Tag

,

(Suara Merdeka, 16 Oktober 2011)

Abayaghiri Vihara

Meneguk sejuk di istana batu, ajal sungguh terasa jauh
kalaupun dekat, jiwa telah siap untuk didekap.
Damai tiada terlukiskan, kisi-kisi bumi memadu dengan legit langit
berbuah tentram.
Ketenangan demi ketenangan tertata rapi
seperti batu-batu dingin yang dihimpun lantas dibentuk.

Sungguh, sepoi kedamaian menyelinap ke dalam dada
memanjakan tajam pandangan, membasuh lusuh-lusuh jiwa.

Tak ada lagi yang perlu dicemaskan.
Dunia adalah fatamorgana.
2011

Jembatan Biru

Masih banyak yang perlu dilengkapi
sebelum moncong lokomotif mengoyak perjalanan.
Dan melarungkanmu ke jauh ruang.
Di atas jembatan biru berkarat, engkau membaca raut keriput seorang
pengemis
seperti membaca waktu yang semakin dekat ke hilir takdir.
Matamu menerawang ke jauh batas, ke ujung rel yang hilang disekap asap.
Seperti berdoa.

Banyak petualangan yang terlewati dari sejuk langkah hingga nyeri
melayari langit kusam hingga pijar pelangi,
masih banyak yang perlu dilengkapi
sebelum bengis roda kereta melindas kita.
Masih banyak yang perlu dibangun, pilar serta tiang penyangga
sebelum tamat
sebagaimana jembatan biru yang habis oleh karat.

2011

Ingatan

Tentang kalang-kalang di tanah lapang
hanya sebuah kenang.
Hidup serupa kelereng yang dihempas jari-jari takdir
melesat ke jauh
menuju titik peraduan.

Hanya dalam ingatan kisah-kisah debu
putaran-putaran kecil yang diiringi gelak tawa.
Waktu semakin menggelinding,
hidup serupa kelereng yang dihempas jari-jari takdir
menuju ujung untuk bertarung
hingga tercapai ruang kemenangan.

Dan, usia pun menggelincir ke gigir ruang
hari ini lengang tualang
esok lusa akan dikenang.

2010

Rengganis

Bahasa-bahasa telaga
kalimat airmata
ujung pencarian
rindu pecah di batu.
Patenggang

2011

Kerah Baju

Keseimbangan,
dari ujung ke ujung
jarak dan garis tengah.
Menyisir perlahan
jejak yang telah dipola.
Keseimbangan,
hingga kancing dan lubang
erat mengikat.

2011

4 Menit sebelum Tengah Malam

sepi masih menyarung
sementara cinta habis di warung

2011

Pertemuan Kedua

Kita terbata-bata mengeja kata surga

Mendalami bahasa angin yang berangsur-angsur lebih lurus
Peristiwa demi peristiwa dengan tekun meliris peristiwa baru
Kita tak terpetakkan lagi seperti debu disapu cuaca

Tentang nafas-nafas yang menghiba dari jauh
Atau kerling tajam yang siap menghujam
Hanya colekan kecil yang tak mampu menggetarkan menara peraduan.

Ini waktu menyatukan dua detak
Meski pada akhirnya kita terbata-bata mengeja kata syurga.

28 Sepetember 2011

Rian Ibayana lahir di Ciwidey Bandung Selatan, 25 April 1988. Belajar menulis secara autodidak. Sekarang aktif bergiat di Majelis Sastra Bandung dan Komunitas Layung Beureum Ciwidey. Beberapa puisinya dimuat di beberapa media massa.