Tag

,

(Suara Pembaruan, 16 Oktober 2011)

Riwayat Malam

Malam masih diam
memejam dalam kelam
Julurjulur rembulan
Alih di badan hitam

“biar aku tenggelam.”

Alir nafas terengah
Menghuyun peluh
Sampai cucur
Menghilir luka

Ini waktu yang tak pernah alpa
Memanggul juang
Maka aku akan tetap tegak
Meski malam
Menjelma siang

Di Antara Kabut dan Petang

Subuh tadi
Kudapati matanya digantungi embun
Basah
Teduh
Bening
Berat
Hilir mudik di badan jalan
Menggendong bakul
Dan botol kaca

“keringat adalah jari untuk tanganku.”

Perempuan tua,
Sekali waktu
Datanglah pada malam
Lalu katakan tentang kelelahan
Yang saban Subuh hingga petang
Menuntut rusuk
Menjadi tiang

Tanya?

Bisik lirih menggesek diam
Sayat-sayat air mata
Kekal
Dalam kepalsuan
Kitab-kitab yuridis terlampau
Banyak tercetak
Tapi, masihkah ia tegak?

Janji

Hingga malam merantau
Ke padang embun
Aku akan tetap disini
Menghitung jari-jari rembulan
Dan kerling bintang
Menanti desir angin itu
Kembali meniup gaun
Membawa harum teduh
Darimu
: dara

Jika dan Andai

Maaf jika kata menjadi andai
Dan cinta mendulang jika
Sebab aku masih gamang
Dalam janji yang hanya jika
Dan sayang dalam semata
Mengertilah
Aku ingin kau serupa tetap
Dan diam hingga dalam
Lalu nanti,
Kita jabani surga dengan genggam

Sampai Fajar

Aku ingin pulang
Rebah pada kenangan
Lelap dalam senyuman
sampai fajar datang
Dan mengetuk kelopak mata
Di hatimu
; sayang

Musabab Kejauhan

Mengemas tubuh malam
Dalam diam dan lebam
Hingga Subuh menuai azan
Dan menukar kelam menjadi terang
Dengar,
Sayup rindu
Giris
Yang kekal dalam hatiku
Sebab engkau,
Telah jauh dariku,
; ibu