Tag

,

Oleh Agus Sri Danardana
(Riau Pos, 16 Oktober 2011)

Anggapan bahwa karya sastra bukanlah suatu gejala yang tersendiri, tentu saja bukannya tanpa alasan. Di samping merupakan suatu eksperimen moral yang dituangkan oleh pengarangnya melalui bahasa, dalam kenyataannya, karya sastra juga merupakan suatu hasil pengaruh yang rumit dari faktor-faktor sosial dan kultural (Damono, 1979:3). Dengan demikian, untuk merebut makna atau katakanlah untuk memahami karya sastra, kita dapat menyandarkan dari pada berbagai macam pendekatan dan metodologi. Salah satu di antaranya adalah sosiolinguistik.

Sosiolinguistik yang pada dasarnya merupakan upaya pemaknaan yang berpokok pangkal pada pencarian makna yang terdapat pada bahasa dalam hubungannya dengan pemakai bahasa, yakni masyarakat (bandingkan dengan Nababan, 1984:2 dan Sawito, 1982:1-3), sudah semestinya dapat digunakan untuk mengkaji (atau paling tidak dapat membantu pemahaman) karya sastra. Hal ini lebih dapat diyakini apabila kita bertolak dari kenyataan bahwa hanya dengan bahasalah sastra dapat mencakup dunia-dunia lain (Budi Darma, 1982:2-6)

Sesuai dengan judulnya, tulisan ini akan mencoba menerapkan pendekatan sosiolinguistik dalam pemaknaan karya sastra, dengan menjadikan roman pendek Umar Kayam, Sri Sumarah (SS) dan cerita pendek Marhalim Zaini, “Amuk Tun Teja” (ATT) sebagai objeknya.

Seperti yang telah kita ketahui, pengkajian bahasa hanya dapat bermakna dan bermanfaat dalam gayutannya (relevansinya) dengan struktur dan pemakaian bahasa dalam konteks sosial budaya (Djawanai, 1982:1). Untuk itu, dalam tulisan ini, intipan yang dilakukan lebih mengkhususkan pada pengkajian makna sosial SS dan ATT berdasarkan gaya atau cara Umar Kayam dan Marhalim Zaini (sebagai pencipta) berhubungan dengan masyarakat (sebagai pembaca/penikmat) dalam memakai bahasa lewat ciptaannya. Dengan demikian, pembahasan yang dirasakan paling relevan menyangkut dua aspek, yakni kosakata dan ciri formal bahasanya.

Secara sederhana dapat kita katakan bahwa SS adalah suatu kisah atau cerita yang menggambarkan perjalanan hidup seseorang yang bernama Sri Sumarah dengan segala liku-liku hidup yang dialaminya. Sementara itu, ATT adalah suatu kisah atau cerita yang menggambarkan sepenggal perjalanan hidup seseorang yang bernama Tun Teja dengan ketragisannya. Namun, apabila kita perhatikan dengan sungguh-sungguh, di balik kisah perjalanan hidup Sri Suamarah tersebut terdapat sesuatu (yang tersirat), yaitu maksud Umar Kayam (pengarang SS) untuk mengungkap salah satu sikap hidup orang Jawa: sumarah. Begitu pula dalam ATT, di balik kisah tragis yang dialami Tun Teja, terdapat maksud Marhalim Zaini (pengarang ATT) untuk merevitalisasi salah satu kekayaan budaya Melayu: mitos Tun Teja serta menyodorkan potret kegamangan masyarakat (Melayu) terhadap globalisasi.

Apabila di atas telah dikatakan bahwa pembahasan yang dirasa paling relevan menyangkut kosakata dan ciri formal bahasanya, hal itu mengingat eratnya hubungan antara pembaca SS dan ATT dengan SS dan ATT sebagai teks. Artinya, untuk mengerti SS dan ATT, pembaca sedikit banyak perlu memahami nilai sosial budaya Jawa dan Melayu serta latar belakang kemasyarakatan Umar Kayam dan Marhalim Zaini yang tercermin dalam pemakaian kosa kata dan ciri formal bahasa SS dan ATT.

Kosakata Jawa dalam SS
Masalah yang menarik untuk dibahas berkenaan dengan SS ialah mengapa, untuk keperluan apa, dan menyangkut konsep apa Umar Kayam (pencipta SS) menggunakan banyak sekali kosakata bahasa Jawa dalam SS? Padahal, kita semua tahu bahwa SS adalah karya sastra Indonesia.

Menurut hemat penulis, pemakaian kosakata bahasa Jawa dalam SS adalah untuk mengungkap nuansa makna yang menurut Umar Kayam paling dalam, luas, meresap, dan bahkan paling pas untuk pengarakteran tokoh ceritanya (bahwa yang dimaksud kosakata di sini termasuk juga kosakata dalam konsep wayang, kethoprak, ataupun tembang). Sebagai ilustrasi, berikut ini akan dibicarakan kosakata Jodho sing wis pinasthi (SS:9) dan tokoh wayang Sembadra alias Lara Ireng (SS:10).

Jodho sing wis pinasthi, oleh Umar Kayam, secara jelas sudah disebutkan sebagai “Jodohnya sudah tersedia’. Akan tetapi, mengapa Umar Kayam masih mempertahankan (menggunakan) Jodho sing wis pinasthi? Hal itu tentu saja bukannya tanpa tujuan. Menurut penulis, jodho sing wis pinasthi digunakan oleh Umar Kayam dalam rangka memperjelas konsep sumarah yang akan disampaikannya. Tokoh cerita Sri Sumarah, sebagi figur orang Jawa yang sumarah, tidak bisa tidak harus menerimanya. Bagaimanapun ia tidak bisa lari dari jodho sing wis pinasthi.

Demikian pula dengan tokoh wayang Sembadra alias Lara Ireng. Seperti halnya jodoh sing wis pinasthi, Sembadra/Lara Ireng digunakan Umar Kayam tidak lain juga untuk memberi ancar-ancar gambaran tentang konsep sumarah.

Seperti yang kita ketahui, tokoh wayang Sembadra bagi masyarakat Jawa bukan merupakan nama yang asing lagi. Ia dikenal sebagai simbol istri sejati: patuh, sabar, dan mengerti. Bukankah hal ini merupakan sikap sumarah?

Kosakata Melayu dalam ATT
Dilihat dari pemilihan katanya (keleksikalan), ATT diwarnai kata-kata serta pantun dan pepatah khas Melayu. Yang menarik adalah pemakai kata-kata serta pantun dan pepatah khas Melayu itu: kata-kata digunakan oleh tokoh aku, sedangkan pantun dan pepatah digunakan/diucapkan oleh tokoh perempuan renta. Kata-kata khas Melayu itu adalah renjis “memercikkan dengan tangan”, alahmak, aduhmak, mengarut “mengada-ada”, lempok “dodol durian”, dan nyanyok “pikun”, sedangkan pantun dan pepatahnya adalah (1) Air dalam bertambah dalam/hujan di hulu belum lagi teduh/hati dendam bertambah dendam/dendam dahulu belum lagi sembuh; (2) Kalau pedas pada kita, takkan manis pada orang; dan (3) Kalau menunggu gelombang tidur, sampai kiamat takkan ke laut.

Dengan penggunaan kata-kata, pantun, dan pepatah khas Melayu seperti itu patut diduga cerita ini benar-benar berlatar Melayu. Artinya, kedua tokoh cerita, baik Aku (Dolah) maupun perempuan renta (Tun Teja) berlatar etnis yang sama: Melayu. Hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa persoalan yang diangkat dalam cerpen ini adalah persoalan yang memang terjadi di tanah Melayu.

Ciri Formal Bahasa SS
Secara mudah dapat kita katakan bahwa karya Umar Kayam (SS) ini menggunakan ragam bahasa santai. Petunjuk yang paling menonjol, yang menandai SS beragam santai adalah bebasnya pemakaian kata-kata dan ungkapan, seperti lho, kok, to, iya, ya gusti nyuwun ngapura, oh Allah,dan nduk. Di samping itu, ragam santai dalam SS ditandai juga dengan penyederhanaan bentuk tata bahasa serta pemakaian pola nonbaku. Penyederhanaan tata bahasa, misalnya, terlihat dalam penggunaan kata pakai, berontak, dan lapor (yang seharusnya memakai, memberontak, dan melapor). Sementara itu, penggunaan pola nonbaku terlihat dalam kalimat Allah, sempeyan ‘tu kalau mau bikin perempuan malu kok bisa aja dan kalau Ibu nggak lapor bisa ikut salah, lho.

Contoh pemakaian ragam santai yang terpapar di atas, kiranya cukup menyakinkan kita bahwa Umar Kayam ingin menunjukkan keakraban antara pengarang SS, teks SS, dan pembaca SS.

Ciri Formal Bahasa ATT
Teks ATT dibangun dengan dua bentuk kisahan/tuturan: secara langsung (monolog) dan secara tidak langsung (narasi). Kisahan secara langsung digunakan oleh tokoh perempuan renta, sedangkan kisahan tidak langsung digunakan oleh tokoh aku. Karena hadir secara bergantian, dua bentuk kisahan itu membuat kedua tokohnya seolah-olah berdialog.

Dilihat dari komposisi teksnya, cerpen ini diawali dan diakhiri oleh kisahan tidak langsung tokoh aku. Kisahan langsung tokoh perempuan renta, dengan demikian, hadir (secara bergantian dengan kisahan tidak langsung tokoh aku lainnya) di bagian tengah. Beginilah cerpen ini diawali.

Tanpa mengetuk pintu, tanpa mengucap salam, seorang perempuan renta berkebaya lusuh masuk ke kantorku, dan langsung duduk di kursi tepat di depanku. Dari tatapan matanya yang sempit dan hampir terjepit oleh kulit kelopak-keriputnya, ia tampak sedang memendam sesuatu yang teramat dalam. Dan dari mulutnya yang masih tersisa warna merah sirih, melompatlah peluru kata-kata. (hlm. 93)

Setelah dilanjutkan dengan ucapan langsung tokoh perempuan renta dan ditimpali ucapan tidak langsung tokoh aku (masing-masing dua belas kali dan sebelas kali), cerpen ini diakhiri dengan Ya, Tuhan. Apa pula ini! Hei, Nenek! Ya ampun, kenapa pula kau harus bunuh diri! Aduh, bagaimana ini? Hei, tolong … tolong… tolong… (hlm. 99)

Dengan komposisi seperti itu, mengingatkan pembaca pada teks dramatik (lakon) yang biasanya terdiri atas teks samping dan teks utama. Teks samping pada umumnya berfungsi sebagai pengantar, memberikan penjelasan tentang apa yang terjadi pada teks utama (Luxemburg, 1984:166). Atas dasar itu, dapat diketahui bahwa inti ATT tidak terdapat pada kisahan tokoh aku (narasi), tetapi terdapat pada kisahan tokoh perempuan renta (monolog). Meskipun mengawali dan mengakhiri cerita, kisahan tokoh aku hanya berfungsi sebagai pengantar dan/atau komentar atas kisahan tokoh perempuan renta. Dengan kata lain, perempuan rentalah yang berperan sebagai tokoh utama, bukan aku.

Salah satu ciri sebuah lakon adalah di sini dan kini. Artinya, semua peristiwa terjadi di sini dan kini sehingga tidak ada jarak waktu dan jarak ruang (tempat) antara pembaca dan peristiwa (Esten, 1999:172). Dalam hubungan ini, teks ATT menjadi semakin menarik. Apa yang diceritakan pada teks samping (narasi, aku) ATT adalah apa yang telah terjadi, sedangkan apa yang ada dalam teks utama (monolog, perempuan renta) adalah apa yang sedang terjadi. Dalam lakon, apa yang telah terjadi dipahami sebagaimana yang diceritakan, sedangkan apa yang sedang terjadi dipahami sebagaimana yang disaksikan. Karena semua peristiwa dalam ATT, baik peristiwa yang telah terjadi (dipahami sebagai yang diceritakan) maupun yang sedang terjadi (dipahami sebagai yang disaksikan), terjadi di sini dan pada saat ini, tidak boleh tidak pembaca pun harus memahaminya dalam konteks di sini dan pada saat ini.

Berdasarkan pemahaman seperti itu, dapat diketahui bahwa struktur teks cerpen ATT sangat mendukung ide cerita yang hendak disampaikan: dialog semu antara Dolah dan Tun Teja. Keberadaan Tun Teja (sebagai salah satu tokoh dalam mitologi Melayu) ternyata (di sini [Riau] dan pada saat ini [sekarang]) tidak dikenal dengan baik oleh Dolah (pejabat/bos di sebuah kantor).

Demikianlah, sebagai karya sastra, ternyata SS dan ATT dapat dipahami melalui pendekatan sosiolinguistik, Pengkajian kosakata dan ciri formal bahasa yang terdapat dalam SS dan ATT sangat membantu pemahaman SS dan ATT itu sendiri.

Agus Sri Danardana, adalah Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau. Telah menulis dan menyunting puluhan buku tentang bahasa dan sastra. Bukunya yang terbaru adalah Anomali Bahasa (Palagan Press, Oktober 2011). Tinggal di Pekanbaru.