Tag

,

Cerpen Eka Handayani Ginting
(Harian Analisa, 16 Oktober 2011)

IBUKU, perempuan yang selalu mengangguk. Dalam setiap tiga detik dia mengangguk sekali. Bukan karena dia menginginkannya,tetapi ada sesuatu yang salah dengan sistem syarafnya. sehingga menyebabkan kepalanya terus saja mengangguk. Ibu dengan wajahnya yang sudah mengeriput itu, terlihat semakin menyedihkan dengan anggukan yang dia tak pernah dia inginkan, semua ini karena seorang laki-laki yang tak akan pernah kupanggil ayah.
Hari itu dua puluh tahun lalu. aku lahir sebagai pertanda kebahagiaan, ataukah kesedihan. Ibu berencana untuk memberikanku segala hal yang terbaik. Hatinya miris mengingat dia tengah hidup dengan seorang lelaki, yang mcnganggap dirinyalah manivestasi dari semua keunggulan. Jiwa ibu tertekan, hidupnya mengambang di antara alam baka dan dunia nyata.

“Tetapi, untukmu aku harus tetap hidup nak!”Cerita Ibu sambil terus mengangguk.

Aku sangat mengerti. Kupeluk tubuh ringkihnya yang bergetar disertai gerakan mengangguk itu, sungguh tak sanggup aku melihatnya yang sesenggukan dengan anggukan.

“Pukulan terakhir yang ibu terima adalah pukulan terkeras, namun tak ada rasa sakit. Aku sudah kebal atas kesakitan itu, hantaman sekeras apapun takkan membuatku berteriak ataupun menangis!” wajah dan suaranya bergetar, hatiku berdebar lebih kencang

“Pukulan itukah yang membuatmu terus mengangguk, Bu?” tanyaku pelan.

Ya. Dia menjambak rambutku lalu menghantam kepalaku ke dinding batu. Banyak darah yang menetes tetapi aku tak sakit.

Di dalam kepalaku adegan menyakitkan itu terulang dengan gampang, memang sosok lelaki itu belum pernah kulihat, nanum bisa kubayangkan betapa kejamnya dia, betapa dia tak punya sedikit pun rasa belas kasih, seperti iblis yang diciptakan tanpa ia sama hinanya.

“Aku menggendongmu yang masih berumur beberapa hari, baju dan tubuhku basah, merah karena darah, aku membawamu lari, jauh sekali.” Kali ini dia sudah tak menangis. Ketegarannya telah kembali dengan sempurna, tetapi semakin besar kurasakan dendam yang menyelimutinya, dendam yang hitam pekat, kental dan melekat.

* * *

Di televisi, kutonton berbagai ke-kerasan yang setiap hari terjadi dengan cara berbeda. Dalam setiap tangis yang tampak, ada dendam yang, tak mampu tersibak. Kemana rasa sakit itu akan di bawa, kemana pilu itu harus mengadu? Karena tak ada tempat bermohon untuk membalikkan penyesalan atas apa yang telah dilakukan tangan.

“Bu, apakah kau pernah bertemu lagi dengannya, dengan lelaki itu?” tanyaku pada ibu sebelum tidur, aku berbaring di sebelahnya.

“Tidak.” Dia membelakangiku. Anggukatn kepalanya membuat ban-talnya bergerak. Dia seperti sedang cegukan.

“Aku tak mau bertemu dia lagi. Sulit sekali rasanya melupakan semua penderiutan yang kualami. Kau tahu betapa tidak terbiasanya aku diawal-awal memulai hidup baru denganmu anakku, semua orang seperti mengejekku, anak-anak menertawaiku, tetapi aku bisa melaluinya untukmu!”

Aku memeluk tubuh Ibu. Dia menggenggam erat jemariku. Seperti api unggun,keha-ngatan yang semakin lama semakin terasa. Aku percaya cinta ibu terlalu besar untukku, tak terbalas. Dengan cara apakah aku akan memberikan sesuatu yang pantas untuknya, tak ada yang terfikir kecuali membalas dendamnya, membalas kesakitannya.

* * *

Setiap hari aku menemani ibu berjualan di pasar pagi. Tugasku membantunya mengambil barang dari produsen dan mengangkat benda-benda berat yang tak mampu lagi diangkat tubuh kurus ibuku. Ibu adalah pekerja keras. Keringatnya diperas untuk membiayai hidup kami. Sebagai seorang laki-laki tak ada hal yang mustahil bagiku untuk mengurangi beban ibu.

Tubuh ibuku bau matahari bercampur debu jalanan, tetapi nyaman setiap kali aku memeluknya. Aku ingat ketika kecil selalu bergelayut manja di pangkuannya. Dia akan menggelitiku dan takkan ber-henti sampai aku kelelahan karena tertawa. Perempuan yang selalu mengangguk itu tak pernah membuatku kekurangan kebahagiaan. Meski tanpa seorang ayah dia mendidikku menjadi lelaki yang bertanggungjawab dengan jenjang pendidikan yang tak kalah dari orang-orang yang memiliki orang tua lengkap.

Ibuku adalah perempuan yang tegas. Tekadnya lebih keras dari baja. Dia pantang menyerah, seperti seorang ksatria. Dia memang perempuan, tetapi jiwanya mengalahkan lelaki manapun. Kata ibu, dia menjadi kuat sejak tak bisa berhenti mengangguk.

“Bu, makanlah dulu, pembeli sudah sepi,” kataku. Hari sudah sore, pasar mulai lengang. Separuh pedagang malah sudah berkemas untuk pulang. Ibu seperti menunggu barang dagangan habis, padahal mustahil barang dagangan se-perti kentang, wortel dan sayuran berat lainnya akan cepat habis. Ada berpuluh kilo stok di depan kami.

“Ibu makan di rumah saja, lagian belum lapar,” katanya.

” Nanti asam lambungmu kumat, Bu” peringatku. Ibu penderita asam lambung akut. Harusnya dia sudah tak bekeja sekeras ini, apa lagi aku sudah sanggup mengerjakan semuanya. Kami juga punya dua orang karyawan, tetapi ibu selalu bersikeras untuk ikut bekerja.

“Bu, kita pulang saja yuk, langit sudah mendung, lagian sudah jam lima”

“Sebentar lagi, mungkin masih ada yang laku, ngapai cepat-cepat pulang? Enggak ada yang bisa kukerjakan di rumah,” katanya lagi. Dia tetap duduk di tempatnya. Keras kepala sekali.

Ibu benar, tak sampai lima menit datang seseorang yang kelihatannya menuju kios sayur kami. Seorang lelaki paruh baya yang bertubuh besar berjalan dengan cepat, wajahnya penasaran.

“Rosa!” teriaknya. Itu nama ibuku. Ibu menoleh wajahnya terpaku, kaku sekali. Aku mencoba menduga-duga tetapi aku hanya diam.

“Hendra?” Ibu mendesis. Suara hampir tak terdengar. Rona mukanya pucat. Aku jadi yakin kalau pria yang sudah berdiri di depan kami itu, adalah pria yang selama ini kurindu dan kubenci.

“Ternyata kau di sini?” tanyanya. Lembut sekali suaranya, berbanding terbalik dengan keterangan ibu. Tampangnya juga sangat lembut. Aku jadi ragu, tetapi naluriku mengatakan bahwa dialah orangnya.

Dia mengenakan pakaian yang rapi sekali, setelan mewah yang menandakan kalau dia orang yang berkecukupan. Rambutnya hitam legam, tanpa uban sehelai-pun. Kulitnyabersih terawat dan wangi tubuhnya sangat berkelas. Ibuku terlihat seperti wanita tua yang bodoh. Rambutnya kusam dan awut-awutan. Wajahnya mengeriput dan bernoda-noda seperti alpukat busuk. Belum lagi bau tubuhnya, kecut karena keringat telah bercampur dengan aneka getah sayuran dan debu jalanan.

Melihat pria itu aku merasa terintimidasi, bibir dan lidahku kelu. Ingin sekali aku menghardik dan membentak kasar orang itu. Tak kusangka malah ibu bereaksi duluan.

“Mau apa kau kemari?” tanya-nya mencoba santai, remeh dan tanpa rasa takut.

“Lama aku mencarimu Rosa! Dia ini, apa dia anak kita? Rendra..?”

Kali itu dia menyebut namaku. Dia menatapku. Kami saling bertatapan. Matanya basah. Dia sesenggukan.

“Siapa orang ini, Bu?” aku memegang lengan ibu. Aku merasa sesak. Merasa lemah, karena tak mampu bersikap seperti jantan. Bukankah seharusnya aku meninju wajahnya, memakinya atau melempari baju mahalnya itu dengan tomat busuk, sambil mengusirnya pergi. Aku tak mampu, tentu aku tak mampu karena dia bahkan tak terlihat beringas seperti cerita ibu.

“Rendra, ayo kemasi semua, dagangan, kita pulang!” perintah ibu. Dia tak berniat menjawab pertanyaanku.

“Ti, tapi, Bu?

“Cepatlah”’ Ibu mengambil goni, lalu mulai membereskan sawi-sawi hijau yang masih menumpuk, seperti tak menghadapi siapapun.

“Rosa, aku lama mencarimu!” Pria itu terbata, dia seperti mengiba.

“Pergilah sebelum aku mengusirmu!” berkata ibu tanpa melihat lawan bicaranya. Da mendengus kesal lalu mempercepat kerjanya. Aku tak berani membantah lagi, kubereskan semua yang perlu kubersekan.

Sambil menangis dia berkata, lama aku mencari kalian dan tadi tanpa sengaja aku melihat kalian di sini, maatkan aku Rosa, aku memang bersalah!” dia mengiba. Mendengarnya menangis aku jadi emosi, entah mengapa darahku mendidih seketika. Aku menahan kepalan tanganku yang bentakku. Geram sekali rasanya melihat orang itu. Untuk ibu maafnya terlalu terlambat. Dia datang sia-sia. Aku tak mau ibuku bersedih lagi. Aku yakin pria itu iblis bertopeng malaikat. Da pasti sedang bersandiwara. Dia ingin mengecoh ibuku. Dia pura-pura menyesal, padahal aku tahu malah sebaliknya.

“Rendra, kenapa kamu marah. ini Ayah,.” dia menangis semakin miris. Seperti seorang pengemis.

“Diam kau!” aku siap meninjunya, namun ibu menarik tubuh-ku.

“Jangan!” bentak ibu. Kami berjalan menjauh dan seseorang datang.

“Sayang,”teriaknya. Aku kaget dan tak percaya, karena orang itu adalah laki-laki juga. Dia berjalan ke arah kami dan menarik orang yang harusnya kupanggil ayah itu. Aku merasa semakin kacau karena mereka seumuran, kutatap ibu yang melihat mereka dengan jijik.

“Pergilah sebelum kalian ku-usir!” bentak ibu lagi. Ibu tak heran, dia malah meludah ke parit di sebelahnya. Kedua orang itu pergi, aku terduduk lemas di tanah. Rasanya sangat aneh, tetapi aku bertanya-tanya.

“Ibu?” panggilku. Ibu tak menoleh. Da melanjutkan mengemasi dagangan.

“Kenapa? Mau bertanya, apa dia ayahmu? Ya, dia ayahmu!” jawabnya, masih tanpa menoleh.

“Tapi ibu bilang…” aku tak sanggup melanjutkan.

“Aku berbohong! Aku tak mau kau mengetahui semua ini. Ini sangat menjijikkan!”dia mengikat ujung goni yang sudah penuh dan menaikkannya ke atas bak mobil barang kami yang baru datang.

“Lalu bagaimana dengan anggukan ibu itu…?” aku terdiam. Kulihat ibu dengan jelas, dia sejak tadi tidak mengangguk. Ya, sejak orang itu datang, tak ada anggu-kan. Dia memang tak mengang-guk.

“Maaf anakku, aku harus berbohong. Sejauh itu, aku mengangguk. Seperti orang cacat dihadapanmu. Ini semua agar kau tak melihat pemandangan tadi. Sekali lagi maaf untuk semua keboho-nganku.” dia tersenyum dan meneruskan pekerjaannya. Ada begitu banyak tanya yang ingin ku-utarakan,tetapisudahlah.

Medan, 24 July 2011. 12:16 AM