Tag

,

(Koran Tempo, 16 Oktober 2011)

OPERA SABUN NEW YORK

davis adalah harlem, surga hitam yang tergusur
seperti patung kristal dari taman. dalam apartemen sempit
di queens boulevard, catalina telah menjadi empat belas dijit kartu debit di dompet kulit
untuk sepasang mata latinnya davis hanyalah elang tua yang tersesat dalam karnaval musim dingin yang penuh angin
o, siapa peduli, apakah columbus seperti davis tua
yang baik hati atau cuma bandit terkutuk
yang menukar persahabatan
dengan letus senapang


davis terbatuk. ia mengingat ladang ladang louisiana
pagi buta itu dirinya cuma bocah 5 tahun tanpa sepatu
dibawa melintasi badai beku
untuk $3.60 per hari di minnesota, dengarlah, dengarlah
lagu masa muda. serdadu serdadu pekerja yang melangkah
penuh gemuruh, mencari bandar, mencari sangkar
mencari tuan yang tinggi membayar
davis adalah harlem. dan catalina adalah
tomat tomat meksiko di jam 5 pagi. sebuah kecup terakhir
dan kemudian davis akan menyanyi dalam sunyi
2009-10

MANUSIA HIROSHIMA

noho masih berselimut, ketika kau
dengan anjing lucumu membuat musim gugur di taman itu
ini bukan kesedihan
sebab serdadu serdadu yang berangkat dan tak kembali
cuma suara lonceng di antara waktu perkawinan dan kematian
dan nama nama di bangku kayu tempat penjual pohon natal
menyebut nama tuhan dan seorang istri pekerja tambang
jauh di pedalaman amazon membaca novel sedih
di masa perang utara-selatan
dalam kebun bunga smith menyediakan wine
untuk jumat kedua juga lukisan lukisan pastoral yang sejuk
sebelum akhir musim gugur mengungsikan burung burung
dari atap apartemen tuaku di eliot street ke kebun kebun
gandum yang hangat di selatan
seperti kau
dan anjing lucumu mengungsi
mencari kota yang baru
aku pun sudah lama kembali. meraba denyar hidup
di antara tiang tiang rumah yang gemetar dan tubuh perahu
yang telah jadi kayu bakar
setiap malam aku menanak air. menyeduh kopi
menulis puisi. mencari kata untuk menamai manusia
di kotaku yang telah menjelma menjadi hiroshima
2009

KURMA API

lelaki teluk dalam jubah gurun pasir
aku mengenalnya dalam satu perang
perbatasan yang kelak abadi tertulis
dalam kitab perairan mati
ia barisan penghabisan setelah kafilah
kekuasaan baru tumbuh seperti pepohonan kurma
di atas kematian para pendosa dan kemunculan
para pendusta
tapi adakah kemenangan untuk tubuh manusia
yang menyimpan jejak ribuan kapal asing
di sepanjang terusan dan jalur kesedihan?
ia seperti batu batu hitam berjatuhan dari langit
ia percaya perdamaian tak dapat membuat orang orang
dengan anak anak kunci yang patah membuka kembali
pintu rumah mereka
ia membuat terowongan terowongan rahasia
menyelundupkan pepohonan kurma
ke ruang tamu kita

2011

KEADILAN

kembali ke rumah,
pulau pala, bandar lada, tanah kesuma
tapi langkahku tak akan kalian dengar. suaranya
seperti suara gerobak kayu setelah amuk saptu membakar ladang
ladang tebu seperti kesunyian pasir yang bangkit dari dasar sungai
membangun menara menara kematian buat kalian
pada tempatku,
tanah lapang, pohon angsana, dan ibu pengumpul jelaga
seperti liberia yang menolak bercerita. setelah patriot merah pergi
tanah ini tak akan pernah jadi masa lalunya lagi
pulau lengkung dibundari ladang jagung
di pokok pokok kayu tembesu perempuan pematang pudu
seperti sore dilepas secangir kopi daun tanpa gula. mereka sudah lupa
rasa kesedihan dan kegembiraan. industri mengantarkan jutaan orang
berdiri ke atas sekeping papan di bibir jurang
mematung menatap tubuhnya melayang
di ujung ujung rambut ilalang
di depan jendela sejarah
aku masih menyimpan selembar daun jarak
dari masa tigabelas tahun yang lalu. inilah tangismu pertamamu dara
malaikat belia dengan tatapan mata menyimpan peti tua. apakah
kau akan kembali menangis untuk tangismu
di tigabelas tahun yang lalu
untuk selembar daun jarak yang retak, pecah, dan koyak
masa depan hanyalah penyakir tbc dan cacar yang menular
ia mencegah kita menjadi manusia dengan harapan bergegas
seperti truk truk yang bergegas mengangkut sawit
dan gelondong tembesu
kembali ke rumah
bocah lelaki itu mencari jejak hutan. ia tengadah
burung burung payau terbang rendah. si bocah mulai berdoa
menggoyang goyangkan kepalanya. ingatan seperti semak belukar
dibakar di ladang kepalanya yang bundar
tapi kalian tak akan melihat. sebab ia asap
mandau karatan yang patah di masa silam terbang
bersama jutaan belalang dan derap langkah kuda perang
menuju kalian, kotak kotak masa depan
2011

Agus Hernawan lahir di Palembang,16 Agustus 1975. Sejak 2008 ia belajar di SIT, Vermont, Amerika Serikat.