Tag

,

Cerpen Fanny J Poyk
(Suara Karya, 16 Oktober 2011)

Dering di Hp-ku mendadak sontak berbunyi. Suara Bapak terdengar berat dan bernada perintah. “Ingat, jangan lupa jam sembilan pagi kau sudah siap. Kenakan pakaian yang sopan, jangan memakai jins, pakai celana berbahan resmi lengkap dengan blus batik. Jangan bermake-up terlalu teaterikal, lipstick tidak usah tebal-tebal. Kita akan bertemu dengan pejabat penting, seorang intelektual ahli strategi pemerintahan. Pokoknya orang terhormat!”

Aku tertegun. Gaya bicara Bapakku benar-benar berbeda. Sejak kapan ia berubah menjadi seperti penjilat ? Pejabat siapa yang telah merubah kepribadiannya dalam beberapa detik? Seorang intelektual?

Ahli strategi? Kucoba untuk mengingat-ingat siapa orang itu. Tapi ah, rasanya tak ada. Atau, mungkin aku yang bodoh tidak bisa mengingat siapa tokoh politik intelektual yang benar-benar smart. Yang jelas, aku hanya tahu Presiden Soekarno, itu pun melalui cerita-cerita Bapakku, melalui kilas balik di TV, juga melalui tulisan-tulisan di koran. Lalu siapa pejabat yang dimaksud Bapak? Sungguh, aku bingung. Dan belum sempat kebingunganku terjawab, Hp-ku kembali berbunyi.

“Ingat Nak, pakai batik. Kalau perlu celana panjangnya warna hitam!” Hah! Emosiku mulai merambat naik. Ini baru pukul lima pagi. Tadi malam aku tidur pukul tiga. menyelesaikan lima berita yang harus tuntas hari ini. Tekanan darahku anjlok, kepalaku berat dan aku berjalan sempoyongan saat ke kamar mandi. Bapak tampaknya tidak paham akan penderitaanku. Pejabat yang mengundangnya untuk bertamu ke rumahnya pun tampaknya sudah mencuci otak Bapakku.

Seniman tua yang sehari-hari bangga dengan kesederhanaannya. Aku tahu persis Bapak anti dengan basi-basi, setahuku Bapak juga tak suka dengan kepura-puraan, menurutnya terlalu letih jika manusia selalu hidup dengan bermain sandiwara. Senyum yang dibingkai oleh berbagai norma-norma pergaulan kelas sosialita adalah suguhan yang tidak disukainya. Ia selalu berpesan, jadilah orang yang wajar dan jujur. “Kau lihat para pejabat yang berbicara di televisi itu, wajah mereka tak lagi cerah. Mereka tampak kurang sehat karena senyum dan ucapan yang dilontarkan sarat makna dan kepentingan pribadi. Mereka tidak berpikir untuk mengolah negeri ini menjadi makmur, yang ada di benak mereka adalah bagaimana menumpuk kekayaan agar tujuh turunannya kelak tidak kekurangan. Jadi kau lihatlah, wajah-wajah itu tak lagi bergairah, bengkak dan penuh dengan penyakit.

Penyakit yang bersumber dari ketidakjujuran!” tegas Bapak setiap usai menonton TV.

Dan sekarang, mengapa ia begitu mengikuti aturan yang diciptakan oleh sistem yang sangat ia benci itu? Haruskah aku tidak mengenakan jins? Haruskah aku menggantinya dengan celana resmi dan baju batik? Ah, Bapak, lagi-lagi aku bertanya, ada apa denganmu?

Kupegang celana kebesaran sekaligus kebanggaanku itu dengan pemberontakkan kecil di hati. Sebenarnya aku ingin melawan perintah Bapakku. Mengapa suara pejabat itu lebih mendominasi isi kepalanya dibanding suara hatinya sendiri? Apa yang telah terjadi di balik semua ini? Apakah hati Bapakku telah tercemar oleh sosok sang pejabat yang menelpon dirinya dan mengundangnya untuk datang ke rumahnya secara langsung? Ataukah Bapak punya rencana lain di balik itu? Saat kulihat Bapak di depan pintu, wajahnya sumringah. “Hari ini ada proyek besar yang akan Bapak sampaikan ke pejabat itu. Kita akan meminta dia mendanai proyek pembuatan majalah pariwisata yang kelak akan membawa harum nama Indonesia di mata dunia. Nanti negara kita tidak lagi dikenal sebagai bangsa teroris, bangsa yang korup, tapi kita akan dikenal sebagai bangsa yang menghargai kehidupan, bangsa yang memilki tanah subur dan laut kaya!” katanya optimis.

“Kenapa saya tidak boleh memakai jins, Pak?” tanyaku

“Sekali-sekali demi sebuah tujuan kita harus mengorbankan kesenangan. Tokh, pulang dari rumah pejabat itu, celana jinsmu bentuknya tidak berubah dan kau dapat memakainya kembali.” Sahutnya.

* * *
Rumah besar bergaya kastil Inggris dengan dua pilar penyangga yang kekar dan kokoh, berdiri teguh menghadap ke pintu gerbang. Halaman luas berumput hijau terhampar bak karpet Iran yang lembut dan empuk. Gedung bercat putih dengan langit-langit jenjang di mana tiap tepinya berukir naga yang angkuh dan sombong, seolah handak menelan aku dan Bapakku yang berdiri gamang di teras depan rumah itu. Dua pintu kayu jati dengan ukiran Jepara klasik, masih tertutup rapat.

Di dampingi sang satpam, kami menunggu pintu di buka. Aku mulai berkhayal, apakah sang pejabat dan isterinya berparas elok menyerupai dewa-dewi Yunani? Ataukah mereka seperti kata Bapakku? Terlalu banyak bicara tidak jujur sehingga terlihat loyo dan tak sehat?

Pintu terbuka. Sepasang suami isteri paruh baya menyambut kedatangan kami. Sang pria mengenakan batik sutra Bengkulu yang halus dan mahal, sedang isterinya mengenakan pakaian berwarna putih berbahan sutera halus yang kuyakin kualitas nomor satu. Penampilan mereka sederhana namun berkelas. Kilau berlian menyembul lamat-lamat dari telinga sang isteri. Jam tangan Rolex tipis dengan disain anggun yang sederhana terpasang rapi di lengan sang pejabat. Meski kemewahan itu berusaha ditutupi dengan sangat, aku tahu itu adalah hal yang sulit untuk dihindari. Sang pejabat dan isterinya telah menjadi bagian dari kehidupan borjuis yang mereka ciptakan melalui status dan jabatan. Aku dan Bapak bagai dua onggok manusia papa yang berdiri termangu menatap keduanya tanpa bisa berkata-kata.

“Mari masuk, Pak. Saya telah menunggu Bapak sejak sejam yang lalu,” sang pejabat menggiring Bapak masuk ke dalam ruang tamu rumahnya yang mewah itu. Aku dan Bapak duduk dengan kaku di kursi bergaya Kerajaan Inggris yang megah. Joknya yang empuk tiba-tiba membangkitkan rasa kantukku. Otakku mulai mengembara, bertanya sesi selanjutnya apa yang akan terjadi, apakah Bapakku akan menyatakan langsung ide-idenya?

“Ini puteri tertua saya, dulu saat masih jadi guru di Bima, dia baru berumur tiga tahun.” Ujar Bapak. “Ya, saya ingat itu. Bapak mengajar saya hingga SMP. Setelah itu saya berangkat ke Jakarta, melanjutkan SMA di sini. Lulus kuliah ilmu pemerintahan, saya menjadi pegawai negeri. Karir saya melesat cepat, saya menjadi Sekwilda, lalu walikota dan selajutnya gubernur. Semua itu saya peroleh karena saya pandai dan saya benar-benar menjalankan pekerjaan saya tanpa korupsi dan kolusi.” Tuturnya membuka percakapan. Bapak manggut-manggut.

Aku juga. “Setelah menjadi gubernur, saya banyak memperoleh dana, hingga triyulnan rupiah dari pemerintah pusat. Dana itu saya gunakan untuk membangun provinsi tempat saya menjabat, saya membuat bendungan, membuka jalan dari desa yang satu ke desa yang lain, membangun sekolah-sekolah, membangun bandar udara, membuat program-program kesehatan di desa-desa, menggalakkan pertanian, dan banyak lagi.

Semua itu saya lakukan dengan ikhlas, saya tidak mengambil uang sepeser pun untuk kepentingan pribadi, dan Bapak lihat sendiri, nama saya tidak pernah dikaitkan dengan korupsi atau saya dipanggil KPK. Bapak tahu, sekarang anak-anak saya sudah sukses, mereka ada yang tinggal di Amerika, Australia dan Kanada.” Lanjutnya.

“Lho, apakah mereka tidak rindu kembali ke tanah air untuk membangun negara ini seperti yang dilakukan orangtuanya?” tanya Bapak. Itulah satu-satunya pertanyaan yang diucapkannya di ruang tamu rumah sang pejabat. Dan itu pula pertanyaan akhir yang kurasa kurang berkenan di hatinya. Lima belas menit cukup sudah.

Dan sang pejabat mulai melihat jam rolex di pergelangan tangannya. Itu berarti kita harus pamit dan Bapak menendang kakiku, mengingatkan agar aku bersiap-siap.

“Nanti pukul dua belas siang saya harus menghadap presiden. Ini ada sedikit bingkisan untuk Bapak. Terimakasih Bapak sudah mau datang ke rumah saya. Saya melihat wajah Bapak di koran dan tiga bulan saya menyuruh ajudan untuk mencari alamat Bapak. Akhirnya kita bisa bertemu, sungguh saya senang bisa melihat Bapak, guru saya saat masih di SMP,” ujarnya sembari berdiri dan menyalami Bapak.

* * *
“Jadi, setelah tiga bulan mencari Bapak, hanya seperti ini saja pertemuan itu? Tahu begini saya tidak ikut.” Gerutuku sepanjang jalan. Bapak membisu. Ia memeriksa bingkisan sang pejabat mantan muridnya itu, di sana ada amplop putih tipis yang kemudian dibukanya.

Di dalamnya ada uang sebesar 500 ribu rupiah. Bapak memegang uang ratusan ribu itu sembari berkata, “Uang ini upah kita mendengarkan kisahnya saat menjadi walikota dan gubernur, saat dia melaksanakan proyek triyulnan rupiah untuk membangun provinsinya. Mudah-mudahan ini uang halal seperti yang dituturkannya.”

Mendung dan gerimis siang yang datang mendadak membasa kepala kami. Proposal yang ada di tangan Bapak juga basah oleh gerimis. “Tak apa, filenya masih ada di laptop Bapak. Nanti kita cari investor lain.” Ujarnya. “Kalau tidak ada?”

“Kita buat majalah sendiri, kumpulkan uang sedikit demi sedikit. Nanti kita cari iklan, setelah itu kita datangi toko-toko buku, restoran, dan kedutaan, mereka pasti mau beli dan pasang iklan.” Katanya optimis. Aku tersenyum. Bapak juga tersenyum. Kami menembus gerimis dengan harapan membumbung.