terlihat orang-orang menunduk seperti mencari sesuatu. Aku yakin, mereka adalah para pendaki yang lebih dulu tiba dari kami.

Aku melihat wajah sahabat- sahabatku. Begitu indah, terang, menggumpal harapan. Aku menarik napas dalam-dalam. Begitu sejuk dan memukau. Perlahan, kami melangkahkan kaki. Kami mulai mencari apa yang seharusnya kami cari. Tapi tunggu, ini adalah hamparan bebatuan. Bagaimana kami harus mencari sebutir patu di antara jutaan bahkan miliaran batuan?

Kematian itu semakin dekat dengan kami, para pemetik batu. Satu per satu roboh, tergelatak, dan menghunuskan nafas ke atas langit. Aku melihat mayat bergelimpangan. Tua, muda, lelaki, dan wanita. Aku terduduk. Mustahil kami dapat menemukan batu itu. Empat orang sahabatku masih begitu berambisi. Aku merasakan sesuatu yang aneh. Aku mencium aroma yang begitu busuk dari kepala para pencari batu keramat itu. Bau busuk itu melebihi baunya bangkai manusia. Dari kepala mereka, keluar ular keserakahan. Luar biasa panjangnya. Lalu ular itu membelit mereka, kemudian menelan mereka bulat bulat. Aku terduduk dan tak lagi bisa berbuat apa-apa.

Kini, semua terlihat kosong. Hanya ada aku di tengah hamparan bebatuan yang maha luas itu. Tapi tunggu. Aku melihat sinar di kejauhan. Memancar terang, menusuk pandanganku. Ada batang yang menjalar ke atas. Kemudian daunnya mekar, warnanya hijau. Dan dari daun itu terselip batu yang indah luar biasa. Ya, pasti sinar itu berasal dari batu itu. Aku melihat seorang lelaki mendekati batu itu. Dia mencoba memetiknya. Berulang-ulang. Namun tak juga teraih. Kuperhatikan wajahnya. Lelaki itu mirip sekali denganku.

Muhammad Pical Nasution lahir di Medan 3 Januari 1986. Menulis puisi, cerpen, esai, dan artikel. Saat ini bergiat di komunitas penulis “Sastra Merdeka Bercak Media” Medan. Karyakaryanya dimuat di beberapa media massa.