Tag

,

(Lampung Post, 16 Oktober 2011)

Alnagi

selalu kau bangunkan aku dengan sepi dan api
padahal belum tunai mimpi terbuai
di malam yang gulita

katakan padaku
bagaimana bertahan dari resapan air hujan
jika setangkup atap pun
sudah tak ada

bukankah buliran air
setitik-titiknya
akan mengalir juga dari lubuk mata

berpendaran di bumi
menumbuhkan benih yang suci

katakan padaku
bagaimana rupa cahaya yang ditiupkan
pada segumpal darah,
mengapa tiba-tiba hadir
dalam rupa
yang tak kukenali

katakanlah
bahwa gelap adalah nyata

agar ketika sampai waktuku
melepasmu
mataku akan meredup
lalu diresapi air hujan yang datang berkala

sebab kau adalah daun-daun
yang terlepas begitu saja dari tanganku
dan tanganku adalah ranting patah

meski sama-sama kita luruh
namun tubuhmu
tak kuasa kusentuh

“kaulah tunas pertama
yang tumbuh di musim kemarau”

(Agustus, 2011)

Cerita untuk Ibu

sekali waktu
aku ingin berjalan di tengah kota
di mana para remajanya kehilangan bahasa

akan kuceritakan kepada ibuku
tentang gedung-gedung yang memakai siger1)
patung-patung berkebaya
juga warna-warna lampu jalan
yang di kampungku tak pernah ada

barangkali saja ibuku akan terhibur
di tengah kemarau yang melanda dadanya
kemarau yang mengeringkan bait-bait pantun
serta menerbangkan suara-suara sagata2)

di tengah kota
kenangan terbingkai sebagai isyarat
bagi semua upacara yang sempat dirawat

sementara ibuku
yang terkurung di ujung kampung
menatap matahari terbenam di rumah panggung

(September, 2011)

1) siger: mahkota adat Lampung untuk pengantin wanita
2) sagata: Jenis puisi tradisi Lampung yang lazim di kalangan etnik Lampung digunakan dalam acara-acara yang sifatnya bersukaria.

Perjamuan Sekejap

jika bukan malam ini, kapan lagi
kita berbagi cahaya lampu

bertukar puisi sambil bersulang
merayakan kemerdekaan

kemerdekaan antara duka dan bahagia
kemerdekaan atas gelap dan cahaya

waktu bagai musim gugur
yang merontokkan setiap pertemuan

kekosongan demi kekosongan
tak pernah lengkap terisi

perjalanan demi perjalanan
menubi datang dan menepi

maka sajikanlah secawan purnama
untuk malam yang terlalu sederhana

terlalu purba.

(September, 2011)

Magrib

patung batu putih
menyerupai seorang raja
dengan kudanya
memandang jalan raya
yang memerah

dari ranting pohon
ada yang menyaksikan
orang-orang bergegas
ke sebuah rumah berkubah
lalu berdoa
sementara di langit
ada yang pulang sendiri-sendiri

(2010-2011)

Fitri Yani, lahir 28 Februari 1986. Alumnus FKIP Universitas Lampung. Tinggal di Bandar Lampung. Karyanya dimuat di berbagai media dan antologi bersama. Buku puisinya, Dermaga Tak Bernama (2010).