Tag

,

Cerpen Luhur Satya Pambudi
(Jurnal Nasional, 16 Oktober 2011)

SEJAK terjaga di kala pagi, memang sudah tak nyaman perasaanku. Seperti sebuah firasat buruk setelah kutelepon rumah Pak Sentot dan tak kutemui beliau. Hanya ada pembantunya yang mengabarkan bahwa majikannya menginap di rumah sakit dalam dua hari terakhir. Langsung kubatalkan semua janji serta kutunda semua pekerjaan. Aku mesti secepatnya meninggalkan kota ini untuk menjenguk Pak Sentot. Sebatas pengetahuanku, beliau tidak pernah sakit sampai harus dirawat di rumah sakit sepanjang kukenal dirinya. Pasti ada hal yang tak biasa terjadi pada beliau, jadi aku mesti segera mengetahuinya. Aku pun mengabari Mbak Asri, kakakku yang tinggal di Jogja tentang rencana kedatanganku dan mengajaknya membesuk Pak Sentot.

Pak Sentot adalah guru favoritku di SMA puluhan tahun silam. Mbak Asri maupun banyak murid perempuan lain pun mengaguminya dahulu. Pak Sentot merupakan cinta pertamaku yang tak pernah terlupakan. Selain karena beliau begitu tampan di masa mudanya dan belum menikah, guruku yang satu itu juga seorang yang humoris serta selalu bisa dekat dengan murid-muridnya, di dalam maupun di luar kelas. Begitu besar pesona Pak Sentot yang mampu mengesankan aku.. Telah kulakukan banyak hal untuk merebut simpati dan perhatiannya sedari dulu, namun beliau tak pernah membalasnya dengan cinta yang kudamba. Bahkan setelah aku lulus SMA, aku masih kerap menyambangi tempat tinggalnya serta terus berharap. Hingga aku memilih mundur, lalu akhirnya menikah sesudah menjadi sarjana, sedangkan beliau masih tetap saja melajang. Entahlah, mengapa beliau memilih untuk terus sendiri dalam hidupnya.

Aku sempat kehilangan kontak dengan Pak Sentot lantaran kuikuti suami tinggal di kota lain hingga kini. Mungkin baru sekitar sepuluh tahun silam aku berjumpa kembali dengan sang guru tercinta, ketika kuikuti acara reuni akbar di SMA-ku. Kemudian secara intensif aku sering berkomunikasi dengan Pak Sentot, kendati sekadar lewat telepon atau kadang kala aku berkunjung ke rumahnya jika kebetulan pulang ke Yogyakarta. Seakan menyala kembali cinta pertamaku, padahal selama ini sudah bahagia diriku bersama suami dan kedua anakku. Jika mungkin, aku sebatas ingin senantiasa membuat Pak Sentot merasakan sukacita, meski telah mustahil sebagai seorang kekasih.

***
Aku sudah sampai di rumah sakit bersama Mbak Asri. Pak Sentot terkena serangan jantung dan belum kunjung sadar sejak masuk ke ruang gawat darurat. Berdasarkan diagnosa dokter, terjadi komplikasi penyakit dalam tubuh beliau. Barangkali hal itu terjadi karena beliau seorang perokok berat sepanjang hidupnya. Semoga saja Pak Sentot segera pulih serta sembuh segala penyakitnya. Tentu masih sangat kuingin bertemu, lalu berbincang-bincang lagi dengannya, sekadar menikmati wajah teduh dirangkai kata-kata bijaksananya atau canda tawanya semata.

Sejenak, salah satu pembicaraan kami berdua terlintas di benak. Kuingat betul salah satu dialog yang pernah terjadi antara aku dengan Pak Sentot sekitar dua tahun berselang. Tak mudah kulupakan lantaran ada sekian hal penting yang dikatakannya kepadaku. Awalnya aku bertanya apakah beliau masih bersedia untuk menikah di usia lanjutnya. Waktu itu Mbak Asri baru sekitar setahun lamanya menjanda dan kutawarkan kakakku itu untuk menjadi pendamping hidup Pak Sentot.

“Saya sudah tak punya hasrat menikah, Nak Endah. Rasanya saya sudah terlalu tua untuk punya istri. Lagi pula ada orang-orang di sekitar saya yang menjadi sumber kebahagiaan saya. Merekalah keluarga sejati saya,” sahut Pak Sentot.

“Siapa mereka, Pak?,” tanyaku penasaran.

“Mereka adalah Nak Rani beserta anak cucunya dan juga Dodik.”

“Nak Rani itu siapa, kalau boleh saya tahu?”

“Nak Rani adalah keponakan saya. Dia kebetulan satu-satunya kerabat dekat yang tinggal satu kota dengan saya. Saya begitu bersyukur memilikinya, karena dia persis seperti seorang anak kandung yang berbakti pada bapaknya. Demikian pula anak cucunya pun seakan-akan darah daging saya sendiri. Saya pun sangat bersedih ketika suaminya meninggal. Kalau Dodik, Nak Endah sudah tahu kan? Dia ini anak tetangga yang sudah seperti anak angkat saya sejak masih bayi dan sudah kelas empat SD saat ini. Dengan merekalah, terutama saya bisa berbagi kasih sayang, cerita, kesenangan, bahkan juga kadang berbagi duka.”

Kutemui keponakan terdekat Pak Sentot itu di rumah sakit. Sepertinya beliau lebih tua sekian tahun ketimbang aku. Rasanya aku layak menaruh hormat kepadanya. Kukatakan bahwa Pak Sentot pernah menceritakan tentang dirinya dan aku cukup terkejut mendengarkan tanggapannya.

“Pak Sentot juga pernah bercerita tentang Jeng Endah pada saya. Terus terang, saya tidak mengira akhirnya dapat bertemu dengan Anda di sini,“ ujarnya.

“Oh ya? Ternyata benar bahwa Mbak Rani orang yang sangat berarti bagi Pak Sentot, makanya bisa sampai mengenal saya. Senang rasanya bisa ketemu Anda, Mbak,” sahutku sembari tersenyum.

Kami dapat berbincang lebih karib sehabis itu. Aku merasa kami sama dalam satu hal, yaitu menjadi orang-orang yang menyayangi Pak Sentot dengan tulus. Bedanya, Mbak Rani adalah keponakan kesayangan Pak Sentot, sementara aku barangkali sekadar mantan murid kesayangannya yang tak mampu berharap lebih. Selain berjumpa dengan Mbak Rani dan banyak kerabat Pak Sentot yang lain, aku juga sempat ketemu dengan Pak Marno, guruku di SMA yang merupakan sahabat dekat Pak Sentot semenjak mereka masih sama-sama guru muda. Beliau adalah orang yang cukup mengenalku sebagai perempuan yang pernah jatuh cinta pada sahabatnya.

“Apa Pak Sentot pernah cerita tentang saya pada Pak Marno?,” tanyaku.

“Ya, pernah beberapa kali. Nak Endah sering meneleponnya dan juga pernah mengirimkan sejumlah barang ke rumah Pak Sentot kan?” Pak Marno malah balas bertanya kepadaku.

“Ya, Pak. Bapak masih ingat saya waktu SMA dulu kan?” kataku dengan sedikit tersipu-sipu.

“Saya masih ingat betul, kamu yang naksir Pak Sentot habis-habisan.”

“Hmm, sekarang saya hanya ingin membahagiakan orang yang menjadi cinta pertama saya. Apa menurut Bapak, saya salah bersikap pada Pak Sentot?”

“Pak Sentot pernah bilang pada saya, dia tidak enak hati dengan barang-barang pemberianmu. Bagaimanapun Nak Endah ini kan berstatus sebagai istri orang?”

“Ya, Pak. Tapi suami saya tidak keberatan dengan apa yang saya lakukan. Dia tahu bahwa saya hanya ingin berbakti pada guru SMA saya.”

Pak Marno tersenyum dengan manggut-manggut. Tampaknya beliau enggan memperpanjang diskusi kami tentang hubunganku dengan sahabatnya. Mungkin beliau bisa memahami bahwa ada sebuah rasa yang tersisa di hati mantan muridnya ini, untuk seorang guru kesayangannya yang tengah terbujur lemah tak berdaya kini.

***
Selama empat hari di Yogyakarta, setiap hari aku selalu menjenguk Pak Sentot di rumah sakit. Mbak Asri yang biasanya menemaniku. Hari itu Mbak Rani–keponakan Pak Sentot–memberiku kabar gembira. Pak Sentot sempat terjaga dan berbicara sebentar kepadanya di saat pagi. Namun setelah itu beliau terlelap lagi dalam tidur panjangnya. Aku pun berpamitan kepada Mbak Rani lantaran sudah banyak pekerjaan yang terbengkalai di kantor. Masih mending karena akulah yang menjadi pemimpin di kantor itu. Aku berencana akan selalu kembali ke rumah sakit setiap hari libur nanti. Semoga saja ada berita bagus tentang Pak Sentot jika aku datang lagi. Syukurlah, jika beliau malah sudah pulang ke rumahnya dalam keadaan sehat walafiat.

Nyaris sebulan lamanya, setiap akhir pekan kutepati janjiku membesuk Pak Sentot. Tidak ada kemajuan berarti, kondisi tubuhnya malah kian lemah dari hari ke hari. Pihak keluarga sepertinya sudah siap, sekiranya terjadi hal yang terburuk. Justru aku yang masih tetap menyimpan asa bisa menemui Pak Sentot dalam keadaan segar bugar kembali. Namun takdir-Nya tak seperti yang kumau. Aku sedang dalam perjalanan ke Jogja, ketika Pak Marno menelepon aku dan mengatakan,

“Nak Endah, kamu yang sabar ya? Pak Sentot sudah wafat jam delapan tadi pagi.”

Serta-merta terasa ada luka menganga di hati, perih nian rasanya, dan mengalirlah air mata tanpa terbendung lagi. Sesuatu yang berharga telah hilang dari hidupku. Guru kesayanganku sekaligus cinta pertamaku, ternyata tak mungkin lagi aku bercengkerama bersamanya, tak bisa pula kurasakan lagi ketulusan hatinya. Aku sadar bahwa sejatinya beliau selalu menyayangiku, kendati tak pernah menerima cintaku.

Aku singgah sebentar menjemput Mbak Asri dan segera beranjak menuju rumah Pak Sentot. Sekitar lima ratus meter sebelum sampai di tujuan, di depan kami ada rombongan pembawa jenazah dari arah berlawanan. Tak salah lagi, itu pasti jenazah Pak Sentot! Aku meminta sopirku menghentikan laju kendaraan, lantas langsung kutarik Mbak Asri turun. Kami berdua berlari mendekati mobil jenazah dengan berteriak-teriak, memintanya untuk berhenti. Untunglah, mobil itu mau berhenti juga. Aku dan Mbak Asri beranjak naik di bagian belakang ambulans, tempat jenazah diletakkan. Melihat peti jenazah dan foto Pak Sentot dalam pigura, langsung larut lagi aku dalam kesedihan. Mbak Asri pun sibuk menenangkanku,

“Sudahlah, Jeng. Hapus air matamu.”

“Hiks, tapi aku sedih, Mbakyu. Tak mungkin kita bakal ketemu lagi sama Pak Sentot. Aku terkenang sekali sama kebaikan beliau,” jawabku dalam isak tangis.

“Sst, ya yang sabar. Kita semua pasti juga merasa begitu, karena memang Pak Sentot itu orang baik. Iya kan, bapak-bapak? Yang penting kita doakan beliau, semoga semua kebaikannya diterima dan dosa-dosanya juga diampuni sama Gusti Allah.”

Aku baru sadar bahwa ada beberapa orang selain kami berdua di mobil itu. Memang tiada yang bisa kukerjakan lagi, selain mendoakan yang terbaik bagi beliau semata-mata. Aku sudah lebih tenang ketika rombongan tiba di makam. Namun ketika kutaburkan bunga di atas kuburan Pak Sentot, mesti sangat keras kutahan diriku untuk tak lagi menangis tersedu. Belakangan aku baru tahu dari Mbak Rani bahwa Pak Sentot memiliki sebuah prinsip dalam hidupnya, yaitu tidak akan menikahi bekas muridnya. Jika akhirnya beliau tak pernah menikah hingga wafat, apakah mungkin beliau sebenarnya mencintaiku, namun tak mau melanggar prinsip yang dipegangnya dengan teguh itu? Yah, biarlah rahasia tersebut terkubur bersama jasad Pak Sentot, pak guruku tercinta.

Luhur Satya Pambudi lahir Jakarta. Cerpennya pernah dimuat di koran Suara Pembaruan, Lampung Post, Sinar Harapan, Minggu Pagi, Harian Global/Jurnal Medan, Berita Pagi, dan Batam Pos, juga di majalah Horison, Hai, dan Story. Tinggal di Yogyakarta.