Tag

,

Cerpen Akmal Nasery Basral
(Kompas, 16 Oktober 2011)

Jam meja memekik-mekik membangunkan Flayya. Tangannya yang selicin pualam itu bergerak spontan hendak mematikan alarm, melanjutkan kembara mimpi dari ranjang kamar apartemennya yang asri. Namun sel-sel otaknya mengingatkan ada pergantian jadwal siaran, sehingga dia harus siap di studio dalam waktu 60 menit ke depan. Badan lampainya melayang turun menuju kamar mandi, sembari menanggalkan secuil busana yang masih tersangkut di ranum raga.

”Astaga!” pekik Fla saat melihat lidahnya di cermin. Daging lembut merah muda itu dipenuhi kerumunan ulat yang menggeliat. Isi perutnya bergolak, memberontak dalam semburan brutal yang mengubur wastafel putih gading di depannya menjadi entah apa warnanya. Dibukanya keran air panas sebesar-besarnya untuk mengusir anyir. Dipandanginya lagi cermin. Jumlah ulat tak berkurang di mulutnya, terus menggeliat. Disambarnya jubah mandi. Kedua kaki lancipnya berlari menuju klinik 24 jam di lingkungan apartemen.

Di tempat lain, setengah jam bermobil jauhnya dari klinik, Romero sang legislator sudah semalaman begadang menyempurnakan daftar pertanyaan dengar pendapat yang akan ditayangkan langsung televisi swasta tempat Flayya bekerja. Sebagai anggota dewan yang lebih sering tampil di layar infotainment ketimbang menghadiri rapat komisi, Rom sangat paham bahwa acara ini sebuah kesempatan emas untuk menyepuh popularitas.

Tiba-tiba ujung matanya menangkap gerakan aneh di bibir cangkir kopi. Kedut seekor ulat tengah berjuang mengangkat tubuhnya yang gendut. Tak percaya, Rom melongok isi cangkir kopi luwak itu.

Badannya sontak menggigil: isi cangkir tak ubahnya sauna ulat. Rom memasukkan jari telunjuk ke dalam mulutnya, baru menyadari ada kedutan yang sama di sana. Dengan panik diambilnya ponsel, menekan tombol panggilan cepat. Tak ada jawaban yang diharapkan dari seberang. Rom mengetik pesan pendek, dengan degup jantung melebihi kecepatan mobil dinasnya melesat di jalan tol.

***

Dokter jaga tak bisa memberikan diagnosis akurat penyakit Fla, selain menebar sejumlah dugaan. ”Penyebabnya bisa dari makanan, infeksi lingkungan, atau akibat kontak mulut dengan orang lain yang sedang terjangkit,” katanya seperti mengutip buku teks. Kalimat itu sudah cukup membuat Fla melakukan kalkulasi, (1) Dari makanan jelas mustahil. Semalam dia makan bersama tiga narasumber tayangan talk show yang dipandunya di studio, dan tak ada kabar mereka sakit. (2) Terjangkit infeksi lingkungan juga tak mungkin, sebab sehabis siaran dia langsung pulang. Atau lebih tepatnya, diantar pulang tanpa mampir ke mana pun.

Jadi… mungkinkah?

Dada mancung Fla bergemuruh. Pandangannya menyusuri layar ponsel, menemukan notifikasi pesan pendek yang belum sempat dibacanya: dari Rom.

Luv, kauy ta akn percya. Tem ui ku @ Medici Int’l hosptl. Soon!

Sebuah pesan pendek yang hancur lebur dan meledakkan cemas: Mungkinkah Rom juga terjangkit? Atau justru dirinya yang terinfeksi oleh lelaki beranak dua dari dua istri berbeda itu? Mereka memang sempat bertukar saliva dalam beberapa menit yang bergelora sebelum berpisah, ketika Rom mengelus perutnya semalam.

Ponselnya kembali berdenting memberitahu pesan masuk yang baru. Dari Sekretariat Redaksi tempatnya bekerja:

Mbak Fla, pak Muiz terkena infeksi mulut serius. Juga mas Gazi & mbak Aline. Pemred bilang mbak segera check-up. Ambil cuti dulu.

Sinting! Muiz adalah Produser Eksekutif dan Gazi juru kamera. Dengan keduanya Fla tak pernah memiliki hubungan asmara. Lalu, bagaimana pula Aline, asisten produser yang jarang bicara, bisa terjangkit penyakit serupa?

Dua jam kemudian televisi berlomba-lomba memberitakan stop press yang tak lazim: penyakit misterius menyerang mulut warga.

Ada yang memberitakan heboh di sebuah TK, ketika para bocah yang antre makan menjerit ngeri melihat tempat makan mereka dipenuhi ulat yang sempat mereka kira potongan cakwe. Tak satu pun dari mereka yang tahu bahwa bencana pagi itu dimulai dari rumah Bagas, anak Muiz, yang sempat tak mau sarapan kecuali disuapi sang ayah.

Kanal TV lain mewartakan kegemparan di sebuah kampus ketika dari mulut pengajar Filsafat Politik berhamburan ulat yang membuat banyak mahasiswi pingsan ketakutan. Saluran televisi tempat Fla bekerja menyajikan tayangan paling mencekam: Guru Kalip sekarat di ranjang rumah sakit. Padahal semalam, Guru Kalip masih bersemangat dalam acara talk show berjudul ”Mengupas Akar Korupsi Massal dan Erosi Moral” yang dipandu Flayya.

Merosotnya kesehatan Guru Kalip membuat seluruh saluran televisi membatalkan acara yang sudah mereka programkan. Tak ada siaran langsung dengar pendapat dari gedung Parlemen, karena Guru Kalip adalah guru dari semua guru yang pernah mengajar anggota Dewan. Ketika konflik sosial pecah di beragam tempat, Guru Kalip juga yang menjadi tumpuan akhir banyak pihak, hingga tak sedikit yang menjulukinya sebagai ’Mercusuar Nurani Bangsa’.

Awak media massa berlomba-lomba mewawancarai lusinan dokter ahli untuk mendapatkan informasi akurat tentang penyakit Guru Kalip. Apalagi setelah dari menit ke menit, rumah sakit terus kebanjiran pasien dengan gejala serupa di bagian mulut.

Dua jam sebelum mentari bertengger di pucuk hari, muncul keterangan resmi dari Wali Negeri bahwa bencana nasional sedang terjadi. Warga dianjurkan tetap di rumah, mengikuti perkembangan keadaan melalui televisi dan sebuah situs web.

Keadaan Guru Kalip kian memburuk. Lidahnya sudah membusuk sampai ke pangkal. Tim dokter memutuskan, lidah itu harus dibuang. Guru Kalip menolak dengan alasan yang membuat alis para dokter melengkung keheranan. ”Ulat-ulat itu juga hamba Tuhan yang harus disayangi dengan cinta sejati. Mereka tak boleh dibunuh semena-mena. Pasti ada alasan mengapa Tuhan menempatkannya di lidah saya, seperti Tuhan pernah menempatkan mereka bertahun-tahun di kulit Ayub manusia mulia.”

”Apa maksudnya?” tanya wartawan yang merekam wajah Sang Guru dari kejauhan, karena jijik dan mual melihat gerombolan ulat yang seakan tak ada habisnya di dalam mulut tua yang, anehnya, selalu tersenyum itu.

”Kebenaran akan mengungkapkan dirinya sendiri,” ujar Guru Kalip. Sesaat kemudian jiwanya bercerai dari badan.

Kepanikan langsung menggila karena dokter terahli pun masih belum tahu wabah yang terjadi. Wartawan yang mewawancarai istri Guru Kalip hanya mendapatkan jawaban singkat ”Ulat-ulat itu baru muncul kemarin, setelah pagi harinya Guru Kalip bertemu empat mata dengan Wali Negeri,” jawab sang istri.

Tiga jam berikutnya pemakaman Guru Kalip dimulai dengan tembakan salvo dan rangkaian acara kenegaraan. Wali Negeri menyampaikan belasungkawa yang disiarkan langsung oleh seluruh saluran televisi. ”Hari ini kita kehilangan sosok luar biasa yang selalu jujur dalam bicara dan bertindak. Negeri kita karam dalam duka mendadak yang lebih perih dari segala pedih penyebab sedih,” katanya dengan ekspresi seperti sedang berdeklamasi.

”Yang membuat saya, Wali Negeri, lebih bersedih hati adalah karena munculnya desas-desus bahwa penyakit misterius Guru Kalip muncul beberapa saat setelah Guru bertemu empat mata dengan saya. Akibatnya, muncul tuduhan-tuduhan tak bertanggung jawab bahwa sayalah yang sebenarnya membuat Guru Kalip jatuh sakit. Saya nyatakan itu tidak benar!” ujar Wali Negeri dengan suara menggelegar. ”Itu fitnah tak bertanggung jawab!”

Flayya yang sudah tergolek lemah di ranjang rumah sakit terbelalak ketika melihat seekor ulat melayang dari mulut Wali Negeri yang sedang merintih sedih, ”Baiklah saya ungkapkan di sini, di hadapan rakyat yang saya cintai, bahwa yang saya sampaikan kepada Guru Kalip hanyalah imbauan agar selalu menyampaikan kebenaran setiap saat, di setiap tempat.”

Tiga ekor ulat mendadak nemplok di layar televisi. Mengira dirinya berhalusinasi, Fla memindahkan saluran ke kanal berbeda dan melihat Wali Negeri sedang mengepalkan tangan dengan suara membahana. ”Hal terpenting yang saya sampaikan kepada Guru Kalip adalah untuk terus mengingatkan masyarakat bahwa hukum dan keadilan harus dijunjung tinggi, meski harus mengorbankan keluarga dan orang yang kita cintai!”

Puluhan ulat berukuran besar dan kecil terus beterbangan dari mulut Wali Negeri selama dia bicara, semakin memenuhi layar televisi yang hanya menyisakan sedikit bidang bersih.

Marah dan jijik melihat ulat-ulat terus menggeliat ke mana pun dia memindahkan saluran, Fla hampir mematikan televisi ketika melihat sebaris teks berjalan: Legislator Romero meninggal dunia dengan gejala yang sama seperti dialami Guru Kalip.

Mata perempuan seindah mutiara itu langsung membasah, hatinya berdarah. Ingin rasanya dia berteriak menuntut kepada Tuhan agar kekasihnya kembali dihidupkan. Tetapi ulat-ulat laknat di dalam mulutnya yang terus menggeliat sudah mengunyah lebih dari separuh lidahnya. Dia tak bisa lagi berkata-kata mesti begitu ingin.

Dicobanya lagi untuk mengeluarkan suara. Namun yang datang hanyalah kenangan saat Romero mengelus perutnya semalam. ”Setelah anak kita ini lahir Fla, hanya kau satu-satunya perempuan yang tercatat dalam akta nikahku. Guru Kalip akan memimpin pernikahan kita, dan Wali Negeri sudah bersedia menjadi saksi. Tidakkah itu menjadikanmu sebagai perempuan paling berbahagia di muka bumi ini, Cinta?”

Entikong-Jakarta, 2011