Tag

,

(Jurnal Nasional, 16 Oktober 2011)

Penyanyi Orgen Tunggal

saat ia menyanyi, kau merasa ia tengah melepas kisah sedih
sorak penonton, musik pengiring memberinya nyawa yang baru

ketika ia menari, kau melihatnya tengah merintih
kilauan lampu, bagai pelayaran dan kota-kota larut malam

ia menari seperti melepas semua sakit

2010-2011

Kelok 44

aku dikepung lagu lama
tentang rumah terus-terusan ditinggalkan
jalan berluku, kabut pagi
embun dan gerimis sama jahatnya
mana yang bisa kami salahkan
sebagai penyebab rasa dingin?

di kelok 44 ia berangkat, dalam lagu
jalan berliku, tebing curam, bukit, dan sawah,
masa depan disimpan kabut begitu rapat

dari bukit tinggi ke maninjau
singgah berfoto kami di matur
menyelinap di dada rasa ngilu
girang lenyap perih menghambur

aku seperti ia di dalam lagu
di telan bukit, dihisap kabut

2010

Seperti Maut

seperti maut
ketakutan terus saja menguntitku
ke mana-mana

seperti mati
kau adalah ancaman terburukku

2011

Di Kampung Hulu

sungai tak pernah mengantar nasib baik
sampai hulu

di kampung hulu
jalan menabrak rumah
debu, anjing dan ayam bersemayam
di bawah tangga, papan lapuk tua

aku sampai di tanah leluhur
tempat persinggahan yang tak pernah mampu
membesarkan diri sendiri

tak ada yang lebih puncak dari bukit
para lelaki membanting letih di kedai kopi
para dara menyusun masa depan di belakang pintu
menetes lewat bedak beras, dan baju-baju kusam
di tepian keinginan kembali dihanyutkan.

nasib buruk mesti ditanggung sendiri-sendiri

2010

Kesedihan

cukup dalam kesedihanku
seperti sebuah lubang dari pusat bumi
yang terus-terusan menghamburkan lumpur
seperti lahar yang terus menimbun setiap keinginan

kukirim isyarat pada dirimu sebelum kesedihanku
tumbuh dan menjadi petaka
tapi kau berlari
segera matahari tenggelam di sana

dan aku tak bisa membendung apa-apa
badai panas dan kemarau mungkin berlalu
tapi kesedihanku tak menguap
ia tumbuh dengan segenap kekuatannya
memerangkapku dan pelan-pelan menjadi kebencian

maka, binasalah kau. binasalah kau dan semua
yang pernah meninggalkan titik-titik api dalam diriku

2011

Kota Luka

di kota ini dulu
aku menangisi kesedihan yang tiba-tiba
mengetuk setiap pintu.
orang-orang kehilangan banyak
aku kehilangan siapa pun.

aku berdiri di jalan
orang-orang berhamburan
seperti gedung yang runtuh

mereka berusaha mendapatkan apa
yang masih bisa mereka miliki
aku melepaskan semua yang kupunya.

bertahun lalu
di sini, aku sempat menyesali
mengapa belum mengenalmu
untuk kubagi banyak luka.

2010

Tentang Penciptaan

Pada mulanya dunia hanyalah selembar
kertas. Tuhan menggambar cakrawala.
Sampai kini tuhan tak pernah berhenti
menggenapkannya. Pada kita dititipkan
selembar kertas. Kita torehkan: rumah
kecil penuh bunga, tanah lapang dan
sungai bening, ladang apel dan kandang
kuda, kucing dan kebun mangga. Semua
yang terlukis kita sebut masa depan. Ketika
kertas tak mampu menampung apa-apa
kita mencari kertas baru. Saat itulah
mungkin mereka menyebutnya kiamat.
Tuhan akan menggenapkan kesedihan pemilik
kertas yang ditinggalkan.

2009

Indrian Koto lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, kampung kecil di Pesisir Selatan sumatera Barat. Mahasiswa Sosiologi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif di Rumahlebah Yogyakarta dan Rumah Poetika.